
Bahana petir menggelegar di angkasa, kilat pun menyambar ke segala arah disertai langit gelap tak berawan. Di tempat ini tampak lebih berbeda dari biasanya, hawa mencekam menyelimuti tempat tersebut. Mayat-mayat manusia bergelimpangan di atas tanah bersama aroma darah yang menyeruak menusuk penciuman. Saat itu ada seorang wanita tengah bersimpuh di antara tumpukan mayat. Lalu di hadapannya ada dua orang pria yang tidak asing wajahnya, mereka terlihat seperti sedang bertarung demi wanita itu.
“Wanita itu adalah Xena? Di mana aku sebenarnya?”
Saat ini Xander masuk ke alam mimpinya, dia memimpikan hal yang sangat aneh dan belum pernah dia lihat sebelumnya. Xander terpaku menatap lurus pemandangan yang rasanya tidak asing tersebut. Xander mencoba mendekat untuk melihat lebih jelas tentang apa yang sebenarnya terjadi di sana.
“Kenapa Xena ada di tempat ini? Lalu pria di sana itu … bukankah itu adalah aku dan … ehh? Raja Setan? Tapi kenapa? Apa ini adalah mimpiku?”
Xander didera kebingungan hebat menyaksikan segala keanehan itu, dunia yang ia pijak telah hancur lebur seolah tidak ada kehidupan yang tersisa di sana. Dunia ini benar-benar telah jatuh ke jurang kehancuran.
“Kenapa kau terus mengejarku, Verden?! Kenapa kau selalu menganggapku sebagai istrimu? Kenapa kau menyakiti banyak orang demi mendapatkanku? Aku sudah mengatakannya berulang kali padamu, aku bukanlah istrimu! Aku tidak mencintaimu! Aku hanya mencintai Xander. Namun, apa yang kau lakukan? Kau malah menyakitiku berulang kali.”
Wanita yang terlihat seperti Xena itu menangis di tengah-tengah mayat manusia yang mati akibat keegoisan sang Raja Setan yang bernama Verden.
“Xena … kau milikku! Aku takkan membiarkanmu dimiliki oleh Xander! Sejak awal kau milikku dan kau mencintaiku. Aku membunuh manusia karena mereka menyakitimu, karena mereka membunuhmu! Tolong kembalilah kepadaku, Xena … aku hancur tanpamu. Tolong kembalilah ke pelukanku,” lirih Verden memohon dengan hati yang terluka.
“Verden! Kau tidak boleh memaksakan hatimu kepada Xena. Apa kau tidak kasihan padanya karena kau telah menyakitinya berulang kali? Kau membunuh semua orang yang dia sayangi. Jika kau memang mencintainya, tolong biarkan dia memilih kebahagiaannya sendiri!”
__ADS_1
“Xander! Kau tidak tahu apa-apa soal perasaanku, jadi lebih baik kau diam saja! Walaupun kau adalah adikku, aku takkan segan-segan membunuhmu. Aku membencimu, aku sangat membencimu. Kau telah menyegelku lalu sekarang kau merebut Xena dariku? Maksudmu apa berbuat seperti itu kepadaku, Xander?!”
Terkejut bukan main, Xander tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar, dia merupakan Adik dari Raja Setan itu sendiri. Tubuhnya membeku menyaksikan pemandangan yang familiar di ingatannya.
“Tanyakan sendiri kepada Xena, apakah dia bahagia bersamamu? Dia selalu tersakiti oleh sikapmu. Kau menghancurkan dunia ini demi Xena, kau membunuh mereka yang dilindungi oleh Xena. Pantaskah kau menyebut itu sebagai cinta? Justru sebaliknya, kau pengacau! Xena berkata dia mencintaiku. Xena adalah Xena, Xena bukanlah Ratumu, dia milikku dan dia istriku! Kau jangan membuatku murka, Verden!”
Perdebatan panjang di antara keduanya terjadi begitu saja, mereka memperdebatkan tentang perasaan mereka masing-masing. Tidak ada yang peduli bagaimana perasaan Xena kala itu, mereka hanya terus berdebat tanpa melihat seberapa besar luka yang tergurat di hati Xena.
“HENTIKAN!” teriak Xena menghentikan perdebatan di antara keduanya, “Apakah karena aku kau menghancurkan dunia ini? Apakah karena aku kau membunuh semua manusia? Semua ini salahku … benar-benar salahku … hidupku memang adalah sebuah kesalahan. Seharusnya sejak awal aku tidak usah hadir di antara hidup kalian berdua.”
“Xena, apa yang kau lakukan? Cepat taruh pedang itu kembali! Jangan lakukan hal gila, jangan tinggalkan aku lagi, Xena!” seru Verden mencoba mencegah Xena melakukan hal gila.
“Jangan gegabah, Xena! Aku berjanji akan menyingkirkan Verden untukmu, tapi aku mohon jangan sampai ada niat untuk membunuh dirimu sendiri. Tolong, Xena … bukankah kau berjanji akan hidup selamanya denganku? Aku tidak mau kau meninggalkanku. Jika kau memang ingin mati, maka aku juga akan ikut bersamamu,” ucap Xander berlinang air mata.
Xena kukuh untuk tidak menurunkan pedangnya, bulir-bulir air mata perlahan turun menggenangi pipinya. Hati Xena terluka akibat kekacauan dunia yang terjadi karena seorang pria yang begitu mencintainya. Akan tetapi, bukan ini yang dia inginkan, bukan kehancuran yang dia butuhkan, dia tidak menginginkan masalah ini berlarut hingga meruntuhkan alam semesta.
“Semua orang mengatakan bahwa cinta itu pembawa kebahagiaan, tapi mengapa cinta yang aku dapatkan hanya membawa kesengsaraan? Berhentilah mencintaiku dengan sangat gila, Verden! Kau menyakiti hatiku … kau menghancurkan kebahagiaanku. Bila dunia menuai derita besar akibat adanya diriku, maka lebih baik aku akhiri saja hidup ini.”
__ADS_1
Xena menghunuskan ujung pedang hingga menembus jantungnya, rasa sakit dari tikaman pedang tersebut tidak dapat dia rasakan. Perlahan tubuhnya tumbang, mata indah berwarna perak itu mulai tertutup rapat. Hal terakhir yang dia lihat adalah Xander yang meneriaki namanya, pria yang dia cintai segera mendekap tubuhnya. Rasa dingin menghampiri tubuh gadis itu, tak ada lagi jiwa yang menempati badan gadis yang disayangi oleh Xander.
“Xena … Xena, bangun! Xena, aku mohon jangan tinggalkan aku sendirian. Xena … istriku … istriku, jangan tinggalkan aku. Tolong bukalah matamu, katakan padaku bahwa semua ini tidak benar. Aku mohon, istriku, buka matamu ….”
Sesudah menyaksikan itu, Xander terbangun dari tidurnya dalam keadaan napas tersengal-sengal. Xander mencoba untuk mengatur irama napasnya, ia melirik ke jendela ternyata matahari mulai naik ke permukaan memperlihatkan dirinya. Mimpi yang baru saja dia saksikan tampak begitu nyata, ia meraba pipinya yang tanpa sadar rupanya sudah dibasahi oleh air mata.
“Mimpi apa itu? Tidak salah lagi, gadis dan pria itu adalah aku dan Xena. Tetapi, mengapa? Aku belum pernah menghadapi situasi itu. Mungkinkah hanya mimpi biasa? Mustahil, mimpinya terlihat sangat nyata,” gumam Xander.
Di saat itu pun Xavier masuk ke kamar Xander, dia menyadari kalau Xander baru saja bermimpi buruk. Xavier khawatir melihat Ayahnya harus berusaha lebih keras sendirian menyelamatkan Ibunya.
“Ayah, apa Ayah baru saja mimpi buruk?” tanya Xavier mengejutkan Xander.
“Ahh, Xavier! Ya, begitulah. Aku baru saja bermimpi buruk, tapi mimpinya terasa sangat nyata. Jadi, aku tidak yakin apakah itu mimpi atau sebuah kenyataan? Entahlah, kepalaku sakit jika mengingatnya,” tutur Xander seraya memijit pelipisnya.
“Lupakan itu! Sekarang bukankah Ayah berjanji padaku untuk berlatih pedang bersamaku? Jadi, cepatlah turun. Lagi pula itu hanya sebuah mimpi, Ayah kan tahu kalau mimpi hanyalah bunga tidur,” ucap Xavier mencoba menghilangkan kemurungan Ayahnya.
“Baiklah, aku akan segera turun.”
__ADS_1