
“Tubuhmu bagus sekali, akan lebih bagus lagi kalau tubuhmu aku jadikan sebagai kelinci percobaan untuk penelitianku.”
Seorang pria berambut blonde dengan mata berwarna cokelat cerah tengah memojokkan seorang pemuda berbadan kekar. Di tangan sebelah kanannya menggenggam sebuah pisau bedah, ditambah lagi ekspresinya yang kejam membuat pemuda itu tak sanggup untuk melawan balik. Senyum yang terukir di bibir pria itu adalah senyum mematikan.
“Tolong biarkan saya hidup,” mohon pemuda itu.
“Hidup? Hidupmu tak diperlukan lagi di bumi ini, jadi lebih baik kau mengorbankan diri untuk penelitianku saja, setidaknya jasadmu lebih berguna nanti.” Pria itu mengayunkan pisau bedahnya ke arah perut pemuda itu. Suara sobekan akibat gesekan pisau bedah terdengar begitu nyaring, darah segar memercik ke muka pria itu.
Pemuda tadi meregang nyawa tepat setelah pisau bedah nan tajam membuat isi perutnya berkeluaran.
“Dasar manusia tak berguna! Aku harap penelitianku tidak gagal lagi kali ini.” Pria itu terus mengoceh lalu menarik jasad si pemuda menuju ke tepi jalan kecil.
“Hey, Klaus! Apa kau sudah menyelesaikan bagianmu?” tanya seorang pria bersurai hitam kepada Klaus – pembunuh nomor tiga di kelompok pembunuh higanbana.
“Tidak bisakah kau melihat gundukan sampah manusia ini, Floris? Aku akan memilah bagian tubuh mereka yang dapat aku gunakan sebagai penelitianku.”
Pria bernama Floris itu juga merupakan bagian dari pembunuh higanbana, dia merupakan pembunuh nomor lima. Pupil mata hitamnya terkesiap menyaksikan gundukan tubuh manusia di hadapan Klaus, perlahan bibirnya melengkung membentuk senyum.
“Aku juga sudah menyelesaikannya.”
Di belakang punggung Floris juga menumpuk jasad manusia yang diikat menggunakan rantai. Kekuatan Floris yaitu sihir rantai, dia dapat menggunakan rantainya sebagai senjata ataupun untuk mengikat targetnya. Sihir rantai Floris sangat kuat, ketajaman dari rantai tersebut setara dengan sebuah pedang.
“Woahh banyak sekali, apakah aku boleh memeriksanya? Siapa tahu ada jasad yang lebih bagus.”
__ADS_1
Floris mengangguk, tak perlu diherankan lagi, Klau memang sering seperti ini ketika menjalankan misi dari Xena. Dia selalu pulang membawa bagian tubuh manusia untuk dijadikan sebagai bahan penelitian atau kelinci percobaan. Klaus gemar melakukan penelitian di luar nalar manusia, tapi Xena tidak pernah menegur dan mencegah apa pun yang dilakukan oleh Klaus.
Di sisi lain tempat Floris dan Klaus berpijak, muncul kabut putih yang sangat pekat, di dalam kabut tersebut terdapat beberapa orang ksatria. Mereka terduduk di atas tanah dalam kondisi ketakutan, mereka tak sanggup untuk berdiri dan melarikan diri dari kabut itu, sebab kabutnya mengandung zat pelumpuh.
Seorang wanita berambut pendek perak sedang menggenggam sebilah pedang, mata biru terangnya menyala di dalam kabut. Tatapan wanita itu tajam dan menusuk, para ksatria dibuat tak dapat melawan dan berkutik di hadapannya.
“J-jangan bunuh k-kami, t-tolong jangan b-bunuh. Beri kami kesempatan u-untuk hidup,” mohon para ksatria.
“MATI!” Wanita itu tak menggubris permohonan mereka, ayunan pedang yang sangat tinggi lalu melayang bebas di udara menebas kepala ksatria. Satu persatu kepala ksatria terpelenting jauh, bahkan gerakan pedangnya saja tak bisa terbaca oleh mata.
“Manusia jahat harus mati,” ujar Giselle – pembunuh nomor enam seraya menyarungkan kembali pedangnya yang berlumuran darah, kabut yang menyelimuti Giselle perlahan menghilang. Kabut itu sebenarnya tercipta dari kekuatan Gisella yakni pedang kabut, pedang yang akan mengeluarkan kabut pelumpuh ketika akan membunuh targetnya. Wajah Giselle memang selalu tampak datar, selama ini dia nyaris tidak pernah tersenyum selain kepada Xena.
Kemudia tidak jauh dari tempat Giselle, terlihat sosok gadis berpakaian serba hitam dan menggunakan sebuah payung duka hitam. Rambutnya panjang bergelombang berwarna ungu gelap dengan pupil mata berwarna hazel. Gadis kecil itu sedang memojokkan tiga orang pria yang gemetar ketakutan.
“Ampuni n-nyawa kami, tolong….”
“Ampun? Lucu sekali kalian. Setelah melakukan berbagai kejahatan tak manusiawi, kalian meminta pengampunan? Minta ampun saja nanti di neraka!”
Gadis itu melenggangkan payungnya, seketika payung tersebut bereaksi hingga membelah badan ketiga ksatria itu sampai mati. Gadis kejam itu bernama Elinor – pembunuh nomor tujuh, ia selalu mengenakan gaun hitam dan membawa payung duka ke mana-mana. Payung itu selalu digunakan untuk membunuh terget, ujung payungnya sangat tajam layaknya ujung pedang.
“Apa kau sudah selesai?” tanya Giselle menghampiri Elinor.
Elinor menoleh ke arah Giselle, “Ya, aku sudah selesai, ternyata mereka seperti seekor kutu yang langsung mati bila diinjak,” jawab Elinor sambil menghentak-hentakkan ujung payungnya ke jasad manusia yang telah hancur ia buat.
__ADS_1
“Ya sudah, ayo kita berkumpul, sepertinya yang lain juga telah menyelesaikan pekerjaannya,” ajak Giselle.
Mereka berdua pergi ke tempat Klaus dan Floris berada, lokasi mereka berdiri saat itu penuh dengan simbahan darah serta mayat manusia yang tak terhitung jumlahnya. Floris melambai-lambaikan tangannya ke arah mereka, senyum Floris yang merekah menjadi penyejuk di antara mereka, sebab Floris adalah salah satu bawahan Xena yang paling sering tertawa dan tersenyum sehingga ia dijuluki sebagai matahari higanbana.
“Banyak juga hasil buruan kalian,” ujar Elinor seraya mengedarkan pandangannya.
“Seperti yang kau lihat, Klaus masih sibuk memilah bagian tubuh yang akan dibawa ke markas. Pekerjaan kita berakhir lebih cepat dari biasanya, saatnya kita pulang dan mengistirahatkan diri,” tutur Floris.
Kala itu mereka berada di Kerajaan Miley, sebuah tugas dan misi diberikan oleh Xena kepada mereka untuk menghancurkan Kerajaan Miley. Kerajaan ini terletak sangat jauh dari Kerajaan Shofin – lokasi markas mereka berada. Misi mereka terselesaikan dengan cepat dan sempurna, tak ada manusia yang mereka tinggalkan selain para budak.
“WOY! PEKERJAAN KALIAN SUDAH SELESAI?”
Dari jauh, nampak Carian berlari ke arah mereka, dia baru saja tiba di Kerajaan Miley untuk memeriksa pekerjaan rekan-rekannya. Carian sendiri adalah pembunuh nomor empat di higanbana, kemampuan yang dimilikinya bisa mengubah darahnya menjadi jarum.
“Kenapa kau baru sampai?” tanya Klaus.
“Aku baru saja menyelesaikan misi dari Nona untuk membunuh para bangsawan yang telah menghina Nona dan kembarannya,” pamer Carian memperlihatkan ekspresi bangga.
Tatapan menusuk sesaat mengarah pada Carian, segera mereka berempat mengerumuni Carian meminta penjelasan lebih lanjut.
“Apa? Menghina? Siapa yang berani menghina Nona?”
“Apa kau sudah menyiksa orang bej*d itu? Rasanya aku meledak-ledak sekarang saat mendengar Nona dihina.”
__ADS_1
“Bagaimana keadaan Nona di sana? Apa Nona baik-baik saja? Adakah orang yang berani mengusik Nona?”
“Cepat beritahu kami, Carian! Beritahu secara detail mulai dari keadaan Nona hingga sikap orang-orang yang berkeliaran di sekitar Nona!”