
Begitu selesai membaca suratnya, Xena langsung meremukkan surat tersebut disertai perasaan marah tak terbendungkan. Dari badannya keluar aura panas berapi-api, tatapannya tajam dan seakan menerkam siapa pun yang lewat.
“Entah mengapa, rasanya surat ini mengatakan sebuah kebenaran. Aku tidak boleh membiarkan itu terjadi,” geram Xena.
Gia dapat melihat jelas alangkah besarnya amarah yang tengah berusaha ditekan oleh Xena, tapi tetap saja Gia merasakan gejolak emosi yang nyaris meletus seperti gunung berapi. Gia hanya menggeleng-geleng seraya menahan tawa mendengar ocehan kecil Xena.
“Obat terlarang sama saja dengan obat perangsang, jadi dia mau membuat Xander terbuai menggunakan obat terlarang itu? Tidak bisa didiamkan. Besok aku harus pergi ke kediaman Xander dan mencegah jal*ng itu menjalankan rencana busuknya.”
Xena berbalik badan, ia tidak menyadari kalau Gia sedari tadi memperhatikannya, sontak Xena segera mengalihkan wajahnya sembari berdehem.
“Sejak kapan kau di sini?” tanya Xena.
“Sejak Anda mengoceh membaca surat yang baru Anda terima. Bolehkah saya bertanya kepada Anda, Nona?”
Ekspresi Gia tampak mencurigakan, kelihatannya bukan pertanyaan sederhana yang akan diajukan oleh Gia.
“Tanya apa?”
“Apakah Anda jatuh cinta pada Duke Geraldo? Anda selalu sensitif jika tahu Duke Geraldo dekat dengan wanita lain seperti Nona Andros. Anda terlihat tidak suka bila ada seseorang yang menyinggung beliau, lalu muka Anda selalu memerah ketika digoda oleh Duke Geraldo.”
Muka Xena kembali merona ketika Gia menyebut tentang cinta, Xena ragu-ragu ingin menjawab. Ia tersipu malu jika mengingat Xander yang selalu menggoda dan merayunya, bahkan kini jantungnya berdebar kencang di saat memikirkan Xander. Hal lain yang lucu adalah dirinya yang selalu panas apabila membayangkan Luisa yang pernah menjadi tunangan Xander.
Meskipun Xander terang-terangan tidak menyukai Luisa, tetap saja dia merasakan api-api cemburu yang menggelora hingga membakar hati.
“Jatuh cinta, ya? Aku tidak pernah memikirkan hal ini sebelumnya. Apa semua orang saat jatuh cinta juga seperti ini?” ucap Xena sembari menyentuh kedua pipinya. Raut wajahnya tampak sangat imut, itu seperti bukan Xena biasanya.
‘Nona benar-benar sedang jatuh cinta. Siapa sangka jika Nona bisa merasakan hal semacam ini juga. Andai saja Permaisuri Alina berada di sini, mungkin beliau turut senang saat tahu Nona Xena sedang jatuh cinta kepada seorang pria yang memperlakukan beliau dengan baik.’
...***...
__ADS_1
Waktu bergulir begitu cepat, hari ini adalah waktu di mana Luisa akan melaksanakan rencananya. Xena berangkat ke kediaman Xander sejak tadi pagi, sebelum pergi ke kediaman Xander, lalu sekarang Xena sudah berada di depan pintu mansion Xander.
“Malam ini aku akan menginap di sini.”
Garvin terlonjak kaget saat Xena berucap demikian, sebab dia tidak menyangka Xena meminta menginap di mansion ini tanpa ada pemberitahuan lebih awal. Telinga Xander terlampau sensitif mendengar suara Xena yang mau menginap. Lekas Xander melempar pulpennya dan langsung berlari menapaki anak tangga menemui Xena.
“Menginap? Tapi—”
“Kau boleh menginap di sini,” sahut Xander kegirangan.
Garis-garis wajah Xena terangkat membentuk senyum sumringah, mereka berdua benar-benar terlihat seperti sepasang kekasih yang sedang dimabuk cinta. Setelah Xander unjuk diri di hadapan Xena, mereka berdua tiba-tiba lupa diri dengan orang sekitar. Xena melupakan keberadaan Gia dan Xander melupakan keberadaan Garvin, keduanya asik berbicara saling menanyakan kabar.
“Oke, abaikan saja aku di sini. Aku hanya angin, aku hanya patung, dunia ini milik kalian berdua,” gumam Garvin.
Gia terkekeh kecil melihat Garvin yang terabaikan sama seperti dirinya, hanya saja Gia memaklumi sikap Xena yang sedang berbunga-bunga. Xander pun kemudian menarik tangan Xena menuju kamarnya karena Xena ingin berbicara empat mata dengan Xander perihal rencana Luisa.
“Jadi, kau mendapat surat dari seseorang dan mengatakan bahwa Luisa ingin menjebakku?” tanya Xander seusai membaca surat yang didapatkan Xena semalam tadi.
Xander berpikir dalam-dalam dan mengamati tulisan yang tertoreh di kertas remuk tersebut.
‘Aku tahu Luisa akan melakukan itu, dulu aku langsung membunuhnya karena dia memberiku obat terlarang. Sekarang ada Xena di sini, kira-kira apa yang akan dilakukan oleh Xena nantinya? Kemudian siapa pengirim surat ini?’ pikir Xander dalam hati.
Lalu Xander memfokuskan pandangannya ke arah Xena yang hanya mempedulikan segala macam cemilan cokelat yang terhidang di atas meja. Xena datang ke mansion bukan sebagai Alina, jadi ia mengganti warna matanya menjadi perak seperti biasa. Para pelayan pun berbondong-bondong berdiri di depan pintu, mereka ingin menguping pembicaraan Xander dan Xena.
“Aku rasa wanita cantik itu adalah calon Duchess kita. Selama ini Duke tidak pernah memperlakukan wanita dengan baik.”
“Ya, aku juga merasa begitu. Aku tidak keberatan jika Nona cantik itu menjadi Duchess kita, beliau juga terlihat baik dan perhatian terhadap Duke.”
“Terlebih lagi Duke tampak mencintai beliau, dan sekarang mereka berdua sedang berada di dalam kamar. Kira-kira apa yang mereka bicarakan?”
__ADS_1
Kembali lagi ke obrolan Xander dan Xena, mereka saling bergurau membicarakan hal-hal random. Dibanding yang dulu, Xena terlihat lebih santai saat bersama Xander sekarang, namun jantungnya tidak aman karena terus menerus berdebar.
“Xena, kenapa kau peduli sekali tentang Luisa? Apa kau cemburu? Apa sekarang kau mulai jatuh cinta padaku?” Xander sangat ingin mengetahui tentang perasaan Xena kepadanya.
“T-tidak, aku tidak j-jatuh cinta padamu,” elak Xena sambil memalingkan wajahnya yang merah padam.
Xander bangkit dari tempat duduknya mendekati Xena, ia berdiri di depan Xena sembari melontarkan senyum menggoda.
“Benarkah? Kau malu mengakuinya? Bagaimana kalau kau memberiku sebuah ciuman sebagai tanda kalau hatimu mulai terbuka untukku?” rayu Xander.
Jantung Xena serasa akan melompat keluar, tapi kala itu tanpa sadar Xena menoleh ke arah Xander lalu memberinya sebuah kecupan singkat di bibir Xander.
“Ahh, aku tidak bermaksud melakukannya,” tutur Xena menjauhkan badannya dari Xander.
Xander terlihat kaget sekaligus bahagia, hati Xena yang sekeras batu itu akhirnya berhasil sedikit demi sedikit ia luluhkan. Xander pun menggendong tubuh Xena, ketika kulit mereka saling bersentuhan, Xena merasakan perasaan yang familiar di hatinya seolah ia dan Xander sejak dulu selalu bahagia seperti demikian.
“Baiklah, aku akan membawamu ke ruang makan. Saatnya kita makan bersama,” ujar Xander melangkah keluar dari kamar. Seluruh pelayan berbinar menyaksikan pemandangan yang sangat romantis antara Xander dan Xena.
Pada sore harinya, saat Xander tengah menemani Xena melihat-lihat taman belakang mansion, ia merasakan ada mata asing mengawasi mereka. Xander mengedarkan pandangannya, netra violet Xander menangkap sosok pria berjubah hitam di balik pohon, sosok tersebut langsung berlari ketika mata Xander menangkap keberadaannya.
“Xena, tunggu di sini. Sepertinya ada seseorang yang mengawasi kita sedari tadi.” Xander meninggalkan Xena, ia berlari kencang ingin menangkap pria itu.
Xander mengerahkan seluruh tenaganya untuk menangkap pria asing tersebut, hingga alhasil Xander berhasil menahan langkah cepat pria itu.
“Kau tidak akan bisa lari ke mana-mana lagi. Kau orang yang sama saat mengalahkan ular raksasa kemarin itu, ‘kan? Aku ingin tahu, siapa kau sebenarnya?!”
Xander menanggalkan jubah serta topeng yang melekat di wajah pemuda itu, alangkah tersentaknya Xander menyaksikan siapa pria yang berada di depan matanya kini. Pria tersebut menampilkan sosok rambut pirang disertai manik violet, rupa wajahnya perpaduan antara Xander dan Xena.
“Xavier! Mengapa kau bisa tiba di sini?!”
__ADS_1
“Ayah….”