Permaisuri Beracun

Permaisuri Beracun
Mengadili Xena


__ADS_3

Xena terdiam cukup lama, raut wajahnya terlihat tidak baik-baik saja, kini Xena termangu menatap catatan yang ditulis oleh sang Ibu. Fakta bahwa dirinya dan Alina bukanlah anak kandung Adolph memberi guncangan pada jiwanya. Penderitaannya serta Alina berakhir sia-sia di tangan Adolph, bahkan niat membunuh Xena telah menggebu-gebu. Api di hatinya berkobar membakar diri, aura menakutkan perlahan menyelimuti tubuh Xena.


Gia hanya menatap Xena, dia tidak tahu apa yang didapati oleh Xena di helai kerta putih tersebut. Tetapi, Gia juga tak bisa mengganggu Xena yang dibalut amarah, Gia berharap kalau Xena segera sadar dari lamunan tak berdasar. Tiba-tiba saja di sela kemarahan Xena, segerombol ksatria mendatangi kamar. Mereka masuk tanpa mengetuk pintu atau mengucap kata permisi, hal itu membuat Xena tersadar dari lamunannya.


“Yang Mulia, harap segera ikut dengan kami.” Dua orang ksatria menarik tangan Xena untuk ikut bersama mereka.


Mereka menarik tangan Xena dengan paksa, kemudian Xena menyentakkan tangannya sembari memberi tatapan menusuk ke seluruh ksatria itu.


“Jangan sentuh aku! Aku bisa jalan sendiri. Katakan! Ke mana aku harus pergi sekarang? Ke ruang singgasana?”


Suasana hati Xena berada dalam kondisi paling buruk, dia membuat para ksatria tak bergeming ketika ingin membawanya pergi ke ruang singgasana. Suara hentakkan kaki Xena menuju luar kamar tidak bersahabat sama sekali. Ksatria mengekori Xena dari belakang, jika mereka berani menyinggung Xena, maka sama saja mereka mengantar nyawa sendiri pada gerbang kematian. Gia pun turut mengikuti Xena menuju ruang singgasana tempat Derryl saat ini berada.


Setibanya di ruang singgasana, ternyata di sana telah berkumpul banyak bangsawan termasuk Adolph dan Merry yang tengah berada di atas kursi roda. Mereka berdua belum pulih sepenuhnya, tapi mereka ingin menuntut keadilan pada Derryl terhadap perbuatan Xena yang nyaris membunuh mereka. Lalu di singgasana duduk Derryl yang didampingi Brisia, selir tercinta Derryl itu duduk di atas kursi singgasana Permaisuri. Padahal itu menyalahi aturan, tapi tak ada siapa pun yang berani menegurnya. Kemudian hal yang paling mengganggu mata Xena ialah keberadaan para budak, wajah mereka yang lesu, pucat, dan tak bertenaga membuat Xena merasa miris sekaligus kasihan.


Yuliana bersama Chayton – saudara tiri Xena serta Kakak kandung Yuliana atau lebih tepatnya anak pertama Adolph dan Merry, mereka juga berada di sana menyaksikan jenis hukuman apa yang akan diterima oleh Xena. Ini pertama kalinya Xena melihat rupa Chayton setelah sepuluh tahun tak bersua. Penampilan Chayton yang mirip dengan Adolph kian memupuk rasa benci Xena padanya. Ingatan sikap Chayton yang kurang ajar dan semena-mena padanya masih melekat jelas di memori. Menyadari Xena sedang menatapnya, Chayton melambaikan tangan sambil tersenyum tak berdosa.


“Baj*ngan!” umpat Xena teramat pelan.


Badan Xena ditekan ke bawah dan dipaksa berlutut di hadapan Derryl, muka Derryl menatap dingin Xena, sedangkan Xena hanya menunduk sambil menggigit bibir bawahnya. Ekspresi Brisia tampak sangat menikmati pemandangan itu, dia merasa telah menang telak dari Xena.

__ADS_1


“Permaisuri, apa kau tahu alasan kau dipanggil kemari?” tanya Derryl.


Xena menyeringai lalu menegakkan wajah disertai tatapan lurus ke arah Derryl. Suasana ruang singgasana yang bising berubah hening ketika Derryl mengajukan pertanyaan kepada Xena.


‘Jawablah, jal*ng! Aku harap posisimu sebagai Permaisuri diturunkan dan biar aku naik menjadi Permaisuri selanjutnya,’ batin Brisia.


Tak tergurat ketakutan maupun kekhawatiran di wajah Xena, dia hanya berpikir kematian bagaimana yang akan dia persembahkan ke masing-masing orang yang berada di sana.


“Kau sudah tahu, tapi kenapa kau bertanya lagi padaku?” balas Xena.


“Lancang! Bagaimana seorang Permaisuri bisa bersikap seperti itu terhadap matahari kekaisaran?”


“Dasar pembunuh! Keberadaanmu yang dulu seperti hantu, tapi sekarang malah menyerang keluarga yang jelas-jelas menyayangimu sepenuh hati!”


“Wanita tidak tahu diri! Mati saja kau daripada hidup malah merugikan keluargamu sendiri!”


Xena menuai kata-kata cecaran dari para bangsawan, suasana gaduh diwarnai oleh perkataan kasar yang terlontar dari mulut mereka. Di antaranya paling banyak yang menyuruh Xena untuk terjun dan mati di jurang. Keberadaan Xena sungguh tak ada artinya sama sekali, mereka dari dulu tidak pernah menghargai Alina ataupun Xena.


“Hey, manusia biad*b, kenapa tidak kalian saja yang mati?”

__ADS_1


Mereka yang menyumpahi Xena seketika merapatkan mulut, Xena terlalu menakutkan di mata mereka. Tatapan yang seakan menerkam itu sungguh menelan keberanian mereka habis-habisan, kini Xena lebih tampak seperti binatang buas yang bersiap untuk menerkam mangsa. Bahkan Derryl juga dibuat bungkam, suaranya tercekat saat menyaksikan kegeraman Xena.


“Sekarang kau malah berbalik menggertak para bangsawan yang membela kami!” seru Yuliana, suaranya memecah cekaman suasana ruang singgasana. Dia menunjuk-nunjuk ke arah Xena supaya semua orang kembali menghakimi Xena.


“Padahal Ayah dan Ibu telah merawatmu dengan baik selama ini, tapi beraninya kau membalas air susu dengan air tuba. Kau singkirkan ke mana seluruh kebaikan yang telah kami berikan? Apa otakmu bergeser seusai menghilang beberapa hari?” lanjut Yuliana kembali.


Kalimat penghakiman dari para bangsawan kembali tertuju pada Xena, Yuliana menyunggingkan senyum setelah dia berhasil memicu kemarahan semua orang.


‘Rasakan! Tamat sudah riwayatmu, Alina,” batin Yuliana.


Mereka terlalu naif, Xena lebih kuat dari keliatannya, wanita itu bukanlah wanita biasa yang hanya bisa menangis. Setiap orang yang menghina diri Xena, otomatis segalanya terekam di otak Xena untuk menandai siapa saja orang yang patut dia beri hukuman mati nantinya.


“Permaisuri, apa kau tahu hukuman apa yang kau terima jika menyakiti bangsawan? Terlebih bangsawan itu keluargamu sendiri. Memalukan! Seorang Permaisuri melakukan perbuat tak terpuji. Kau sudah berhasil menciptakan aib bagi Charise,” ucap Xander.


“Aib ya? Memiliki Kaisar sepertimu mungkin itu lebih pantas disebut sebagai aib. Asal kau tahu meskipun aku membunuh mereka, aku tidak akan pernah mengaku salah atau meminta maaf. Apa yang aku lakukan terhadap mereka hanya bagian kecil dari pembalasanku.”


Derryl menggeram kesal dalam diam, dia mengatup bibirnya seraya menggertak gigi, kedua tangannya mengepal kuat seolah saat itu dia ingin menampar mulut Xena. Seisi ruangan menilai Xena gila dan tidak segan-segan mereka menyemburkan kalimat mengutuk diri Xena.


“Sepertinya kau kian menunjukkan keberanian padaku, kaalu begitu aku juga tak akan sungkan untuk menghukummu, Permaisuri.”

__ADS_1


“PFFTT HAHAHA.” Xena tertawa kencang, dia tidak peduli hukuman apa yang akan dia terima, dia hanya menganggap Derryl terlampau lucu untuk menghukumnya, “Menghukumku? Silakan lakukan saja, aku tidak takut,” tantang Xena.


“Baiklah, sekarang aku akan mengumumkan hukuman untuk Permaisuri. Mulai hari ini aku umumkan bahwa status Alina Alister sebagai Permaisuri diturunkan menjadi selir dan Brisia akan menyandang status Permaisuri berikutnya. Untuk hukuman tambahan, Alina akan dikurung di istananya selama satu bulan untuk merenungi perbuatan buruk yang telah dia lakukan. Sedangkan Duke Alister, istana akan memberimu kompensasi terhadap segala kerusakan yang telah diperbuat oleh Alina.”


__ADS_2