
Mereka mendesak Carian untuk menceritakan semuanya dari awal, Carian dicecar dengan lebih banyak pertanyaan lagi, bahkan dia tidak diberi ruang untuk menjawab. Ini merupakan situasi yang normal terjadi, mereka semua sangat menyayangi Xena, itulah sebab mengapa prilaku mereka cenderung over protektif kepada Xena. Mereka tidak pernah membiarkan orang lain hidup seusai menghina Xena, mereka juga selalu mengintai Xena ke mana pun pergi demi memastikan keamanan Xena.
“Nona tidak apa-apa, hanya saja waktu itu aku melihat bekas tamparan dan luka di kening Nona, saat aku tanya ke pelayannya ternyata itu di sebabkan oleh Kaisar Charise,” jawab Carian.
“Apa kau bilang?”
Mereka kembali ribut, selama ini tidak ada orang yang berani melayangkan tamparan atau pukulan kepada Xena. Amarah mereka terpicu akibat laporan dari Carian barusan, dorongan membunuh kian membesar di diri mereka.
“Beraninya dia melukai Nona, awas saja nanti aku jadikan Kaisar sialan itu sebagai kelinci percobaanku,” geram Klaus sambil mengacungkan pisau bedahnya.
“Tebas kepalanya,” ucap Giselle dengan ekspresi datar dan dingin.
“Aku akan buat tubuhnya hancur dengan rantaiku,” imbuh Floris.
“Seharusnya aku ikut saja kemarin itu ke Charise, biar aku bunuh Kaisar itu sekalian,” ujar Elinor sembari menancapkan ujung payungnya ke permukaan tanah.
Carian menghembuskan napas kasar, reaksinya pas mengetahui hal ini juga sama dengan rekannya. Rasanya kala itu ia ingin menghancurkan Charise, tapi dia mengurungkan niat agar tidak mengganggu rencana Xena.
“Asal kalian tahu, ada pria aneh yang mendekati Nona dan memanggil Nona dengan sebutan istri,” ungkap Carian tak kalah membuat mereka syok.
“Istri? Apa Nona sudah menikah tanpa sepengetahuan kita?” heran Elinor.
“Mana mungkin, kalian tahu sendiri Nona tidak mengerti soal percintaan, bahkan Nona saja tak tahu seperti apa rupa pria tampan.Wanita sedingin, sekejam, dan sepemarah Nona tidak akan mudah dibuat jatuh cinta,” sanggah Floris.
__ADS_1
“Kesampingkan hal itu dulu, apa kalian tidak berpikir untuk menyelinap ke Charise dan berada di samping Nona sepanjang waktu? Jadi, kalau ada yang macam-macam, langsung saja kita bantai,” usul Klaus diangguki oleh mereka.
“Tapi, jangan sampai ketahuan oleh Laiv, bisa-bisa nanti kita digoreng di dalam minyak panas,” kata Carian bergidik ngeri.
Mereka sangat mewaspadai kemarahan Laiv, selama ini mereka paling takut jika Laiv marah kepada mereka. Xena tidak pernah memarahi mereka, hanya saja Laiv bertindak sebaliknya, apabila mereka menimbulkan keributan maka sudah dipastikan kalau mereka akan menjadi sasaran kemarahan Laiv.
“Benar, kita tidak boleh ketahuan oleh Laiv. Mengingat ekspresi marahnya saja langsung membuat bulu kudukku berdiri,” ucap Elinor.
“Oke, sepakat ya? Kita akan menyelinap bersama-sama ke Charise, orang yang berani menyakiti Nona harus dimusnahkan sesegera mungkin.”
...***...
Setelah Xena berhasil menetralkan racun yang menyebar di tubuh Derryl, dia pun kembali tinggal di istana. Namun, istana kediamannya belum selesai diperbaiki, kondisinya masih sama seperti yang dia tinggalkan. Kemudian Derryl meminta pelayan untuk mengantarkan Xena ke istana yang kosong, jarak istana itu tidak jauh dari istana kediaman Derryl.
“Sebenarnya, Nona, enam dari delapan selir Kaisar mengalami masalah kejiwaan, dokter menjelaskan tidak ada yang janggal dari mereka. Akan tetapi, lama kelamaan mereka seperti mengidap gangguan jiwa makanya Kaisar mengurung mereka di kediaman masing-masing supaya kegilaan mereka tidak melukai orang lain,” jelas Gia.
“Aneh sekali bisa terkena gangguan jiwa serentak begitu, sepertinya ada dalang dari kegilaan mereka. Kemudian mana selir yang satu lagi? Apa dia masih hidup?” tanya Xena sekali lagi.
“Masih, Nona, namanya Nidia – anak dari Marquess Baldric. Keluarga Marquess Baldric telah lama mengalami kebangkrutan, makanya putri semata wayangnya dimasukkan ke harem istana,” jawab Gia.
Xena menganggukkan kepala, kurang lebih dia sekarang mengetahui tentang situasi inti dari istana ini. Kemudian tiba-tiba saja seorang pelayan wanita datang mengetuk pintu untuk menemui Xena.
“Maaf, Yang Mulia, saya diperintahkan oleh Ibu Suri untuk membawa Anda ke istananya. Harap segera bersiap-siap dengan cepat,” ujar pelayan tersebut.
__ADS_1
Xena memandang ke arah Gia, “Hey, Gia! Ibu Suri maksudnya Permaisuri sebelumnya, kan? Wanita yang dulunya menolak untuk memberi keadilan dari kematian Ibuku.”
“Benar, dia Permaisuri yang dulu menghasut Kaisar untuk tidak menyelidiki kematian Ibu Anda, padahal kakek Anda sudah memohon di bawah kaki Kaisar tapi tidak ada hasil yang didapatkan. Kakek Anda akhirnya pulang membawa kekecewaan, tidak dapat dibayangkan betap hancurnya hati kakek Anda kala itu.”
Xena mengepalkan tangannya, dia tidak pernah bertemu langsung dengan Ibu Suri, tapi dia punya urusan dendam yang belum terselesaikan sepenuhnya.
“Bagaimana perlakuannya kepada Alina selama ini?” Rahang Xena menegang seketika, Gia terlihat enggan untuk menjawabnya, “Ada apa? Katakan saja padaku, ayo cepat katakan!” desak Xena.
“Permaisuri beberapa kali dipermalukan di depan umum oleh Ibu Suri, tidak hanya sekali dua kali Permaisuri diperlakukan kasar. Terkadang saat kembali dari kediaman Ibu Suri, pasti wajah Permaisuri membawa pulang bekas tamparan. Saya tidak pernah melihat kejadiannya secara langsung, karena Permaisuri melarang saya untuk ikut pergi menemui Ibu Suri,” terang Gia.
Amarah Xena nyaris membludak, selama ini dia tidak tahu apa-apa tentang penderitaan Alina. Alangkah sesaknya dada Xena membayangkan bila ia yang di posisi Alina, terlintas secuil perasaan bersalah terhadap kembarannya itu.
“Baiklah, aku akan membuat Ibu Suri menderita, beraninya dia melukai Alina, awas saja aku tidak akan memaafkannya,” gerutu Xena.
Selepas itu, Gia membantu Xena untuk bersiap-siap, beberapa kali helaan napas terdengar dari Xena. Sesungguhnya, saat ini dia ingin melepas gaunnya, sedari dulu tidak pernah ia memoles diri mengenakan gaun. Hanya saja demi pembalasan dendam ini, dia rela melakukannya meskipun tidak nyaman.
Letak istana Ibu Suri agak jauh dari istana kediamannya, perlu melewati beberapa lorong untuk tiba di sana. Istana kediaman Ibu Suri lebih asri dari bayangannya, banyak bunga cantik yang tumbuh bermekaran. Ketika dia baru saja melangkah di halaman istananya, Xena mencium semerbak mewangi bunga-bunga itu. Ibu Suri sedang berada di belakang halaman istana bersama beberapa orang bangsawan wanita yang juga berkumpul bersamanya.
Xena mendatangi Ibu Suri dengan langkah anggun, dia membungkukkan badan untuk memberi salam kepada Ibu Suri.
“Salam kepada Yang Mulia Ibu Suri,” ujar Xena kembali menegakkan badan.
Namun, baru saja datang, Xena telah mendapat perlakuan tidak mengenakkan dari Ibu Suri. Wanita berambut biru gelap yang berumur 50an tahun itu mengabaikan salam dari Xena, bahkan dia tidak mempersilakan Xena untuk duduk. Wanita bangsawan yang hadir kala itu pun memperlihatkan ekspresi menghina.
__ADS_1
“Apakah kau tidak akan menyuruhku duduk? Oke, bukan masalah besar, aku akan duduk saja tanpa kau suruh. Menyebalkan sekali kau wanita tua, sudah memerintahkanku kemari, tapi kau dengan sengaja mengabaikanku.”