Permaisuri Beracun

Permaisuri Beracun
Tamparan Derryl


__ADS_3

Xena spontan melirik ke sumber datangnya suara,di bawah sudah ada Derryl, Brisia, Gia, Xander, serta beberapa bangsawan. Mereka kaget karena suara ledakan dan getaran yang berasal dari istana kediaman Xena, setiba di sana mereka semua syok menyaksikan reruntuhan bangunan istana. Xena tidak menyambut baik kedatangan mereka, ia masih ingin bermain-main lebih lama. Akhirnya, dengan berat hati Xena melompat turun ke bawah.


“Kenapa kalian datang kemari? Apa kalian tidak lihat istanaku sudah hancur?” tanya Xena sinis.


“Justru aku datang ke sini untuk bertanya, KENAPA ISTANAMU HANCUR?” teriak Derryl tepat di samping telinga Xena.


Xena menutup telinganya sebab suara Derryl memekakkan pendengaran, bibir Xena cemberut dimarahi oleh Derryl. Tentu saja dia tidak terima dimarahi oleh laki-laki yang dia benci, kebenciannya kian membesar seusai teriakan Derryl bergaung.


“Tidakkah kau bisa melihatnya?” Xena menunjuk ke arah pembunuh yang tergeletak tak bernyawa di samping puing-puing istana, “Mereka datang untuk membunuhku, setidaknya kalau mau marah, tanya dulu keadaanku bagaimana. Semakin lama kau semakin pandai membuatku kesal,” omel Xena balik.


Brisia maju paling depan, ia berkacak pinggang di hadapan Xena, “Kau dibiarkan semakin lancang kepada Yang Mulia, seharusnya kau sebagai Permaisuri harus menurut dan sopan kepada Yang Mulia, kalau begini caranya lebih baik tidak usah kau jadi Permaisuri!” bentak Brisia.


“Apa maksudmu berbicara seperti itu?” Xena mendorong bahu Brisia dengan kasar, “Kau beruntung menjadi selir


yang disayangi oleh Kaisar, selama di istana kau diberi tempat tinggal yang bagus, sebagaimana kediamanmu itu seharusnya menjadi milikku!”


“Itu salahmu sendiri tidak bisa menarik perhatian Kaisar, tolong kau sadar diri dan perbaiki dirimu, jangan malah memarahiku. Sudah dicampakkan oleh keluargamu, dimanfaatkan oleh Ayah sendiri untuk melunasi hutang judi kakak tirimu, punya adik tiri yang suka berfoya-foya, menjadi Permaisuri terabaikan, kalau aku menjadi dirimu lebih baik aku mati. Cih, bisa-bisanya Ibumu yang bodoh itu meninggalkanmu menghadapi dunia ini sendirian, kau ikut saja dengan Ibumu dan serahkan posisi Permaisuri padaku,” ujar Brisia membuat semua orang yang menyaksikannya terdiam.

__ADS_1


“Sepertinya kalau aku marah pun kondisinya tidak akan berubah, percuma saja aku berbicara dengan wanita bodoh sepertimu,” sarkas Xena memutar badan ingin meninggalkan mereka.


Akan tetapi, Brisia tidak puas jika hanya memarahi Xena saja, dia bergerak cepat lalu mendorong Xena sampai membuatnya terjatuh. Kening Xena tanpa sengaja terbentur ke reruntuhan istana, darah merah segar mengucur deras dari keningnya. Dia tidak mempedulikan soal darah yang tidak berhenti menetes itu, Xena bangkit kembali kemudian menjambak dan menampar pipi Brisia dua kali. Sudut bibir Brisia mengeluarkan darah, ia mulai mengeluarkan air mata palsunya demi menarik perhatian Derryl.


“Yang Mulia, pipi saya sangat sakit, padahal tadi saya mendorongnya pelan tapi dia sendiri yang menjatuhkan dan melukai dirinya sendiri. Ini tidak adil, Yang Mulia, seharusnya Anda hukum saja dia, saya tidak salah karena saya hanya ingin membela Anda.” Brisia membenamkan diri di pelukan Derryl, suaranya yang sok imut itu terdengar menjijikkan.


Derryl melayangkan pandangan amarah yang meluap kepada Xena, dia paling tidak senang apabila melihat Brisia menangis, siapa pun orang yang membuatnya menangis, maka ia akan turun tangan untuk memberi pelajaran kepada orang itu.


“Hahh? Kau bilang apa? Aku yang menjatuhkan diri? Untuk apa aku melukai diri sendiri? Kau wanita jal*ng yang bisanya cuma mengadu dan menangis. Bukankah sejak awal kalian melihat semuanya? Wanita ini yang mendorongku dan membuat keningku berdarah. Kalian melihatnya, kan?” tanya Xena kepada para bangsawan yang menonton aksinya sejak tadi.


Berbeda jauh dari ekspektasi, para bangsawan justru memilih diam dan membela Brisia, mereka menilai Xena terlalu jahat kepada Brisia yang menegur sikap kurang ajarnya.


Ucapan Derryl sangat tajam kepada Xena, para bangsawan mulai berbisik dan menertawakan Xena yang dipojokkan oleh Derryl. Menurut mereka, Xena pantas untuk mendapatkan itu semua, tidak ada di antara mereka yang mau membela Xena, padahal mereka tahu kebenarannya.


“Aku yang mesti bilang seperti itu padamu, kalau ada mesin waktu, aku akan kembali ke masa lalu dan menolak mentah-mentah posisi Permaisuri sialan ini. Aku tidak peduli kau berbicara apa, tapi kau tetap harus menyelidiki pembunuh ini, kalau bukan karena mereka aku tidak akan sampai menghancurkan istana,” pinta Xena kepada Derryl.


“Aku tidak akan menyelidikinya, tadi aku berharap kau terbunuh oleh mereka, tapi sepertinya kau berhasil membereskannya. Aku tidak mau membuang-buang waktuku untuk menyelidiki masalah yang tidak jelas seperti ini.”

__ADS_1


Xena menyibakkan poninya ke belakang, jantungnya berpacu kencang akibat emosi yang tertahan di hati.


“Kau bertambah gila aku lihat\, jelas-jelas di depan matamu aku yang didorong oleh wanita jal*ng ini tapi kau membelanya\, tidak hanya kau saja bahkan bangsawan kepar*t ini juga ikut membelanya. Apa kau benar-benar seorang Kaisar? Di mana hati nuranimu? Menempatkanku di istana yang rapuh\, menyiksa hatiku terus menerus\, mempercayai setiap fitnah yang ditujukan padaku\, lebih baik kau jadi anj*ng saja sana.”


PLAKKK!


Derryl murka, ia mendaratkan tamparan kuat di pipi Xena, Brisia menyeringai begitu melihat Xena kena tampar oleh Derryl. Xena terdiam dalam kekagetan, selama ini tidak ada yang pernah menampar wajahnya.


“Kak, sebaiknya jaga batasmu.” Xander akhirnya tersapu ke dalam masalah ini, dia berdiri di hadapan Xena untuk menghentikan Derryl.


“Xander! Kau jangan ikut campur! Ini urusanku dengan wanita ini.”


Xander menatap lurus dan dingin kepada Derryl, sedari tadi tangannya gatal ingin memukul wajah Derryl, tapi dia terus menahan diri. Akan tetapi, selepas menyaksikan Xena ditampar, Xander tidak bisa menahan diri untuk tidak ikut campur.


“Aku sependapat dengan Permaisuri, kau memang bukan Kaisar yang baik, atau jangan-jangan matamu buta ya? Jelas-jelas selirmu yang main tangan lebih dulu, tapi kenapa kau malah menyalahkan Permaisuri? Sepertinya otakmu perlu dicuci, Kak,” kata Xander membela Xena.


“Hahaha, barusan aku ditampar? Sungguh menggelikan melihat pria membela wanita yang tidak ada harganya. Seharusnya tadi aku bunuh saja seisi istana ini tadi.” Xena menegakkan kepala, suara tawanya terdengar menakutkan, tidak sedikit orang yang merindingi di saat suara tawa Xena bergema. Kemudian Xena mendekati Derryl perlahan dengan wajah datar tanpa ekspresi.

__ADS_1


“Sepertinya kau—”


Bugh!


__ADS_2