Permaisuri Beracun

Permaisuri Beracun
Melepaskan Segala Dendam


__ADS_3

“Tidak mungkin … mustahil … tidak masuk akal sama sekali anak umur sepuluh tahun bisa melenyapkan satu kekaisaran besar. Kau jangan mencoba membohongiku, sialan!”


Jemari Xena melingkar di besi jeruji, secara mengagetkan besi tersebut meleleh oleh racun Xena. Brisia syok, sontak dia menjauh dari Xena, dia pernah mendengar bahwa Xena yang merupakan kembaran Alina memiliki kekuatan spesial pada dirinya. Kekuatan itu lebih mengerikan dari sekedar sihir biasa, dia bisa saja mati terkena setitik racun Xena. Kini jalan ke luar dari penjara terbuka lebar, Xena menghancurkan jeruji besi itu dengan mudah.


“Kau masih menganggap kekuatanku tidak bisa menghancurkan satu kekaisaran besar? Bagiku itu adalah hal yang sangat mudah. Sekarang kau paham itu? Aku datang kemari untuk mengulitimu hidup-hidup. Aku ingin membalaskan dendam saudariku yang sudah kau siksa selama berada di istana. Padahal dia gadis yang baik dan berhati lembut, tapi bisa-bisanya kalian malah memberikan dia penderitaan,” kecam Xena terdengar sangat marah.


“Jangan mendekat … JANGAN MENDEKAT! MENJAUH KAU DARIKU, WANITA IBLIS!” teriak Brisia ketakutan melihat Xena melangkah maju dengan pelan mendekatinya. Brisia terus beringsut ke belakang hingga tubuhnya terbentur oleh permukaan dinding.


“Apa sekarang kau baru takut padaku? Selama ini kau ke mana saja? Tidak ada gunanya aku berbicara lagi padamu. Bisa-bisanya wanita bodoh sepertimu ini menindas saudariku, sungguh membuatku muak.”


Manik perak milik Xena bersinar di sela kegelapan penjara bawah tanah, sekilas Brisia menyaksikan bayangan kematian dirinya. Ajalnya benar-benar berada di depan mata, dia tidak diberi celah untuk menghindari takdir buruknya.


“Aku mohon … aku mohon jangan bunuh aku … biarkan aku hidup, aku mengaku salah sudah menindas Alina. Aku mohon, Xena … beri aku kesempatan untuk hidup satu kali lagi, aku janji akan memperbaiki sikapku. Tolong kabulkan keinginanku …,” lirih Brisia bersujud di bawah kaki Xena.


“Ya ampun, kau baru sadar kalau apa yang kau lakukan kepada Alina itu salah? Di mana kau taruh otakmu selama ini? Aku ini tidak suka melihat ada seseorang menyakiti orang yang aku sayangi. Aku tidak sudi mengabulkan permohonanmu yang konyol itu, kau tak lagi punya kesempatan untuk hidup!” tekan Xena dibubuhi emosi.

__ADS_1


“Xena … t-tolong, tolong pertimbangkan lagi … aku mohon ….”


Tangisan lirih Brisia mengisi ruang nan kosong, suaranya menggelegar di tengah tundukan kepala yang dalam. Namun, semua itu percuma saja karena Xena tidak tersentuh sama sekali oleh air mata Brisia. Kebencian serta rasa sakit di hatinya jauh lebih besar, Xena tidak pernah melupakan sekali pun perihal apa yang telah dilakukan Brisia terhadap saudara kembarnya. Xena membayangkan betapa takutnya Alina di istana ini sembari menangis tanpa ada orang yang mempedulikannya.


Xena menghela napas berat, dia tidak punya waktu memikirkan nasib buruk yang telah menimpa Alina. Hari ini segala penderitaan Alina di istana ini akan berakhir, Xena memenuhi tugasnya membalaskan dendam saudara serta Ibunya. Lika liku permasalahan di Kekaisaran Charise dapat terselesaikan dengan baik. Xena bersyukur di tempat ini setidaknya ada hal bahagia yang dia temukan yaitu Xander dan Xavier sebagai orang yang berharga baginya kini.


“Asal kau tahu, aku tidak pernah menarik hal yang sudah aku putuskan sejak awal. Bagiku takdirmu hari ini yaitu bertemu kematian, aku hanya mengirimmu lebih cepat tanpa menggunakan kekuatan malaikat maut. Jadi, menurutlah, Brisia!”


Xena menggencarkan serangan lembut hingga membuat Brisia tidak sadarkan diri, dia sengaja membuat Brisia pingsan karena Xena berencana membunuh Brisia tepat di hadapan Derryl. Xena pun lalu menyeret Brisia ke luar penjara, dia menyeret tubuh Brisia di atas lantai menuju ke ruang utama istana ini.


“Ahh, ini sangat merepotkan, aku ingin menyelesaikan ini dengan cepat agar aku bisa fokus menyusun rencana untuk menyerang Raja Barbarian. Aku tidak boleh berlama-lama di sini, masih banyak yang harus dilakukan sebelum mengakhiri pembalasan dendam yang terpendam lama di hatiku,” gumam Xena sembari menatap sayu ke depan.


Sementara itu, di sisi lain istana Elinor dan Giselle bergerak berdua menuju istana kediaman Gylda – Ibu Suri. Mereka berdua sangat emosi mendengar cerita tentang apa saja yang dilakukan Gylda terhadap keluarga Xena. Akan tetapi, Xander melarang mereka membunuh Gylda, dia harus ditangkap hidup-hidup karena Xander juga ingin menyelesaikan masalahnya dengan wanita tersebut.


BRAKK!

__ADS_1


Giselle mendobrak pintu masuk kamar Gylda, kamar yang didesain mewah itu membuat matanya menjadi sakit. Mereka berdua tidak melihat adanya tanda-tanda keberadaan Gylda, tapi Giselle masih bisa merasakan hawa kehadiran Gylda yang memudar di dalam kamar. Giselle mengedarkan pandangan, dia berfirasat bahwa Gylda saat itu telah melarikan diri melewati pagar belakang istana.


“Elinor, wanita tua itu sepertinya tengah mencoba kabur. Sekarang kita harus mencegat niatnya untuk pergi dari kita!” ucap Giselle diangguki Elinor.


Keduanya berlari ke luar kamar, langkah mereka yang sangat cepat mengarah ke belakang istana kediaman Gylda. Untung saja mereka tiba tepat waktu, kala itu Gylda sedang bersiap untuk melompati pagar, jadi mereka bisa mencegah niat kabur dari Gylda.


“Hei, mau ke mana kau?!” Elinor menghentakkan payung hitam di tangannya, payung tersebut mengeluarkan angin kencang hingga membuat Gylda tersungkur ke tanah.


“Jangan harap kau bisa kabur dari kami!”


Gylda meringis sakit pada bagian pinggulnya, dia terkejut mendapati Giselle dan Elinor menemukannya dengan cepat. Gylda mencoba untuk berdiri dan berencana lari dari kejaran kedua gadis itu, tapi rasa sakit di pinggulnya ternyata membuat Gylda tak berdaya menggerakkan badan.


“Brengs*k! Pergi kalian! Apa tujuan kalian sebenarnya? Kenapa kalian malah mengincar Charise? Apa selama ini Charise pernah mengusik hidup kalian?!” tanya Gylda dipenuhi amarah tak berarti.


“Wanita tua! Kau cukup bernyali juga menaikkan suaramu kepada kami, apa kau jangan-jangan ingin mati lebih cepat? Jangan membuat kesabaranku terkuras hanya untuk mengurusimu!” Elinor yang geram refleks memberi tamparan para permukaan pipi Gylda.

__ADS_1


“Kau sudah mengusik Nona kami, kau juga membunuh Permaisuri sebelumnya. Manusia sampah sepertimu harus segera dilenyapkan dari peredaran dunia!” ujar Giselle.


“Bagaimana kalian tahu itu? Apa mungkin si Alina jal*ng itu yang membayar kalian mengacau di Charise?! Sudah aku duga … wanita itu harusnya aku habisi saja sejak awal. Keberadaannya sangat merepotkan, dia sekarang berani menghancurkan Charise.”


__ADS_2