Permaisuri Beracun

Permaisuri Beracun
Perangkap Brisia


__ADS_3

“KYAAAAAA!”


Terdengar suara teriakan seorang pelayan dari ruang tamu istana kediaman Brisia. Pelayan tersebut berteriak karena melihat Brisia pingsan tidak sadarkan diri dalam keadaan bersimbah darah. Kala itu secara kebetulan Xena berada di ruang yang sama dengan Brisia. Diduga darah tersebut berasal dari kandungan Brisia.


Xena tadi dipanggil oleh Brisia, maksud hati Xena menemui Brisia untuk berbicara dengan wanita itu. Namun, ketika di penghujung obrolan yang penuh emosi, Brisia meminum teh yang telah disuguhkan oleh seorang pelayan. Sesudah Brisia meminum tehnya, terjadi keanehan dari reaksi Brisia. Secara tiba-tiba perut Brisia didera kesakitan luar biasa hingga membuatnya pendarahan hebat. Xena melihatnya kebingungan karena dia sendiri tidak melakukan apa-apa terhadap Brisia.


“Tolong! Tolong! Yang Mulia Permaisuri telah dicelakai oleh Selir Alina!” seru pelayan yang menyaksikan jatuhnya Brisia.


Seruannya bergaung sampai ke lorong istana, sejumlah ksatria dan pelayan berbondong-bondong menuju ke tempat mereka. Xena tampak kebingungan dengan akting yang terlalu berlebihan ini, sudah jelas bahwa Brisia ingin


menyingkirkan Xena dengan cara kotor. Bahkan yang membuat Xena geleng-geleng ialah Brisia berani mengorbankan anaknya untuk membuat Xena jatuh masuk ke dalam jebakan yang sudah dia siapkan.


“Mengorbankan anak sendiri demi menjebakku. Betapa gilanya wanita ini, kau telah memilih jalan yang salah, Brisia,” tutur Xena memandang dingin Brisia yang terbaring di atas lantai.


Ketika Xena hendak berbalik badan, ternyata dirinya telah ditahan lebih dulu oleh dua orang ksatria. Xena tidak menunjukkan perlawanan sedikit pun, dia malah menyerahkan dirinya kepada ksatria tersebut. Entah apa lagi yang sedang direncanakan oleh Xena, tak ada yang tahu hal itu, meski dipandang buruk oleh orang-orang di sekitar sana, Xena tak menghiraukan mereka dan menunjukkan muka angkuhnya.


“Apa yang terjadi di sini?!”


Derryl yang sedang melepas lelah setelah melakukan berbagai pekerjaan, tanpa sengaja ia mendengar keributan yang berasal dari ruang tamu. Derryl bergegas mengecek apa gerangan yang sedang terjadi di sana. Ketika Derryl melihat Brisia yang tergeletak pingsan, ia tampak begitu terkejut.


“Brisia! Kenapa Brisia bisa seperti ini? Tidak bisakah kalian menjelaskannya?!” panik Derryl.


“Izin menjawab, Yang Mulia.” Seorang pelayan yang tadi memergoki Brisia terjatuh kini menyela ingin menjelaskan situasinya kepada Derryl, “Permaisuri sepertinya telah diracuni oleh Selir Alina,” jelas pelayan tersebut.


Derryl sontak mengarahkan tatapan menusuk kepada Xena, tapi ia terpaksa menunda marahnya terlebih dahulu sebab kondisi Brisia sangat mengkhawatirkan. Derryl buru-buru menggendong Brisia menuju kamarnya. Sedangkan Xena ditahan sementara waktu oleh ksatria supaya dia tidak kabur.

__ADS_1


“Lekas panggilkan dokter istana!” perintah Derryl kian cemas.


Berselang beberapa menit kemudian, seorang dokter datang memeriksa kondisi Brisia. Di sana juga ada Gylda – Ibu Suri yang langsung menuju istana utama setelah mendengar kabar Brisia yang pingsan. Suasana sekitar kala itu dilanda oleh ketegangan hebat, mereka khawatir akan terjadi hal buruk terhadap Brisia.


“Bagaimana keadaannya?” tanya Derryl.


“Mohon maaf, Yang Mulia, anak yang dikandung oleh Permaisuri tidak bisa diselamatkan karena Permaisuri meminum racun yang sangat kuat sehingga kandungan beliau tidak mampu menahan serangan racun tersebut,” jelas sang dokter.


Derryl mengacak-acak rambutnya, dia frustasi saat mendengar penjelasan dokter perihal anaknya yang telah gugur.


“Lalu bagaimana dengan Permaisuri? Apa dia baik-baik saja?” tanya Gylda.


“Syukurnya Permaisuri baik-baik saja, sepertinya racun itu dibuat secara khusus untuk menggugurkan kandungan,” jawab dokter.


Xena mendengar penjelasan dokter itu di sudut ruang kamar, dia masih berada di posisi ditahan oleh dua ksatria. Derryl lekas mendekati Xena dengan mimik wajah menahan amarah luar biasa, Xena pun menanti dengan senang hati apa yang akan dilakukan Derryl berikutnya.


Xena memutar bola mata malas, lalu ia mengernyitkan keningnya seraya berdecak kecil menatap Derryl.


“Untuk apa aku meracuninya? Apa ada keuntungan yang aku peroleh setelah meracuni wanita itu? Lalu apakah pelayan itu benar-benar melihat aku menuangkan racun ke dalam minuman Brisia? Seharusnya kau bisa menyelidiki secara pintar insiden ini, bukannya malah menudingku melakukan hal tak berguna seperti demikian!” balas Xena menaikkan nada bicaranya.


PLAKK!


Derryl yang tenggelam di dalam ombak emosi tanpa sadar mendaratkan sebuah tamparan ke pipi Xena. Gylda ikut masuk menghampiri keduanya, dia juga sangat geram setelah mengingat apa yang dilakukan Xena beberapa hari lalu dan yang dia lakukan hari ini kepada Brisia.


“Jangan mengelak lagi, Alina!” celetuk Gylda.

__ADS_1


“Mengelak? Apa yang harus aku elakkan? Aku tidak berminat merebut kembali posisi Permaisuri, apalagi merebut perhatian Kaisar dari Brisia. Karena apa? Karena aku merasa tidak butuh semua itu.”


“Dasar kau wanita gila!” Gylda menjambak rambut Xena sebab dia terlanjur emosi dan geram mendengar balasan Xena.


“Sudah, Ibu! Hentikan sekarang juga! Ini urusanku, jadi aku mohon kepada Ibu untuk tidak ikut campur,” lerai Derryl menarik Gylda untuk segera menjauh dari Xena.


Sepasang mata Xena sesaat berubah dingin dan tajam, ia mengeluarkan aura membunuh sampai membuat napas Gylda tercekat. Gylda membelalak kaget menyaksikan pandangan Xena padanya, seakan-akan hidup Gylda diserap saat menatap balik mata Xena.


‘Apa dia baru saja mengancamku menggunakan matanya itu? Mengapa rasanya tubuhku takut sekali saat dia menatapku? Tidak! Aku tidak boleh menampakkan rasa takutku padanya,’ batin Gylda.


Pada saat yang bersamaan, Brisia tersadar dari pingsannya, ia nampak terkejut begitu melihat ada banyak orang di kamarnya. Brisia pun meraba perutnya, tapi dia merasa kalau ketika itu perutnya terasa ringan dan tidak melihat adanya tanda-tanda kehamilan.


“Anakku … anakku mana? Yang Mulia, anak saya mana? Tolong kembalikan anak saya ….”


Brisia histeris, dia berteriak sembari menangis saat tidak menemukan anak yang dikandungnya. Derryl segera menenangkan Brisia dengan sebuah pelukan, walau pelukan itu tidak berarti sama sekali untuk Brisia.


“Brisia, tenangkan dirimu,” tutur Derryl mengeratkan dekapannya.


“Yang Mulia, anak saya mana?” lirih Brisia.


“Maafkan aku, Brisia, kita telah kehilangan anak kita. Maafkan aku tidak bisa melindungimu,” ucap Derryl penuh kehangatan.


Gylda memandang sedih Derryl dan Brisia, dia tidak menyangka akan terjadi insiden seperti ini. Padahal dia sudah membayangkan akan punya cucu dari Brisia, namun kejadian tak terduga menimpa mereka semua sehingga dia mesti mengubur dalam-dalam bayangannya itu.


“Dokter, apa Permaisuri masih bisa hamil lagi setelah ini?” tanya Gylda kepada dokter yang masih berada di sana.

__ADS_1


“Mohon maaf sekali lagi, Permaisuri tidak bisa mengandung lagi karena racun itu menyebabkan kemandulan. Sampai saat ini masih belum ada yang menemukan penawar dari racunnya, hanya keajaiban saja yang dapat mengangkat kemandulan itu,” jelas sang dokter sekali lagi.


__ADS_2