
DUARRRR!
Secara tiba-tiba pada hari itu terjadi serangan besar-besaran di depan gerbang Kerajaan Shofin. Seluruh kelompok pembunuh higanbana berlarian keluar untuk mengecek orang yang mengirim serangan yang dahsyat tersebut. Laiv selaku orang yang dipercaya oleh Xena sekaligus sebagai pembunuh nomor dua, segera mengambil komando untuk mengerahkan para bawahan untuk lebih berhati-hati dan melindungi budak yang mereka selamatkan beberapa waktu ini.
“Sebagian ikuti aku dan sebagian lagi tinggal di sini untuk melindungi para budak!” perintah Laiv.
Laiv memimpin jalan, gerakan mereka secepat kilat melayang di udara, kemampuan membunuh anggota yang berada di bawah kepemimpinan Xena telah terasah baik. Tidak ada yang meragukan kemampuan mereka, bahkan dunia pun menjadikan mereka ancaman terbesar. Sudah banyak bangsawan yang mati di tangan pembunuh higanbana, tak hanya bangsawan saja, orang yang mempunyai akhlak buruk juga ikut terseret di dalam pembunuhan itu.
Sesampainya mereka di depan gerbang, setengah dari permukaan tanah mengalami kerusakan hebat. Laiv mempertajam penglihatannya, dari arah berlawanan muncul segerombolan orang yang mengenakan topeng hitam.
“Sepertinya ada musuh baru,” ucap Laiv seraya menyeringai seram, semua anggota higanbana tahu apabila Laiv memperlihatkan seringaiannya, maka sudah dipastikan dia akan menghancurkan targetnya tanpa ampun. Laiv yang biasanya berwajah datar, tak menampilkan wajah yang tersenyum, akan berubah ketika ia dihadapkan dengan musuh atau pun target pembunuhannya.
Tanpa berlama-lama Laiv langsung menerjang ke arah lawan, pergerakan super cepatnya sulit terbaca oleh mata, senjata yang digenggam oleh Laiv hanya sebuah pulpen. Para bawahan mengikuti Laiv, mereka memencar ke segala arah untuk melancarkan serangan. Pedang, belati, hingga pisau yang digunakan mereka telah dibubuhi dengan racun milik Xena sehingga dapat mempercepat terjadinya kematian.
“M-mereka sangat cepat! Bagaimana cara kita mengalahkannya?”
Segerombolan musuh itu terlihat panik menyaksikan pergerakan super cepat pembunuh higanbana, satu persatu dari mereka pun dijatuhkan. Dengan menggunakan sebuah pulpen, Laiv berhasil membabat habis mereka semua, ujung pulpen yang tajam ia tancapkan ke leher target kemudian dia membantai mereka secara kejam. Dalam sekejap semua musuh berhasil dimusnahkan oleh mereka, kemampuan membunuh di atas rata-rata dan pantas saja mereka ditakuti oleh dunia.
“Apa segini saja kemampuan kalian?” Laiv memojokkan salah satu musuh yang kakinya telah dipatahkan oleh Laiv. Pria bertopeng itu tampak ketakutan, dia hanya beringsut ke belakang untuk menjauhi Laiv, namun sepertinya dia tidak bisa menghindari Laiv sedikit pun. Mayat dari rekan-rekannya berserakan di tanah, simbahan darah serta bau darah begitu menyeruak ke penciuman.
__ADS_1
“T-tolong a-ampuni saya… s-saya hanya disuruh,” ujar pria itu gelagapan karena perasaan takut memakan dirinya.
“Siapa yang menyuruh kalian menyerang kami? Katakan!” Laiv mengintimidasinya, di balik kacamatanya tersimpan sorot begitu tajam dan penuh dengan tekanan.
“Yang menyuruh k-kami adalah—”
Duarrr!
Tubuh pria itu tiba-tiba meledak dan hancur lebur di hadapan Laiv, belum sempat dia menjawabnya tapi dia lebih dulu mati tanpa dibunuh oleh Laiv. Sejenak Laiv menghela napasnya, dia merogoh sehelai sapu tangan untuk menyeka darah yang menodai kacamata dan wajahnya.
“Mantra pemusnah? Sama seperti mantra yang terpasang di tubuh para pembunuh Nona Alina. Sebenarnya siapa dalang di balik semua ini? Mereka sepertinya menginginkan kehancuran pembunuh higanbana. Aku akan segera melaporkan masalah ini kepada Nona, tidak bisa lewat surat saja, aku harus menemui Nona secara langsung,” gumam Laiv.
Oleh karena itu, Laiv memasang satu lapis penghalang lagi untuk berjaga-jaga supaya budak yang tak bersalah tidak terkena imbas penyerangan tersebut. Akibat serangan musuh tadi, semua anggota pembunuh higanbana dibuat sibuk. Mereka mondar mandir, berlarian sana sini untuk mengecek ulang semua penjagaan demi mewaspadai adanya penyelundupan musuh ke dalam markas.
“Ke mana anak-anak itu? Kenapa mereka tidak kunjung menampakkan diri?” Laiv mempertanyakan keberadaan Carian, Klaus, Floris, Giselle, dan Elinor. Selepas menyelesaikan misi, mereka tidak pulang ke markas dan kini mereka tengah berada di perjalanan menuju Charise. Mereka pergi tanpa meminta izin Laiv, sebaiknya mereka bersiap-siap jika nanti ketahuan oleh Laiv maka sudah dipastikan mereka akan mendapat ocehan serta hukuman berat dari Laiv.
Lalu Laiv berjalan menuju gudang penyimpanan harta, dia membuka daun-daun pintu dan melihat tumpukan koin emas yang menggunung. Sekali lagi Laiv menghembuskan napasnya, dia bingung bagaimana cara menghabiskan seluruh koin emas yang telah mereka tumpukkan semenjak lima tahun terakhir. Selama ini tidak ada pengeluaran dalam jumlah besar, sedangkan pemasukan terus berdatang setiap harinya. Mereka mendapatkan semua uang itu karena menjarah harta target mereka, rata-rata target pembunuhan berasal dari keluarga kaya raya.
Berulang kali Laiv mengomeli Xena untuk menghabiskan uang-uang itu, tapi Xena tidak mempedulikannya sama sekali. Laiv sudah mencoba membagi-bagikan uangnya ke para budak, tapi jumlah tidak berkurang sedikit pun.
__ADS_1
“Sepertinya aku mesti menyuruh Nona untuk membeli sebuah kekaisaran biar semua uangnya bisa habis. Aku akan membawa beberapa untuk diberikan kepada Nona,” ucap Laiv, ia mengambil sekotak koin emas lalu menutup kembali gudang penyimpanan, sekarang dia siap pergi menuju Charise.
...***...
“Ada apa ini? Kenapa kalian menerobos masuk ke istanaku?!”
Saat ini di istana kediaman Gylda, sekelompok ksatria menyerobot masuk dan di belakang mereka ada Count Berend, Baron Elmo, dan Marquess Cerano. Amarah mereka menggebu-gebu karena kematian istri mereka yang mengundang tanda tanya. Mereka adalah bangsawan berpengaruh di Charise, sehingga mereka tidak takut melakukan apa saja demi mencari bukti yang kuat.
Walaupun Gylda merupakan Ibu Suri, tapi tidak menutup kemungkinan untuk mereka bersikap lancang seperti ini. Sedari kemarin Derryl bersikeras membela Gylda, tapi ia tetap kalah berdebat dengan para bangsawan yang heboh meminta pembuktian secara langsung. Kemudian hal pertama yang mereka lakukan kala itu adalah mencari bukti yang valid di istana kediaman Gylda.
“Maafkan kami, Yang Mulia. Anda menjadi orang yang dicurigai sebagai pembunuh istri kami, jadi kami bermaksud untuk mencari bukti di istana Anda,” tutur Marquess Cerano.
“Aku tidak membunuh siapa pun! Kalian ini berani sekali kepada Ibu Suri. Apa kalian tahu akibatnya bila menuduhku seperti ini? Kalian bisa dihukum mati!” tegas Gylda.
“Kami hanya mencari bukti, kenapa Anda panik, Yang Mulia?” balas Count Berend.
Gylda geram karena tingkah mereka, ingin sekali rasanya saat itu dia menampar wajah ketiga bangsawan tersebut.
‘Apabila aku terbukti tidak bersalah, maka aku pastikan kalian akan mendekam di penjara!’ gerutu Gylda dalam hati.
__ADS_1