Permaisuri Beracun

Permaisuri Beracun
Memancing Emosi


__ADS_3

Gylda mengerutkan keningnya, dia tidak menyukai Xena sama sekali, rasa dendamnya lebih besar karena mengingat apa yang dilakukan oleh Xena sebelumnya. Gylda menggertakkan gigi, ingin rasanya dia menghabisi Xena detik itu juga, tapi dia mengundurkan niatnya sebab Xena jauh lebih kuat darinya.


“Aku sangat membencimu, tapi aku paling membenci Kakekmu!” ucap Gylda lantang.


Xena terdiam sejenak mendengar pernyataan kebencian yang diutarakan oleh Gylda terhadap Kakek Xena. Setelah dipikir-pikir, Xena juga tidak tahu sama sekali mengenai masalah yang menerpa antara Gylda dan Kakeknya Xena. Kemudian Xena mendekat ke arah Gylda, dia duduk di sofa yang berseberangan dengan Gylda.


“Katakan padaku! Sebenarnya ada masalah apa kau dengan Kakekku? Jelaskan secara detail bermula dari apa kebencianmu itu?!” tanya Xena penuh tatapan selidik.


“Apa aku harus menjawab pertanyaanmu? Lagi pula aku tidak punya kewajiban menjawabnya. Lebih baik kau tanya saja kepada Kakekmu? Ah, aku lupa, Kakekmu kan sedang diasingkan setelah mencoba membunuh menantunya sendiri. Bahkan Pamanmu yang belum menikah juga ikut diasingkan seusai membantu Kakekmu dalam melakukan aksi percobaan pembunuhan. Sungguh keluarga yang gila,” ujar Gylda dengan pandangan mengejek serta nada bicara merendahkan.


Kakek Xena yang merupakan Duke Alister terdahulu diasingkan oleh Kaisar sebelumnya ke daerah terpencil di Charise. Setelah kematian Ibu Xena, Duke Alister terdahulu kehilangan akal sehatnya karena Kaisar menyatakan bahwa Ibunya meninggal karena sakit. Padahal sudah jelas kalau ada racun di tubuh Ibunya, tapi Kaisar menolak untuk mencarikan keadilan. Hal itu menimbulkan kebencian mendalam di hati Kakek sekaligus Paman Xena.


Selepas itu, mereka berdua mencoba membunuh Adolph saat itu, lalu tindakan mereka akhirnya ketahuan oleh Kaisar. Kakek Xena bersama Pamannya berujung diasingkan ke daerah kecil di sudut kekaisaran. Setelah diingat-ingat pun Xena belum pernah mengunjungi Kakeknya selama berada di Charise.


Xena menghela napas panjang, semakin dia lihat semakin dia membenci Gylda, apalagi dia sudah tahu kalau dalang dari kematian Ibunya adalah wanita itu. Darahnya berdesir hebat setiap kali menatap wajah Gylda.


“Memang tidak ada gunanya aku berbicara dengan orang sinting,” kata Xena seraya memutar bola mata malas.


“Apa kau baru saja menghinaku? Berani sekali mulutmu melontarkan kalimat hinaan padaku.”

__ADS_1


Gylda memberi tatapan menindas kepada Xena, sayangnya Xena tidak merasa tertindas hanya karena tatapannya. Xena adalah sosok tangguh yang tidak mudah untuk dijatuhkan, berbanding dengan Alina yang gampang merasa tertindas bila ditatap oleh orang lain. Xena duduk sambil menyilangkan kaki di hadapan Gylda, dia terlihat seperti seorang penguasa.


“Menghinamu? Benar, aku menghinamu. Lalu kenapa? Apa kau mau marah padaku?”


Rahang Gylda menegang akibat perkataan Xena yang terkesan blak-blakkan, bahkan dia tidak segan-segan melepas segala kejengkelannya terhadap Gylda. Menghadapi Xena membutuhkan kewarasan yang berada di atas rata-rata manusia pada umumnya. Wanita yang dijodohkan kepada anaknya memiliki sifat seburuk itu.


“Wanita jal*ng ini seharusnya sejak dulu aku lenyapkan saj—”


“Kau yang lebih jal*ng, bukankah kau dulu juga seorang selir? Ahh, aku melupakan sesuatu. Sebelum kau masuk ke harem Kaisar, kau hanyalah seorang anak bangsawan yang telah jatuh kemudian kau merayu Kaisar hingga membuatnya menyetujui kau masuk ke dalam haremnya. Kau merebut segala perhatian Kaisar sampai beliau mengabaikan Permaisuri sebelumnya, setelah aku pikir-pikir kau sangat mirip dengan Brisia.”


Xena mengulik masa lalu Gylda, siapa sangka kalau Xena mengetahui masa lalu Gylda sedetail itu. Ekspresi Gylda teramat geram, urat wajahnya sampai menonjol keluar, Xena sangat pandai memprovokasi agar Gylda meledak.


“Sialan! Wanita ini … KURANG AJAR SEKALI KAU!” teriak Gylda dipenuhi oleh amarah luar biasa. Sontak Gylda bangun dari posisi duduknya, lalu dia menyiram wajah Xena dengan secangkir teh.


Xena tertawa kecil saat air teh membasahi mukanya, dia memancing kebenaran yang tersimpan di balik kebohongan selama beberapa tahun ini. Fakta bahwa sebenarnya Gylda adalah dalang dari pembunuhan Ibu Xander alias Permaisuri sebelumnya. Xena meminta bawahannya untuk mencari tahu tentang kebenaran kematian Ibu Xander, dia menemukan banyak kejanggalan di balik kematiannya.


“Kenapa kau marah? Apa yang aku katakan barusan merupakan sebuah kebenaran? Ya ampun mulutku sungguh kelepasan membicarakannya secara terang-terangan,” tutur Xena sambil tersenyum miring.


“Lancang! Siapa yang mengatakan itu padamu? Itu fitnah! Mustahil aku melakukan hal kotor seperti demikian!”

__ADS_1


Gylda terlihat sangat panik, baru kali ini Xena melihat Gylda panik, apalagi paniknya tampak di luar batas seperti seseorang yang ketahuan berbohong demi mendapatkan sesuatu. Dari reaksi Gylda, Xena paham bahwa sebenarnya yang dia katakan ialah fakta yang tersembunyi selama ini dan disimpan rapat-rapat dari pendengaran masyarakat.


“Baiklah, anggap saja aku berbicara asal-asalan. Sekarang aku pergi dulu, nikmati hari-harimu dengan baik sebelum badai besar datang menghantam dirimu.”


Xena menghilang dalam sekejap dari pandangan Gylda, tujuannya datang kemari hanya memancing kemarahan Gylda. Walau sesungguhnya dia ingin mengetahui kejadian masa lalu yang membuat Gylda begitu membenci keluarganya, tapi melihat Gylda yang panik itu lebih dari cukup.


“Bagaimana bisa wanita itu mengetahuinya? Aku sudah melenyapkan semua buktinya. Apa mungkin seseorang mengetahuinya secara diam-diam lalu membeberkannya kepada dia? Bagaimana jika masalah ini sampai ke telinga Xander? Aku tahu seberapa gilanya pria itu, ditambah lagi dia tidak segan-segan menghabisi musuhnya dalam sekali tebas. Tidak bisa dibiarkan seperti ini, aku tidak boleh mati di tangannya,” gumam Gylda cemas sembari menggigit kukunya.


Xena tidak langsung kembali ke istana kediamannya, dia memutuskan memutar arah terbang menuju kediaman Xander. Xena mendarat di balkon kamar Xavier, dia ingin menemui putranya terlebih dahulu sebelum mengajak Xander berbicara.


“Xavier, buka pintunya.”


Xena menggetuk pelan pintu kamar Xavier, mendengar suara Xena, Xavier langsung melompat dari tempat tidur dan membukakan pintu agar Xena bisa masuk ke kamarnya. Senyum Xena merekah lebar saat melihat wajah Xavier, dia segera memeluk Xavier dengan erat.


“Ibu! Apakah Ibu datang kemari untuk menemuiku?” tanya Xavier girang.


“Iya, tapi Ibu juga ingin menemui Ayahmu, apa dia sibuk sekarang?”


“Sepertinya tidak, aku akan mengantar Ibu ke ruangan Ayah.” Xavier menarik tangan Xena, dia menggenggam penuh bahagia tangan sang Ibu.

__ADS_1


Xena masih tidak percaya bahwa dia pernah melahirkan anak di kehidupannya yang lalu. Meskipun di kehidupan kali ini Xavier dan dia terlihat seperti Kakak Adik, namun tetap saja pada dasarnya Xavier ialah anaknya sendiri.


__ADS_2