
Setelah terbang selama kurang lebih lima belas menit, akhirnya Xander mendarat di depan gedung pengelolaan aset. Sebelum itu, Xander meminta Xena untuk mengubah tampilan warna matanya, Xena pun segera mengembalikan warna matanya menjadi perak, lalu rambutnya diikat ponytail. Xander menggenggam tangan Xena, dia menolak untuk berjauhan dari Xena karena takut dia akan kehilangan Xena nantinya.
“Apakah benar di sini tempat mengurus asetnya? Kenapa lebih terlihat seperti bar?”
Xena tercengung ketika baru saja menginjakkan kaki di depan pintu, di dalam gedung itu terdapat banyak pria yang berpenampilan seperti preman sembari meminum alkohol bersama-sama. Suasana di dalam sana jauh lebih hidup dan ramai, suara gelak tawa di antara para karyawan serta pelanggan terdengar renyah.
“Jangan salah sangka, tempat ini memang sengaja diciptakan seperti ini. Tidak bisakah kau melihatnya? Semua orang yang datang kemari memiliki tujuan untuk melepas rasa stres akan jalan kehidupan yang mereka tempuh. Setidaknya jika mereka berada di sini rasa lelah oleh kehidupan bisa berkurang sedikit,” papar Xander.
Apa yang disebutkan oleh Xander adalah fakta, sebagian dari mereka mencari pelarian untuk mengalihkan sejenak rasa letih. Mereka yang sedang tertawa merupakan orang-orang kuat dalam menjalani hidup. Kemudian seorang pria datang menghampiri Xander, pria itu terlihat sangat akrab dengan Xander.
“Yang Mulia, apa kabar? Sudah lama tidak berjumpa.” Pria berambut coklat itu memberi salam hormat kepada Xander.
“Ya, kabarku baik, bagaimana denganmu?” tanya Xander balik.
“Seperti yang Anda lihat.” Lalu pria itu memalingkan perhatiannya kepada Xena, sejenak dia terpaku oleh daya tarik kecantikan Xena. Merasa cemburu, Xander pun menghalangi pandangan pria itu dari Xena.
“Bolehkah aku bertemu Liam?” Xander langsung bertanya demi membuat fokus pria itu buyar.
“Tuan Liam sedang berada di atas, mari ikuti saya dan saya akan mengantar Anda bertemu dengan Tuan.”
Pria itu memandu jalan mereka menuju lantai atas gedung tersebut, ternyata suasana di lantai atas lebih tenang dibanding lantai bawah. Di lantai atas terdapat beberapa orang karyawan yang sedang bekerja lebih serius mengurusi dokumen-dokumen. Pria itu lalu membawa mereka ke ruang kerja pemimpin gedung pengelolaan aset itu.
“Permisi, Tuan, Duke Geraldo datang untuk bertemu dengan Anda.”
Seorang pria tampan berambut biru lembut tengah duduk santai di ruangannya seraya ditemani oleh alkohol di atas meja. Senyumnya melebar ketika mendapati Xander datang untuk bertemu dengannya, ditambah Xander yang terkenal dingin itu membawa seorang wanita cantik bersamanya.
“Oh Xander! Apa yang membawamu kemari, sobat?” Pria yang bernama Liam itu menyambut ramah kedatangan Xander. Dia segera membereskan dokumen yang berantakan di atas mejanya sebelum berbicara lebih lanjut dengan Xander.
__ADS_1
Walaupun telah disambut secara manis seperti itu, raut datar muka Xander tidak berubah, dia tidak begitu senang dengan sambutannya.
“Ternyata kau masih sama hebohnya, aku pikir kau tidak akan heboh karena aku datang kemari,” tutur Xander.
Liam curi-curi pandang melihat Xena yang sibuk disembunyikan oleh Xander di belakang tubuh kekarnya. Liam yang penasaran pun mendekat langsung ke arah Xena, alangkah terkesimanya dia melihat Xena. Segera saja dia raih tangan Xena dan mengecup ujung jemarinya dengan muka tak berdosa.
“Salam kenal, Nona, saya Liam. Bolehkah saya tahu nama Anda?”
Xander tampak tidak nyaman menyaksikan pemandangan itu, nyaris saja dia menampar kepala Liam. Akan tetapi, Xena lebih dulu melakukannya sebelum Xander sempat mengamuk di ruang kerja Liam.
“Jangan sentuh aku!” Xena membentak Liam sambil menampik tangan Liam. Tidak biasanya wanita bersikap kasar kepada Liam, alhasil reaksi Xena membuat Liam terdiam. Biasanya ramai wanita yang ingin bersentuhan dengannya, namun hal itu tidak berlaku bagi Xena yang tidak mengerti tentang cinta dan pria tampan.
Xander mengeluarkan sapu tangannya dan menyeka bekas ciuman Liam di ujung jemari Xena. Menyaksikan tingkah Xander yang hangat dengan wanita lain menciptakan sebuah rasa heran di hati Liam.
“Beraninya kau menyentuh istriku!” gertak Xander melotot ke arah Liam.
“Huh? Istri? Wanita ini sungguh istrimu? Sejak kapan kau menikah? Kenapa kau tidak mengundangku ke pesta pernikahanmu?” tanya Liam beruntun.
“Siapa yang kau katakan istrimu? Aku bukanlah istrimu,” ketus Xena langsung pergi mendudukkan diri di sofa.
“Kau istriku di masa depan! Aku tidak mau tahu, kau harus menjadi istriku!” tegas Xander.
“Aku tidak mau!”
“Harus mau!”
Terjadilah keributan kecil di ruang kerja Liam, sedangkan Liam hanya berdiri menonton perdebatan mereka yang tidak bertemu ujungnya. Siapa sangka teman masa kecilnya – Xander bisa berbicara sesantai itu dengan seorang wanita, bahkan memaksa Xena untuk menjadi istrinya. Dulu Liam sempat berprasangka bahwa Xander tidak akan
__ADS_1
pernah menikah, sebab dia tidak pernah menunjukkan ketertarikannya dengan wanita. Kerap kali Liam menyangka bahwa Xander sebenarnya penyuka sesama jenis, dikarenakan dia hanya bermain bersama Garvin dan para ksatria saja.
‘Kalau seperti gadis itu tipe istri idamannya, pantas saja selama ini dia tidak tertarik dengan wanita mana pun. Di Charise bahkan tidak ada wanita yang lebih cantik dari kekasihnya,’ batin Liam.
Seusai itu, Liam bergabung bersama Xander dan Xena untuk menanyakan maksud kedatangan mereka yang tiba-tiba.
“Sebelum memulai pembicaraan, bisakah saya tahu nama Anda, Nona?” tanya Liam.
“Aku—”
“Namanya Xena. Kau tidak boleh berbicara dengannya, kau berbicara saja denganku,” potong Xander sinis.
Liam hanya bisa tertawa kikuk, temannya yangs sedingin es kutub ini rupanya mempunyai sifat posesif, untuk sekedar berbicara dengan Xena saja dia tidak mengizinkannya. Liam menggeleng-gelengkan kepalanya, dia harus meningkatkan kesabaran demi menghadapi sifat Xander.
“Jadi, kenapa kalian berdua kemari? Apa ingin mengurus aset?” tanya Liam.
“Xena mau membeli seluruh aset keluarga Duke Alister yang telah terjual, jadi tolong urus secepat mungkin,” desak Xander.
Liam menatap nanar Xena, dia masih belum sadar kalau Xena adalah kembaran Alina sekaligus keturunan Duke Alister.
“Aset Duke Alister? Aku bisa menjual semuanya, tapi maaf sekali kecuali untuk tambang berlian telah dibeli oleh orang lain,” ujar Liam.
Brakkk
Xena menggebrak meja, dia refleks marah tatkala Liam berkata bahwa tambang berlian milik keluarganya telah terjual.
“Siapa yang membelinya? Aku tidak mau tahu, tambang berlian itu harus jatuh ke tanganku lagi!” tegas Xena diselimuti oleh amarah yang meledak-ledak.
__ADS_1
Liam terkejut saat Xena marah dan memukul mejanya, ia tidak tahu menahu tentang alasan Xena marah dengannya.
“Kenapa Anda memarahi saya? Ini kan pekerjaan saya, jadi Anda tidak bisa protes dengan saya,” kata Liam.