
Tetapi, ternyata spekulasi masyarakat mengenai kematian para bangsawan tidak sampai di situ saja. Hari ini timbul desas-desus baru di Charise yang menyatakan bahwa kematian para bangsawan berkaitan dengan Xena. Mengingat sebelum kematian mereka, mereka sempat menuturkan perkataan tidak mengenakkan dan menghina Xena habis-habisan, sehingga orang-orang mulai berpikir kalau mereka mati karena telah menyakiti hati Xena. Kini mereka sebut itu sebagai kutukan akibat menghina mantan Permaisuri.
Rumor tersebut tersebar begitu cepat ke gendang pendengaran Derryl, di sela kepeningannya yang mengurus satu persatu masalah besar nan menghadang, kini muncul rumor yang menambah beban Derryl. Beberapa waktu lalu dia baru saja selesai melaksanakan penobatan pengangkatan Brisia sebagai Permaisuri Charise. Lalu sekarang dia harus bergerak menghapus rumor yang datang entah dari mana.
“Kematian bangsawan berpengaruh di Charise, ini bukan masalah yang simpel. Kenapa mereka bisa mati? Kemudian mengapa terdapat banyak racun di tubuh mereka? Apa mungkin ada seseorang yang sengaja ingin menjatuhkan Charise? Jika memang seperti itu kenyataannya, berarti ada musuh yang menyelinap kemari. Aku tidak bisa membiarkannya lebih lama lagi, terlebih rumor baru ini sangat menggangguku,” gumam Derryl.
Di saat dirinya yang terus bergumam serius, Brisia datang diam-diam ke ruang kerja Derryl. Lamunan Derryl yang mendalam membuatnya tak mendengar langkah kaki Brisia, hingga Brisia akhirnya memilih untuk mengejutkan Derryl.
“Sayang, kau sedang apa?” bisik Brisia di samping telinga Derryl. Embusan napas Brisia membuat sekujur badan Derryl merinding, saat itu pula lamunannya terpecah begitu saja.
“Ya ampun, Brisia! Kau mengejutkanku saja,” ucap Derryl.
Brisia kegirangan setelah diangkat menjadi Permaisuri, ia langsung duduk di pangkuan Derryl seraya memberi kecupan di bibir Derryl.
“Karena hanya kita berdua di sini, jadi aku boleh memakai bahasa santai, ‘kan?” tanya Brisia dengan suara imut yang dibuat-buat.
“Tentu saja, boleh. Kau spesial di hatiku, jadi tidak mungkin aku melarangmu berbicara santai padaku,” tutur Derryl.
Namun, ketika Derryl hendak mencium Brisia kembali, tiba-tiba saja bayangan wajah Xena melintas di pikirannya. Entah mengapa dia tidak bisa melepas pikirannya dari Xena, samar-samar senyuman Xena yang tidak pernah ramah padanya terus menembaki pikirannya. Seketika ia melupakan ada Brisia di depan matanya kini. Pesona Brisia yang membuat dirinya tergila-gila seolah berkurang setelah Xena datang ke kehidupannya.
‘Kenapa Kaisar mengalihkan pandangannya dariku? Apa yang membuatnya bersikap tidak biasa seperti ini?’ pikir Brisia.
Kemudian Brisia memberi sentuhan yang lebih intim pada Derryl, dia berharap Derryl akan bereaksi lebih akibat sentuhannya. Akan tetapi, di luar ekspektasinya, Derryl tidak bereaksi terhadap sentuhannya itu. Derryl menahan tangan Brisia agar tidak menggelitik tubuhnya lebih jauh lagi.
__ADS_1
“Hentikan itu, Brisia. Aku sedang tidak ingin melakukannya,” ujar Derryl menolak Brisia secara lembut.
Wajah riang Brisia sesaat berubah cemberut, dia paling tidak suka adanya penolakan, terlebih dari Derryl sendiri. Lalu Brisia turun dari pangkuan Derryl, dia sangat marah dengan perlakuan Derryl barusan.
“Yang Mulia, Anda benar-benar membuat saya marah. Kenapa hari ini Anda terlihat berbeda? Saya membenci sifat Anda yang seperti ini. Tolong jangan temui saya sampai Anda meminta maaf dan mengakui kesalahan yang baru saja Anda perbuat,” rajuk Brisia.
Dia berencana melangkah ke luar ruangan, ia sengaja berbicara formal pada Derryl supaya Derryl merasa bersalah kepada dirinya. Tetapi, Derryl hanya diam di tempat dan tidak bergerak untuk mengejar dia yang kian menjauh dari ruang kerja.
‘Ada apa denganku? Aku tidak bergairah sedikit pun dengan Brisia.’
Brukkk
Tepat sebelum pintu keluar, Brisia mendadak jatuh pingsan, Derryl dilanda kepanikan hebat begitu ia menyaksikan Brisia yang tidak sadarkan diri. Segera saja Derryl beranjak dari tempat duduk untuk membantu Brisia. Lekas Derryl mengangkat tubuh Brisia untuk dia bawa ke kamar dan tidak lupa pula ia memerintahkan pelayan memanggilkan dokter.
Muka Brisia pucat pasi dan tubuhnya terbaring lemah di atas tempat tidur, guratan kecemasan tampak jelas di garis-garis wajah Derryl.
“Selamat, Yang Mulia, sepertinya matahari baru Charise segera lahir. Permaisuri sedang hamil dan usia kandungan beliau sekarang memasuki bulan keempat,” ungkap sang dokter.
“Jadi, maksudnya aku akan menjadi seorang Ayah?”
Dokter tersebut mengangguk, di sela berita buruk yang terus berdatangaan secara beruntun, kala ini ada berita bahagia yang akan mencairkan suasana suram di kekaisaran. Seketika berita itu langsung tersebar ke setiap titik sudut kekaisaran. Tidak ada yang tak bahagia dengan berita ini, para bangsawan pun ramai mengirimkan hadiah ucapan selamat kepada Brisia.
“Hey, sepertinya mantan Permaisuri memang mandul, beliau lebih dulu masuk istana tapi beliau belum hamil sampai sekarang. Sepertinya menurunkannya menjadi selir adalah pilihan yang tepat, jika dia terus menjadi Permaisuri, maka tidak akan ada pewaris takhta yang lahir.”
__ADS_1
Bisikan-bisikan buruk lagi-lagi menargetkan Xena, mereka membandingkan Xena dengan Brisia yang berhasil hamil anak Kaisar. Andaikan saja mereka tahu bahwa sebenarnya Derryllah yang tidak pernah menyentuh Permaisuri sebelumnya, sekali disentuh dalam keadaan tidak sadar, Alina langsung bisa menghasilkan keturunan untuknya. Sayangnya, Alina tidak bertahan lebih lama, bila dia masih hidup mungkin mulut orang-orang itu akan langsung bungkam.
“Hamil ya? Bahkan aku tidak pernah membayangkan perutku berubah besar gara-gara mengandung anak. Jangankan hamil, aku saja tidak pernah berpikir untuk menikah,” gumam Xena.
“Benarkah? Tapi, aku selalu membayangkan untuk menikah denganmu dan melahirkan dua pasang anak,” celetuk Xander yang tiba-tiba muncul dari jendela kamar.
Xena terperanjat kaget, ia segera bangun dari posisi tidurannya, kedatangan Xander yang mendadak membuat Xena berdecak sebal.
“Ya ampun, Xander! Kenapa kau selalu saja masuk lewat jendela? Lalu apakah tubuhmu sekarang sudah pulih? Jangan membuatku marah, dan segeralah kembali ke mansion!” Xena mendorong tubuh Xander untuk pergi dari kamarnya.
“Aku bawa ini,” ucap Xander mengangkat kotak cake cokelat untuk membujuk Xena. Langsung saja Xena merebut cake tersebut dari tangan Xander.
“Oke, kau boleh di sini, tapi jangan lama-lama. Nanti kau ketahuan oleh penjaga istana dan itu akan membuatku kerepotan.”
...***...
Malam hari di kerajaan yang diselimuti kegelapan serta dipenuhi oleh hawa tak bersahabat sedang terjadi sebuah pertemuan rahasia. Di sepanjang bahu jalan, terdapat banyak tengkorak manusia, aura yang menyeramkan dan tidak lupa dengan langit yang berwarna merah bercampur hitam pekat. Bau bangkai manusia menyeruak masuk ke penciuman, seakan di tempat itu tidak ada kehidupan. Kerajaan tersebut bernama Kerajaan Barbarian yaitu lokasi di mana sang Raja paling kejam kini berada.
“Salam kepada Yang Mulia Raja Barbarian.”
Seorang pria berbungkuk memberi salam kepada seorang pria berumur 40 tahunan yang tengah duduk di kursi singgasana. Pria yang disebut sebagai raja itu memiliki ciri fisik berupa rambut merah menyala serta mata perak yang bersinar seperti matanya Xena.
“Ahh, Marquess Andros, lama tidak berjumpa. Bagaimana dengan tugas yang aku berikan padamu?” tanya sang Raja kepada Marquess Andros yang berada di bawah singgasana.
__ADS_1
“Mohon maaf, Yang Mulia, saya gagal memisahkan Xander dari putri Anda,” jawab Marquess Andros.
“Gagal? Dasar tidak becus! Apa kau tidak bisa menggunakan putrimu untuk memisahkan mereka?! Ahh sialan! Padahal aku sudah membunuh Alina demi memancing Xena keluar dari markasnya, tapi sekarang lagi-lagi pria bernama Xander itu menempel padanya?! Aku tidak akan membiarkannya menikahi Xena karena Xena hanyalah milik Raja Setan nan agung!”