Permaisuri Beracun

Permaisuri Beracun
Gejolak Amarah


__ADS_3

Xena menyentakkan tangannya, cairan hitam beracun miliknya menetes ke tubuh para pelayan yang bersujud di bawah kakinya. Suara teriakan para pelayan itu menggema di halaman mansion, saat itu banyak pelayan yang menyaksikan kekejaman Xena. Tidak butuh waktu lama sampai pada akhirnya Xena berhasil menumbangkan pelayan yang bersikap kurang ajar padanya.


“Apa ada yang mau memiliki nasib yang sama seperti mereka?” Xena mengedarkan pandangannya menatap seluruh pelayan yang menonton aksinya. Para pelayan itu ketakutan dan mereka berlari menjauh dari Xena.


Kemudian pendengaran Xena tiba-tiba menangkap suara barang berjatuhan, segera saja Xena bergegas masuk ke dalam mansion untuk mengecek barang apa yang terjatuh. Ternyata dari bekas kamar sang Ibu, Xena melihat sosok wanita paruh baya bersurai jingga sedang mengeluarkan barang-barang peninggalan Ibunya. Wanita itu bernama Merry yaitu Ibu tirinya, wanita yang paling dibenci oleh Xena.


“Kenapa kau mengeluarkan barang-barang Ibuku?!” bentak Xena dari kejauhan.


Merry tersentak mendapati Xena berada di mansion, tapi dia tidak terlalu mempedulikan apa yang akan dilakukan Xena padanya. Dia terus menyuruh para pelayan mengeluarkan barang-barang Ibunya Xena, hal itu mendatangkan kemarahan besar di diri Xena.


“Apa yang membawamu kemari, anak tak berguna?” ketus Merry, dia tidak menyambut baik sama sekali kedatangan Xena di mansion.


PLAKKK


Xena mendaratkan tamparan di pipi Merry, tidak terhitung seberapa besar rasa benci dan dendamnya kepada wanita itu. Wanita yang sudah merenggut nyawa sang Ibu hingga merebut posisi Ibunya sebagai Duchess, padahal sejak awal mereka bukan siapa-siapa, namun karena Ibunya yang terlampau baik hingga membuatnya mudah tertipu oleh lelaki sialan seperti Ayahnya yang rupanya sejak awal telah memiliki keluarga yang lain tanpa sepengetahuan Ibunya.


Xena masih mengingat bagaimana mereka tiba di mansion ini lalu diperkenalkan sebagai Duchess Alister. Mereka dengan cepat merebut semuanya dari Xena dan Alina, mulai dari kamar, pakaian, hingga para pelayan yang baik kepada mereka pun juga dipaksa keluar dari mansion. Entah sampai kapan Xena mesti menanggung marah kepada mereka, entah sampai kapan Xena harus menahannya.


“Hey\, jal*ng! Selagi aku berbicara baik-baik padamu\, sebaiknya kau tahu diri akan posisimu di mansion ini. Kau hanyalah wanita rendahan yang secara beruntung dibawa oleh suami baj*nganmu itu ke dalam keluarga Duke Alister\, tapi ingat kalau kau tetap saja orang luar. Kau tidak punya hak akan barang-barang Ibuku\, berhentilah mencari ulah dan bersikap baiklah sebelum aku menendangmu keluar dari sini.”


Sekujur badan Merry menegang akibat perkataan Xena yang seolah menusuk jantungnya kala itu. Merry tidak diberi celah untuk melawan, bahkan suaranya saja tertahan seperti dirinya tidak diizinkan untuk memaki-maki Xena. Kemudian para pelayan yang mengeluarkan barang-barang Ibunya Xena pun tidak bergerak dari tempatnya.

__ADS_1


“Beraninya kau menamparku!” Tangan Merry bergerak cepat dan ingin menjambak rambut Xena, tapi buru-buru Xena menahan tangannya untuk tidak menyentuh dirinya.


Xena mencekal kuat pergelangan tangan Merry, lalu memelintir tangannya dan membuat Merry menanggung sakit luar biasa.


“AAAKHHHH! LEPASKAN TANGANKU, WANITA GILA!” pekik Merry.


Xena mendorong tubuh Merry menuju dekat anak tangga, Xena menodongkan tubuh Merry ke anak tangga itu. Betapa murkanya Xena saat ini hingga dia tidak punya ruang untuk bersabar lagi, perbuatan Merry benar-benar menguji emosinya.


“Kalau aku lepas, maka sudah dipastikan kau akan terluka parah,” gertak Xena.


“Kau jangan macam-macam denganku! Cepat lepaskan aku sebelum kau mati membusuk di penjara nantinya!”


“Aku tidak akan melepaskanmu, lebih baik kau mati saja berguling-guling di anak tangga ini.”


Akhirnya Xena nekat mendorong kuat tubuh Merry dan membuatnya terjatuh berguling di tangga. Kepala Merry terbentur di anak tangga sehingga membuat kepalanya terluka dan berdarah hebat. Para pelayan berteriak, mereka bergegas menolong Merry yang berada di ambang kematian, sebagian dari mereka pergi memanggilkan dokter untuk mengobati Merry.


‘Nona sungguh menyeramkan, bahkan seusai melakukan hal itu pun tidak ada raut bersalah terpancar di wajahnya,’ batin Gia.


Selepas itu, Xena menyuruh Gia untuk membantunya memasukkan kembali barang-barang milik Ibunya ke kamar. Barang yang dikeluarkan oleh Merry tadi berupa gaun, buku, dan sejumlah barang-barang kesayangan Ibunya yang lain. Xena mengamati baik-baik kamar yang sudah lama tidak dihuni itu, sekilas Xena mencium aroma khas dari sang Ibu.


Kemudian ketika Xena tengah merapikan buku, tiba-tiba sebuah buku catatan terjatuh dari atas rak. Xena langsung memungut buku itu, tapi dia melihat itu bukan sebuah buku biasa, bukunya terkunci dan tidak bisa dibuka. Akhirnya Xena pun menyimpan buku itu untuk dibawa ke istana nantinya.

__ADS_1


“Nona, semuanya sudah dibereskan. Apa yang akan Anda lakukan dengan kamar ini? Jika Anda biarkan kamar ini begitu saja mungkin akan kembali diambil alih oleh mereka,” ujar Gia.


“Aku akan menguncinya dengan sihir, sekarang kita keluar dulu dari kamar Ibu.”


Keduanya segera pergi ke luar dari kamar, Xena mengunci rapat pintu kamar sehingga tidak akan ada seorang pun yang bisa menerobos masuk ke dalamnya.


“Apa Anda akan kembali ke istana?” tanya Gia.


“Tidak, aku akan mampir ke ruang kerja laki-laki baj*ngan itu.”


Xena melangkahkan kakinya menuju ruang kerja Adolph – sang Ayah, namun ketika dia sampai di ruang kerjanya, ternyata tidak ada seorang pun di sana. Xena memutuskan untuk menyelonong masuk ke dalam karena ada beberapa hal yang perlu dia pastikan. Ruang kerja yang ditempati Adolph sangat berantakan,


Di atas meja kerja Adolph, terdapat setumpuk dokumen yang belum disentuh sedikit pun. Xena memeriksa dokumen apa saja yang ada di atas itu. Garis-garis di wajah Xena seketika berubah geram, dia marah setelah membaca seluruh dokumen tersebut.


“Brengs*k! Beraninya dia menjual semua aset Ibuku! Lalu apa-apaan jumlah hutangnya ini? Aku tidak menyangka dia akan melakukannya sejauh ini. Seluruh aset serta harta yang dimiliki oleh pendahulu Duke Alister, sesaat lenyap dalam beberapa tahun saja. Usaha berlian milik Ibuku, butik, lalu usaha pertambangan, tidak ada yang tersisa.”


Xena meremukkan kertas dokumennya, Gia ikut ternganga mendengar hal tersebut. Dulu keluarga Duke Alister terkenal oleh kekayaannya, tapi semenjak diambil alih oleh Adolph, bangsawan Duke Alister meredup dan terancam bangkrut. Xena tak dapat menerimanya, padahal tujuan dia kemari adalah untuk merebut kembali usaha Ibunya.


Di waktu yang bersamaan, tiba-tiba saja Adolph kembali dan menemukan Xena tengah mengacak-acak meja kerjanya.


“Alina, apa yang kau lakukan di ruang kerjaku?!”

__ADS_1


__ADS_2