Permaisuri Beracun

Permaisuri Beracun
Kekhawatiran Xena


__ADS_3

Xena didera panik yang luar biasa, Xander tumbang tidak sadarkan diri di dalam pelukannya. Berulang kali Xena mencoba menyadarkan Xander, namun tidak ada jawaban dari Xander. Pada akhirnya, Xena tak punya pilihan lain lagi selain membawa Xander pulang ke mansion. Xena dengan susah payah memapah Xander berjalan ke mansion, untung saja jarak mansion dari hutan itu tidak terlalu jauh. Akan tetapi, hujan lebat yang tiba-tiba mengguyur turun malah membuat langkah Xena sedikit terganggu, tapi dia bisa menanganinya dengan baik.


Ketika Xena tiba di depan mansion, para penjaga mansion segera bergegas untuk membantu Xena membawa Xander ke dalam.


“Astaga, apa yang terjadi dengan Anda berdua?” tanya Garvin cemas.


“Tolong obati dulu Xander, panggilkan dokter terbaik di ibu kota. Tidak peduli apapun yang terjadi, Xander harus pulih seperti sedia kala!” desak Xena.


Garvin kala itu tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka berdua, lalu Garvin menyuruh Xena untuk masuk terlebih dahulu dan mengeringkan tubuhnya yang basah kuyub. Sedangkan Xander dibawa ke dalam kamar bersama seorang dokter pribadi keluarga Duke Geraldo. Xena tak ada niat untuk pulang ke istana, dia ingin memastikan keadaan Xander, hatinya tidak tenang bila Xander masih belum sadar.


“Tidakkah sebaiknya Anda kembali ke istana?” tanya Garvin.


Saat ini Xena tengah berada di kamar tamu, dia tidak berhenti mondar mandir memikirkan nasib Xander.


“Tidak, aku akan berada di sini sampai Xander sadar,” kukuh Xena.


Kemudian seorang pelayan datang memanggil Garvin bahwasanya sang dokter perlu bertemu dengan Garvin. Begitu mendengarnya, Xena tergesa-gesa ke luar kamar menghampiri dokter tersebut.


“Bagaimana keadaannya?” tanya Xena.

__ADS_1


“Sepertinya Duke Geraldo hanya kelelahan saja setelah menggunakan banyak kekuatannya, saya akan meresepkan sejumlah obat. Jadi, tolong suruh Duke untuk meminum obat ini sampai habis dan jangan biarkan beliau keluar mansion selama beberapa hari.”


Xena sontak menghela napas lega, lekas ia menghampiri Xander yang masih terbaring lemah di atas tempat tidur. Buru-buru Xena duduk di sisi kanan ranjang, ia meraih tangan Xander dan menggenggamnya erat.


“Syukurlah… syukurlah kau baik-baik saja. Aku pikir kau akan meninggalkan aku, tolong jangan paksakan dirimu lagi untuk melindungiku. Aku tidak tahu mengapa kau berbuat sebegitu jauhnya untukku, sejak awal kita bertemu kau bertingkah seperti orang yang sudah mengenalku sejak lama. Sebenarnya kenapa? Apa alasanmu bersikap demikian? Semakin kau mencoba melindungiku, entah kenapa rasanya hatiku semakin takut kehilanganmu. Ada apa dengan diriku? Ada apa dengan perasaanku? Ini membuatku sangat sesak….”


Tanpa sadar air mata Xena bergulir dari pelupuk matanya, perasaannya dipenuhi dengan Xander. Hatinya sakit, terluka, dan hancur, ini pertama kalinya dia merasa seperti ini, ini pertama kalinya dia menyimpan rasa begitu besar kepada pria yang baru dia temui akhir-akhir ini.


“Xander… maafkan aku, tolong maafkan aku… maafkan aku membuatmu berbuat sampai sejauh ini.”


Xena melontarkan kata maaf tanpa ia tahu alasan kenapa dia meminta maaf, itu adalah satu-satunya kata yang ingin dia ungkapkan kepada Xander. Di dalam isakan tangis yang tak ada hentinya, terselip rasa bahwa penderitaan Xander merupakan salahnya. Di sisi lain, Garvin menyaksikan Xena yang menangis sendirian, hatinya turut sedih melihat pemandangan itu.


Hujan turun semakin lebat dibarengi dengan kilatan petir yang menggelegar di angkasa. Xena yang sejak tadi menangisi Xander, akhirnya tertidur dalam posisi duduk di kursi samping tempat tidur. Gaungan petir di angkasa rupanya membuat Xander tersadar dari pingsannya, ia menatap bingung langit-langit kamarnya sebab dia mengingat dirinya terakhir berada di hutan bersama Xena.


“Apa Xena yang membawaku ke mansion?”


Xander menoleh ke samping, ia terkejut mendapati Xena yang tertidur karena menanti dirinya sadar. Xander mencoba meraba tangan Xena, alangkah kagetnya ia ketika merasakan dingin yang menusuk kulit Xena. Akhirnya, Xander bangkit dari ranjang dan memindahkan Xena untuk tidur di sampingnya. Xander menyelimuti badan Xena seraya mendekap erat wanita yang dia cintai itu.


“Sihir pembalik waktu itu membutuhkan pengorbanan besar dan kini aku telah kehilangan banyak umurku. Aku hanya bisa bertahan sampai umur 30 tahun, sekarang umurku 25 tahun, jadi aku hanya punya waktu 5 tahun bersama Xena. Aku harap ini yang terakhir kalinya, aku tidak punya kesempatan lagi untuk menyelamatkan Xena. Jadi, aku mohon kepada Anda dewi cinta, tolong berikan waktu bahagia untuk kami berdua. Aku mohon….”

__ADS_1


Xander menitikkan air matanya, dadanya seakan ditimpuk oleh batu besar, rasanya sakit seolah jantungnya dirajam oleh ribuan jarum tajam. Rasa takut akan kehilangan itu kian menghantui diri, entah bagaimana lagi dia akan menampik perasaan yang terus menerus mendesak hati.


“Jika Xena tidak bisa aku selamatkan lagi, maka aku mohon… tolong izinkan aku untuk mati bersamanya. Setidaknya aku bisa terus bersama Xena, setidaknya aku bisa menemaninya ke alam kematian, dan setidaknya aku tidak akan menderita ditinggalkan oleh Xena.”


Xander terus berharap di sela kegelapan malam ditemani ingatan dari kehidupan lalu terus melintas masuk ke ingatannya. Pria itu terlalu sering melihat istrinya mati di hadapannya, sehingga dia tak kuasa menahan luka itu sendirian. Sedikitnya, malam ini dia bisa mengurangi rasa sesak yang telah lama dia pendam sendiri.


Tidak terasa waktu bergulir begitu cepat, saat Xena membuka mata, sinar matahari yang begitu menyilaukan masuk melalui celah jendela. Xena bingung siapa yang memindahkannya ke atas kasur, namun yang lebih membuatnya terkejut lagi yaitu Xander tidak ada di ranjang. Seketika rasa panik mengelabui pagi Xena, lekas dia turun dari ranjang dan berencana pergi ke luar untuk mencari Xander.


“Xander!”


Di saat Xena membuka pintu keluar, rupanya ada Xander di sana yang ingin masuk melihat Xena.


“Ya ampun, aku kira kau menghilang ke mana,” ujar Xena merungut kesal.


“Apakah kau mencariku karena khawatir? Aku membawakan sarapan untukmu. Sedari kemarin kau belum makan apa-apa, ‘kan? Lebih baik sekarang kau isi perutmu dulu,” tutur Xander, di tangannya ada sebuah nampan yang di atasnya ada segelas susu, sandwich serta sepotong cake cokelat.


“Hmph! Aku tidak mengkhawatirkanmu,” kata Xena berbohong.


“Oh benarkah? Lalu kenapa matamu sembab? Kau semalaman menangisiku, bukan?”

__ADS_1


__ADS_2