
Pada keesokan paginya, Xena terbangun dari tidurnya, kepalanya pusing ketika baru saja membuka mata. Pancaran sinar matahari dari celah jendela mengenai tepat kedua mata, Xena pun berusaha untuk menyadarkan diri sepenuhnya meski masih ada sisa alkohol semalam. Kemudian dia memutar kepala dan menemukan Xander tertidur di sampingnya. Senyum Xena merekah, jemarinya mencoba menyapu wajah Xander.
“Huh? Apa yang terjadi? Kenapa tubuhnya sangat dingin?”
Kepanikan menerpa Xena, suhu dingin di sekujur badan Xander bukanlah sesuatu yang wajar. Xena mencoba mengguncang tubuh Xander, tapi tidak ada jawaban yang dia dapatkan. Rasa cemas dan gelisah kian menghantam hati Xena, dia terus menerus berusaha membangunkan Xander, namun hasilnya nihil. Selanjutnya, Xena mengecek detak jantung Xander dan degup jantung pria itu terdengar semakin melemah.
“Aku harus panggil Klaus, aku yakin dia bisa menangani masalah ini.”
Xena melompat turun dari ranjang, lekas dia berlari menuju ruangan tempat Klaus berada. Xena membangunkan Klaus, gadis itu benar-benar kehilangan kendali atas dirinya sendiri. Bahkan suara lantang Xena bergaung ke setiap sudut markas sehingga orang lain juga dapat mendengarnya dengan jelas.
“Klaus, bangun! Ayo cepat bantu aku memeriksa kondisi Xander.” Xena menarik pergelangan tangan Klaus dengan paksa. Xena tidak memberi kesempatan untuk Klaus sekedar meregangkan tubuhnya yang pegal.
“Nona, tenanglah! Sekarang katakan kepada saya, apa yang terjadi dengan Duke?” tanya Klaus.
Para bawahan Xena satu persatu mulai berkumpul mengerumuni mereka berdua, Xavier juga ada di antara mereka. Keresahan Xena dapat terbaca jelas oleh mereka semua, itu artinya kondisi Xander sungguh gawat.
“Xander tubuhnya sangat dingin, denyut nadi dan detak jantungnya melemah seperti seseorang yang sedang berjalan menuju kematian,” jelas Xena diiringi suara bergetar.
“Apa? Berarti kondisi Duke sedang berada di ujung tanduk.” Klaus pun memacu langkahnya menuju kamar Xena. Dari belakang para bawahan Xena yang lain juga mengekori Klaus, mereka ikut merasakan cemas seperti Xena.
Klaus mengecek dengan seksama tubuh Xander, memang benar jika suhu tubuh Xander sangat tidak normal. Xander nyaris membeku akibat suhu tubuhnya yang dingin, bahkan irama napasnya nyaris tak berembus lagi.
__ADS_1
“Bagaimana, Klaus? Apa yang terjadi pada Xander?” tanya Xena berada di jurang kekhawatiran mendalam terhadap keadaan Xander.
“Ada sesuatu yang ingin saya bicarakan kepada Anda.” Ekspresi Klaus berubah serius, dia menatap dalam Xena. “Nyawa Duke Geraldo saat ini berada di ujung tanduk, aura kehidupannya seakan terkikis oleh kekuatan yang tidak bisa saya deteksi. Jika dibiarkan terus seperti ini maka nyawa beliau akan terancam atau kemungkinan buruknya, Duke takkan pernah bangun lagi,” jelas Klaus.
“Apa maksudmu? Bukankah kemarin dia baik-baik saja? Lalu mengapa sekarang malah seperti ini? Padahal semalam kita masih bersenang-senang, tapi kenapa? Kenapa Xander tiba-tiba jatuh tidak sadarkan diri? Apakah ada cara supaya kondisi Xander membaik?”
Suasana ruang menjadi tak karuan, rasa syok hingga cemas meliputi diri masing-masing insan yang menyaksikan kondisi memprihatinkan dari Xander. Xavier mendekati Xena, dia memberi penenangan kepada sang Ibu. Sebagai seseorang yang pernah hidup di masa depan, Xavier mengetahui pasti alasan di balik memburuknya keadaan tubuh Xander.
‘Ayah seperti ini karena dia mengorbankan diri demi kembali ke masa lalu, memutar waktu memang bukanlah hal sepele. Sekuat apa pun Ayah, dia bukanlah seorang dewa, kini apa yang bisa aku lakukan demi menyelamatkan Ayah?’ batin Xavier memandang redup Xander.
Klaus berpikir keras, tenggelam di dalam arus rumitnya masalah yang sedang mereka hadapi bersama. Xena ingat, di kehidupa lalunya tidak pernah mereka berada pada situasi tersebut, bahkan di ingatannya Xander sehat tanpa ada kendala kesehatan.
“Saya tidak tahu penyakit jenis apa yang mendera tubuh Duke Geraldo, tapi bukan berarti saya tidak bisa memperlambat penyakit ini menyebar,” ujar Klaus.
“Transfer aura kehidupan. Hanya itu satu-satunya cara menyadarkan Duke Geraldo, tapi sayangnya transfer aura kehidupan ini bisa dilakukan oleh seseorang yang memiliki hubungan darah dengan beliau. Namun, sepengetahuan saya, Duke Geraldo tidak memiliki keluarga lagi, jadi bagaimana—”
“Pakai aura kehidupanku,” potong Xavier cepat.
Seluruh mata tertuju pada Xavier, mereka tahu jika Xavier ialah sepupu jauh Xander, tapi ada beberapa hal yang belum dijelaskan Klaus.
“Saya tahu Anda adalah sepupu jauh Duke Geraldo, tolong dengarkan saya dulu sampai akhir. Transfer aura kehidupan ini sebaiknya dilakukan oleh orang yang mempunyai hubungan dekat dengan beliau, misalnya seperti orang tua atau saudara kandung. Sedangkan Anda sendiri—”
__ADS_1
“Aku anak Duke Geraldo, aku bukan sepupu jauhnya.” Sekali lagi Xavier menyela penjelasan Klaus.
Setiap telinga yang mendengar menangkap jelas perkataan Xavier barusan, mereka hendak menolak percaya terhadap apa yang disampaikan Xavier.
“Jangan bercanda! Kenapa Duke Geraldo bisa mempunyai anak sebesar dirimu? Beliau masih sangat muda memiliki anak yang berusia remaja,” bantah Elinor diangguki yang lain.
“Xavier adalah anakku dan Xander, dia datang dari masa depan,” ungkap Xena blak-blakkan.
Hening. Suasana berubah menjadi asing, satu persatu perasaan mereka yang mendengar menjadi tak menentu. Mereka berpikir bahwa ini bukanlah kenyataan, mustahil bagi seseorang melakukan perjalanan waktu ke masa lalu. Terlebih lagi, mereka pikir tidak ada sihir yang dapat mengatur waktu seenaknya saja. Akan tetapi, melihat raut muka Xena, mereka jadi yakin bahwa Xavier memanglah anak Xena dan Xander.
“Mari pikirkan itu nanti, sekarang lebih baik segera melakukan transfer aura untuk Xander. Aku khawatir dia mati sebelum menikah dengan Xena,” celetuk Liam.
Klaus lantas menganggukkan kepala. “Baiklah, aku akan melakukannya sekarang.”
Klaus menyuruh Xavier berbaring di samping Xander, sebelum itu Klaus mempersiapkan beberapa alat untuk membantu transfer aura kehidupan. Meski terdengar tidak memungkinkan bagi manusia biasa melakukan transfer aura kehidupan, tapi Klaus sedikit berbeda dari manusia pada umumnya. Dia selalu melakukan berbagai penelitian gila, jadi dia menemukan cara tepat transfer aura kehidupan melalui penelitian.
Xena diselubungi kegelisahan menunggu dengan sabar, di sisi kiri dan kanan dia ditemani oleh Gia, Giselle, dan Elinor. Tidak ada hal yang lebih buruk dibanding menyaksikan sendiri Xander tengah terbaring lemah tak berdaya.
“Nona, percayalah kepada Klaus, saya yakin dia bisa membawa Duke kembali ke kesadarannya,” tutur Gisella menenangkan Xena.
“Benar, Nona, Anda tidak perlu terlalu cemas, percayakan saja sepenuhnya kepada Tuan Klaus,” timpal Gia.
__ADS_1
Xena mengangguk pelan, dia berupaya percaya terhadap kemampuan Klaus yang terkenal gila selama ini. Xena memperhatikan dari sudut lain setiap gerakan Klaus berusaha mentransfer aura kehidupan milik Xavier. Walaupun sempat terbesit di benaknya melarang Xavier melakukannya, namun Klaus meyakinkan Xena bahwa Xavier akan baik-baik saja meski aura kehidupannya dipindahkan dalam jumlah yang tidak sedikit.