
Selepas keluar dari pekarangan istana Gylda, Xena bergegas kembali ke istananya, suasana hatinya memburuk sejak tadi. Xena tidak berhenti mengoceh mengutuk orang-orang itu agar segera mati, lalu ketika tiba di persimpangan lorong, Xena tanpa sengaja menabrak seorang wanita.
Brukkk
Wanita berambut pirang bergelombang pucat itu terduduk saat ditabrak Xena, Xena pun buru-buru membantunya berdiri. Mata mereka saling bertautan, Xena merasa aneh ketika menatap mata berwarna maroon itu. Sebuah energi aneh mengalir deras di tubuh wanita tersebut, tubuhnya lemah dan tak bertenaga. Manik Xena tanpa sengaja menangkap luka sayatan di pergelangan tangan yang jumlahnya tak sedikit, segera wanita itu menutupi tangannya dari Xena.
“Maaf, aku tidak senga—”
Wanita itu pergi sebelum Xena sempat menyelesaikan perkataannya, gelagat wanita itu terlihat aneh sekali, bahkan Xena tercengung saat melihatnya pertama kali. Kulitnya pucat, kantong mata yang tak biasa, bibir kering, serta tidak ada aura kehidupan darinya. Xena menghalau pikiran itu, dia pun memutuskan untuk melanjutkan kembali langkahnya yang terhenti.
Setiba di kamar, kedatangannya disambut oleh Gia yang sibuk mondar mandir menunggu Xena balik. Gia khawatir kalau Ibu Suri akan melakukan hal buruk kepada Xena, tapi kini kekhawatiran itu terasa sia-sia, sebab Xena balik dalam keadaan selamat, kecuali moodnya yang terlihat sangat buruk.
“Syukurlah Anda sudah kembali, jantung saya seperti akan berhenti memikirkan Anda yang pergi ke istana Ibu Suri,” tutur Gia, namun Xena tidak merespon ucapan syukur Gia, “Nona, apa ada sesuatu yang terjadi?” tanya Gia membuyarkan lamunan Xena.
“Gia, apa kau kenal dengan wanita berambut pirang pucat?” tanya Xena tiba-tiba.
“Pirang pucat? Mungkin yang Anda maksud itu Selir Nidia – anak Marquess Baldric yang saya ceritakan kemarin,” jawab Gia, “Memangnya kenapa, Nona? Apa Anda bertemu dengannya tadi?” tanya Gia kemudian.
“Tadi aku tidak sengaja menabraknya di persimpangan lorong, makanya aku tanya padamu. Lalu bagaimana hubungannya dengan Alina?”
Gia berpikir sesaat menjelang menjawab pertanyaan Xena, “Saya rasa beliau satu-satunya selir yang tidak melakukan kontak dengan Permaisuri, bahkan beliau juga tidak pernah berhubungan dengan selir yang lain. Selir Nidia hanya mendekam di kamarnya, Kaisar sendiri sempat merasa heran sebab beliau satu-satunya selir yang menolak bertemu Kaisar dan bertemu dengan orang banyak,” jelas Gia.
__ADS_1
Xena mulai merasa ada yang tidak wajar dari Nidia, aura yang dia rasakan dari tubuh Nidia bukanlah aura biasa.
‘Aku harus mencari tahu tentang wanita itu lebih dalam lagi, aku merasakan ada hal yang tidak mengenakkan darinya. Aku tidak tahu apa itu, tapi yang jelas Nidia bukan wanita sembarangan, meski dia terlihat seperti wanita anti sosial, aku tetap harus mewaspadainya karena ancaman tidak selalu datang dari orang kurang ajar seperti Ibu Suri. Terkadang manusia berwajah polos juga patut dicurigai,’ batin Xena.
Setelah itu, Xena meminta Gia untuk menyiapkan makan untuknya, selagi Gia pergi ke dapur untuk mengambil makanan, Xena merebahkan badan sejenak di atas tempat tidur. Pikirannya menerawang menghadap langit-langit kamar, otaknya dipenuhi oleh berbagai asumsi tentang kematian Alina, tiba-tiba di sela kesibukan pikiran itu melintas wajah tampan Xander di kepalanya.
“Ke mana pria itu? Biasanya dia akan memunculkan diri di depanku, apa dia sakit? Ahhh mengapa aku memikirkannya? Justru bagus dia tidak menemuiku lagi.” Xena terdiam sebentar, “Aku masih penasaran, siapa pria itu sebenarnya? Dia berbicara dan menatapku seperti seseorang yang telah lama mengenalku, apa dulu aku pernah bertemu dengannya? Kalau memang begitu, kapan aku bertemu dia? Apa di kehidupan sebelumnya? Aiss mana mungkin ada hal mitos seperti itu.”
Xena menampik segala pikiran yang berhubungan dengan Xander, ia menolak kenyataan tentang dirinya yang mulai menaruh perhatian dengan Xander. Sifatnya yang awam tentang cinta terkadang membuat manusia sekitarnya menjadi agak cemas bila nanti Xena tidak bisa menikah seumur hidup.
“Aku akan tidur sebentar untuk mengistirahatkan pikiranku.”
Saat itu Xena langsung terlelap sebelum Gia balik membawakan makanan yang dimintanya, alhasil Xena tidak jadi makan hingga malam datang. Malam ini bulan sabit terlihat asing, warna cahaya yang terpancar bukanlah putih terang, melainkan putih kelam. Seakan-akan tak ada keindahan di bulan sabit itu, seakan cahaya terangnya terhalang oleh sesuatu. Xena terbangun akibat kepalanya yang berdenyut hebat, rasa sakit menusuk-nusuk kepalanya perlahan. Xena mencoba untuk turun dari ranjang dan memanggil Gia, namun suaranya tertahan untuk keluar.
Xena menoleh ke arah jendela, cahaya bulan sabit itu seperti sedang memanggil dirinya, tanpa tersadar akhirnya Xena melompat keluar melalui jendela. Pandangan matanya kunang-kunang, semakin lama dia melihat ilusi kematian dirinya. Xena terduduk lemas sembari memegang kepalanya, ilusi itu bertambah jelas, ilusi di mana Xena melihat di depannya ada dia yang mati di pelukan seorang pria yang tak asing. Pria itu menangis sesenggukan dan menyalahkan diri atas kematiannya, di dada Xena yang mati tertancap sebuah pedang biru seperti pedang Xander.
“Itu Xander? Mengapa ilusinya begitu nyata? Apa ini sebenarnya?”
Kemudian Xena mendengar suara yang menyeramkan, suara itu makin lama makin mendekat ke pendengaran. Sinar bulan terarah kepada dirinya seorang, sebuah bayangan hitam bercampur cahaya violet menghampiri tubuh Xena yang sedang tak berdaya.
“Xena, sayangku, kemarilah! Datanglah padaku, aku akan membawamu pulang ke rumah kita.”
__ADS_1
Kata-kata tersebut berulang kali menusuk pendengaran Xena, rasa sakit tak tertahankan seolah mencoba mematikan dirinya. Xena beringsut mundur menjauhi bayangan hitam itu, entah mengapa rasa bahaya bersumber dari bayangan itu.
“Siapa kau? Pergi dari sini! Jangan mendekat padaku, dasar makhluk menjijikkan!” ujar Xena, ia berusaha mengeluarkan serangan racun dari jemarinya, tapi kekuatannya ditekan dari dalam oleh bayangan itu.
“Apa kau lupa denganku? Ini aku – pria yang dulu pernah kau cintai, aku datang untuk menjemputmu pergi bersamaku. Ayo kita pulang bersama, sayang.”
“AAARRRGHHHHH!!” Xena memekik pedih, suara teriakannya tak dapat didengar oleh orang lain kala itu, hanya ada dia di sana bersama rasa sakit luar biasa.
Bayangan itu hendak menyentuh kepalanya, namun sebuah pedang melesat tajam melenyapkan separuh tubuh bayangan tersebut.
“AKU TIDAK AKAN MEMBIARKANMU MEMBAWA XENA!”
Suara seorang pria yang tak asing bergaung meneriaki si bayangan, samar-samar Xena melihat Xander yang berdiri di depannya. Xander tampak sangat marah dan berapi-api emosi, pedang birunya diselimuti oleh api ungu. Akan tetapi, kondisi Xander tidak berada di dalam keadaan baik, rasa sesak dan sakit di dada masih tersisa. Xander yang merasakan Xena berada di situasi berbahaya langsung datang walau tubuhnya juga sedang menahan sakit.
“Xander, kau selalu menghalangi rencanaku. Xena itu milikku! Sebaiknya kau menyingkir sekarang sebelum aku membuatmu mati di tanganku,” gertak bayangan itu.
“Xena istriku! Aku tak akan menyerahkannya kepada pria tak berhati sepertimu,” kukuh Xander.
“Aku bukan makhluk yang penyabar, cepat pergi dari pandanganku! Jangan pernah menghadangku untuk membawa Xena!”
Xander menggigit bibir bawahnya, ia telah bertekad untuk melindungi Xena sampai akhir meski itu artinya dia harus mengorbankan nyawanya sendiri.
__ADS_1
“Tidak akan aku biarkan kau menjadikan Xena sebagai wadah dari Ratu Setan! Langkahi mayatku dulu kalau memang kau bersikeras ingin membawa Xena.”