
Xena terpaksa berpura-pura baik di hadapan mereka sebelum akhirnya nanti dia melayangkan kejutan besar untuk mereka. Tergurat raut sumringah yang penuh keserakahan dari wajah mereka masing-masing, mereka berpikir bahwa Xena berhasil mereka kendalikan hanya dengan sebuah kata maaf. Mulut manis mereka sungguh memuakkan, Xena nyaris menampar mulut yang berpura-pura melontarkan permintaan maaf.
“Benarkah kau memaafkan kami?”
Merry sengaja menempel ke dekat Xena, dia bertingkah seolah menjadi orang paling dekat dengan Xena selama ini.
“Tentu saja, bukankah kita semua adalah keluarga? Sesama keluarga sudah seharusnya saling memaafkan,” tutur Xena.
Seluruh orang yang berada di ruangan tersebut penuh dengan wajah palsu, masing-masing mereka memainkan peran sesuai diri mereka sendiri. Xena ingin menghajar mereka sampai mati, tapi ia menekan diri supaya tidak meledakkan amarahnya.
“Alina, aku dengar kau sudah membeli semua aset keluarga. Bagaimana kau bisa membelinya? Harganya pasti mahal sekali,” ujar Adolph seraya memamerkan senyum lebar.
“Aku sudah membeli semuanya, jika kalian bertanya dari mana uang itu aku dapatkan, kalian tidak perlu tahu itu. Tanpa sepengetahuan kalian, aku ini sangat kaya raya, bahkan uangku bisa membeli satu kekaisaran.”
Xena sengaja memamerkan harta kekayaannya untuk memancing ketamakan mereka keluar dari sarangnya. Ketika itu, raut muka mereka berbinar, mereka kian bersemangat mendengar kekayaan Xena yang tak terbatas. Tatapan mata mereka memperlihatkan dengan jelas bahwa mereka tergiur oleh harta Xena dan lekas ingin menguasai semuanya.
“Itu sangat banyak, bagaimana kalau kau biarkan kami menyimpan sebagian? Lalu aset keluarga juga, akan lebih aman jika kau menitipkannya kepada kami atau kalau kau mau memberikannya kami akan menerima senang hati. Kami berjanji tidak akan menjual aset-aset itu lagi, bisakah kau percayakan kepada kami, Alina?” ucap Merry dan diangguki oleh Adolph.
“Bagaimana jika aku menolak memberikannya?” tanya Xena.
“Menolak? Kau tidak boleh menolak memberikan semua aset itu kepada kami. Sejak awal aset itu adalah milik keluarga, dan kau tidak punya hak untuk menolak memberikan aset itu,” tutur Adolph.
Xena menyunggingkan senyum seringai nan tajam, sejak awal mereka hanya mengincar aset keluarga yang telah susah payah dia beli. Mereka dengan tidak tahu malu meminta aset tersebut terang-terangan, tak tergambar rasa bersalah maupun penyesalan dari garis wajah mereka. Yang ada di otak mereka semua hanyalah harta, harta, dan harta. Sikap mereka yang seperti inilah membuat Xena menaruh dendam besar kepada mereka.
“Kalian salah. Aset itu bukan lagi milik keluarga Duke Alister, melainkan itu semua milikku karena aku telah memindahkan namaku ke dalam seluruh dokumen aset. Akulah pemilik resmi dari aset berharga keluarga Duke Alister sekarang. Kalian tak lain hanyalah manusia yang menumpang nama di keluarga Duke Alister, kalian sedari awal bukan bagian dari keluarga ini!”
__ADS_1
Ekspresi mereka berubah dengan cepat, tidak ada lagi kepalsuan, tidak ada lagi raut ramah, tidak ada lagi sambutan hangat. Sekarang mereka memamerkan sifat asli mereka di depan Xena, orang-orang itu sungguh tidak punya hati ataupun otak.
“Kurang ajar! Jadi, kau hanya berpura-pura memaafkan kami begitu? Apa maksudmu kami bukan lagi bagian dari keluarga Duke Alister? Aku masih menjabat sebagai Duke. Jangan harap kau bisa mengeluarkan kami dari silsilah keluarga!” bentak Adolph.
“Tidak ada gunanya berbicara dengan wanita ini, kita bunuh saja dan rebut seluruh aset serta hartanya!” seru Merry.
“Keluarlah kalian! Tangkap dan bunuh wanita ini!”
Para ksatria berkeluaran dari sudut ruangan dan pintu masuk, ternyata mereka telah mempersiapkan semua ini sejak tadi. Mereka telah memperhitungkan tentang Xena yang akan menolak permintaan mereka sehingga mereka memutuskan untuk membunuh Xena lalu merebut segala harta kekayaan milik Xena.
“Jadi, kalian telah berencana untuk membunuhku? Tapi, kalian salah telah mencari masalah denganku.”
Xena bangkit dari tempat duduknya, seraya menyunggingkan senyum, ia menepuk tangannya sebanyak tiga kali.
Tiba-tiba saja bawahan Xena sebanyak dua puluh orang turut bermunculan dan menghancurkan setengah atap ruang. Mereka menahan seluruh ksatria yang hendak melayangkan serangan kepada Xena. Bawahan Xena dengan mudahnya melumpuhkan ksatria tersebut, kini Adolph dan yang lain terkepung oleh bawahannya.
“Alina! Beraninya kau berbalik menyerang kami. Aku akan mengadukan perbuatanmu kepada Kaisar!” gertak Adolph.
“Alina? Sepertinya kalian salah sangka. Aku bukanlah Alina, tapi aku Xena.”
Netra mereka membulat sempurna, mereka menolak percaya bahwa wanita kejam yang berada di hadapan mereka kini ialah Xena. Hanya saja, setelah mereka pikir-pikir lagi, perasaan yakin timbul di hati mereka. Yakin bahwa wanita itu merupakan Xena dan bukanlah Alina yang pernah menjabat sebagai Permaisuri.
“Jangan berbohong! Mustahil! Xena sudah mati di Kekaisaran Colombain dan tubuhnya telah dilahap habis oleh api,” sanggah Adolph.
Xena tersenyum miring, betapa lucunya raut wajah mereka saat Xena mengungkap identitas aslinya kepada mereka. Ketakutan mencuat dari garis muka mereka, entah masalah apa lagi yang akan menghampiri mereka seusai ini.
__ADS_1
“Bukannya waktu itu aku pernah bilang bahwa akulah yang membakar habis Kekaisaran Colombain? Segala insiden yang terjadi di sana adalah ulahku, mulai dari pertentangan antar bangsawan, perebutan takhta, hingga perang saudara. Akulah pelaku di balik insiden kehancuran Colombain. Sebagaimana yang kalian ketahui, aku telah
menjadi pembunuh dari usia belia, maka hal itu bukanlah sesuatu yang mustahil untuk aku lakukan.”
Xena tertawa jahat, dia sedang memamerkan kejahatan besar yang sudah ia lakukan sepuluh tahun lalu. Kejahatan yang rasanya tidak mungkin dilakukan oleh Xena, tapi itulah kenyataan yang sejujurnya di balik runtuhnya Kekaisaran Colombain.
“Lalu di mana Alina? Di mana kau sembunyikan dia?!” bentak Chayton baru membuka suara.
“Alina telah mati terbunuh, saat itu dia tengah hamil tapi aku tidak tahu anak yang dikandungnya adalah anak Kaisar ataukah anakmu?”
Darah Chayton seketika berdesir akibat terkejut, begitu pula dengan Adolph, Merry, dan Yuliana, tampaknya merekalah yang paling kaget mendengar pernyataan Xena.
“Kak, apa yang kau lakukan kepada Alina? Jawab! Apa kau menidurinya?” tanya Yuliana.
Chayton hanya membeku di tempat, ia enggan memberikan jawaban sejujurnya kepada saudara serta orang tuanya. Chayton berupaya menutup rapat mulutnya dan tidak ingin menceritakan apapun yang telah ia lakukan terhadap Alina.
“JAWAB! APA YANG KAU LAKUKAN KEPADA ALINA?!” teriak Adolph.
Chayton tersentak takut, Adolph ketika marah, tampak menakutkan di matanya.
“Benar, aku telah menidurinya, bahkan sebelum ia menjadi Permaisuri aku telah menodainya lebih dulu,” jawab Chayton mengakui perbuatannya.
“DASAR BRENGS*K!” Adolph menendang perut Chayton penuh amarah\, “Berani sekali kau melakukan hal memalukan kepada Alina! Apa kau tidak puas bermain dengan pelac*r di luaran sana?! Benar-benar menjijikkan\, padahal Alina saudaramu sendiri.”
“Ahh, sial! ALINA BUKAN SAUDARAKU! JANGAN MEMBOHONGIKU LAGI!”
__ADS_1