Permaisuri Beracun

Permaisuri Beracun
Murka Tak Terbendung


__ADS_3

“Kenapa kau mau menemuiku?”


Brisia datang mengunjungi Xena ke kamarnya membawa raut bahagia dan penuh kemenangan. Statusnya sebagai Permaisuri membuat Brisia merasa lebih tinggi dari Xena, bahkan cara dia menatap sama sekali terlihat sangat angkuh. Berita kehamilannya yang menyebar cepat layak kobaran api memberi dia kekuatan untuk berbangga diri di hadapan Xena.


“Oh astaga, tidak bisakah kau membungkuk memberi salam padaku? Aku ini sekarang Permaisuri dan kau hanyalah selir. Kau tahu, ‘kan? Posisiku jauh berada di atasmu. Sekarang cepatlah kau bersujud, lalu ciumlah kakiku, maka aku akan memohon kepada Kaisar untuk memperlakukan wanita rendahan sepertimu lebih baik lagi.”


Suara tawa Brisia terdengar mengganggu sekali, dia tertawa dengan nada meledek Xena yang kini berstatus sebagai selir Kaisar. Xena tengah menekan diri agar tidak meledak, menyaksikan wajah Brisia yang berlagak paling cantik itu sungguh memicu darah tinggi.


“Ya? Wanita rendahan? Kau sedang belajar melawak? Aku tidak pernah memandangmu sebagai Permaisuri, apalagi sebagai wanita yang posisinya lebih tinggi dariku. Aku memandangmu selayaknya wanita malam yang menggunakan tubuhnya demi mendapatkan status tertinggi di kekaisaran. Sepertinya kehamilanmu malah membuatmu semakin gila, ya.”


Perkataan Xena membuat Brisia merasa tertohok, hatinya terbakar begitu Xena tidak mencuatkan perasaan takut padanya. Padahal dia sudah susah payah merebut gelar Permaisuri dari Xena, tapi nyatanya yang dia dapatkan hanyalah nol besar.


“Kehamilanku pembawa kebahagiaan bagi semua orang, tapi selama ini apa yang telah kau berikan? Tidak ada! Aku juga heran kenapa kau masih belum hamil sampai sekarang. Apa jangan-jangan rumor mengenai kemandulan kau itu memang benar? Ahh kasihan sekali. Diabaikan oleh keluarga sendiri, mandul, dan sekarang posisimu turun menjadi selir. Alangkah malangnya hidupmu, Alina.”


Brisia mencerca Xena habis-habisan, mencolok sekali bahwa dia ingin diakui bahwa keberadaannya patut untuk disanjung oleh Xena. Tetapi, Xena lawan yang jauh lebih tangguh dari dirinya, ia bukan seorang wanita cengeng yang berlindung di balik punggung laki-laki kuat.


“Kau sudah selesai menghinaku?”


Xena duduk berseberangan dengan Brisia sembari menyilangkan kakinya dan melipat kedua tangan di dada. Senyum menusuk yang dilayangkan oleh Xena membuat Brisia merasa terintimidasi.


“Apa? Mengapa kau menatapku seperti itu?”

__ADS_1


Brisia tak bergeming ketika menatap balik tatapan Xena yang tampak mengerikan, tatapan buas dan siap untuk menerkam lawan seolah merajam jiwa Brisia dan mencabik dirinya dari dalam. Namun, Brisia tidak ingin tertelan oleh ombak gertakan Xena, ia berupaya untuk menyingkirkan ketakutannya sejenak.


“Dirimu menggangguku, aku paling tidak suka berhadapan dengan seorang wanita jal*ng seperti kau. Apa kau tahu kenapa? Jika aku berhadapan dengan seorang pria, maka aku bisa sesuka hati untuk menghajarnya, tapi kalau wanita sudah pasti dia akan menangis dan bersembunyi di balik punggung pria yang lebih kuat darinya. Menggunakan kata-kata manis untuk membujuk, menggunakan tubuh untuk menggoda, wanita seperti itu tidak layak tinggal di bumi yang sama denganku.”


Sekali lagi perkataan menohok Xena menembak langsung tepat pada hati Brisia, spontan wajah Brisia menunduk sambil menggigit bibir bawahnya. Sejujurnya dia sudah kehilangan kata-kata untuk melawan Xena.


“Kenapa kau diam saja? Apa kau akan menangis lagi dan mengadu pada Kaisar tercintamu itu?”


Brisia segera mengangkat wajahnya, dia berusaha membuat nyali Xena menciut dengan tatapan geramnya. Akan tetapi, hal itu tidak berguna sama sekali, tatapan Brisia persis seperti seekor bayi kelinci.


“Lihat saja, aku akan membuatmu berlutut di bawah kakiku, aku akan membuatmu mati dalam penghinaan. Kaisar sangat menyayangiku, semua orang menyukaiku, sedangkan kau hanya sendirian di istana ini. Aku akan membuat semua orang berada di pihakku dan menyuruh mereka untuk menjatuhkan hidupmu,” ancam Brisia.


“Coba saja kalau kau bisa, sepertinya sebelum rencanmu berhasil, aku yang lebih dulu menjatuhkanmu,” gumam Xena memancarkan tekad luar biasa.


Berselang beberapa jam kemudian, seseorang kembali datang mengunjungi Xena. Sebenarnya, ia cukup bingung, sebab di masa kurungan seperti sekarang seharusnya tidak memperbolehkan orang lain untuk mengunjungnya. Namun, anehnya Derryl malah seperti membuka pintu lebar-lebar supaya lebih banyak orang yang datang untuk sekedar menghina Xena.


“Lama tidak berjumpa, Alina.”


Chayton – Kakak tiri Xena secara tiba-tiba datang menyapa Xena, rambut abu-abu serta mata biru miliknya sangat mirip dengan Adolph. Kedatangan Chayton ini sama sekali tidak membuat Xena senang, justru di kepalanya saat ini hanya ada rasa benci yang tak terbendungkan. Daripada Yuliana, Chayton lebih membuat darahnya mendidih.


“Aku lebih berharap untuk tidak bertemu denganmu seumur hidup,” ketus Xena penuh penekanan.

__ADS_1


Chayton melangkah mendekat ke arah Xena yang sedang berdiri menyandar di samping jendela kamar. Chayton tampak menyimpan hal membahayakan di balik senyumnya yang memuakkan tersebut.


“Biasanya kau akan gemetar setiap kali menemuiku. Apa-apaan ekspresimu yang tenang ini?! Apa mungkin kau sekarang sedang menyerahkan dirimu secara sukarela padaku?”


Chayton memojokkan tubuh Xena ke dinding, jemarinya bergerak menyentuh dagu Xena. Perlakuan Chayton terhadap Xena sangat tidak normal dan berada di luar batas tali saudara.


“Otakmu sepertinya dipenuhi oleh sampah. Sukarela apanya? Memangnya apa yang sudah aku lakukan sampai aku harus menyerahkan tubuhku?!” bentak Xena sekaligus menghina Chayton.


“Oh apa kau lupa dengan yang kita lakukan selama ini? Aku hanya meninggalkanmu selama beberapa bulan, tapi kau sudah melupakan semuanya? Baiklah, aku akan membuatmu mengingat apa yang telah kita lakukan selama ini.”


Tangan Chayton dengan kurang ajar menyentuh buah dada Xena, sontak Xena menendang tubuh Chayton untuk menjauh darinya. Tendangan Xena nan kuat mampu menerbangkan Chayton beberapa meter ke belakang, punggung Chayton terpental ke permukaan dinding.


“Sejak kapan dadamu tumbuh lebih besar? Kau sungguh semakin membuatku bergairah, Alina.” Chayton mengabaikan rasa sakit yang dia terima dari tendangan Xena. Otak Chayton kala itu dipenuhi hasrat ingin meraba tubuh Xena.


“Kepar*t sialan! Beraninya kau melakukan hal tak beradab seperti itu padaku. Kau sungguh pria yang menjijikkan! Aku tidak akan membiarkanmu hidup aman setelah kau menaruh tangan kotormu di tubuhku!”


Xena tak kuasa menahan amarahnya seusai Chayton melecehkannya, kemudian dia melangkah mendekati Chayton dan berulang kali menendang tubuh Chayton. Tetapi, bukannya takut, mimik muka Chayton tampak menyukai setiap pukulan dan tendangan yang dilesatkan oleh Xena.


“Ahh tendanganmu rasanya nikmat sekali, kau seharusnya melakukan ini lebih sering padaku.” Chayton yang babak belur, masih punya tenaga lebih untuk menyentuh lalu memeluk kaki Xena, ekspresi menjijikkan yang dia perlihatkan semakin memancing kemarahan Xena.


“Singkirkan tanganmu dari tubuhku, brengs*k!” Xena menyentakkan kakinya hingga membuat Chayton sekali lagi terpental jauh ke sudut ruang.

__ADS_1


__ADS_2