
“Astaga, Nona, Anda suka sekali membuat saya khawatir. Saya pikir Anda diculik lagi seperti sebelumnya, tapi syukurlah Anda baik-baik saja. Ke mana saja Anda sedari kemarin? Di mana Anda menginap semalam?”
Gia menunggu kepulangan Xena sampai membuat dirinya tidak bisa tidur dalam semalam, ia mengkhawatirkan keadaan Xena karena semenjak insiden penculikan serta percobaan pembunuhan, membuat Gia kian meningkatkan kewaspadaannya.
“Maaf, semalam aku terjebak hujan. Jadi, aku menginap di rumah Duke Geraldo,” jawab Xena.
Kemudian Xena meminta Gia untuk mempersiapkan air untuk mandi, dia ingin mengganti pakaiannya yang dipenuhi oleh aroma Xander. Beberapa kali Xena menghela napas kasar, hal itu membuat Gia bingung tentang apa yang sebenarnya terjadi pada diri Xena.
“Nona, apa ada yang membuat Anda terganggu?” tanya Gia.
“Tidak ada, aku hanya memikirkan beberapa hal rumit saja. Tolong ambilkan segelas cokelat dingin, aku ingin minum minuman yang dingin di cuaca terik seperti ini,” titah Xena.
“Baiklah, saya akan segera mengambilkannya.”
Gia langsung pergi memenuhi titah dari Xena, saat ini Xena hanya duduk di pinggir jendela sembari menikmati embusan angin yang sepoi-sepoi. Sesekali ia mendongakkan kepalanya ke atas hamparan langit biru. Perlahan pikiran rumit menyerang kepalanya satu persatu hingga menciptakan ketidaktenangan di dirinya sendiri.
‘Siapa wanita yang berbicara padaku semalam? Lalu siapa juga pria yang menyerangku dan Xander? Mengapa semuanya bertambah rumit? Aku bahkan belum mendapatkan petunjuk tentang pembunuh Alina. Ditambah lagi penyerangan di markas, bagaimana mereka bisa tahu letak markasku?’
Lalu Gia datang membawa segelas cokelat dingin, Xena menghentikan sejenak pikirannya yang rumit. Kini dia kembali untuk menikmati waktu luang yang tenang itu tanpa harus diganggu oleh masalah yang belum ada jalan keluarnya.
“Buku apa yang kau pegang itu?”
__ADS_1
Xena salah fokus terhadap buku bersampul maroon yang dipegang oleh Gia, buku yang cukup tebal itu menarik perhatian Xena.
“Ini buku yang menceritakan tentang dewi cinta,” jawab Gia.
Xena menatap nanar Gia, biasanya dia tidak pernah tertarik cerita mengenai dewa ataupun dewi, tapi entah mengapa dewi cinta membuatnya sedikit tertarik.
“Apa yang diceritakan di sana?” tanya Xena lagi.
“Dikatakan bahwa dewi cinta akan turun ke bumi setiap seribu tahun sekali, beliau mencari dan menyaksikan lebih dekat manusia yang memiliki ketulusan dalam cinta. Pasangan manusia yang terpilih akan diberi perhatian khusus, namun dewi cinta belum pernah menemukan manusia yang mempunyai rasa cinta yang kuat. Manusia yang saling mencintai, saling melengkapi, dan saling melindungi, dewi cinta tidak menemukan itu di dunia ini. Hingga sekarang dewi cinta masih mencari cinta seperti itu,” jelas Gia.
Xena menganggukkan kepalanya, paling tidak sedikit banyaknya dia paham apa yang dimaksudkan oleh Gia. Tetapi, cerita hanyalah cerita, Xena tak menganggap dewi cinta itu ada, bahkan selama ini sebenarnya dia tidak pernah mempercayai keberadaan dewa dan dewi di alam semesta ini. Ketika mereka saling bertukar kata membahas tentang isi buku tersebut, tiba-tiba seorang ksatria datang membawa sebuah kotak berwarna biru.
Ksatria itu memberikan kotaknya pada Gia, ia pun berlalu pergi seusai memastikan kotak itu telah sampai di tangan Xena.
“Itu pasti milik Alina, tolong bawa kotaknya kemari. Biar aku cek apa yang tersimpan di dalamnya.”
Gia langsung memberikan kotak yang berukuran sedang itu kepada Xena, tapi rupanya kotak tersebut terkunci. Xena tidak ambil pusing, dia merusak gembok kuncinya untuk menyingkap tutup kotaknya. Di dalam kotak itu terdapat sejumlah benda yang diberikan oleh Xena kepada Alina pada hari ulang tahunnya, lalu di bawah itu ada sebuah surat yang tampaknya baru ditulis oleh Alina sebelum hari kematiannya. Xena membuka surat itu kemudian membaca apa yang tertoreh di sana.
“Xena, aku ingin mengirim surat ini padamu, tapi anehnya surat ini terus kembali lagi padaku. Aku takut… aku takut, Xena, bayangan hitam itu selalu muncul di mimpiku, bayangan hitam itu menghantuiku. Apa yang harus aku lakukan? Aku ketakutan sendirian, tidak ada yang peduli padaku selain dirimu. Aku takut mati, aku belum siap untuk mati, tapi bayangan hitam itu mengatakan bahwa aku akan mati dalam waktu dekat. Xena, bisakah kau menolongku? Bisakah kau mengusir bayangan hitam itu? Ini menyesakkanku… bantu aku, Xena….”
Tangan Xena gemetar saat membaca suratnya, sekelebat bayangan melintasi pikirannya. Xena mengingat bayangan hitam yang pernah menyerangnya. Kemungkinan besar bayangan yang dibicarakan oleh Alina itu adalah bayangan yang sama seperti bayangan yang mencelakai Xena.
__ADS_1
“Gia, apakah ada yang aneh dari Alina sebelum dia mati?” tanya Xena.
“Saya baru mengingatnya, beberapa waktu sebelum Permaisuri meninggal, beliau selalu mengeluh takut dan tidak bisa tidur. Beliau mengatakan ada bayangan hitam yang selalu mengikutinya setiap saat. Saya tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Permaisuri sebab saya tidak melihat bayangan hitam di mana pun. Beliau juga lebih sering mengurung diri, bahkan beliau tidak pernah keluar dari kamar untuk sekedar memberi salam kepada Kaisar.”
Xena meremuk kertas suratnya, hati Xena perlahan dilingkupi oleh rasa bersalah karena tidak bisa berada di samping Alina. Ketika dia berada di titik terendah, Xena tak bisa membantunya, bahkan untuk menemukan pembunuhnya saja Xena dibuat kewalahan.
‘Aku tahu sekarang… aku tahu kalau pembunuh Alina bukan berasal dari istana, melainkan di luar istana. Tetapi, aku juga tidak bisa pergi dari istana ini sekarang, setidaknya sampai waktu itu tiba, aku baru akan bergerak menghancurkan Charise. Sebelum itu, aku harus menjumpai Xander lagi karena aku tidak punya orang yang bisa diandalkan selain Xander di Charise.’
...***...
Pada malam hari tepatnya di ruang kerja Derryl, dia tengah mengadakan pertemuan bersama bangsawan yang paling dia percayai yaitu Marquess Andros. Mereka sepertinya sedang membicarakan masalah serius. Mereka mengadakan pertemuan ini tanpa sepengetahuan orang lain.
“Bagaimana Marquess? Apa Anda berhasil membujuk ketiga bangsawan itu untuk mencabut laporan penahanan Ibuku?” tanya Derryl.
Ketiga bangsawan yang dimaksud oleh Derryl yaitu Count Berend, Baron Elmo, serta Marquess Cerano. Kini Derryl mencoba membujuk ketiganya untuk mencabut laporan terhadap Ibu Suri, Derryl merupakan seorang anak yang sayang Ibu sehingga dia akan melakukan apa saja untuk Ibunya bahagia. Walaupun kejadian beberapa waktu lalu membuatnya kesal, namun sekarang dia tidak lagi menyimpan kekesalan.
“Izin menjawab, Yang Mulia, saya gagal membujuk mereka untuk mencabut laporannya. Mereka bersikeras untuk tetap melaporkan Ibu Suri,” jawab Marquess Andros.
“Kalau begitu tidak ada pilihan lain lagi, tolong Anda bunuh mereka semua, Marquess,” perintah Derryl.
“Siap, laksanakan, Yang Mulia.”
__ADS_1