Permaisuri Beracun

Permaisuri Beracun
Pembeberan Kebenaran


__ADS_3

“Ayah, apa Ayah sibuk?”


Xavier datang menemui Xander ke ruang kerjanya, Xander menghentikan pekerjaannya dan memusatkan fokus kepada Xavier.


“Tidak, ada apa?” tanya Xander.


Kemudian secara mengejutkan Xena menongolkan kepalanya di pintu, Xander tertegun melihat kedatangan Xena yang tiba-tiba. Xander memamerkan senyum sumringah kepada Xena, segala rasa lelah yang dia peroleh dari pekerjaannya yang menumpuk tiba-tiba menghilang. Xander pun berdiri dari tempat duduknya untuk menyambut Xena.


“Xander, kau sedang bekerja?” tanya Xena melirik ke arah tumpukan dokumen di atas meja Xander, “Kalau kau sibuk, aku akan datang lagi besok,” lanjut Xena berucap.


Xander segera menarik tangan Xena lalu menahan gadis itu supaya tidak pergi dari ruang kerjanya. Xander sangat rindu kepada Xena, dia menahan diri untuk tidak bertemu selama beberapa waktu lalu kini Xena datang menemuinya tanpa pemberitahuan, tentu saja dia tidak rela Xena harus pulang tanpa berbicara lebih lama dengannya.


“Aku tidak sibuk, jadi jangan pergi dulu. Kau pasti kemari ada sesuatu yang ingin dibicarakan denganku. Ayo kita bicara sekarang,” tutur Xander menarik Xena duduk di atas sofa.


Pandangan mata Xena mengedar di ruang kerja Xander, dia baru menyadari ternyata ruangan tersebut tampak lebih suram dibanding kamarnya. Tidak ada hiasan apa pun di sana kecuali pajangan lukisan serta sejumlah benda seperti jam dinding dan beberapa vas bunga. Apabila di waktu tengah malam, maka yang terdengar di sana hanyalah suara dentingan jam yang berputar.


Xander dan Xavier duduk bersama di sofa seberang Xena, mereka terus memandangi Xena seraya tersenyum. Tingkah mereka seperti demikian membuat Xena tersipu malu, dia masih tidak habis pikir kalau kedua pria itu menjadi suami dan anaknya. Sepanjang dia hidup, bahkan Xena tak pernah membayangkan diri memiliki pernikahan sempurna atau mempunyai keluarga kecil. Akan tetapi, Xander dan Xavier mengubah segalanya, dia mulai memiliki angan-angan menikah dan mempunyai bayi yang lucu.


“Berhentilah tersenyum! Aku kemari ingin memberitahumu sesuatu,” ujar Xena mulai serius.

__ADS_1


Melihat raut serius Xena, Xander yakin bahwa ini bukan pembicaraan yang sederhana, dia pun juga mulai serius mendengarkan Xena.


“Apa yang ingin kau beritahu?”


Xena menghirup napas dalam-dalam sebelum ia membeberkan seluruh kekejian Gylda terhadap Ibu Xander. Perasaan Xena berkecamuk sekaligus terasa berat ingin menjelaskan semuanya kepada Xander, tapi dia harus mengatakannya karena masalah ini bukanlah masalah biasa.


“Apa kau tahu kematian Ibumu bukanlah murni karena bunuh diri?”


Darah Xander berdesir hebat begitu Xena bertanya demikian, sejujurnya selama ini dia menghindari pembicaraan atau pun pikiran yang menjurus kepada sang Ibu. Kemudian kini Xena membuka kembali pembicaraan terkait Ibunya. Xander sangat trauma saat menemukan Ibunya meninggal gantung diri di dalam kamar. Masih terukir jelas di ingatan bagaimana rupa Ibunya yang pucat pasi dan tidak lagi bernyawa tergantung di langit-langit kamar.


“Maksudmu apa?”


“Aku akan berbicara secara detail, jelas, dan terang-terangan. Mengenai kematian Ibumu terdapat banyak kejanggalan di sana, tampaknya Ibumu bukan bunuh diri melainkan dibunuh. Salah satu kejanggalan yang disembunyikan selama ini ialah adanya jejak racun di dalam teh yang baru diminum Ibumu. Hanya saja orang yang menemukan racun tersebut dipaksa bungkam, jadi kejanggalan itu tidak terekspos sama sekali ke telinga rakyat,” terang Xena.


“Bagaimana kau bisa mengetahuinya? Selama ini aku menyangka Ibuku benar-benar bunuh diri dan aku tidak memeriksa ulang insiden itu karena aku masih belum berani menyentuh pembicaraan tentang Ibu.”


“Aku dibantu oleh beberapa bawahanku mencari tahunya, mereka menemukan kejanggalan ini melalui salah satu mantan ksatria istana yang menyelidiki masalah bunuh diri tersebut. Ibumu juga diabaikan oleh Kaisar, sama seperti apa yang dialami Alina. Kaisar membawa Gylda masuk lalu wanita itu mengacaukan harem dalam sekejap. Wanita yang disebut sebagai Ibu Suri itulah yang merencanakan pembunuhan terhadap Ibumu, Xander!”


Xander terkejut bukan main, rasa bencinya terhadap Gylda meningkat drastis, dia tak mengira Gylda bisa berbuat sejauh itu demi mendapatkan posisi sebagai Permaisuri. Xander tak kuasa menahan marah yang menggebu di hati. Ibunya yang malang selalu tersenyum kepadanya meskipun besar rasa sakit yang ditorehkan oleh Kaisar pada hatinya. Mengingat bagaimana Ibunya nan baik hati harus menderita di tangan Kaisar memberi dorongan balas dendam di diri Xander.

__ADS_1


“Seharusnya sejak awal aku bunuh saja wanita sialan itu, aku tidak butuh takhta sebagai Kaisar. Aku hanya ingin menempatkan keadilan untuk Ibuku, aku sungguh tidak mengetahui fakta ini. Di kehidupan pertama pun aku tidak mengetahuinya sama sekali,” kata Xander sambil menggertakkan giginya.


“Kendurkan urat-uratmu, kau bunuh saja wanita itu nanti ketika penyerangan dimulai, dengan begitu dendammu pasti terbalaskan.”


Xander melemaskan bahu sembari menghela napas, dia menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa. Semua ini sulit diterima, tapi karena Xena yang mengatakannya secara jelas maka Xander mempercayai Xena. Xavier juga ikut bergelut dengan pikirannya ketika dirinya tahu bahwa Nenek yang belum pernah dia temui mati secara mengenaskan.


“Aku minta maaf padamu karena mengatakannya tanpa memikirkan perasaanmu, tapi menurutku aku juga tidak boleh memendam masalah serius tentang Ibumu. Kau berhak mengetahuinya, Ibuku dan juga Ibumu mati di tangan orang yang sama. Gara-gara wanita itu Xavier jadi tidak bisa bertemu dengan Neneknya,” gerutu Xena seraya mengunyah cokelat yang sedari tadi ditaruh di atas meja.


“Berbicara mengenai penyerangan, kira-kira kapan Ibu akan memulai penyerangan?” tanya Xavier tiba-tiba.


“Empat hari dari sekarang, aku sudah menghubungi pasukan revolusioner dan kini mereka sedang beristirahat karena baru selesai menjatuhkan sejumlah kekaisaran,” jawab Xena.


“Berarti sebentar lagi, tapi apa kau tidak mau mengunjungi Kakekmu sebelum hari penyerangan tiba?” Xander juga ikut bertanya.


Xena berpikir sejenak, dia memang punya rencana untuk mengunjungi Kakek dan Pamannya karena dia belum pernah bertemu mereka semenjak datang ke Charise.


“Mungkin besok, apa kalian mau ikut?”


Xena menawarkan mereka untuk pergi bersamanya ke daerah tempat Kakek dan Pamannya diasingkan. Xena ingin memperkenalkan mereka berdua kepada keluarganya yang masih tersisa, setidaknya Kakek atau pun Paman Xena tidak pernah memperlakukan dirinya dengan buruk sejak dulu. Mereka berdualah yang membela Xena mati-matian bila mendapat perlakuan tidak adil dari Adolpn. Mengingat masa lalu sungguh membuatnya kesal, dia sedikit menyesal karena tidak membunuh Adolph sedari dahulu.

__ADS_1


“Baiklah, mari kita pergi mengunjungi Kakek dan Pamanmu besok. Aku akan meminta Garvin untuk mengosongkan seluruh jadwal pekerjaanku. Aku rasa besok tidak ada agenda penting, jadi itu mudah bagi Garvin menunda seluruh jadwalku.”


__ADS_2