
Kemudian dua orang ksatria menghampiri mereka membawa sebuah cangkir bekas yang dipakai beberapa hari lalu saat minum teh di istana Gylda. Seketika ekspresi Gylda nampak panik, dia resah sebab dia takut kalau cangkir itu adalah cangkir yang digunakan oleh Xena. Sebagaimana yang diketahui, Gylda menaruh racun di cangkir teh yang dihidangkan kepada Xena. Gylda benar-benar lupa menyingkirkan semua cangkir yang dia gunakan untuk minum teh.
“Apa kalian menemukan sesuatu?” tanya Baron Elmo.
“Kami menemukan tanda-tanda adanya racun di cangkir ini,” ujar salah seorang ksatria.
Kedua mata Gylda melebar kaget, dia tak menyangka kalau mereka bisa menemukan racun di dalam cangkir yang jelas-jelas sudah dicuci bersih oleh pelayan. Gylda hendak merebut paksa cangkir itu, tapi sudah didahului oleh Marquess Cerano. Lalu Marquess Cerano mencoba mengendus cangkir tersebut, ada sebuah aroma asing nan tajam di cangkirnya. Ia pun memanggil seorang dokter yang sengaja dia bawa ke kediaman Gylda, dokter itu pun bergegas mengecek racun yang dimaksud.
Dokter itu tampak tersentak seusai memeriksa cangkirnya, dia mengulang lagi pengecekannya demi memastikan apa yang dia temui di sana. Sang dokter melayangkan tatapan tajam ke arah Gylda, seolah ia tengah memarahi Gylda.
“Di cangkir ini terdapat racun yang sama dengan racun yang menyebar di tubuh istri Anda sekalian, Tuan,” ujar si dokter.
Sontak mata mereka membelalak tak percaya, lalu satu persatu pandangan mengarah pada Gylda. Ketika itu pula, Gylda tak bergeming, ia tidak pernah meracuni ketiga istri dari bangsawan berpengaruh di kekaisaran. Sejak awal targetnya adalah Xena, tapi masalah ini malah berbalik kepadanya. Gylda tidak menerima begitu saja tuduhan tersebut, dia berniat untuk melawan mereka yang bersikeras mengatakan bahwa ia sengaja membunuh orang yang bukan targetnya.
“Ini fitnah! Aku tidak pernah menaruh racun di minuman istri kalian! Kenapa kalian tidak mempercayaiku? Aku yakin seseorang telah menjebakku!” Gylda menekankan pembelaan terhadap dirinya, dia tidak mau mengaku salah atas tuduhan itu.
“Fitnah apa lagi, Yang Mulia? Jelas-jelas cangkir ini buktinya, Anda tidak bisa mengelak dari kesalahan besar ini!” bentak Baron Elmo.
Pada saat yang bersamaan, Derryl datang memasuki istana kediaman Gylda, dia segera menghampiri mereka. Kedatangan Derryl mengurangi sedikit keresahan Gylda, tapi ada yang berbeda dari ekspresi yang ditampilkan Derryl kepada sang Ibu.
“Derryl, akhirnya kau datang, Ibu—”
__ADS_1
“Apa benar Ibu telah membunuh mereka?” tanya Derryl dipenuhi oleh amarah. Kelegaan Gylda menyurut sesaat Derryl meninggikan nada suaranya kepadanya. Baru pertama kali dia menyaksikan putranya menatap penuh kemarahan, ia dibuat tak bisa berkata-kata.
“Tidak! Aku sungguh tidak membunuh siapa pun, tolong percayalah pada Ibumu,” tutur Gylda memohon.
Derryl menepis tangan Gylda yang menggenggam tangannya, dia ingin menolak untuk percaya, tapi bukti telah terpampang nyata di hadapannya. Derryl tidak bisa berbuat lebih jauh lagi untuk menyelamatkan sang Ibu dari tuduhan. Derryl menunduk dalam-dalam, sungguh rasanya menyesakkan mendapati bukti pembunuhan yang dilakukan oleh Gylda. Selama ini Derryl memperlakukan Ibunya bak seorang Ratu dan mengikuti seluruh keinginannya, namun kini ia hanya bisa berdiam diri di tempat tanpa melakukan apa pun yang bersifat membela.
“Maaf, Ibu, aku tidak bisa berbuat apa-apa, dengan bukti ini sudah jelas bahwa Ibu membunuh mereka. Tolong jangan mencari pembelaan lagi, aku memang seorang Kaisar tapi jika Ibu membunuh bangsawan, Ibu tahu sendiri resikonya, bukan?”
Kaki Gylda melemas seketika, tubuhnya jatuh begitu saja ke atas lantai, dia tidak percaya kalau putra satu-satunya yang dia besarkan sepenuh hati malah berbalik menyalahkan dirinya. Tak ada setitik pun rasa percaya yang tertuju padanya, ia merasakan putus asa yang teramat sangat.
“Bawa Ibu Suri ke penjara bawah tanah dan kurung sampai persidangan dilaksanakan,” titah Derryl berlalu pergi meninggalkan Gylda.
“Baik, Yang Mulia.” Dua orang ksatria segera menyeret Gylda untuk pergi ke penjara bawah tanah.
Derryl mengabaikan teriakan itu, dia semakin menjauh tanpa melihat lagi wajah Ibunya yang sedang murka. Ketiga bangsawan terlihat puas dengan keputusan Derryl, mereka pun juga pergi bersamaan Gylda yang ditarik paksa ke penjara bawah tanah.
...***...
Berita penahanan Gylda menjadi topik yang panas di Charise, beritanya menyebar tepat setelah Gylda ditempatkan di penjara bawah tanah. Seluruh rakyat heboh, tak ada yang menyangka kalau Ibu Suri yang selama ini mereka banggakan melakukan aksi pembunuhan yang kejam terhadap istri dari bangsawan terpandang. Beritanya semakin menyebar lebih luas lagi hingga sampai ke telinga kekaisaran lain. Kala ini nama Charise tengah tercoreng akibat ulah Gylda, membunuh tiga orang istri bangsawan tanpa motif yang jelas mengundang berbagai pertanyaan.
Xena sekarang sedang menikmati segelas cokelat panas di kamarnya, desas-desus tentang Gylda telah tersampaikan sepenuhnya ke telinga Xena. Alangkah puasnya hati Xena menyaksikan penderitaan Gylda yang dimulai pada hari ini. Xena terus menyeruput cokelatnya sambil membayangkan seperti apa ekspresi Gylda saat ini di penjara.
__ADS_1
“Aku melakukannya dengan baik, tidak ada yang perlu aku khawatirkan lagi,” gumam Xena.
Suasana hatinya sangat bagus hari ini, tidak terdengar suara marah darinya sejak tadi pagi. Gia bisa bernapas lega sehari ini tanpa harus mendengar ocehan Xena yang tak berujung.
“Apa kau sangat bahagia melihat Ibu Suri menderita?” Xander mendadak muncul dan masuk ke kamar Xena melewati jendela.
Wajah Xena yang cerah kembali berubah menjadi suram, rasa tidak sukanya kepada Xander tidak dapat disembunyikan. Xena menaruh pelan gelas cokelatnya, dia bangkit dan berjalan mendekati Xander, padahal dia sudah berharap untuk tak bertemu Xander, tapi akhirnya tetap bertemu di kamarnya. Sementara itu, Xander menatap Xena penuh senyum, dia tidak merasa terganggu oleh wajah Xena yang cemberut.
“Kenapa kau kemari? Pergilah dari sini! Aku bosan melihat wajahmu setiap hari, tolong berikan aku hari yang tenang tanpa melihat mukamu,” ujar Xena sembari melipat kedua tangan di dada.
Di hadapan Xander yang perkasa dan kekar, Xena lebih terlihat seperti seorang anak kecil. Xander sangat menyukai Xena, di matanya Xena tampak imut meski kerjaannya setiap hari hanya marah-marah tak menentu.
“Tapi, aku tidak tahan untuk tak melihat wajah cantik dan imutmu, dadaku sesak karena terus merindukanmu,” kata Xander disertai nada bicara yang merayu.
“Cih, bicaramu manis sekali, badanku sampai merinding mendengarnya. Aku tidak butuh rasa rindu itu, cepat pergi dari sini!” usir Xena.
Akan tetapi, Xander mengabaikan perkataan Xena, dia hanya ingin terus dekat dengan gadis itu. Kemudian tangan kekar Xander meraih pinggang Xena, ia merengkuh Xena ke pelukannya.
“Kalau begini kan lebih enak memandangmu, sekarang bolehkah aku menciummu?”
“Huh? KAU GILA YA?! LEPASKAN AKU! AKU TIDAK SUKA DISENTUH OLEHMU!”
__ADS_1
Ketika Xander dan Xena sibuk saling tarik menarik diri, tiba-tiba pintu kamar Xena terbuka karena didobrak oleh beberapa orang yang tak asing bagi Xena.
“NONA! KAMI DATANG!”