
Luisa tercengang, dia tak percaya begitu saja dengan pengakuan Xena yang terkesan blak-blakkan. Tetapi, dari tatapan mata Xena mengatakan bahwa dia tidak berbohong soal pengakuannya barusan.
“Jangan bercanda! Mana mungkin kau bukan Permaisuri,” bantah Luisa.
Kemudian Xena menghempaskan tubuh Luisa ke permukaan lantai, dia sangat geram dengan wanita yang berada di hadapannya kini. Niat membunuhnya naik ke atas permukaan, namun dia tetap berusaha menahan tangannya untuk tidak membunuh Luisa. Menurutnya, sebentar lagi akan ada pertunjukkan besar dari Luisa.
“Aku memang bukan Permaisuri. Apa kau mau tahu siapa aku?” Xena merekahkan senyum mengintimidasi Luisa.
“Memangnya kau siapa?”
Xena menginjak kaki Luisa sembari berdiri dengan keadaan tangan terlipat di dada disertai tatapan merendahkan dari Xena. Luisa membeku tak berdaya di depan Xena, seketika tubuhnya tak sanggup untuk dia gerakkan.
“Aku Xena, saudari kembarnya Alina – sang Permaisuri.”
Deg!
Siapa pun tahu siapa Xena sebenarnya, setiap sudut kekaisaran ini mengenalnya. Xena si gadis kecil yang paling ditakuti oleh semua orang. Gadis yang pernah melukai banyak orang di usianya yang masih belia, membunuh Paman dan Bibinya, membunuh semua orang yang berani berbuat buruk, serta mempunyai kemampuan mengertikan di sela usianya yang masih kecil waktu itu.
Sekujur badan Luisa bergetar takut, sebab dulu dia pernah menyaksikan Xena membunuh pria dewasa yang bermaksud untuk mencelakai seorang anak di bawah umur. Xena begitu brutalnya mencabik-cabik tubuh pria dewasa itu, ekspresi wajahnya yang dingin dan datar, serta tak ada rasa bersalah yang tercermin di mukanya seusai membunuh orang-orang tersebut. Luisa bahkan langsung demam saat menyaksikan pembunuhan sadis yang dilakukan Xena. Lalu kini di hadapannya berdiri wanita yang dia lihat beberapa tahun sebelumnya.
‘Tidak mungkin… tidak mungkin wanita ini adalah anak yang menakutkan itu, mustahil! SEMUANYA MUSTAHIL!’ batin Luisa berteriak dalam hati.
Luisa memberanikan dirinya melirik Xena, melihat cara Xena tersenyum sama persis dengan gadis kecil yang pernah dia lihat dulunya.
__ADS_1
“Kenapa? Apa lagi yang mau kau katakan padaku? Aku bukan Permaisuri, jadi aku bebas melakukan apapun bersama Xander. Kau tidak punya hak melarangku dekat dengannya, kau juga tidak punya kesempatan untuk merayunya. Sebaiknya kau sadari posisimu lalu menghilanglah dari muka bumi ini!” ujar Xena menekan nada bicaranya.
“Bukankah Xena sudah mati terbakar di Kekaisaran Colombain? Mustahil kau bisa selamat dari kebakaran besar yang menewaskan seluruh rakyat di sana.”
Xena melayangkan senyum seringai mengerikan kepada Luisa, lagi-lagi gadis itu ditelan oleh ketakutan yang melahap dirinya perlahan.
“Akulah orang yang melenyapkan Colombain, kebakaran besar itu aku yang menciptakannya. Aku berhasil keluar dari tempat mengerikan itu hingga kini aku berdiri di depan matamu. Lalu aku kembali ke Charise untuk membasmi seluruh orang yang dulu pernah menyakiti Alina. Aku bukan orang yang lembut, jadi kalau kau masih ingin hidup, sebaiknya kau pergi dari sini sekarang juga!”
Xena mengusir Luisa untuk pergi dari istananya, dia tak bisa menekan emosinya lebih lama lagi. Luisa menundukkan wajah menatap lantai dengan pandangan kosong, sisa-sisa getaran ketakutan masih tampak dari tubuhnya.
“Di mana Permaisuri?” Luisa memberanikan dirinya untuk bertanya pada Xena.
“Sudah mati.”
‘Tidak tahu kenapa, aku sensitif sekali bila ada seorang wanita yang menggoda Xander. Apa yang salah denganku sampai mengamuk seperti barusan? Yang jelas, aku tidak akan merelakan Xander bersama wanita selain diriku! Pokoknya seperti itu yang aku rasakan, entah perasaan menyesakkan jenis apa itu, aku juga tidak tahu,’ gerutu Xena dalam hati.
Selepas kepulangan Luisa secara tidak wajar, Xena beranjak pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri. Rambutnya lengket oleh ulah Luisa yang menyiramkan teh ke wajahnya, Gia sampai mengomel sebab tidak terima Xena disiram oleh Luisa.
“Nona, tadi seharusnya Anda tendang saja wanita itu sampai mati,” geram Gia.
“Saranmu cukup bagus, tapi aku masih ingin mempermainkannya lebih lama lagi, membuatnya ketakutan seperti tadi sangat membuatku puas.”
Xena berencana menghabiskan waktu senggangnya dengan merebahkan badan di atas ranjang tempat tidur. Dia ingin beristirahat dari rutinitas yang membuatnya sakit kepala seharian, lalu tanpa dia sadari, akhirnya Xena terlelap di sela rasa letih yang menyerang tubuh serta pikiran.
__ADS_1
Hingga hari berganti esok nan cerah, desas-desus negatif tentang Xena menyebar ke penjuru kekaisaran. Isu yang menyebar yaitu mereka mengatakan Xena telah mencelakai keluarganya sendiri, dia membunuh para pekerja di kediaman Duke Alister, dan memecat banyak pelayan. Masalah ini telah menjadi berita menggemparkan tanpa ada yang tahu kebenaran di balik amsalah tersebut. Hal ini mendatangkan kehebohan tak terkendali di istana, sampai sekarang tidak ada yang tahu siapa menyebar rumor tak berguna itu.
Namun, Xena memilih mengabaikan rumor itu tanpa harus meladeninya, dia lelah berurusan dengan manusia.
“Mungkinkah yang menyebarkan rumornya adalah Nona Yuliana?” terka Gia.
“Bisa jadi, ataukah Luisa? Aku tidak tahu, aku hanya ingin menikmati semua cake cokelat yang dikirimkan oleh Xander!”
Di atas meja saat ini dipenuhi oleh cake cokelat yang sengaja dibelikan oleh Xander khusus untuk Xena. Dia masih beristirahat di mansion sesuai dengan perintah Xena, yang membawakan cake itu ke istana adalah bawahannya sendiri.
“Buku apa ini, Nona? Bukankah Anda membawa buku ini dari kediaman Duke Alister?”
Gia menyerahkan buku bersampul cokelat yang terkunci kepada Xena, sesungguhnya dia juga penasaran dengan isi bukunya. Xena pun langsung menghancurkan gembok kecil yang mengunci buku tersebut, halaman demi halaman dia balikkan. Kemudian tibalah Xena di halaman tengah yang berisi tulisan dari Ibunya.
“Aku tengah mengandung anak perempuan kembar, saat itu usia kandunganku beranjak lima bulan. Hanya saja pria itu mempunyai niat buruk terhadap kedua anakku, aku lari dari Ayah kandung putri-putriku. Aku takut setengah mati, takut dia menemukanku kemudian menyeretku kembali ke kerajaannya. Mengapa dia rela meniatkan diri untuk menumbalkan darah dagingnya sendiri? Apa salahku? Apa salah anak-anak ini padanya?
Untung saja Ayah dan Ibuku selalu ada untukku, walaupun aku pernah lari dari pernikahan politik yang mereka putuskan, tapi mereka berdua masih bisa menerimaku dan anak-anakku. Kemudian aku bertemu dengan Adolph, pria itu lembut dan memperlakukan dengan biak. Aku pada akhirnya menikahi Adolph dan memintanya untuk bersikap bahwa anak kembarku juga merupakan anaknya juga. Aku tidak tahu harus sampai kapan menyimpan fakta mengejutkan ini, jika kedua putriku tahu identitas Ayah kandungnya, apa yang akan terjadi?
Terlebih lagi Xena mempunyai mata perak seperti Ayahnya, dia akan tumbuh menjadi seorang wanita pengendali racun. Pria itu juga mengatakan bahwa yang akan dijadikan tumbal yaitu putriku yang memiliki mata perak sepertinya. Dengan kata lain, Xena lah yang dijadikan tumbal olehnya. Aku harus melindungi Xena, tidak akan aku biarkan pria itu mengambil Xena dariku, aku tidak akan pernah membiarkannya meski aku mati sekali pun.”
Xena tidak percaya terhadap apa yang dituliskan oleh sang Ibu di buku itu, rasanya dia ingin marah, menangis, sekaligus kecewa, hatinya kacau kala itu.
“Apa ini? Aku tidak bisa mempercayainya.”
__ADS_1