
Pemuda yang berada di hadapan Xander kini bernama Xavier, wajah tampan serta matanya sangat mirip dengan Xander. Secara tidak langsung, Xavier merupakan anak kandung Xander dan Xena, tanpa alasan yang jelas ia turut datang ke masa lalu dalam wujud remaja berusia 17 tahun.
“Jawab, Xavier! Kenapa kau bisa berada di sini? Lalu berapa usiamu sekarang? Aku masih ingat kalau aku meninggalkanmu di umur 8 tahun.”
Xander tidak bisa berpikir jernih, keberadaan putra satu-satunya ia dan Xena terlalu mengejutkan. Pasalnya, bila dipikirkan dari sudut pandang Xander, mustahil rasanya sang anak bisa kembali ke masa lalu dalam keadaan usia dewasa.
“17 tahun, aku masuk ke masa di mana Ayah dan Ibu baru saling mengenal. Aku tidak bermaksud mengacaukan masa lalu, hanya saja setelah Ayah dan Ibu meninggal, aku bertahan hidup sendirian. Dunia semakin kacau, perbudakan merajalela, seluruh orang yang Ayah dan Ibu selamatkan tidak lama juga ikut mati dalam kekacauan. Aku bertahan selama 9 tahun di dunia yang kejam, aku mati dalam pertempuran dan tiba-tiba saja aku berada di waktu kalian masih muda,” jelas Xavier dengan ekspresi wajah tertekuk.
Xander tertegun mendengar penjelasan rinci dari Xavier, tak terduga bahwa setelah kematiannya, dunia masih berjalan seperti biasa dan bahkan didera kekacauan yang di luar nalar. Xander berpikir setelah ia kembali ke masa lalu, dunia juga ikut berputar waktu, tapi nyatanya Xavier masih hidup di dunia di mana dirinya dan Xena sudah meninggal.
“Setelah Ibu meninggal, tidak lama selepas itu Ayah juga meninggal, aku masih ingat kalau Ayah pernah mengatakan padaku bahwa Ayah selalu kembali ke masa lalu demi menyelamatkan Ibu. Kalian berdua meninggalkanku di usia masih belia, tapi aku senang melihat kalian berdua bahagia,” tutur Xavier kemudian.
Senyum sendu Xavier sangat mirip dengan Xena, sesaat Xander termenung dan tenggelam di lautan pikiran kalut. Sejujurnya, seusai mendengar Xavier berkata demikian, Xander merasa sedih sekaligus merasa bersalah karena telah meninggalkan Xavier sendirian berjalan di dunia penuh rintangan serta neraka tak berbatas.
“Lalu apa kau juga yang memberitahu Ibumu tentang rencana Luisa?” tanya Xander.
Xavier mengangguk pelan, ia mengikuti Luisa beberapa hari ini karena pergerakannya terlihat mencurigakan.
“Aku pikir sangat menyenangkan melihat Ibu mengamuk dan menghancurkan wanita itu. Dulu Ayah membunuhnya, ‘kan? Sekarang biarkan Ibu bertindak sesuka hatinya,” ucap Xavier berubah sumringah.
Xander menghela napas panjang, pertemuannya dengan Xavier merupakan sebuah kejutan besar. Siapa sangka putra kesayangannya dan Xena berada di garis waktu yang sama dengan dirinya, ditambah Xavier yang sekarang menyerupai pria tampan dewasa. Meskipun umurnya masih 17 tahun, tapi Xavier hampir sama tinggi dengan Xander.
__ADS_1
“Baiklah, Xavier. Aku akan membiarkanmu menetap di sini, tapi jangan beritahu Ibumu mengenai identitasmu. Xena tidak tahu apa-apa mengenai aku yang memutar waktu, apalagi kalau kau sampai memperkenalkan diri sebagai anaknya, itu akan membuat Xena pusing. Cukup aku saja yang tahu bahwa kau anakku. Apa kau paham?”
Xavier terlihat senang saat sang Ayah memperbolehkan dirinya tinggal di mansion ini, jadi dia bisa lebih leluasa memperhatikan kedua orang tuanya saling berinteraksi.
“Aku paham, Ayah,” jawab Xavier.
“Sebenarnya, masih banyak yang ingin aku tanyakan padamu, jadi tolong ceritakan semuanya padaku nanti tentang apa saja yang terjadi di dunia setelah aku meninggal. Aku akan melengkapi segala kebutuhanmu, dan juga maafkan aku telah meninggalkanmu sendirian.” Xander mengusap puncak kepala Xavier seraya mengucap maaf setulus hati.
Entah sudah berapa lama sejak terakhir kali Xander mengelus lembut kepala Xavier, itu membuat Xavier tak kuasa menahan tangisnya. Xander kaget melihat air mata Xavier bergulir dari pelupuk mata, ia kehilangan ketenangan sesaat Xavier menangis.
“Apa? Kenapa kau menangis? Apa aku tidak suka aku mengelusmu? Apa jangan-jangan kepalamu sedang sakit?” tanya Xander beruntun cemas.
Di sela kecemasan Xander, tiba-tiba saja Xena datang melihat Xavier yang masih menangis.
Suara Xena membuat Xander dan Xavier terlonjak, Xavier segera menyeka air matanya, sedangkan Xander menghalangi Xena supaya tidak melihat rupa Xavier.
“Kenapa kau kemari? Tadi aku sudah menyuruhmu menungguku di taman,” kata Xander, dia bingung harus menjelaskan kepada Xena jika ia nanti bertanya tentang Xavier.
“Kau sangat lama, aku pikir kau tadi kalah oleh penyusup. Jadi, mana penyusupnya? Aku hanya melihat seorang pria muda yang menangis. Jangan-jangan kau sungguh membullynya dan membuatnya menangis? Apa kau tidak takut kalau nanti dia mengadu pada Ibunya?” tanya Xena sembari membulatkan manik mata.
“Aku tidak membuatnya menangis, sebenarnya dia adalah saudara jauhku dari pihak Ibu dan dia mendadak datang kemari untuk menemuiku,” jelas Xander pada akhirnya harus berbohong kepada Xena.
__ADS_1
“Hmm, benarkah? Hei, Nak, apa kau benar-benar tidak dibuat menangis oleh Xander? Katakan saja padaku, biar aku marahi dia,” ucap Xena mengalihkan fokus kepada Xavier.
“Tidak, saya tidak menangis,” dalih Xavier, “Tolong jangan salah paham kepada Duke,” lanjutnya.
Xander lalu mendorong tubuh Xena untuk segera pergi dari tempat itu karena langit sudah semakin gelap, ada kemungkinan Luisa sebentar lagi akan melakukan rencananya.
“Sudah, ayo cepat kita masuk. Nanti saja kita membahas yang lainnya.”
Xavier mengekori Xander dan Xena dari belakang, dia senang melihat kedua orang tuanya saling tertawa bahagia. Ini merupakan momen yang paling dia rindukan di hidupnya, lalu hari ini dia kembali menyaksikan momen tersebut walaupun Xena tidak akan mengenalinya sebagai anak.
‘Mereka berdua terlihat bahagia, tidak lama lagi Ayah dan Ibu akan menikah lalu aku akan lahir dua tahun dari sekarang,’ batin Xavier.
Ketika langit sore berganti gelap, Xena mulai melancarkan aksinya, dia diam-diam bersembunyi di belakang mansion untuk melihat apa yang akan dilakukan oleh Luisa. Saat ini Xander dan Xena menyembunyikan keberadaan mereka di balik semak-semak. Xena tidak mengizinkan Xander berkeliaran sendirian di mansion ini, jadi dia menahan Xander di sisinya supaya Xena bisa mengawasi Xander dari dekat.
Tidak lama berselang, Luisa datang melewati pintu belakang mansion menemui seorang pelayan pria. Luisa mengeluarkan botol obat terlarangnya beserta satu kantong kecil berisi koin emas yang digunakan untuk menyogok pelayan tersebut supaya mau bekerja sama dengannya menjebak Xander.
“Kau campurkan obat ini ke dalam teh yang biasa diminum oleh Duke sebelum tidur, lakukan dengan hati-hati dan jangan sampai ketahuan,” ujar Luisa berbisik-bisik.
“Baik, Nona. Akan segera saya laksanakan sesuai arahan Anda.”
Pelayan itu pun berlalu pergi ke dalam mansion, sedangkan Luisa juga beranjak pergi dan bersiap-siap melakukan rencana busuknya setelah ini.
__ADS_1
‘Sebentar lagi aku akan menjadi Duchess Geraldo, wanita itu pasti akan bertekuk lutut di bawah kakiku. Lihat saja, aku buat dia menangis-nangis memohon ampunanku.’