
Selepas menyelesaikan seluruh urusan di Charise, Xena pun beranjak pergi menuju makam Alina yang bersebelahan dengan makam sang Ibu. Xena berbicara banyak hal mengenai dirinya, tak lupa dia memperkenalkan Xander dan Xavier serta menghias makam mereka supaya lebih indah. Xena menahan kerinduan teramat besar terhadap Ibu dan saudari kembarnya. Sekarang dia telah menuntaskan sebagian dendam penyebab kematian mereka berdua.
Setelah itu, mereka berangkat menuju markas utama sebab masih banyak hal yang perlu mereka lakukan. Para anggota pasukan revolusioner telah berkumpul di markas, raut muka mereka tampak bahagia sekali seusai Kekaisaran Charise diruntuhkan. Kini mereka bersama-sama memikirkan solusi sekaligus menyusun taktik melawan Raja Barbarian. Xena berdiri di podium aula, sebuah alat sihir melekat di kerah bajunya yang berguna sebagai pengeras suara.
Xena berbicara dengan serius, semua orang menyimaknya dengan seksama, di sini Xena memberi peringatan keras kepada anggota pasukan revolusioner bahwa kekuatan mereka masih jauh di bawah kekuatan pasukan Raja Barbarian. Jadi, Xena memperingatkan mereka untuk jangan mencari masalah hingga hari pertempuran tiba. Sesudah berbicara, mereka lanjut diskusi bersama, segala permasalahan yang terjadi beberapa waktu ini akan sedikit mengganggu jalan perkembangan kerajaan dan kekaisaran yang masih tersisa.
“Laiv, gunakan sebaik mungkin persediaan uang yang berada di gudang harta untuk memberi bantuan kepada para budak. Lalu di luar masih ada sejumlah uang serta perhiasan yang aku jarah dari Charise,” ujar Xena.
“Bagaimana dengan persediaan senjata kita, Nona?” tanya salah seorang anggota.
“Senjata akan diurus oleh Carian dan Floris, sedangkan untuk obat-obatan akan diurus oleh Klaus. Kalian tidak perlu mengkhawatirkan hal itu karena sudah dipikirkan lebih dulu oleh kami para anggota inti.”
Di saat bersamaan, seorang bawahan Xena berlarian dari arah pintu masuk membawa secarik kertas di tangannya. Dia terengah-engah karena dipaksa berlari dari gerbang utama demi menunjukkan kertas tersebut kepada Xena. Tampaknya ada sesuatu yang genting tertulis di kertas yang masih belum diketahui pengirimnya.
“Nona, gawat! Saya menemukan ini di depan gerbang.” Bawahan Xena segera menyerahkan kertasnya kepada Xena. Langsung saja Xena membuka lipatan kertasnya lalu membaca tulisan yang tertera di permukaan kertas.
“Serahkan dirimu padaku atau aku akan menghancurkan segala sesuatu yang berharga bagimu.”
Xena meremukkan kertas itu dengan emosi yang mendalam, tanpa diberi tahu pun dia sudah tahu siapa pengirim dari suratnya. Verden, si Raja Setan masih belum menyerah sampai sekarang demi merebut Xena kembali dari Xander. Hati Xena meradang marah, tak dipercaya kalau Verden mengiriminya selembar surat ancaman.
“Baiklah, kita sudahi pertemuan kita pada hari ini, ada sesuatu yang perlu aku lakukan.”
__ADS_1
Xena tiba-tiba bertingkah aneh, tentu saja hal ini menjadi tanda tanya bagi mereka yang hadir di aula pertemuan. Akan tetapi, mereka tidak bisa menanyakannya kepada Xena, lebih baik mereka menuruti perintah Xena daripada mereka yang terkena masalah.
“Xander, apakah kau tahu di mana tempat persembunyian Verden? Pria itu tampaknya sangat tidak sabaran,” gerutu Xena.
Kala itu Xander tengah menghabiskan waktu bersama Xavier, fokus mereka teralihkan oleh kedatangan Xena tiba-tiba. Xander pun membawa Xena duduk dan memintanya untuk tenang sebelum berbicara lebih lanjut. Setelah Xena mulai tenang. Xander pun mulai bertanya perihal apa yang terjadi.
“Ada apa? Mengapa kau tiba-tiba menanyakan lokasi markas Verden?” tanya Xander dengan suara teramat lembut.
“Dia mengirimkan surat ancaman padaku, coba lihatlah ini.” Xena menyerahkan kertas yang sudah remuk kepada Xander. Memang isi suratnya adalah ancaman serius, Xander sendiri tahu bahwa Verden tidak pernah bercanda soal ancaman.
“Tenanglah, jangan terlalu terbawa emosi, kita tidak bisa menyerangnya sekarang karena kekuatan Verden masih belum sebanding dengan kekuatan kita,” tutur Xander.
“Benar, Ibu, bagaimana kalau nanti terjadi sesuatu yang buruk pada Ibu? Aku hanya khawatir jika Verden berbuat di luar dugaan,” timpal Xavier ikut menenangkan Xena.
“Bagaimana bisa aku melahirkan anak setampan dirimu? Sayang sekali kau mirip dengan Xander,” ucap Xena.
“Hei, maksudmu apa? Apakah masalah jika Xavier mirip denganku?” tanya Xander dengan muka datar.
Xena melirik Xander. “Tentu saja masalah, aku ingin Xavier sepertiku karena kau pria yang dingin dan mukamu selalu saja datar,” jawab Xena.
“Sepertinya kau perlu dihukum.” Xander bersiap menerkam Xena, tapi gadis itu sudah lebih dulu berlindung di balik punggung Xavier.
__ADS_1
“Tidak! Lindungi Ibu, Xavier! Jangan sampai Ayahmu menangkapku.”
Mereka pun saling main kejar-kejaran, Xavier senantiasa melindungi Xena dari Xander yang menggeram gemas akibat tingkah Xena. Mereka tertawa bersama dan melupakan sejenak pikiran yang penuh karena memikirkan pertempuran akhir. Namun, meski Xavier kini sedang tertawa, ada hal lain yang membelenggu hatinya.
‘Waktuku berada di dunia hanya sebentar lagi, setelah itu aku akan meninggalkan Ayah dan Ibu. Aku hanya berharap mereka berdua bisa menangani masalah ini dengan baik lalu selepas semuanya berakhir, aku akan lahir lagi sebagai anak mereka. Mungkin nanti aku tidak punya memori membahagiakan seperti ini, namun aku selalu berdo’a untuk kebahagiaan Ayah dan Ibu,’ batin Xavier tersenyum di balik luka.
Seusai puas bermain-main, mereka beristirahat sejenak, kemudian tiba-tiba saja Liam datang bersama Laiv, Carian, Floris, Klaus, dan Garvin. Lalu disusul di belakangnya ada Gia, Elinor, dan Giselle.
“AYO KITA PESTA MALAM INI!” seru Liam dan Carian membawa minuman alkohol.
“Pesta? Memangnya ada apa sampai harus pesta?” tanya Xander.
“Kau ini sangat datar!” Xena menepuk punggung Xander. “Tentu saja malam ini kita akan berpesta merayakan keberhasilan kita membebaskan para budak!”
Suasana markas sesaat menjadi ramai, malam itu mereka berpesta sembari menikmati waktu santai sebelum badai besar menghadang. Mereka melupakan sejenak rasa gelisah yang meradang di hati, meski lawan berikutnya terbilang sulit, tapi mereka berusaha bersikap santai seperti biasa. Kemudian ketika waktu menunjukkan pukul tiga dini hari, satu persatu dari mereka mulai tepar karena mabuk. Xena juga tidak sadarkan diri lagi akibat terlalu banyak alkohol yang dia teguk sedari tadi.
Xander mengangkat pelan tubuh Xena, dia bermaksud membawa Xena ke kamar untuk segera dibaringkan. Tidak lupa Xander mengecup kening Xena, dia tersenyum melihat wajah cantik Xena yang sedang terlelap.
“Arrhh, sial! Kenapa harus sekarang?”
Xander tiba-tiba merasakan sakit menghujam jantungnya. Rasa sakit yang dia rasakan sungguh tidak tertahankan, Xander selalu saja seperti ini beberapa waktu belakangan sebab ini merupakan efek dari kekuatannya yang mulai terkikis. Perlahan dada Xander seakan diapit dua batu besar, pedih dia rasakan di sela jantung menuju ulu hati.
__ADS_1
‘Tidak … aku tidak boleh sakit sampai aku berhasil mengalahkan Verden … aku tidak mau membuat Xena dan Xavier cemas karena penyakit ini. Aku mohon … bertahanlah sebentar lagi ….’