
Berita mengenai Luisa telah tersebar luas ke seluruh penjuru Kekaisaran Charise, hal itu disebarkan oleh pelayan kediaman Xander. Mereka bekerja sama untuk menjatuhkan Luisa, Xena dan Xander pun telah menjelaskan kepada para pelayan sebelumnya terhadap apa yang mereka lakukan kepada Luisa. Aksi mereka menuai dukungan dari para pelayan, rupanya mereka telah lama memendam marah ke Luisa. Lalu hari ini Xena datang membantu mereka melampiaskan kemarahan yang terpendam dalam.
Suasana ibu kota langsung memanas seketika berita itu berhasil menggapai pendengar setiap orang. Xena tertawa puas saat ia berhasil menjatuhkan Luisa, perasaannya kini dikuasai oleh rasa kemenangan tiada tara. Padahal dia hanya mengalahkan satu pengganggu saja, tapi entah kenapa dia bahagia sekali menyaksikan kesengsaraan wanita yang berani menggoda Xander dan terang-terangan ingin merebut pria itu darinya.
Setelah membuat kegemparan, Luisa kembali ke kediamannya dengan menahan rasa takut di dirinya. Benar saja, sesuai firasatnya, Marquess Andros telah menunggu kedatangan Luisa di ruang depan mansion. Seluruh pandangan tertuju padanya, kini ia berjalan sendirian menuju pusat pandangan mengerikan tersebut. Marquess Andros memegang sebuah rotan untuk ia gunakan sebagai pecutan ke tubuh Luisa.
“Luisa, apa yang kau lakukan sebenarnya hingga membuat Charise gempar dengan beritamu yang tidur dengan seorang pelayan? Apa kau sudah bosan hidup? Aku telah berulang kali mengatakannya padamu bahwa kau harus membuat Xander menjadi milikmu. Tetapi, apa-apaan ini, Luisa? Kau malah membuat nama keluarga tercoreng,” ujar Marquess Andros dengan nada dingin.
Luisa hanya tertunduk dan tidak dapat berkata-kata, ia tak memberi perlawanan terhadap apa yang ditudingkan oleh Marquess Andros terhadap dirinya. Luisa takut akan dihajar sampai mati oleh sang Ayah, ia hanya bisa memasrahkan diri kepada malaikat kematian. Ia juga sudah tidak punya semangat untuk hidup.
“Maaf, Ayah, aku tidak bermaksud membuat malu keluarga kita, tapi wanita itu tahu tentang rencanaku lalu menjebakku—”
BRUAKK
Marquess Andros menggebrak meja hingga patah, dia tidak mau mendengar penjelasan jujur dari putrinya. Dia hanya ingin hasil yang sesuai, bukan yang seperti ini, ia tidak menyukai rencana Luisa yang selalu berakhir gagal.
“DIAM! TUTUP MULUTMU!” sergah Marquess Andros.
Luisa segera membungkam mulutnya, dia tidak ingin memancing kemarahan Marquess Andros, tapi meskipun ia tak memancingnya, sang Ayah sudah berada di puncak kemarahan luar biasa.
“Kemari kau! Biar aku beri anak tak berguna sepertimu sebuah pelajaran berharga!”
__ADS_1
Marquess Andros menyeret paksa Luisa menuju sebuah ruang di bawah anak tangga. Ruang berukuran kecil itu digunakan biasanya oleh Marquess Andros untuk menyiksa Luisa.
“Ayah, aku mohon … tolong maafkan aku, jangan pukuli aku lagi … aku mohon, Ayah, itu terlalu menyakitkan untukku ….”
Luisa memohon ampun dengan deraian air mata yang bergulir di pipinya, dia tidak ingin mendapatkan rasa sakit lagi dari pukulan Marquess Andros. Selama ini Luisa telah menderita oleh siksaan yang diberikan oleh Marquess Andros. Dia telah berjuang bertahan di dalam neraka ini, sekarang lagi-lagi ia harus menghadapi neraka yang lebih kejam.
“Ampun? Jangan harap kau mendapat ampunan dariku!”
...***...
Pada saat yang bersamaan di kediaman Duke Geraldo, Xena bersama Xavier serta Xander sedang menikmati waktu senggang di balkon mansion. Mereka berbincang santai mengenai banyak hal, obrolan mereka pun ditemani oleh secangkir teh hangat dengan berbagai jenis cemilan cokelat. Melihat penampakan cemilan itu, Xena menjadi bersemangat, bahkan rasanya ia ingin melahap habis semua cemilan tersebut.
“Makanlah dengan pelan, takkan ada orang yang merebut semua kudapan itu darimu,” ucap Xander sembari mengelap remah-remah cemilan dari mulut Xena.
Xavier juga menikmatinya, seleranya persis seperti Xena yang menyukai cokelat. Xena melirik Xavier, entah mengapa ia merasakan aliran perasaan yang sama seperti sebelumnya ketika melihat Xavier. Ia baru mengetahui tentang Xavier yang menyukai cokelat, sama seperti dirinya, semakin lama dilihat semakin tampak persamaan di antara keduanya.
“Hei, tidak baik bagi tubuhmu terlalu banyak memakan cokelat,” tegur Xander melihat Xavier telah menghabiskan banyak kudapan cokelat
“Hah? Biarkan saja dia memakannya. Kenapa kau melarang Xavier memakan cokelat? Dia kan sudah besar. Kau tidak boleh melarang Xavier, izinkan saja dia menikmati masa-masa sehat untuk melahap habis cokelat-cokelat itu,” oceh Xena.
“Tapi, dia masih berada dalam masa pertumbuhan, Xavier harus banyak makan sayur supaya badannya lebih sehat.” Xander tidak mau kalah dari Xena.
__ADS_1
“Sayur itu membosankan dak tidak seenak cokelat, kau tidak boleh melarang seseorang menikmati makanan yang tidak enak.”
Akhirnya, terjadilah perdebatan di antara keduanya hanya karena mempeributkan Xavier yang memakan cokelat terlampau banyak. Xander melarangnya, sedangkan Xena memperbolehkan Xavier melahap habis semua cokelat itu. Xavier tersenyum menyaksikan pertengkaran kedua orang tuanya, sudah lama sejak terakhir kali Xavier menikmati momen hangat seperti ini.
‘Ayah dan Ibu tidak berubah, mereka selalu memperdebatkan masalah-masalah kecil. Walau pada akhirnya Ayah tetap kalah dari Ibu, tapi selepas berdebat mereka akan kembali bermesraan. Meskipun Ibu marah setiap kali Ayah mencoba menggodanya, namun Ibu tetap menyukainya. Ibuku yang cantik, semoga kehidupan kali ini kita bisa bahagia bersama layaknya sebuah keluarga pada umumnya,’ batin Xavier.
Seusai bersenda gurau bersama, Xena pamit pulang ke istana karena masih ada beberapa hal yang ingin dia lakukan nanti malam. Sesampainya di istana, Xena langsung diinterogasi oleh Derryl sebab dia menghilang selama satu malam penuh. Kini situasi istana masih belum stabil ditambah lagi Derryl mendapat kabar bahwa ada satu kekaisaran lagi yang berhasil digulingkan oleh pasukan revolusioner.
Xena tidak terlalu mempedulikan ocehan Derryl, dia hanya mengangguk dan melawan sedikit perkataan Derryl. Tubuhnya lelah setelah kembali dari mansion Xander, dia hanya ingin istirahat sejenak untuk memulihkan tenaganya. Begitu tiba di kamar, Xena langsung merebahkan badan di atas tempat tidur. Xena menanti datangnya malam karena sesuatu yang penting menunggunya malam ini.
...***...
Kerajaan Shofin di malam hari dihadangkan oleh kesibukan karena malam ini akan ada pertemuan penting di sana. Mereka yang tinggal di markas higanbana mempersiapkan semuanya demi kelancaran pertemuan yang terjadi nanti. Seluruh petugas kebersihan serta para bawahan Xena mondar-mandir ke segala arah demi memastikan semuanya telah disiapkan secara sempurna.
Satu persatu orang yang diundang telah berdatangan, mereka merupakan orang-orang dari berbagai kekaisaran. Mereka mengadakan pertemuan di ruang aula yang sangat luas dan disusun rapi banyak kursi serta meja panjang untuk kenyamanan pertemuan yang sebentar lagi akan diadakan.
“Apakah pemimpin akan datang hari ini?” tanya seorang pria.
“Beliau pasti datang, harap bersabar sebentar,” jawab Laiv.
Beberapa menit kemudian, seorang wanita berjubah hitam memasuki ruang pertemuan. Seketika suasana ruang berubah menjadi tegang, bahkan untuk bernapas saja mereka kesusahan. Wanita itu lalu membuka tudung penutup wajah, tergerai rambut pirang cerah nan indah serta manik perak yang memancarkan sinar kecantikan. Seluruh mata terpana menyaksikan sosok wanita yang belum pernah mereka lihat sebelumnya.
__ADS_1
“Halo, para anggota pasukan revolusioner. Mungkin ini pertama kalinya kalian melihatku secara langsung karena selama ini kita hanya berkomunikasi melalui surat. Perkenalkan, aku Xena Alister, pemimpin dari pasukan revolusioner.”