Permaisuri Beracun

Permaisuri Beracun
Lingkaran Sihir Teleportasi


__ADS_3

Seorang pembunuh melompat dari balik punggung Xena, pembunuh itu menghunuskan pedangnya ke arah Xena, untung saja Xena bergerak lebih cepat ketika teriakan Xander memperingatinya. Xena melompat menjauh dari pembunuh itu, kini dia membentuk sebuah pedang dari racunnya.


“Siapa mereka sebenarnya? Ini sudah ke sekian kalinya mereka menargetkanku,” gumam Xena.


Saat ini mereka terkepung, lebih dari dua puluh orang pembunuh yang tidak terlihat wajahnya mengepung pergerakan mereka berdua. Xander menyuruh Xena untuk tidak menjauh darinya, dia khawatir sesuatu yang buruk akan menimpa Xena bila dia membiarkan Xena bergerak jauh. Pedang biru yang dilapisi api ungu milik Xander, perlahan berayung tajam melukai para pembunuh itu. Xena juga bergerak menorehkan racunnya ke tubuh para pembunuh tersebut, Xena dan Xander dengan mudah membabat mereka semua dalam beberapa serangan.


“Xena, jangan pergi terlalu jauh dariku,” ujar Xander.


“Huh? Apa kau menganggapku lemah? Meskipun aku seorang wanita, aku bukanlah wanita yang lemah.”


Berselang beberapa menit kemudian, akhirnya mereka selesai menghabisi seluruh pembunuh itu. Xena mencoba mengamati mayat pembunuh itu, namun anehnya ketika dia menyentuh tubuh pembunuhnya, tiba-tiba mayatnya menghilang dan berubah menjadi abu. Tidak ada mayat pembunuh yang tersisa kecuali pedang yang tadi mereka gunakan untuk menyerang. Lalu Xena memungut satu pedang yang menurutnya sedikit aneh.


“Xander, pedang ini ada lambang bunga mawar hitam. Apa kau tahu mengenai lambang ini?” tanya Xena.


Xander segera merebut pedang itu dari Xena, dia melihat baik-baik lambang bunga mawar hitam yang terukir rapi di gagang pedang.


‘Tidak salah lagi, pembunuh ini dikirim oleh pria itu? Apa dia sengaja ingin membunuh Xena? Atau….’


Sebuah lingkaran sihir tiba-tiba saja timbul dari permukaan tanah, lingkaran sihir berwarna hitam itu muncul di setiap sudut tempat. Xander seketika panik tak karuan, waktu di sekitar mereka juga terhenti, mereka benar-benar terjebak dalam bahaya. Di sela kepanikannya, Xander langsung menggendong Xena, tentu saja aksinya ini menuai penolakan dari Xena.


“Mengapa kau malah menggendongku? Cepat turunkan aku! Aku ingin melihat lingkaran sihir itu,” pinta Xena meronta-ronta.


“Tolong menurut saja kali ini, aku mohon padamu, Xena. Aku tidak ingin kehilanganmu lagi,” lirih Xander memohon sepenuh hati kepada Xena. Mimik wajah Xander berganti redup, suaranya bergetar tanpa sebab yang jelas.

__ADS_1


Entah mengapa Xena merasakan kesedihan mendalam di balik kata-kata Xander, dia pun memilih untuk menuruti Xander. Walaupun Xena tidak tahu maksud Xander memperlakukannya dan mengkhawatirkannya seperti ini, tapi firasatnya berkata untuk mengikuti seluruh perkataan Xander. Kemudian Xena melihat ke belakang, dia terkejut ketika kumpulan lingkaran sihir berwarna hitam mengekori mereka dari belakang, seolah lingkaran itu mengejar serta menargetkan mereka berdua.


“Lingkaran sihir jenis apa itu? Kenapa lingkaran sihirnya bisa bergerak?” tanya Xena.


“Itu adalah lingkaran sihir teleportasi, lingkaran sihir itu sedang mengejarmu. Apabila tadi kau menginjak salah satu lingkaran itu, maka kau pasti akan tiba di tempat yang mengerikan,” jawab Xander.


Xander terus berlari dan terbang dari kejaran lingkaran sihir itu, meski mereka lari sejauh apapun, lingkaran sihirnya tidak menyerah mengejar mereka. Xena baru menyadari bahwa yang berada di sekitarnya kini tidak bergerak, bahaya besar sedang menghadang keduanya.


“Xander! Cepat! Lingkaran sihir itu semakin mendekat!” seru Xena panik.


Xander menambah kecepatan terbangnya, dia berusaha melewati batas kemampuan diri supaya Xena selamat dari kejaran lingkaran sihir teleportasi. Rasa lelah mulai menghampiri tubuh Xander, dia tidak bisa menambah kecepatan terbangnya lagi, mereka telah terbang selama lebih dari satu jam.


‘Kami tidak bisa terus menerus lari seperti ini, aku harus mencari cara untuk menghilangkan lingkaran sihir sialan itu. Xander juga hampir kehilangan seluruh tenaganya, setidaknya aku harus mencoba melakukan sesuatu,’ batin Xena.


“Aku berhasil menghancurkan beberapa lingkaran sihirnya, kau jangan terlalu memaksakan diri lagi untuk terbang. Rilekskan tubuhmu dan biar aku yang mengurus lingkaran sihir menyebalkan itu,” tutur Xena.


Xander mempercayakan segalanya kepada Xena, dia hanya perlu membawa Xena menjauh dari lingkaran sihir teleportasi. Apabila lingkaran sihirnya mengenai Xena, maka Xander akan sulit untuk menghentikan Xena yang dibawa oleh segerombol musuh yang sengaja mengincar Xena. Akan tetapi, jumlah lingkaran sihir yang mengejar mereka tak kunjung berkurang, semakin Xena menghancurkannya maka jumlah lingkaran sihirnya akan meningkat.


“Sial! Tidak ada cara lain lagi, sepertinya aku mesti melakukan itu.”


Xander mendarat ke bawah, dia punya rencana lain untuk memusnahkan lingkaran sihir yang mengejar mereka.


“Xena, tolong peluk aku dengan erat dan tutup matamu. Aku akan melakukan sesuatu untuk menghancurkan seluruh lingkaran sihir ini.”

__ADS_1


Xena melakukan sesuai apa yang diperintahkan Xander, dia mengeratkan pelukannya lalu membenamkan kepala seraya menutup mata di pelukan Xander.


‘Aku tahu dia tidak sabar untuk bertemu dengan Xena, tapi aku tidak akan membiarkannya merebut Xena dariku.’


Dengan segala kekuatan yang tersisa di tubuhnya, Xander mengerahkan serangan besar demi menghancurkan lingkaran sihir yang perlahan berkumpul mendekat ke arah mereka. Dari telapak tangan Xander, keluar api ungu yang sangat besar dan melaju membakar semua lingkaran sihir itu. Sebuah ledakan dahsyat terjadi di tengah hutan tempat mereka berdua berada, selesai ledakan itu seluruh lingkaran sihirnya lenyap seketika.


“Sudah selesai, sekarang kau boleh membuka mata,” ujar Xander.


Xena membuka matanya, kini lingkaran sihir yang mengejar mereka telah lenyap sepenuhnya lalu waktu yang tadinya terhenti juga telah mengalir kembali. Xander menurunkan Xena dari gendongannya, tubuhnya terasa panas dan sakit secara bersamaan. Ia menjatuhkan diri ke atas tanah sebab tidak kuat lagi untuk berdiri.


“Xander! Apa kau baik-baik saja? Kenapa suhu tubuhmu tiba-tiba tinggi?” Suara Xena terdengar mencemaskan Xander, dia ikut mendudukkan diri di samping Xander.


“Tidak apa-apa, aku hanya sedikit lelah,” ucap Xander sembari memaksakan diri untuk tersenyum.


“Kau beristirahatlah sebentar, aku akan mengawasi kondisi sekitar. Jangan khawatirkan apapun dan tidurlah,” kata Xena menyuruh Xander untuk merebahkan kepala ke pahanya.


“Apa kau baru saja mengkhawatirkan aku?” goda Xander.


“Ayo cepat! Tidur saja, nanti aku akan membangunkanmu.” Pipi Xena merona merah, dia tidak mau mengakui bahwa dirinya memang sedang mengkhawatirkan kondisi Xander.


Lima belas menit berlalu, sontak Xander bangun dari tidurnya karena dia merasakan aura kehadiran yang sangat kuat. Dari arah yang berlawanan, seorang pria bertopeng putih tengah berjalan menghampiri mereka.


“Kalian di sini rupanya.”

__ADS_1


__ADS_2