
Xena melangkah pelan mendekati sebuah jeruji besi berwarna putih yang dihiasi tanaman rambat. Xena menemukan seorang wanita bersurai pirang panjang tengah tergeletak tidak sadarkan diri dalam kurungan tersebut. Xena mendekatinya, kelopak mata wanita itu bergerak sesaat mendengar derap langkah kaki Xena. Sontak dia terbangun, manik merah miliknya menyala dan melotot ke arah Xena. Entah mengapa kala itu Xena tersentak kaget, pasalnya wajah gadis itu sungguh mirip dengan dirinya.
Xena tak kunjung bersuara, dia masih terpaku bingung melihat gadis lemah tak berdaya itu. Gadis tersebut mencoba bangkit, kedua tangan dan kakinya terjerat rantai hitam yang membuatnya tak bisa lari ke mana pun. Seolah-olah pergerakannya dibatasi oleh ruang yang tidak mempunyai ujung serta dibelenggu aura menyedihkan. Perlahan gadis itu mengangkat kepala, dia menatap Xena dengan tatapan penuh kesenduan.
“Siapa kau?” Akhirnya, Xena pun memilih untuk membuka suara, dari segi mana pun dia melihat wanita itu, sangat jelas bahwa itu adalah dirinya sendiri.
“Ahh, kau sudah datang rupanya, kau pasti sedang bingung melihat dirimu yang lain di hadapanmu. Seperti yang kau temukan, aku adalah Xena, aku adalah dirimu, dan aku adalah jiwa abadi yang tersegel di ruang jiwamu,” jelas wanita itu.
“Kau adalah aku? Lalu apa itu jiwa abadi? Aku tidak tahu apa maksud dari perkataanmu.”
Wanita itu tersenyum tipis, mimik wajahnya redup seakan tidak ada harapan kehidupan mengitari dirinya. Jemari gemulai nan lemah mencoba menyentuh kurungan tersebut, dia tampak ingin berada lebih dekat dengan Xena.
“Benar, dahulu kita adalah satu, pada kehidupan pertama kita menjalani hidup penuh lika-liku. Kita jatuh cinta kepada Verden, tapi akhirnya pria itu kehilangan arah seusai melihat kita mati akibat ulah manusia. Dia mencoba melepaskanku dari sini demi mengembalikan diri kita sepenuhnya dan kembali mencintainya seperti dulu. Namun, caranya salah, dia malah mengubah jiwa kita menjadi jiwa boneka demi mencegah pemberontakan diri kita. Alhasil kita bergerak sesuai apa yang dia inginkan, tapi pada kehidupan kali ini berbeda. Kita bertemu lebih cepat dari dugaanku, sekarang Verden kehilangan kesempatan untuk menjadikan kita bonekanya.”
Sebuah jawaban yang sangat panjang, tapi berkat jawaban itulah Xena paham mengenai alasan mengapa dia sangat mematuhi perintah Verden di masa lalu. Bahkan Xena ingat dia pernah menyerang manusia yang tidak bersalah. Xander berakhir harus membunuh Xena demi keselamatan umat manusia. Oleh sebab itu, Xander menyalahkan dirinya sendiri sampai harus bunuh diri demi kembali ke masa lalu.
__ADS_1
“Lalu kenapa kau bisa tersegel? Apa yang terjadi setelah kematian di kehidupan pertama? Sejujurnya ingatanku masih belum pulih sepenuhnya, ada banyak ingatan tak menentu masuk memenuhi kepalaku. Tolong jelaskan padaku, apa yang kau ketahui sebenarnya?”
Gadis yang mengaku sebagai kepingan jiwa Xena tertunduk lesu, entah sudah berapa lama dia menunggu hari di mana dia bisa berkomunikasi dengan Xena. Ada banyak hal yang tersembunyi dan tidak ketahui Xena, kini adalah saatnya di mana dia harus berbagi cerita.
“Dengarkan aku, Verden dulunya bukan pria yang seperti ini, dia merupakan salah satu bagian dari klan setan yang mempunyai kepribadian sangat baik. Kita tertarik padanya karena melihat dirinya yang selalu senantiasa membantu orang yang lebih lemah tanpa mengharapkan imbalan. Verden menyukai keramaian, dia benci kesunyian, dia menyukai minuman dingin, dan dia benci minuman panas. Verden mencintai kedamaian, dia juga mencintai manusia, tapi akibat pengkhianatan dia berubah menjadi kejam.
Setelah kita mati di tangan manusia, Verden sengaja membelenggu jiwa abadi kita lalu mengirim sebagian jiwa untuk bereinkarnasi. Akan tetapi, ketika dia menemui sebagian jiwa yang dia kirim bereinkarnasi, rupanya Xander lebih dulu menemukanmu. Xander mencintaimu dan kau mencintai Xander, hal inilah yang menyebabkan Verden murka. Ketika dia berencana menggabungkan dua jiwa kita, dia memasang sihir belenggu yang lebih kuat lagi sehingga dia bisa membuat kita menjadi miliknya seutuhnya,” papar gadis itu.
Xena kehilangan kata-kata, namun dari cerita tersebut Xena menyadari sesuatu yang sangat penting. Xena memperkecil jarak antara dia dan jiwanya yang lain, setelah mendengar cerita tersebut Xena merasa prihatin terhadap diri Verden.
Wanita itu terkesiap, tampaknya dugaan Xena itu benar adanya, meski mereka adalah satu tapi mereka memiliki sesuatu yang bertolak belakang. Xena menekan jiwa abadi tersebut untuk berbicara jujur kepadanya.
“Kau menyadarinya lebih cepat.”
“Tentu saja aku menyadarinya, kau bodoh atau bagaimana? Kita ini satu, perasaanmu mengalir deras di hatiku. Apa yang kau rasakan maka aku juga turut merasakannya, tidak mungkin aku membiarkan perasaanmu mengganggu diriku.”
__ADS_1
Senyum penuh luka merekah di bibir wanita itu, Xena berhasil menebak seluruh isi hati dan pikirannya dalam sekejap.
“Ya, terkaanmu benar, dulu aku memang melakukan hal itu demi terus bersama Verden. Aku sungguh meminta maaf atas—”
“Maaf? Kau masih berani meminta maaf padaku? Apakah kau tahu seberapa menderitanya Xander memutar waktu demi diriku? Apa kau tahu betapa hancurnya hati anakku yang tidak bisa menikmati waktu bahagianya bersamaku dan Xander? Kenapa kau begitu egois? Kenapa kau bertindak semaumu? Aku tidak bisa memaafkanmu. Penderitaan Xander selama ini sangat menyakiti hatiku. Lalu apa? Kau meminta maaf? Aku tidak sanggup memaafkanmu,” lirih Xena menatap gadis itu dengan mata berkaca-kaca.
“Aku sudah menduganya, tidak mungkin bagimu memaafkanmu, walaupun kita adalah satu tapi kita mempunyai hati yang berbeda. Apabila aku menjadi dirimu, mungkin aku takkan memaafkan masalah ini. Namun, tidak masalah jika kau tidak memaafkanku, tapi aku mohon padamu untuk mengembalikan Verden menjadi dirinya yang lalu. Dia pria baik, dia hanya salah jalan, bisakah kau melakukannya?” pinta gadis tersebut.
Xena menghela napas panjang, dia tidak paham sama sekali kenapa sebagian jiwanya bisa melakukan hal yang merugikan. Tetapi, Xena tidak punya pilihan lain selain mengabulkan permintaan jiwanya itu.
“Baiklah, kita memang satu, tapi hati kita berbeda, kau mencintai Verden dengan tulus. Namun, Verden tidak mengetahui masalah ini, ‘kan? Jadi, bagaimana kalau kita membuat kesepakatan?” tawar Xena.
“Kesepakatan?”
Xena lantas menganggukkan kepala dan menjawab, “Aku akan membiarkanmu menemui Verden nanti, aku yakin Verden akan mendengarkanmu. Tetapi dengan syarat kau harus meminjamkan kekuatanmu padaku, aku butuh kekuatanmu untuk melawan Verden. Kemudian aku juga akan mencari cara memecah belah jiwa kita dan mengirimmu ke wadah baru supaya kau bisa saling berbahagia kembali bersama Verden.”
__ADS_1