
“Aku tidak bisa melawannya. Sial! Kenapa aku bisa selemah ini? Dan lagi, mengapa Alina lihai dalam bertarung? Bukankah sebelumnya dia hanya wanita lemah yang tidak paham mengenai teknik bertarung? Dia terlalu aneh dan berubah banyak dari dirinya yang dulu,” gumam Derryl menatap nanar ke arah Xena.
Sementara itu, Xena, Xander, dan Liam berbagai formasi penyerangan, mereka memutuskan untuk menyerang secara berpencar dari segala arah. Ular raksasa yang mereka lawan saat ini kekuatannya jauh lebih kuat sehingga kemungkinan besar mereka butuh kekuatan lebih melawannya. Selepas menjelaskan mengenai formasi penyerangan, ketiganya segera melaksanakannya. Gerakan mereka melesat cepat ke permukaan tubuh ular yang sangat keras itu.
Serangan pedang Xander nan tajam ternyata mampu melukai tubuh ular tersebut, Liam juga mencoba mengerahkan sihirnya berulang kali dan berhasil melukai sedikit tubuh ularnya. Sedangkan Xena juga bereaksi sendiri, racunnya jauh lebih berbahaya dibanding bisa ularnya, racun Xena juga dapat mengeluarkan hawa panas, dan ini merupakan jurus terbarunya. Sekilas dari serangan racun Xena, terlintas cahaya merah melapisi racun Xena. Fokus Xander teralihkan ketika dia melihat cahaya merahnya.
‘Tanpa sadar Xena telah mengaktifkan kekuatan Ratu Setan,’ batin Xander.
Racun Xena yang menjadi lebih kuat dari sebelumnya, ternyata membuat kulit ularnya melepuh dan perlahan melelehkan sekujur badan ular yang sekuat besi. Tanpa perlawanan lebih lagi, ular raksasa tersebut sukses mereka tumbangkan bersama-sama dengan mudah. Namun, Xander malah merasa heran oleh ular yang mudah mereka kalahkan, dulu ular itu lebih kuat daripada kala itu.
‘Kenapa ularnya sangat lemah? Bukankah dulu ular ini jauh lebih kuat? Ada apa sebenarnya? Apa jangan-jangan karena cahaya merah yang dibalut dengan racunnya Xena?’ pikir Xander.
Xena tampak sangat lelah, kedua kakinya tidak sanggup lagi menumpu beban tubuh, rupanya menggunakan cahaya merah itu menguras tenaganya lebih banyak, sebab Xena masih belum terbiasa menggunakannnya. Seusai itu, Xander segera menjadi sandaran serta tumpuan untuk Xena berdiri, Xander tidak mau Xena terjatuh ke permukaan tanah yang tidak datar dan banyak bebatuan.
“Kerja bagus, Xena,” puji Xander.
“Ini berkatmu dan juga Liam, kalian berdua juga kerja bagus,” balas Xena seraya mengacungkan jempol.
Di sela mereka tengah berbincang, badan ular yang tadinya tidak bergerak menunjukkan reaksi aneh. Ular tersebut menggeliat tak karuan, nyaris saja Xena terkena oleh angin yang tercipta dari tubuhnya yang menggeliat itu. Ternyata ular itu belum mati sepenuhnya, bahkan ularnya tampak lebih energik.
“Benar dugaanku, ular ini tidaklah lemah.”
__ADS_1
Sebelum mereka menggencarkan serangan lagi, ular itu sudah lebih dulu menyemburkan bisanya. Xander langsung menggendong Xena untuk membawanya menjauh dari ular itu, mata ular yang semula putih, kini berubah merah. Ada yang berbeda dari ular itu dibanding kondisi yang sebelumnya, Xander maupun Xena menyadarinya.
“Ularnya tampak lebih aneh, mengapa dia aneh begini?” tanya Xena.
“Sepertinya ada yang mengendalikan ular ini di belakang,” jawab Xander.
Xena juga mempunyai dugaan yang sama dengan Xander, berpikir bahwa ular raksasa itu bukanlah ular biasa melainkan ular yang telah diberi kendali khusus di badannya. Xena memerintahkan semua orang untuk menjauh dari ular itu karena firasatnya mengatakan jika ular itu akan mengeluarkan serangan lanjutan yang berbahaya.
‘Aku yakin ini ulah dari Raja Barbarian, hanya dia yang mempunyai kendali atas makhluk sihir selain Raja Setan. Pria itu sangat gila hingga mengorbankan putrinya sendiri atas keserakahan diri,’ gumam Xander dalam hati.
Xander mencoba mengerahkan serangan lain, tapi hasilnya nihil karena pertahanan ular itu berubah kuat dari sebelum ini. Xander berencana menaikkan daya kekuatannya, namun ia tak bisa melakukan itu di tempat terbuka begini. Lalu ularnya bereaksi aneh lagi, kali ini terlampau aneh, ekornya menyemburkan api ke mana-mana disertai bisa dari mulutnya. Mendadak kebakaran terjadi di area ibu kota, saat api itu mulai menyebar, ularnya pun turut mengamuk hebat.
“Hei, kalian berdua! Lihat tingkah ular itu bertambah aneh!” seru Liam.
Kali ini ular itu bersiap hendak mengeluarkan serangan lanjutan, dari mulutnya yang ternganga, timbul sebuah bola hitam yang besar dan diduga sebagai bola bisa. Ukuran bola tersebut tidaklah kecil, bila bolanya meletus maka sudah dipastikan jika seisi ibu kota menjadi luluh lantak.
“Tidak adakah yang dapat kita lakukan? Apabila kita biarkan saja, maka kita juga akan menjadi korban!” ujar Xena panik.
“Aku—”
“Xander, biar aku saja yang menanganinya menggunakan racunku. Walau tubuhku tidak bertenaga, tapi aku tidak bisa membiarkan ular itu membuat Charise semakin kacau,” tutur Xena.
__ADS_1
“Tidak, Xena, bagaimana kalau kau yang menjadi korbannya? Aku tidak mau kehilanganmu,” tolak Xander.
Xena menghela napas, Xander memperlakukannya seperti orang yang akan mati di hari esok. Padahal dia hanya berniat membantu saja, namun Xander menolak mentah-mentah tawaran darinya itu.
“Aku tidak akan mati, jadi kau tidak perlu mengkhawatirkanku. Lekas turunkan aku,” rengek Xena.
Sekarang bola bisa milik ular itu sudah sangat besar, rasa cemas kian menghantui diri masing-masing. Tiba-tiba di sela keributan, ketegangan, dan ketakutan, seorang pria mengenakan jubah hitam datang entah dari mana. Wajah pria itu ditutupi menggunakan tudung jubah, sehingga tak ada orang yang melihat jelas wajahnya. Pria itu berdiri tegak di depan mata ularnya, tidak lupa dia mengeluarkan sebuah pedang hitam.
“Musnahlah!” Pria itu mengarahkan pedangnya pada bisa ularnya, dari ujung pedang berkeluaran seperti api ungu milik Xander. Api ungu itupun menyerap bisanya hingga habis, kini ular tersebut terlihat kebingungan akibat kehilangan bisa besar. Ketika ularnya lengah, pria itu melompat dan mendarat di punggung si ular, pedangnya pun dia hunuskan ke punggung ularnya. Dalam sekejap, ular itu hancur lebur bak debu.
Begitu ularnya dipastikan musnah, pria yang tak dikenal itupun menghilang entah ke mana. Xena dan Xander mempertanyakan identitas pria itu, terlebih lagi dia menggunakan api ungu yang sama seperti milik Xander.
“Siapa dia? Apa kau kenal?” tanya Xena.
Xander berpikir sejenak, dia berpikir bahwa pria itu juga terasa familiar, namun Xander masih tidak ingat siapa dia.
“Tidak tahu, tapi sepertinya dia bukan musuh kita. Aku akan mencari tahu soal orang itu nanti, terlebih lagi dia mempunyai api ungu yang sama sepertiku,” jawab Xander.
“Makanya aku agak heran, mungkinkah ada orang lain yang juga memiliki kekuatan yang sama sepertimu? Itu tidak penting. Sekarang cepat turunkan aku, kau sepertinya keenakan menggendongku terus!” pinta Xena sembari mencubi pipi Xander.
“Aduh, berhentilah mencubitku,” ringis Xander kesakitan, “Baiklah, aku akan menurunkanmu.”
__ADS_1