
Pertarungan berlangsung sengit, makhluk sihir itu kekuatannya di luar batas kemampuan ksatria dan penyihir kekaisaran. Mereka lawan yang tangguh dan jumlah mereka juga kian bertambah banyak sehingga membuat Xena, Xander, serta Liam kewalahan menghadapi mereka. Serangan racun Xena yang membabi buta, serangan pedang Xander yang dilapisi api ungu terlihat sangat cerpat, serta serangan sihir Liam yang datang dari segala arah.
Tidak sedikit rakyat biasa yang menjadi korban penyerangan makhluk yang tidak jelas asal usulnya itu. Di sela pembantaian, Xena mengedarkan pandang lalu ia melihat masih banyak rakyat biasa yang berada di sekitar area pertarungan. Bahkan para budak pun juga ditinggal begitu saja oleh pemiliknya, kini mereka hanya menerima nasib dan ajal yang akan menjemput. Para bangsawan lebih mementingkan dirinya sendiri, mereka berlari ke gerbang evakuasi tanpa memikirkan nasib rakyat biasa atau budak.
“Apa yang kalian lakukan di sini? Cepat pergi ke tempat evakuasi!” Xena berseru lantang kepada seluruh rakyat dan budak yang tersisa di sekitar ibu kota.
“Maaf, tapi para bangsawan menutup gerbang evakuasi dan tidak membiarkan kami untuk masuk,” jawab seorang budak.
Xena yang geram melayangkan serangan maksimal hingga menewaskan dua makhluk sihir sekaligus. Kemudian Xena mendaratkan badan ke permukaan tanah, ia berencana mengumpulkan orang-orang yang masih belum mengevakuasi diri. Dia menoleh ke kiri dan kanan ternyata seluruh ksatria juga sama kurang ajarnya, mereka hanya mementingkan keselamatan bangsawan dibanding rakyat biasa dan para budak.
“Tolong berkumpul di hadapanku bagi yang masih belum mengevakuasi diri!” seru Xena.
Satu persatu rakyat biasa dan para budak berkumpul di hadapan Xena, jumlah mereka tidaklah sedikit. Banyak di antara mereka anak-anak yang menangis karena takut, mereka hanya ingin bertahan hidup, tapi keegoisan manusia lain malah membuyarkan keinginan mereka untuk bertahan hidup.
“Jika sudah semuanya, mari ikuti aku menuju gerbang evakuasi!”
Gerbang evakuasi berada dekat dengan istana kekaisaran, biasanya gerbang itu menjadi pembatas antara kawasan wilayah istana dengan wilayah pemukiman bangsawan. Sekarang orang-orang yang tersisa mengikuti Xena dari belakang, mereka menggantungkan harapan kepada Xena supaya bisa bertahan hidup lebih lama.
Sesampainya di depan gerbang evakuasi, Xena menerobos masuk ke kerumunan bangsawan yang berebutan masuk gerbang. Di gerbang tersebut ternyata dijaga oleh beberapa orang ksatria, mereka mengontrol jalan masuknya para bangsawan tanpa mempedulikan rakyat lain. Kegeraman Xena meningkat drastis, ia sangat membenci situasi di mana ada orang yang bersikap diskriminasi di kala situasi genting seperti waktu itu.
“APA YANG KALIAN LAKUKAN, BAJ*NGAN?!” teriak Xena membuat hening kerumunan bangsawan.
__ADS_1
“Yang Mulia, kenapa Anda berada di sini?” tanya seorang ksatria penjaga gerbang.
Xena melangkah maju supaya lebih dekat dengan ksatria tersebut, gejolak amarahnya tidak tertahankan lagi. Ingin rasanya dia langsung mengamuk, tapi itu akan membuat jalur evakuasi semakin terhambat.
“Kenapa aku berada di sini? Aku ingin membasmi makhluk pengacau itu. Kenapa kalian hanya membuka gerbang untuk bangsawan saja? Kenapa kalian hanya mengevakuasi bangsawan? Tidak bisakah kalian melihat ada banyak rakyat dan budak yang terlantar oleh ulah kalian? Apa mereka benar-benar tidak penting hingga kalian menolak membantu mereka evakuasi? Apa harga mereka terlalu rendah di mata kalian? Bagaimana pun mereka tetap rakyat Charise! Jadi, aku ingin kalian membuka gerbangnya untuk mereka!”
Emosi Xena memburu keluar, ia tidak tahu lagi bagaimana cara agar dia bisa menekan emosinya agar tak meledak. Ksatria-ksatria itu pun takut menghadapi kemarahan Xena, mereka memutuskan untuk membuka lebih lebar gerbang agar mempermudah rakyat biasa dan budak untuk masuk ke area evakuasi. Namun, sejumlah bangsawan menahan ksatria itu untuk membuka gerbangnya lebih lebar lagi.
“Mereka tidak boleh masuk ke area evakuasi yang sama dengan kami! Mereka hanya manusia rendahan dan kami bergelar bangsawan. Kami tidak mau mereka membawa kuman serta kesialan bagi kami para bangsawan.”
“Benar, jadi tempat ini hanya kami yang boleh gunakan. Mereka dievakuasi ke tempat lain saja, lagipula keberadaan mereka membuat sakit mata.”
Para bangsawan saling bersahutan menolak evakuasi bersama rakyat biasa dan para budak. Kesombongan mereka telah berada di luar batas, bahkan di situasi genting pun mereka masih memikirkan kasta.
“DASAR KALIAN MANUSIA BIAD*B!” Sekali lagi Xena berteriak disertai emosi maksimal, “Bagaimana manusia tak berguna seperti kalian ini menjadi bangsawan? Mereka juga manusia! Kalian tidak berhak untuk menolak mereka evakuasi diri! Jangan membuatku emosi lagi!”
Xena memutuskan untuk membuka sendiri gerbangnya, Xena menyentuh besi gerbang tersebut dan menggunakan racun demi menghancurkannya. Besi gerbang perlahan hancur lebur, kini akses masuk area evakuasi terbuka lebar.
“Lekas masuk! Kalian akan aman kalau berada di balik gerbang ini,” ujar Xena menuntun masuk seluruh rakyat biasa dan budak.
“Kenapa Anda membiarkan mereka masuk? Anda ingin kami berdekatan dengan manusia rendahan ini?!” bentak seorang bangsawan.
__ADS_1
Xena menyorot tajam bangsawan satu persatu, ia tak habis pikir ada manusia yang berhati keji dan merasa paling tinggi.
“Kalian mau mati?!”
Sorot netra Xena membuat mereka tersentak kaget, sekilas mata Xena memancarkan aura membunuh luar biasa. Akhirnya mereka memutuskan untuk diam sampai masalah ini terselesaikan.
Sebelum Xena balik membunuh makhluk sihir, terlebih dahulu ia memasang sihir agar mengamankan semua orang dari serangan yang tak terduga.
“Ke mana Kaisar tak berguna itu? Kenapa dia tak kunjung menampakkan diri?” gumam Xena bertanya-tanya, ia melirik ke segala arah tapi tak ada tanda-tanda keberadaan Derryl.
Xena menyingkirkan pikiran itu dengan cepat, sekarang dia beralih pandang ke makhluk sihir yang sedang menantinya di depan mata. Sekarang dia bisa bergerak lebih leluasa tanpa memikirkan hal yang mengganggu pikiran. Xena kembali terbang membumbung tinggi ke udara, ia ingin lekas menyudahi masalah ini.
“Xena, jangan lengah! Jumlah mereka akan semakin bertambah!” teriak Xander di arah berlawanan.
Getaran di tanah semakin terasa nyata, jumlah makhluk sihir yang muncul kian membludak jumlahnya. Hanya Xena, Xander, dan Liam yang ahli dalam bertarung, sedangkan ksatria serta penyihir tak ada gunanya sama sekali mereka berada di sana.
“Sialan! Mereka tak ada habisnya.”
Xena menggencarkan serangan racunnya, kali ini racun yang dia keluarkan berjumlah lebih banyak dari biasanya. Tubuh makhluk sihir itu dibalut oleh racun mematikan, dalam sekejap racun Xena menghabisi setengah dari makhluk sihir yang mencoba melawannya. Xander juga berhasil melajukan serangan luar biasa dan membabat habis setengahnya lagi. Sekarang hanya tersisa lima makhluk sihir yang harus dilenyapkan segera.
“Oke, ini penghabisan. Setelah ini segala masalah besar akan berakhir.”
__ADS_1