Permaisuri Beracun

Permaisuri Beracun
Sebuah Kebohongan


__ADS_3

Proses transfer aura kehidupan membutuhkan waktu yang tidak sedikit, sekarang sudah lewat dari dua belas jam. Namun, Klaus masih belum berhenti memaksa diri untuk bekerja, dia bertekad tidak akan membiarkan Xander mati begitu saja. Sementara itu, Xena saat ini tengah berkumpul di satu ruang bersama bawahannya yang lain. Xena mulai menceritakan satu persatu masalah yang terjadi tanpa sepengetahuan mereka.


Raut muka mereka tak karuan, setiap kata yang terlontar dari mulut Xena mampu menggetarkan jiwa mereka. Xena tidak melewatkan satu pun dari kilas balik hidupnya, kini mereka semua tahu apa yang terjadi di hidup Xena maupun Xander. Rasa kecewa, terluka, derita, serta ketakutan, segalanya meredam menjadi satu. Tak sanggup mereka membayangkan sejauh mana perjuangan Xander demi menjadikan hidup Xena sebagai bagian nan bahagia.


“Nona, bagaimana Duke Geraldo melewati semuanya sendirian? Ditambah lagi Tuan Muda Xavier, beliau masih terlalu muda mengatasi segala rasa sakit itu. Saya tidak bisa menahan air mata, Anda menunjukkan kepada kami perwujudan dari cinta sejati.”


Mau seberapa kuat pun mereka menahan tangis, tetap saja pada akhirnya akan terpecah. Air mata mereka keluar begitu saja, kesedihan yang dirasakan Xena seolah mengalir deras di hati mereka. Xena hanya tertunduk lemas, perasaannya kacau dan kegelisahan di hatinya bertambah parah mengingat kondisi Xander yang belum menunjukkan perubahan.


Mereka larut dalam perasaan masing-masing hingga lebih dua puluh empat jam berlalu, akhirnya Klaus menyelesaikan transfer aura kehidupan. Tubuh Klaus melemah, dia bahkan nyaris tidak sadarkan diri karena terlalu banyak menggunakan tenaganya sendiri.


“Tenang saja, Nona … Duke Geraldo baik-baik saja,” lirih Klaus perlahan kesadarannya mulai terenggut sepenuhnya.


Tubuh Xena meluruh ke atas lantai, tungkai kakinya lunglai lemas karena tubuhnya seharian tegang memikirkan kondisi Xander. Sekarang Xena bisa bernapas lega, tubuhnya sedikit santai, dan hanya menunggu sampai Xander sadar. Sedangkan Xavier tertidur seusai memberikan aura kehidupan yang banyak kepada sang Ayah. Tidak ada hal yang lebih melegakan saat ini daripada menyaksikan mereka berdua baik-baik saja.


“Kapan kau akan bangun? Jangan membuatku khawatir,” gumam Xena. Saat ini dia sedang duduk di sisi kiri ranjang Xander seraya terus menunggu sampai Xander siuman.


Walaupun Xena sebelumnya lega mendengar bahwa Klaus berhasil mentransfer sebagian besar aura kehidupan milik Xavier, tapi hatinya masih dihantui ketakutan besar. Transfer aura kehidupan hanya bersifat sementara saja, jadi Xena tidak tahu Xander akan bertahan sampai kapan.


“Hei, kenapa wajahmu tertekuk sedih? Apa kau mengkhawatirkan diriku?”


Sontak Xena mengangkat kepala, dia melihat Xander telah siuman, air mata Xena spontan turun deras dari pelupuk mata. Xander lekas bangkit dan menarik tubuh Xena ke pelukannya, dia merasa bersalah telah membiarkan Xena menyaksikan dirinya yang lemah.

__ADS_1


“Dasar bodoh! Apa kau tahu seberapa takutnya aku saat bangun tidur mendapatimu tidak sadar dalam kondisi tubuh yang sangat dingin?! Kau jahat! Mungkinkah kau menyembunyikan rasa sakitmu dariku? Kenapa kau tidak pernah menceritakannya padaku? Tolong jangan buat aku seperti orang gila lagi.”


Xena mengoceh ketika berada di pelukan Xander, keluh kesahnya berhamburan keluar terlontar dari bibir mungilnya. Rasa takut yang tak kunjung mereda membebani hati Xena, kali ini Xander hanya bisa memberi pelukan hangat menenangkan Xena.


“Tenanglah, sekarang aku sudah sadar, maafkan aku membuatmu dan Xavier khawatir.”


Xena membawa diri keluar dari dekapan Xander, dia menatap lekat wajah Xander, tergurat segudang pertanyaan mengenai penyakit yang diderita Xander.


“Apa yang kau sembunyikan dariku? Apa kau menderita penyakit yang tidak aku ketahui?” selidik Xena.


“Aku tidak sakit, tapi hanya saja aku mengalami efek dari perputaran waktu, mengembalikan waktu ke belakang demi menyelamatkanmu membutuhkan bayaran cukup besar. Akan tetapi, sekarang aku tidak sakit lagi, tubuhku jadi jauh lebih segar dari sebelumnya.”


Xander berusaha meyakinkan Xena mengenai kondisi tubuhnya, meski yang terjadi sesungguhnya adalah penyakit itu masih berupaya menggerogoti jantungnya. Xander menutup rapat mengenai hal tersebut dari dunia luar termasuk Xena sendiri. Dia berharap masih punya banyak waktu demi membahagiakan Xena.


“Iya, aku tidak berbohong padamu.”


Xander mengecup bibir Xena sebagai pembuktian bahwa dia tidak berbohong. Sungguh, hati Xander tercabik-cabik begitu dirinya terpaksa berbohong terhadap Xena.


“Duke, Anda telah sadar? Syukurlah, kami semua mengkhawatirkan Anda,” ucap Floris baru saja masuk ke kamar.


Satu persatu bawahan Xena memasuki kamar, mereka terlihat lega setelah menemukan Xander sudah sadar dari ketidaksadarannya. Mereka menunjukkan perhatian besar kepada Xander sehingga membuat Xander merasa tersentuh. Memori di kepala pria itu berputar cepat, gambaran masa lalu yang dijalani bersama bawahan Xena banyak terukir di ingatan.

__ADS_1


Beberapa menit berbincang ria, Xena pun akhirnya terlelap, dia sudah cukup lelah menjaga Xander seharian tanpa tidur. Xander membaringkan tubuh Xena ke atas ranjang, dia membiarkan Xena tidur nyenyak sendirian tanpa kebisingan suara.


“Ayah, bisakah kita berbicara sebentar?” tanya Xavier.


“Ya? Oke, mari kita berbicara di luar,” jawab Xander.


Mereka berdua ke luar dari kamar, Xander mengunci rapat kamar dan berpesan kepada Gia untuk jangan masuk sampai Xena bangun. Xander sudah bisa menebak apa yang hendak dibicarakan Xavier, tapi dia tetap ingin mendengar Xavier sampai akhir.


Xena yang sedang tertidur perlahan memasuki alam mimpi, dia merasakan jiwanya tengah ditarik ke tempat yang asing. Xena tiba di sebuah kamar mewah, mimik wajah Xena seketika bingung dan bertanya-tanya di mana gerangan dirinya saat ini.


“Aku ada di mana? Mengapa aku bisa sampai ke tempat ini?”


Pandangan Xena mengedar ke setiap sudut ruang, dia mengelilingi kamar demi menemukan jalan keluar. Namun, Xena masih tidak menemukannya, sekitar kamar tersebut tidak ada celah pintu masuk. Xena mencoba meraba-raba dinding, dia berharap adanya pintu tersembunyi yang bisa membantunya keluar dari sana.


“Sebenarnya aku ada di mana? Kenapa di kamar ini tidak ada pintu ke luar? Apakah aku dijebak oleh seseorang?”


Berbagai dugaan kemungkinan menyerang kepala Xena, tapi dia tidak menyerah demi keluar dari tempat aneh tersebut. Tidak butuh waktu lama sampai sebuah pintu muncul dari permukaan tembok. Pintu itu sangat besar, berbeda dari pintu biasa di markasnya, bahkan pintu itu diselimuti sihir yang kuat.


“Ke mana aku harus berjalan? Lorongnya sangat panjang, aku tidak melihat ada ujung di balik lorong ini,” gumam Xena lagi.


Hingga sampailah Xena di ujung lorong itu, sebuah ruang putih terbentang luas di hadapan mata Xena. Tetapi, ada sesuatu yang membuatnya tertarik di sana, jadi Xena memutuskan mencari aura keberadaan asing yang menarik dirinya kemari.

__ADS_1


“Huh? Apa itu? Apakah ada seseorang selain diriku di sini?”


__ADS_2