
Kondisi ibu kota sangat hancur berantakan pasca terjadinya fenomena tak terduga, jumlah korban yang tewas pun tergolong banyak. Anggaran Charise semakin menipis akibat kejadian-kejadian yang terjadi beberapa waktu belakangan ini. Xena hanya berdiam diri menyaksikan kesibukan kekaisaran selama tiga hari ini. Xena duduk santai
seraya menikmati dipijatan yang dipersembahkan oleh Gia di pundak dan punggungnya. Sesungguhnya, sisa-sisa pertarungan kemarin itu masih melekat di tubuhnya.
Derryl tampak begitu pusing, bencana beruntun menimpa kekaisaran tanpa jeda henti, kini ia bingung mesti meminta tolong kepada siapa lagi karena seluruh kekaisaran tengah menutup diri dari hubungan luar demi melindungi kekaisaran dari serangan pasukan revolusioner. Kerusakan parah ibu kota menjadi fokus utama saat ini, terlebih lagi kematian dari sejumlah bangsawan penting turut menyeret kondisi Charise makin ke bawah.
Charise tengah menuju ke arah kehancuran, namun bukan hal itu yang paling mengganggu pikiran Derryl, melainkan kedekatan Xena dan Xander yang membuatnya sakit kepala. Pasalnya, selama ini Xander terkenal oleh sifatnya yang membenci perempuan, ia tidak pernah mempunyai pikiran untuk berkencan ataupun menikah. Akan tetapi, menilai cara menatap Xander pada Xena, itu tampak berbeda, sebuah tatapan penuh cinta dan ketulusan.
“Kenapa mereka berdua begitu dekat? Perlakuan Alina kepadaku dan Xander berbanding terbalik. Alina memandang Xander dengan mata berbinar nan lembut, sedangkan aku selalu mendapatkan tatapan dingin. Selain itu, entah mengapa hatiku tidak terima melihat mereka berdua bersama, tapi Xander dan Alina terlihat saling mencintai satu sama lain.”
Bersarang berbagai dugaan di kepala Derryl mengenai hubungan antara Xander dan Xena, hatinya tidak tenang ketika memikirkan keduanya memiliki hubungan asmara di belakangnya. Tanpa ia sadari, sebenarnya Derryl telah menaruh rasa terhadap Xena. Hanya saja dia berada di dalam perasaan bimbang yang membuat perasaannya yang sebenarnya tertutupi oleh kebimbangan tersebut.
“Aku tidak akan membiarkan mereka berdua bersatu, apapun alasannya, hanya akulah yang boleh memiliki Alina. Aku harus menyingkirkan Xander bagaimana pun caranya, dia terlalu mengganggu hidupku. Setelah ia merebut kasih sayang Ayah dariku, kini dia juga ingin merebut Alina? Jangan mimpi! Aku pastikan mereka berdua terpisah dan tidak bisa bertemu lagi selamanya.”
...***...
Di tengah malam nan sunyi, tepatnya di tempat di mana semua orang bebas bertransaksi barang-barang ilegal dan selalu dibanjiri oleh permintaan banyak orang, tempat ini bernama pasar gelap. Pasar yang terletak jauh dari jangkauan orang lain, hanya manusia tertentu saja yang tahu di mana letak pasti pasar ini karena pasarnya dilindungi oleh sihir yang kuat. Oleh sebab itulah tidak semua orang yang bisa masuk ke pasar gelap.
Kala itu terlihat Luisa mengenakan jubah memasuki area pasar gelap, pandangannya terus melirik kiri dan kanan seperti sedang mewaspadai kemunculan orang yang mengenalnya. Luisa pun masuk ke sebuah toko bernuansa antik, Seorang pria paruh baya berjaga di toko itu langsung menyambut hangat kedatangan Luisa.
__ADS_1
“Kau seorang bangsawan? Apakah ada yang bisa aku bantu?” tanya pria itu.
Luisa masuk lebih dalam lagi menghampiri penjaga toko, ia menyingkap tudung jubahnya sebelum berbicara maksud kedatangannya kemari.
“Aku dengar di sini ada yang menjual obat terlarang yang bisa meningkatkan rangsangan seksu*l. Apa kau benar-benar menjual obat semacam itu?” tanya Luisa balik.
Tangan pria itu langsung bergerak mencapai etalase yang berisi berbagai macam benda, salah satunya obat terlarang yang dimaksudkan oleh Luisa.
“Maksudmu ini?” Pria itu menyerahkan satu botol berwarna merah yang berisi cairan.
“Aku akan membelinya. Berapa harganya?” tanya Luisa hendak mengambil boto tersebut, tapi pria itu menarik kembali botolnya.
“Ini obat yang sangat berharga, kau paham maksudku? Aku tidak menjual obat ini dengan harga murah karena hanya segelintir orang yang beruntung menemukan obat terlarang ini. Siapa pun yang mengonsumsi obatnya, maka akan meningkatkan hasrat ingin berhubungan badan dengan lawan jenis. Dan lagi obat ini juga bisa mempercepat munculnya tanda-tanda kehamilan,” papar pria itu.
“Apakah segini cukup?”
Pria itu tertawa kecil lalu menerima uangnya sekaligus memberikan obat terlarang itu kepada Luisa.
“Sudah lebih dari cukup, tapi perlu kau ingat bahwa orang yang mengonsumsi obat ini akan terikat denganmu nanti. Dengan kata lain, targetmu dipastikan cinta mati padamu dan tidak akan sanggup hidup tanpamu selamanya,” tutur pria itu.
__ADS_1
“Ya, aku tidak keberatan. Aku memang menginginkan hal itu terjadi.”
Luisa keluar dari toko membawa senyum penuh kemenangan, rencana liciknya sebentar lagi akan dia lakukan.
‘Aku ingin Xander bertekuk lutut padaku memohon untuk dicintai, dengan obat ini aku bisa merebut Xander dari wanita jal*ng itu. Tunggu saja, aku akan segera hamil anak Xander lalu aku menikah dengannya dan dia pasti melupakan wanita itu nantinya. Bagaimana pun Xander adalah milikku, tidak aku biarkan wanita mana pun memilikinya,’ batin Luisa.
Tanpa sepengetahuan Luisa, sedari tadi dia telah diikuti oleh seorang pria bertopeng dan juga mengenakan jubah. Pria itu bersembunyi sambil memperhatikan pergerakan Luisa dari kejauhan, tidak pernah ia lewatkan satu pun gerak-gerik Luisa salama beberapa hari ini.
“Wanita sialan! Aku tidak akan membiarkanmu mengganggu kehidupan percintaan mereka berdua. Kegilaanmu terhadap Duke Geraldo akan berbuah kepahitan, aku dapat menjamin kalau kau pasti menemui takdir burukmu setelah ini,” gumam pria itu.
Lalu ia memanggil seekor burung pengantar pesan, dia menulis secarik surat, kemudian mengikat suratnya ke kaki burung tersebut.
“Tolong antar surat ini kepada Selir Xena di istana Charise, pastikan surat ini sampai ke tangannya dengan selamat,” ucap pria itu kepada seekor burung.
Selepas itu, burungnya pun terbang dengan kecepatan maksimal menuju istana kediaman Xena. Tidak butuh waktu lama bagi burung itu mencapai kamar di mana kini Xena berada. Kala itu Xena tengah memandang ke luar jendela, dia menikmati angin yang menyejukkan tubuhnya. Saat itu pula, burung pengantar pesan datang membawa sepucuk surat.
“Burung siapa ini? Dia tidak terlihat burung dari markas.” Xena langsung mengambil surat yang terikat di kaki burung itu, ketika suratnya telah berada di tangan Xena, burungnya segera terbang dari hadapan Xena.
“Aku tidak tahu siapa pengirim surat ini, tapi tampaknya bukan surat yang berbahaya.”
__ADS_1
Xena membuka surat itu dan membaca satu persatu huruf yang tersusun menjadi kalimat singkat.
“Tolong percayalah kepada saya, tadi saya melihat Luisa keluar dari pasar gelap membawa sebuah obat terlarang. Obat itu akan digunakan untuk Duke Geraldo, jika beliau mengonsumsi obat itu maka Duke Geraldo akan jatuh ke tangannya. Kemungkinan Luisa menjalankan rencananya di esok hari, bila Anda tidak menginginkan Duke Geraldo masuk ke dalam perangkapnya, maka saya sarankan Anda mempersiapkan perangkap balik untuk Luisa.”