Permaisuri Beracun

Permaisuri Beracun
Ciuman Pertama


__ADS_3

Istana seketika heboh akibat berita hilangnya Xena, Derryl yang saat itu baru bangun langsung panik dan memerintahkan kepada seluruh ksatria untuk mencari Xena. Derryl berbeda seperti biasanya, waktu Alina menghilang, dia bahkan tidak mengerahkan pencarian tapi kali ini berbanding terbalik. Derryl telah menaruh perhatian yang besar kepada Xena yang menyamar sebagai Alina, hati Derryl tanpa sadar mulai tertaut kepada Xena. Brisia tidak dapat menerima hal itu terjadi, ia beberapa kali mencoba membujuk Derryl untuk tidak usah mencari Xena tapi yang dia dapatkan hanya bentakan dari Derryl.


“Yang Mulia, mengapa Anda tiba-tiba peduli kepada wanita itu? Apa jangan-jangan Anda diguna-guna olehnya?” protes Brisia di sela kepanikan Derryl.


“Hentikan ini, Brisia! Bagaimana pun juga Alina itu Permaisuri, bisa-bisanya kau bersikap tidak sopan!” murka Derryl menyentakkan tangan Brisia yang melingkar di lengan kirinya.


Brisia terdiam saat Derryl memarahinya, akhir-akhir ini Derryl sering sekali marah padanya, rayuan maut yang biasa ia gunakan tidak mempan lagi terhadap Derryl. Tangan Brisia terkepal kuat, mimik mukanya terlihat menyimpan banyak amarah yang menuju kepada Xena.


‘Sial! Wanita itu sekarang sangat menghambatku, apa yang harus aku lakukan padanya? Aku harap dia mati saja di luar sana,’ gerutu Brisia dalam hati.


Kemudian seorang ksatria berlari terengah-engah menghampiri Derryl, dia terlihat sedang membawa sebuah laporan mengenai Xena.


“Yang Mulia, saya mendengar sekarang Permaisuri sedang berada di kediaman Duke Geraldo,” lapor ksatria itu.


“Apa? Alina sedang berada di kediaman Xander? Bagaimana bisa? Baiklah, bawa beberapa ksatria dan ikut bersamaku ke mansion Xander!” titah Derryl langsung dilaksanakan oleh para ksatria.


Brisia tidak dapat melakukan apa-apa selain melihat punggung Derryl yang kian menjauh darinya. Perkataan manja Brisia tak lagi membuat Derryl terbawa dalam godaan mautnya, Brisia seketika kehilangan akal untuk menahan Derryl.


Sementara itu, Xena baru saja terbangun dari tidurnya, ia mendapati Xander tertidur di atas sofa kamar yang ia tempati. Xena mengedarkan pandangan ke sekitar, pemandangan asing yang ia saksikan sedikit membingungkannya. Xena mencoba memutar kembali ingatannya, dia terakhir mengingat ada sosok bayangan hitam lalu Xander datang menyelamatkannya. Setelah itu, Xena tidak ingat apa-apa tentang ketidaksadarannya.


“Tempat ini apakah mansion milik Xander? Apa dia yang membawaku kemari?” gumam Xena bertanya-tanya.


Xena menurunkan telapak kaki ke permukaan lantai, dia melangkah pelan mendekati Xander yang tengah terlelap di atas sofa. Kancing baju Xander terbuka setengah sehingga memamerkan bentuk tubuhnya yang seksi. Xena tak mempedulikan soal badan Xander, yang ia lakukan hanyalah menatap lekat wajah Xander.


“Dia menyelamatkanku lagi, kenapa aku seolah merasa takdirku mengarah padanya? Baru saja kemarin sore aku berpikir dia sedang sakit sebab tak menampakkan batang hidungnya di hadapanku, ternyata malamnya dia datang membantuku. Mengapa kau peduli padaku? Padahal aku lihat kau semalam sedang menahan sakit,” tutur Xena berbicara sendiri.


Kemudian Xena tanpa sengaja merasakan ada racun yang sangat kuat di dalam tubuh Xander. Sebagai pengendali racun, bagi Xena mendeteksi racun merupakan hal yang mudah untuk ia lakukan. Selepas itu, Xena berniat memeriksa racun jenis apa yang berada di badan Xander, ia pun secara perlahan mendekatkan tangannya ke dada Xander.

__ADS_1


“Apa kau mau menyentuhku?” Sontak Xena terkejut menyaksikan Xander mendadak terbangun saat ia ingin mengecek tubuhnya.


“T-tidak,” elak Xena gugup dan memalingkah wajah ke arah lain.


“Ahh begitukah?” Xander menarik tangan Xena lalu membawa tubuh Xena ke pelukannya. Xena berusaha melawan, namun Xander tak membiarkan dirinya lepas begitu saja. Tubuh Xander jauh lebih kekar, hingga tubuh kecil Xena tak kuasa untuk melawan.


Mereka sangat dekat, bahkan Xena dapat mendengar detak jantung Xander, begitu pula dengan jantungnya yang berdebar kencang. Muka Xena merona, menyaksikan wajah serta tubuh Xander sedekat ini membuatnya gugup tanpa alasan.


“Lepaskan! Kenapa kau suka sekali memelukku?” ronta Xena, tapi Xander malah semakin membenamkan Xena di dalam dekapannya.


“Aku tidak mau melepaskanmu, biarkan seperti ini sejenak karena aku merasa lebih baik saat memelukmu,” ujar Xander sembari melayangkan senyum khasnya.


Kedua mata Xena membulat sempurna ketika ia merasakan tekanan racun yang semakin menguat di tubuh Xander. Akan tetapi, racun yang satu ini terasa asing baginya, belum pernah Xena merasakan racun sekuat ini seumur hidup. Mulanya ia tak mau mempedulikan racun itu, hanya saja hati Xena berkata lain dan terus mendorong dia untuk membantu Xander melepaskan racun tersebut.


“Dari mana kau mendapat racun ini? Apa kau menahan sakit karena racun ini? Mengapa kau diam saja tanpa mencari penawarnya?” tanya Xena beruntun.


“Tidak ada penawar untuk racun ini, mungkin aku akan mati sebentar lagi,” kata Xander berbohong demi mengambil simpati Xena.


“Mati? Jangan bodoh kau! Jangan bermain-main dengan kematian! Aku akan menetralkan racunmu sebagai timbal balik karena kau telah menyelamatkanku tadi malam,” ucap Xena disertai wajah yang cemberut tanpa senyum.


Xander tertawa kecil untuk menggoda Xena, baginya Xena sangat lucu apabila sedang cemberut.


“Oke, coba saja sembuhkan aku kalau kau bisa.”


Xena segera memejamkan mata, fokusnya terpusat untuk menyerap semua racun yang bersarang di tubuh Xander. Namun, rupanya racun tersebut tak dapat diserap hanya melalui sentuhan saja, racun di tubuh Xander terlalu kuat.


“Sepertinya tidak ada cara lain.” Xena menegakkan kepala, lalu menatap Xander lurus, “Lepaskan aku dulu, sentuhan tangan saja tidak cukup untuk menyerap racunmu.”

__ADS_1


Xander pun segera melepas pelukannya di tubuh Xena, ekspresi Xena terlihat ragu ingin melakukan hal lebih intim dengan Xander.


“Ada apa?” tanya Xander.


“Hey, aku akan menciummu, tapi jangan salah paham! Aku menciummu untuk menyerap racun di tubuhmu, tidak mempan jika hanya menggunakan sentuhan tangan saja,” ujar Xena disertai pipi merona.


“Baiklah, aku dengan senang hati menerima ciumanmu.” Inilah yang ditunggu-tunggu Xander, dia tahu sejak awal bahwasanya racun di tubuhnya tak bisa dihilangkan melalui sentuhan biasa, ia butuh ciuman untuk menetralkan racun tersebut secara sempurna.


Xena memulai penetralan racunnya, ia mencium bibir Xander demi mengeluarkan seluruh racun berbahaya itu. Namun, Xander mencari kesempatan di dalam kesempitan, ia memainkan lidahnya dan membuat lidah mereka saling berpadu. Xena sempat kaget, ia menahan diri untuk tidak marah sampai penyerapan racun itu berakhir.


‘Kurang ajar! Beraninya dia bermain-main denganku,’ batin Xena.


Butuh waktu sekiranya enam menit untuk racun itu keluar sepenuhnya, Xena terpaku ketika merasakan racun nan kuat mengalir di tubuhnya.


“Racun apa ini sebenarnya?” tanya Xena bingung.


“Racun kutukan,” jawab Xander singkat.


“Racun kutukan? Aku pernah mendengar ini beberapa kali, ternyata racunnya sangat kuat. Tapi, ini akan menjadi senjata baru untukku.” Xena terlihat senang serangan racun terbaru di badannya kini.


“Sepertinya racunku belum hilang, tolong berikan aku ciuman lagi,” goda Xander, kepalanya langsung dipukul oleh Xena.


“Jangan macam-macam! Tadi itu adalah ciuman pertamaku, bisa-bisanya aku memberikan ciuman pertama kepada pria sepertimu,” oceh Xena beranjak dari atas tubuh Xander.


“Itu juga ciuman pertamaku, jadi kita imbas.”


Pada saat yang bersamaan, Derryl datang menerobos masuk ke dalam mansion membawa beberapa orang ksatria bersamanya. Tersirat amarah di garis-garis wajah Derryl, dia telah berprasangka kalau Xena diculik oleh adiknya sendiri.

__ADS_1


“XANDER! KELUAR KAU! CEPAT KEMBALIKAN ISTRIKU PADAKU!”


__ADS_2