
“Yang Mulia, gawat! Pasukan revolusioner telah tiba di Charise dan sekarang mereka sudah mengepung kekaisaran!”
Derryl tersadar dari lamunannya begitu kesatria tersebut melapor padanya, tanpa berlama-lama lagi, dia langsung beranjak pergi dari istana kediamannya. Terlebih dahulu Derryl memantau situasi melalui jendela lorong, dia terkejut
bukan main karena kala itu para pasukan revolusioner telah berhasil memenggal kepala sejumlah bangsawan berpengaruh di Charise.
Derryl segera memerintahkan para kesatria untuk berkumpul di halaman istana, tidak bisa terbayangkan seberapa besar rasa takut yang mengecam di dada. Derryl tidak mahir dalam bertarung sehingga kini dia benar-benar merasa kalau nyawanya sedang berada di ujung tanduk. Tanpa dia sadari, getaran kegelisahan menjalar ke setiap titik badannya hingga menyebabkan rasa lemas luar biasa.
Sementara itu, di sisi lain istana, Xena keluar menggunakan penampilannya yang asli, dia mengenakan baju dan celana serba hitam serta rambutnya yang bergaya pony tail. Gia sebagai pelayan pribadi yang dipercayai oleh Xena diperintahkan untuk bersembunyi sampai pembantaian ini selesai dilakukan. Tentu saja pada mulanya Gia menolak lalu berupaya menghentikan rencana Xena, namun Xena begitu keras kepala sehingga membuat Gia sedikit kewalahan.
“Nona, seluruh pasukan berhasil mengepung Kekaisaran Charise, sebagian dari mereka telah memenggal kepala para bangsawan. Kemudian rakyat dan budak yang tidak bersalah juga sudah diamankan, jadi apakah kita sekarang akan menyerang istana kekaisaran?” ujar Floris, bawahan Xena.
Kala itu satu persatu bawahan yang berbakat mendatangi Xena, mulai dari Laiv, Floris, Carian, Klaus, Giselle, dan Elinor. Sudah lewat beberapa hari semenjak Xena terakhir bertemu mereka dan kini mereka datang sesuai rencana yang telah disusun sedemikian rupa.
“Tidak perlu berlama-lama, kita terobos saja istana kekaisaran dan aku akan membuat orang-orang brings*k itu menjadi kelinci percobaanku karena belakangan ini aku sedang menjalani suatu penelitian,” ucap Klaus diselingi ekspresi sadis.
“Ayo, Nona! Kita harus membuat perhitungan terhadap orang yang sudah menyiksa Nona Alina selama ini. Kita tidak bisa berdiam diri lebih lama lagi, mengingat apa yang Anda ceritakan kepada saya tentang perlakuan para baj*ngan itu terhadap Nona Alina membuat saya menjadi sakit hati,” gerutu Elinor diangguki Giselle.
Laiv menghela napas kasar, dia tidak bisa menghentikan kegeraman dari mereka berlima. Tak terhitung berapa orang yang mati di tangan mereka sejak menapaki gerbang perbatasan Kekaisaran Charise. Wajar bila mereka merasa demikian, rasa sakit Xena merupakan rasa sakit mereka juga, mereka ikut menanggung penderitaan yang dilalui Xena.
__ADS_1
“Bersabarlah, aku sedang menunggu Xander dan Xavier, sepertinya sebentar lagi mereka akan datang.”
Lima menit kemudian, Xander datang bersama Xavier, mereka membawa sejumlah pasukan kesatria. Ekspresi Xena berubah sumringah sesaat melihat Xander, gadis yang biasanya suka marah-marah itu menjadi lembut ketika berhadapan dengan pria yang dicintainya. Pelukan sekaligus ciuman mesra dilayangkan oleh Xander, mereka berdua tidak mengenal tempat untuk memamerkan kemesraan tersebut.
“Hentikan! Kalian berdua sangat memalukan,” kata Liam mencoba membuat Xena dan Xander berhenti bermesraan. Namun, bukannya sebuah tanggapan baik yang dia dapatkan, sorot mata tajam dari Xena dan Xander yang dia dapati seketika mencoba menyuruh mereka menjeda sejenak kemesraan itu.
Xavier menepuk pelan keningnya menyaksikan hal memalukan itu, sedangkan para bawahan lainnya juga ikut menepuk kening. Baru kali ini mereka menyaksikan momen romantis Xena bersama Xander secara langsung.
“Apa kalian iri? Aku maklumi karena kalian tidak punya kekasih,” sinis Xander mendekap Xena sembari melayangkan senyuman angkuh.
“Yang Mulia, Anda tidak dewasa sama sekali. Padahal kita sedang sibuk seperti ini tapi Anda berdua malah memamerkan perasaan kasih sayang antar kekasih. Saya tahu sebentar lagi Anda berdua akan menikah, tetap saja Anda harus menjaga sikap,” tegur Garvin muncul dari belakang.
Ketika Garvin memalingkan pandangan, tanpa sengaja matanya bertemu pandang dengan mata Elinor. Garvin terkesima melihat Elinor, Xena dan Xander langsung menyadari bahwa benih-benih cinta di antara keduanya mulai tumbuh.
“Garvin dan Elinor dulunya sepasang suami istri, ‘kan?” tanya Xena berbisik.
“Benar, mereka suami istri tapi kisah cinta mereka berakhir tragis karena mereka berdua selalu mati di kehidupan sebelumnya,” jawab Xander.
Garvin dan Elinor beradu pandang cukup lama, ada perasaan tidak asing merasuki hati mereka masing-masing. Seolah saat itu mereka pernah bertemu dan mengenal baik, hanya saja mereka tidak mengingat itu semua.
__ADS_1
“Karena semuanya sudah berkumpul, mari kita mulai penyerangannya. Ingat! Kalian tidak boleh melukai orang yang tak berdosa, selagi dia tidak mengganggu maka biarkan saja. Kalian paham?” seru Xena memecah suasana.
Mereka mengangguk serentak, langkah mereka terpencar seketika suara Xena berseru di hadapan mereka. Xena bergerak cepat sendirian menuju penjara istana, tujuan utamanya kala itu ialah Brisia yang masih mendekam di balik jeruji besi. Kedatangan Xena memberi serangan kejut berlebihan terhadap Brisia yang termenung di sudut ruang penjara.
“Halo, Brisia. Bagaimana kabarmu? Apa kau baik-baik saja di tempat kumuh ini? Aku rasa untuk seorang wanita yang terbiasa berada di dalam dekapan manja sang Kaisar tidak akan merasa nyaman tinggal di penjara,” ledek Xena menggunakan sebuah senyum lebar.
Brisia yang tengah meringkuk langsung menegakkan kepalanya saat mendengar suara Xena. Bola matanya membulat sempurna melihat adanya Xena di hadapannya.
“Alina! Kenapa kau bisa kemari? Pergilah! Aku tidak sudi melihat wajahmu! Ini semua gara-gara kau yang menjebakku!” tuding Brisia sekalian mengusir Xena.
“Alina? Apa kau benar-benar berpikir kalau aku ini Alina? Coba lihat baik-baik diriku.” Waktu itu netra perak Xena bersinar dalam kegelapan, mata yang menjadi ciri khas itu seakan menelan hidup Brisia dan memberi keputusasaan yang kuat kepadanya.
“Kau bukan Alina! Siapa kau?! Kenapa kau terlihat layaknya seorang Alina? Ada apa ini sebenarnya? Mana Alina? Di mana wanita itu sekarang?!” teriak Brisia tampak frustrasi.
“Sepertinya kau tidak tahu, sebenarnya Alina sudah lama mati. Gadis malang itu menghilang beberapa hari dan ditemukan tidak bernyawa. Aku bukan Alina melainkan kembarannya yang bernama Xena! Aku menggantikan Alina masuk istana, aku menyamar sebagai Alina untuk membalaskan dendam terhadap orang yang pernah mencelakai Alina.”
Brisia kaget, dia membisu beberapa detik, dia pernah mendengar nama Xena yang terkenal oleh kebengisannya sejak dulu.
“Xena? Kau bercanda? Xena sudah meninggal ketika berada di Kekaisaran Colombain!” sanggah Brisia bersikeras.
__ADS_1
“Kekaisaran Colombain terbakar karena ulahku, aku melenyapkan kekaisaran jelek itu dari peta. Dunia tidak membutuhkan kekaisaran seperti Colombain yang selalu menyusahkan manusia,” balas Xena membuat Brisia kembali mematung.