Permaisuri Beracun

Permaisuri Beracun
Kebencian Xena


__ADS_3

Xena berdiri di hadapan Thorn, kemarahan membara seperti api membakar tubuh Xena. Gadis itu telah mencapai batas dari dalamnya jurang kebencian serta amarah yang tak lagi terbendungkan.


Thorn mengusap perutnya, ia mendongakkan kepala menatap Xena. Dia adalah gadis yang berbeda dari sebelumnya. Sekilas tampak binar mata dipenuhi guratan berbagai macam emosi yang terpendam.


"Kau akan mati, Raja barbarian. Hidupmu berada di dalam genggamanku."


Suara yang didominasi tekanan dan terdengar tajam di pendengaran. Ekspresi dingin yang tidak lagi menunjukkan belas kasihan. Xena berada di puncak dendam yang terkubur dari dalam sejak lama.


"Kau tidak akan bisa membunuhku karena Raja setan berada di pihakku. Oleh sebab itulah, Xena, aku pastikan kau mati di tanganku setelah ini."


Tiba-tiba saja keberadaan Thorn menghilang dari pandangan Xena. Dia kabur dari ancaman kematian yang diberikan sang putri. Sungguh menjengkelkan karena Xena belum sempat menorehkan luka yang lebih dalam di tubuh Thorn.


"Sial! Dia membuatku gila," gerutu Xena.


Kemudian Xander dan Xavier bergegas menghampiri Xena. Mereka terlihat amat mengkhawatirkan kondisi Xena.


"Apa kau terluka?" tanya Xander.


"Ibu, tolong katakan kepada kami bagian tubuh mana sekarang yang sakit," tambah Xavier.


Xena menghela napas panjang, tidak disangka mereka akan secemas ini terhadap dirinya.


"Tenang saja, aku tidak apa-apa. Ini hanya luka kecil saja, aku masih bisa mengatasi rasa sakitnya."


"Tidak bisa begitu!" sergah Xander. "Ayo sekarang suruh Klaus untuk memeriksa lukamu. Kita tidak tahu apa yang sudah bajing*n itu lakukan kepadamu."


Xena pun ditarik paksa oleh Xander dan Xavier menuju ke tempat Klaus berada. Xena hanya berpasrah diri dan menuruti keinginan kedua pria itu.


Setelah melakukan pemeriksaan, hanya ada luka kecil yang tidak parah. Klaus telah memberikan obat supaya luka itu mengering.


"Nona, Anda membuat saya sangat tegang," ujar Elinor menyandarkan kepalanya ke bahu Xena.


Giselle mengangguk. "Itu pertarungan yang cukup membuat darah berdesir," imbuhnya.


"Iya, untung saja tidak ada hal serius yang terjadi kepada Anda," timpal Floris mendudukkan diri di sofa kosong.


"Lain kali jangan seperti itu lagi, Nona. Anda membuat saya hampir terkena serangan jantung." Carian mengelus dadanya, pertarungan Xena dengan Thorn membuatnya sangat tegang.

__ADS_1


Xena hanya tersenyum melihat respon dari bawahannya itu. Mereka selalu seperti ini ketika Xena dihadapkan dengan musuh yang kuat.


"Tidak ada yang perlu kalian khawatirkan. Justru yang harus kalian khawatirkan adalah diri kalian yang terlalu lemah."


Laiv mendadak muncul dari pintu masuk, pria dingin itu membuat suasana ruangan menjadi tidak bersahaja. Dia selalu memasang muka serius setiap kali berbicara dengan mereka semua.


"Nona, saya membawakan Anda cake cokelat kesukaan Anda."


Ekspresi Xena berubah sumringah saat Gia membawakan cemilan kesukaannya. Kedatangan Gia itu membawa suasana menjadi lebih santai.


"Wah, kau memang yang terbaik, Gia!" Xena mengacungkan jempol kepada Gia.


Mereka menemani Xena di dalam ruangan sembari bercengkrama ria. Saling melontarkan gurauan serta saling melontarkan isi kepala bersama-sama merupakan sesuatu yang biasa mereka lakukan.


Sementara Xena berada di ruang yang berbeda, Xander bersama Garvin dan Liam tengah berbicara serius. Xander masih tidak habis pikir kalau pertahanan keamanan markas bisa dibobol begitu mudahnya.


"Yang Mulia, silakan minum ini terlebih dahulu supaya Anda tidak terlalu tegang," ujar Garvin menyerahkan secangkir teh.


"Ya, terima kasih."


"Aku tidak tahu, tetapi untuk sekarang aku harus meningkatkan keamanan di sekitar Xena. Entah mengapa, aku merasa ada sesuatu yang buruk mungkin terjadi nanti," tutur Xander.


"Kalau begitu, aku akan membantumu memperkuat keamanan markas. Bagaimana pun sekarang aku tinggal di tempat ini karena lebih aman."


***


Pada waktu berlainan, Thorn tiba di kastilnya dalam kondisi sempoyongan akibat luka yang dia terima dari Xena. Dia terus menerus mengutuk Xena yang telah membuatnya seperti demikian. Sekarang dia sendiri kesulitan mengatur napas karena sakitnya menjalar ke sekujur badan.


"Apa yang sudah dilakukan gadis itu? Bisa-bisanya dia membuatku kesakitan seperti ini," gumam Thorn.


Para pelayan pun bergegas membantu Thorn membersihkan diri lalu mengobati lukanya. Meskipun luka tersebut tidak tampak dari luar, itu hanya dirasakan dari dalam tubuh saja.


"Kenapa rasa sakitnya tidak berkurang sedikit pun? Aku merasa bahwa rasa sakit ini semakin menjadi-jadi di tubuhku."


Thorn tidak bisa mengatasi luka dalam yang diberikan Xena. Sekarang dia hanya bisa terbaring lemah tak berdaya di atas tempat tidur.


Di saat bersamaan, seseorang muncul di hadapan Thorn. Sosok pria yang amat ia takuti berdiri tepat di depan mata. Thorn sontak bangkit dari posisi terbaringnya lalu memberikan salam kepada pria tersebut.

__ADS_1


"Salam kepada Yang Mulia Raja Verden."


Ya, pria itu ialah Verden, musuh utama di balik semua kekacauan ini. Verden pun menatap dingin memandangi kondisi Thorn yang sangat memprihatinkan.


"Apa yang terjadi padamu? Bukankah aku menyuruhmu untuk membawa Xena ke hadapanku?" kata Verden membuka suara.


"Mohon maafkan saya, Yang Mulia. Gadis itu sangat kuat, dia menggunakan trik untuk mengalahkan saya."


"Benarkah?"


Verna menyorot curiga, ia tidak percaya Xena menggunakan trik kotor.


"Benar, Yang Mulia."


"Apakah itu bukan karena kau yang memulainya?"


Thorn tersentak, dia telah berbohong terhadap Verden. Padahal semua ini diawali oleh kebodohan dirinya sendiri.


"B-Bukan, bukan saya yang memulainya. Saya—"


"Thorn, kau sudah berani berbohong di hadapanku? Apa kau pikir aku tidak tahu apa rencanamu di belakangku? Kau mau membunuh Xena. Apakah aku benar?"


Mendadak tubuh Thorn gemetar hebat, dia tidak sanggup untuk menggerakkan lidahnya memberi penjelasan kepada Verden.


"Karena kau tidak menjawab, maka aku anggap bahwa kau memang berniat membunuh Xena. Kau telah melanggar perintahku. Padahal aku telah memperingatkanmu untuk jangan membunuhnya. Namun, kau sangat keras kepala dan tidak tahu diri," tekan Verden.


"Tidak, Yang Mulia. Saya tidak berniat membunuhnya. Tolong ampuni saya."


Thorn bersujud di bawah kaki Verden, tetapi sepertinya Verden tidak menunjukkan ketertarikan terhadap Thorn.


"Sudah terlambat. Aku tidak mempercayaimu lagi. Jadi, sebaiknya sekarang kau lenyap dari muka bumi ini."


Verden mengeluarkan sihirnya, dia membungkus tubuh Thorn dengan tekanan kekuatan yang amat dahsyat.


"Tidak! Yang Mulia, tolong beri saya satu kesempatan lagi. Saya mohon, saya mohon, Yang Mulia!"


Thorn seketika lenyap dari keberadaan dunia. Dia telah mati dan dibunuh secara brutal oleh Verden.

__ADS_1


__ADS_2