
“Kau sudah bangun?”
Xena berbalik badan bersamaan suara Xander memasuki kamarnya, Xena tersenyum tipis dan langsung menghambur ke pelukan Xander. Lelaki itu pun membalas pelukan Xena, dia mengelus kepala Xena seraya melepas ketegangan di dalam diri.
“Maafkan aku membuatmu khawatir, tapi tenang saja karena sekarang aku mendapatkan kekuatan baru demi memperkuat racunku. Jadi, aku—”
DUAR!
Mereka dikejutkan oleh suara ledakan yang bersumber dari luar kastil, sontak seluruh penghuni kastil berkeluaran ke gerbang kastil memastikan bahana ledakan tersebut. Dari langit mereka melihat lubang gelap berbentuk seperti sebuah portal.
"Apa yang terjadi?"
Xena melihat seluruh bawahannya terpaku mendongak ke arah langit.
"Nona, lihat itu." Seorang bawahannya menunjuk ke atas langit dengan ekspresi tertegun.
Xena pun ikut mendongakkan kepala ke atas langit. Rupanya dari lubang berbentuk portal tersebut berkeluaran makhluk sihir. Di sana Xena tak kuasa menahan diri membiarkan makhluk sihir itu mengacau di kastilnya.
"Hubungi Carian dan yang lain! Suruh mereka langsung mengambil posisi untuk segera menyerang!" perintah Xena berlarian menuju sumber kemunculan para makhluk sihir.
Xavier yang menyaksikan sang Ibu berlarian menuju kawanan makhluk sihir itu juga turut serta membantu melakukan penyerangan. Xander pun begitu, dia memaksakan dirinya untuk meringankan beban Xena kala itu.
Situasi semakin rumit, sihir yang terbentang mengelilingi wilayah markas perlahan melemah. Semua orang tampak kewalahan, tetapi mereka bisa menanganinya meski butuh waktu yang lebih lama.
"Sialan! Mereka tidak ada habisnya."
Xena terus mengayunkan pedang dan melontarkan racun mematikan ke makhluk sihir tersebut. Sebagian dari mereka berhasil dibinasakan dengan mudah.
Pada akhirnya, Xena dan yang lain menyelesaikan pertempuran melawan makhluk sihir. Terdapat kerusakan parah yang menyelubungi wilayah markas.
"Ibu, apa Ibu baik-baik saja?" tanya Xavier menghampiri Xena.
"Iya, aku baik-baik saja. Bagaimana dengan Ayahmu? Padahal dia masih butuh istirahat, tetapi dia malah terjun ke medan pertempuran."
"Ayah juga baik-baik saja. Ibu tidak perlu mengkhawatirkan Ayah karena Ayah jauh lebih kuat dari yang Ibu bayangkan."
__ADS_1
Xena tersenyum samar sambil mengusap kepala putranya. Setidaknya tak ada korban yang jatuh akibat serangan makhluk sihir tersebut.
"Nona, apakah Anda terluka?" tanya Klaus.
"Tidak. Sekarang kau obati saja mereka yang terluka. Aku hanya menerima sedikit luka goresan."
Xena terdiam memandangi kondisi sekitar. Entah mengapa, ini terasa sangat janggal baginya.
'Apa yang terjadi sebenarnya? Mungkinkah Verden berniat melenyapkanku sebelum aku melanjalankan rencanaku?' pikir Xena.
Di sela rumitnya pikiran, Xander diam-diam datang mengagetkan Xena.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" Xander berbisik halus di telinga Xena.
Gadis itu sontak terkejut dan menoleh ke arah Xander.
"Xander! Tidak bisakah kau membiarkan aku berpikir sejenak?!" omel Xena.
Melihat Xena yang merajuk, Xander bukan merasa takut melainkan gemas dengan tingkah gadis itu. Dia langsung mendekap Xena, rasanya sangat hangat bila berdekatan seperti ini.
"Itu karena keadaan darurat, tidak mungkin aku diam saja melihat makhluk sihir mengacaukan tempat ini."
Di saat bersamaan, tiba-tiba dari angkasa muncul seseorang yang membawa aura membahayakan. Xena seketika tersentak lalu memastikan siapa gerangan yang menerobos wilayah markas.
Kedua bola mata Xena membulat sempurna kala mendapati warna netra pria yang baru saja menginjakkan kakinya di permukaan tanah. Mata yang berwarna seperti pedang yang tajam, mata yang hanya dimiliki oleh Xena selama ini.
"Tidak mungkin ... apakah kau Raja barbarian?!"
Ya, lelaki yang kini berada tepat di depan matanya adalah Thorn, Raja barbarian sekaligus Ayah kandung Xena.
Thorn menyunggingkan sudut bibirnya, dia berhasil menembus keamanan markas dengan sangat mudah.
"Putriku, ini pertama kalinya kita bertemu bukan?"
Xander lekas menarik Xena untuk menjauh dari Thorn. Dia melindungi Xena supaya tidak terkena serangan tak terduga dari pria licik itu.
__ADS_1
"Mau apa kau kemari?!" teriak Xander penuh amarah.
"Ada apa denganmu? Kau hanyalah orang luar, ini urusanku dan Xena."
"Xena itu milikku, kaulah yang orang luar."
Xander dan Thorn bersitegang selama beberapa menit. Mereka melakukan perdebatan yang tidak ada gunanya.
'Aku rasa ini tidak akan ada habisnya,' batin Xena.
Lalu sepersekian detik berselang, secara mengejutkan Thorn melemparkan balutan racun ke arah Xander. Kemudian Xena pun dengan cepat menangkis serangan dadakan Thorn.
"Beraninya kau berniat membunuh Xander! Lawanmu itu aku! Kita sama-sama pengguna kekuatan racun. Jadi, jangan sesekali kau mencoba untuk menyentuh Xander menggunakan racunmu itu," murka Xena.
Tidak disangka, Xena akan semarah itu terhadap Thorn. Pria itu tak lagi memungkiri betapa besar rasa cinta Xena kepada Xander. Akan tetapi, dia tidak peduli, di matanya Xena hanyalah wadah untuk membangkitkan Ratu setan.
"Mulutmu kurang ajar sekali. Apa kau sebegitu marahnya padaku? Padahal aku ini Ayahmu. Seharusnya kau menyambutku dengan hangat," ujar Thorn.
"Menyambutmu dengan hangat? Otakmu tampaknya bermasalah. Aku tidak akan pernah memperlakukan seseorang yang tega membunuh putrinya sendiri! Aku dan Alina tidak punya Ayah seperti dirimu yang penuh kekejian."
Thorn tertawa mendengar sang putri berkata demikian. Bara api yang membakar binar matanya menyiratkan bahwa jurang kebencian yang diemban Xena amatlah dalam.
"Xena, apa kau berani menantangku?! Aku ini Ayahmu! Kau harus ikut denganku. Apabila aku gagal membawamu kali ini, maka aku yang akan menerima hukumannya. Apakah kau tidak merasa kasihan terhadap Ayahmu?"
"Kau sangat gila! Kasihan untuk apa? Kau menjualku kepada Raja setan, jadi untuk apa kasihan? Lebih baik kau mati saja daripada hidup menyusahkan orang lain."
Thorn geram mendengar perkataan Xena, gadis itu lebih sulit ditaklukkan dari bayangannya.
"Kurang ajar!"
Thorn mengibas tangannya, gelombang racun yang sangat kuat mulai mengintimidasi atmosfer. Xena sadar kala itu bahwasanya kekuatan racun milik Thorn jauh lebih kuat dari miliknya. Namun, di sini tidak ada orang yang bisa menghadapi Thorn selain dirinya.
"Kau harus ikut denganku, Xena! Jika kau ingin seluruh rekanmu selamat, maka kau harus menurut!" tekan Thorn.
"Tidak! Sampai kapan pun aku tidak akan sudi pergi ke tempat Verden berada!" tegas Xena menentang Thorn.
__ADS_1
Thorn tersenyum miring. "Baiklah kalau itu keputusanmu. Maka kau harus mati di sini detik ini juga."