Permaisuri Beracun

Permaisuri Beracun
Ketahuan


__ADS_3

Tangis Xander terpecah begitu Xena meminta maaf padanya, ia tak menyangka Xena akan mengingat kehidupan lalunya dalam jangka waktu dekat. Xavier berlinang air mata menyaksikan kedua orang tuanya saling mendekap dan menangis.


“Jutsru aku yang harus meminta maaf padamu, bagaimana pun ini salahku karena gagal menyelamatkanmu berulang kali. Aku sungguh minta maaf, aku selalu membiarkanmu mati sendirian, tolong maafkan aku,” ucap Xander.


“Tidak, kematianku bukanlah salahmu, tapi aku sangat bahagia dengan cinta yang kau berikan padaku. Aku tidak tahu harus berkata seperti apa lagi padamu, yang jelas aku bahagia sebab kau selalu mencintaiku baik pada kehidupan pertama, kedua, hingga seterusnya. Apabila ada kehidupan lain lagi, apakah kau masih tetap mencintaiku?”


Xena melepas pelukannya, ia menatap lekat mata Xander yang diselimuti oleh perasaan cinta mendalam. Perlahan bibir Xander terangkat mengukir senyum, pertanyaan Xena menurutnya tidak beguna sama sekali.


“Mau berapa kali pun kita hidup, aku pastikan untuk menemukanmu lagi dan jatuh cinta padamu untuk ke sekian kalinya. Aku tidak menyesal walau aku terus memutar waktu untukmu lalu mengulang lagi dari awal. Namun, pada kehidupan ini sepertinya jauh berbeda, aku percaya bahwa aku pasti berhasil menyelamatkanmu dari ancaman Raja Setan,” ujar Xander seraya mengusap lembut pipi Xena.


Kemudian Xena melirik ke arah Xavier, langsung saja Xena melompat memeluk Xavier sangat erat. Xena masih dibayangi oleh rupa Xavier kecil yang berlari terus menerus mengekorinya dari belakang. Xavier kecil tidak dapat hidup tanpa Xena, dia menyayangi Xena seperti dia menyayangi diri serta nyawanya sendiri.


“Xavier, maafkan Ibu sudah membiarkanmu sendirian menghadapi dunia yang kejam ini. Padahal aku pernah berjanji untuk tidak pernah meninggalkanmu, tapi aku tidak bisa menepati janji itu padamu. Aku mohon, tolong maafkan Ibu …,” kata Xena mendekap hangat tubuh Xavier.


“Ibu … ibu tidak perlu minta maaf padaku karena aku … karena aku tidak butuh permintaan maaf itu. Sama seperti Ayah, aku juga tidak menyesal telah masuk ke masa di mana Ayah dan Ibu baru saja bertemu. Aku senang sekali Ibu bisa mengingatku lagi,” balas Xavier dengan bulir-bulir air mata yang mengucur di pipinya.


Selepas itu, mereka berbincang sejenak mengenai beberapa hal penting terkait Verden sang Raja Setan. Sesungguhnya kekhawatiran mereka kian membesar, hati mereka gusar mengingat kepribadian Verden yang sangat buruk.


Langit yang diselimuti oleh warna ungu gelap telah kembali seperti biasa, satu persatu penghuni Kekaisaran Charise mulai tersadar dari pingsan. Tampaknya mereka tidak mengingat apa yang sebelumnya terjadi. Verden telah membuat hilang ingatan mereka mengenai apa yang menimpa kekaisaran hari ini, sehingga kini mereka terbangun dalam kondisi linglung.


“Aku kembali dulu ke istana, nanti setelah semuanya usai, mari kita bicara lagi.”

__ADS_1


Xena terbang dengan cepat menuju istana, sebenarnya tadi dia menyelinap keluar dari penjara sebab dia merasakan keberadaan asing yang mengancam. Jadi, sebelum pihak istana menyadari kehilangannya, dia harus lebih dulu tiba di penjara lalu bersikap seperti tidak tahu apa-apa.


‘Hufft, untungnya masih sempat.’


***


Berita kematian kembali menghujam kekaisaran, kali ini beritanya datang langsung dari kematian Marquess Andros. Derryl sangat stres karena masalah tidak berhenti menerpa Charise, sekarang dia juga kehilangan Marquess Andros yaitu orang yang paling dia percayai. Derryl mengamuk dan menghancurkan barang-barang di ruang kerjanya.


Beberapa hari belakangan ini Derryl tidak bisa tidur dengan nyenyak karena dia memikirkan nasib kekaisaran ke depannya. Kemudian hari ini malah datang kabar buruk tentang kematian Marquess Andros, siapa pun tahu betapa pentingnya Marquess Andros bagi Derryl. Sekarang tidak ada orang yang berani mendekat untuk menenangkan amukan Derryl.


“Arrghhh! Mengapa semuanya menjadi kacau seperti ini? Apa yang mesti aku lakukan selanjutnya? Siapa orang yang berada di balik kekacauan ini? Aku benar-benar cemas. Bagaimana jika nanti Charise juga dijatuhkan oleh pasukan revolusioner? Ini sangat menakutkan! Aku tidak sanggup membayangkannya. Aku sangat takut ….”


Pada malam harinya, Gia membuntuti pergerakan Brisia yang terlihat mencurigakan. Brisia pergi ke belakang halaman istana seraya memastikan keberadaan orang lain yang mengancam. Untung saja Gia bersembunyi di tempat yang tidak mudah dijangkau oleh jarak pandang. Gia terus memperhatikan gerak-gerik Brisia hingga dia melihat Viscount Gimlet datang menghampiri Brisia.


Gia bermaksud untuk memanggil Derryl supaya dia memergoki sendiri bagaimana kelakuan Brisia di belakang tanpa sepengetahuannya. Gia dengan hati-hati mengetuk pintu ruang kerja Derryl, sejujurnya dia khawatir kalau Derryl akan berkata kasar padanya.


“Mohon maaf, Yang Mulia, bolehkah saya masuk?” tanya Gia.


“Masuklah,” sahut Derryl dari dalam.


Gia langsung membuka pintu, ia terkejut melihat pemandangan berantakan di depan matanya saat ini. Dari suasana berantakan ini, Gia bisa tahu bahwa Derryl berada di tingkat stress yang luar biasa.

__ADS_1


“Yang Mulia, Permaisuri meminta untuk bertemu dengan Anda di belakang halaman istana. Beliau mengatakan ada sesuatu yang penting ingin dibicarakan.”


Derryl tidak menatap wajah Gia, dia fokus meninjau sejumlah dokumen di atas mejanya. Begitu mendengar Brisia ingin bertemu dengannya, dia pun segera bangkit dari posisi duduk dan keluar begitu saja menuju halaman belakang istana. Gia mengekori Derryl biar dia bisa tahu apa kira-kira yang akan terjadi selepas ini.


Brisia tengah berbincang manja bersama Viscount Gimlet, sesudah kehilangan anaknya, Brisia masih tidak kapok berhubungan dengan Viscount Gimlet. Begitu juga dengan Viscount Gimlet seakan dia tidak punya rasa takut menghadapi Derryl langsung.


“Yang Mulia, Anda semakin terlihat cantik setelah mengalami keguguran,” goda Viscount Gimlet.


“Jadi, maksudmu aku selama ini tidak cantik?” rajuk Brisia.


“Tidak, bukan begitu, Yang Mulia. Anda jangan salah paham, Anda selalu terlihat cantik di mata saya,” dalih Viscount Gimlet.


“Benarkah? Sekarang coba cium aku.”


Viscount Gimlet mendaratkan sebuah kecupan di bibir Brisia, kemudian dia menarik tangan Brisia untuk duduk di bangku panjang yang terletak di halaman tersebut. Mereka berdua seperti sedang dimabuk cinta, mereka saling berpelukan dan bertukar ciuman. Pemandangan tersebut sangat panas untuk dilihat dengan mata telanjang.


“Gara-gara obat penggugur yang kau berikan waktu itu aku jadi mandul dan tidak bisa hamil lagi,” ucap Brisia mengerucutkan bibirnya.


“Saya lupa memberitahu Anda kalau obat penggugur itu memiliki efek yang sangat kuat hingga menyebabkan kemandulan. Tolong maafkan saya, Yang Mulia,” ujar Viscount Gimlet.


“Ya sudah, lagi pula semuanya sudah berlalu. Aku berhasil menjebak Alina berkat obat penggugur itu walau aku harus mengorbankan anakku untuk menjebakny—”

__ADS_1


“BRISIA!”


__ADS_2