Permaisuri Beracun

Permaisuri Beracun
Rencana Perebutan Aset


__ADS_3

“Apa kalian sedang membicarakan aku?”


Xena memunculkan diri di ambang pintu masuk, dia berdiri sambil bersandar dan melipar kedua tangannya di dada. Mendadak suasana menjadi hening, tak ada orang yang bergeming atau membalas perkataan Xena. Para pelayan sontak menunduk takut, sekujur badan mereka gemetar tak berdaya. Sedangkan Yuliana bersikap sebaliknya, di sela air mata yang terjun bebas di kedua pelupuk matanya, ia menyimpan seribu kemarahan terhadap Xena.


“Kenapa kau mencelakai Ayah dan Ibuku? Kau hampir membunuh mereka! Dasar iblis! Apa kau tidak punya hati?! Padahal kami yang merawatmu selama ini lalu menjadikanmu sebagai Permaisuri. Apa yang sebenarnya kau lakukan? Kau tidak tahu terima kasih!”


Yuliana memukul-mukul dada Xena, tapi Xena tidak terlihat kesakitan oleh pukulan kecilnya itu. Xena hanya menatap dingin dan kosong ke arah Yuliana, gejolak amarahnya telah dilampiaskan sepenuhnya. Akan tetapi, kedatangan Yuliana kembali membuatnya berapi-api. Hanya saja Xena terlihat jauh lebih tenang dibanding beberapa jam yang lalu.


“Tidak tahu terima kasih? Kalianlah yang tidak tahu terima kasih. Berkat Ibuku kalian bisa tinggal di tempat mewah seperti ini, berkat Ibuku kehidupan kalian berubah drastis dan menjadi bangsawan tingkat atas. Kalian hanya bisa menyiksaku, membuatku menderita, mengambil alih semua yang menjadi hakku, jadi apa yang membuatku harus berterima kasih kepada kalian? Manusia-manusia biad*b seperti kalian ini sebenarnya tidak pantas berada di bumi ini lagi.”


Suara Xena berhasil mengintimidasi Yuliana, bahkan untuk maju melawan Xena saja dia tak sanggup. Tungkai kaki Yuliana melemas dan tidak mampu menahan beban tubuhnya, perlahan ia merosot ke atas lantai.


“Semua kekayaan Ibumu adalah milik kami! Kau tidak punya hak atas kekayaannya. Kau anak tidak berguna dan tidak mungkin bisa mengurus semuanya dengan baik. Seharusnya kau mati saja bersama kembaranmu itu, seharusnya kau dibunuh saja sejak dulu, atau menjualmu sebagai budak juga lebih menguntungkan. Hidupmu sungguh tidak berguna sama sek—”


Bugh!


Sebelum Yuliana sempat menyelesaikan kalimatnya, Xena lebih dulu menendang wajah Yuliana hingga membuatnya terpental cukup jauh ke permukaan dinding. Sekujur badan Yuliana mengilu sakit, anggota tubuhnya mati rasa dan tidak bisa digerakkan.


“Aku peringatkan kepada kalian semua, aku tidak akan berhenti sampai di sini saja. Aku akan membuat kebangsawanan Duke Alister menjadi milikku dan kalian akan aku usir dari mansion ini. Orang-orang seperti kalian hanya akan mencemari bumi saja jika dibiarkan hidup lebih lama. Bedeb*h tidak tahu diri dan tidak tahu terima kasih, inilah akhir dari kehidupan bahagia kalian sekaligus pembalasan dendam karena sudah berani menyakitiku.”


Selepas itu, Xena beralih pergi dari mansion, Gia di belakangnya terlihat kewalahan mengekori jalan Xena yang super cepat.


“Nona, ke mana tujuan Anda selanjutnya?” tanya Gia.

__ADS_1


“Aku akan pergi mengambil kembali seluruh aset keluarga Duke Alister, aku tidak bisa membiarkan semua itu jatuh ke tangan orang lain,” jawab Xena.


“Tapi, apa Anda tahu ke mana Anda harus mengambil itu?” tanya Gia sekali lagi dan membuat Xena tersadar kalau dia tidak tahu sama sekali harus pergi ke mana.


“Ahh aku lupa itu, apa kau tidak tahu ke mana aku harus mengambil aset itu?”


Gia menggeleng pelan, seumur hidupnya tidak pernah berurusan dengan aset berharga seperti tanah, rumah, atau apa pun jenisnya itu.


“Kenapa Anda tidak minta tolong saja kepada Duke Geraldo? Beliau lebih tahu tentang masalah seperti ini.”


Xena berdecak sebal, tapi dia juga tidak tahu harus meminta tolong dengan siapa kepada selain Xander. Dengan berat hati, akhirnya Xena memutuskan untuk menurunkan egonya untuk bertemu dengan Xander dan meminta tolong padanya mengurusi aset keluarganya. Kemudian Xena menyuruh Gia untuk kembali ke istana duluan, dia tidak mau membawa Gia yang tampak kelelahan akibat mengikutinya sejak tadi mengamuk di mansion.


Sesampainya di depan kediaman Xander, Xena masih ragu untuk masuk ke dalam alhasil dia mondar mandir di depan pintu selama kurang lebih sepuluh menit. Sebenarnya dia tidak ingin bertemu hingga merepotkan Xander, namun pengetahuannya tentang kepengurusan aset ini sangatlah minim.


Xena menghela napasnya sejenak sebelum ia memutuskan untuk benar-benar masuk ke dalam. Ketika ia akan melangkah masuk, secara kebetulan Xena bertemu dengan Garvin yang ingin pergi ke luar. Garvin agak kaget dengan kedatangan Xena, rasanya seperti mimpi melihat Xena pergi ke mansion milik Xander tanpa sepengetahuannya.


“Bolehkah aku bertemu Xander? Ada beberapa hal yang mau aku bicarakan dengannya,” ujar Xena ragu-ragu.


“Baiklah, silakan masuk dulu dan saya akan segera memanggilkan Duke.”


Xena pun langsung masuk ke dalam mansion, di sana beberapa pelayan langsung menghidangkannya teh hangat bersama beberapa cemilan. Tidak lama setelah itu, Xander berlari turun ke bawah untuk menemui Xena. Terlihat raut wajahnya sangat bahagia begitu Garvin memberitahunya bahwa Xena sedang menunggunya di ruang tamu.


“Xena! Tumben sekali kau mengajakku bertemu duluan. Apa kau rindu padaku?” tanya Xander sangat percaya diri.

__ADS_1


Xena menghembuskan napas kasar, inilah yang membuatnya tidak tahan dengan Xander, tapi anehnya dia merasa terbiasa oleh sikap Xander yang terlalu intim padanya.


“Bukan, aku kemari untuk meminta tolong,” tutur Xena.


“Apakah ini tentang aset keluargamu?” terka Xander.


Xena sontak mengalihkan pandangannya ke arah Xander, tebakan Xander tidaklah salah.


“Dari mana kau mengetahuinya? Apa kau menguntitku?” tuduh Xena menatap curiga pada Xander.


“Bukan, ini hanya firasatku saja,” elak Xander, dia tahu karena di masa lalu Xena juga meminta tolong padanya, “Jadi, kapan kau mau pergi mengurusnya?” tanya Xander kemudian.


“Kalau bisa hari ini, apa kau sedang sibuk? Jika sibuk, biar aku pergi sendirian—”


“Tidak tidak, aku tidak sibuk sama sekali,” potong Xander tegas, “Aku akan bersiap-siap dulu, kau tunggu saja di sini.”


Xander bergegas menuju kamarnya, wajah Xander sumringah karena akan pergi berdua dengan Xena.


“Aneh sekali, dia terlihat bahagia hanya karena aku memintanya untuk menemaniku,” gumam Xena terheran.


Lima belas menit kemudian, Xander telah selesai bersiap-siap, mereka berdua memutuskan untuk terbang dan menolak berangkat menggunakan kereta kuda, Namun, saat Xena hendak mendorong diri untuk terbang, Xander tiba-tiba malah menggendong tubuhnya dan membawanya terbang ke angkasa.


“Biarkan aku terbang sendiri, kau tidak perlu melakukan yang seperti ini,” kata Xena berusaha lepas dari gendongan Xander.

__ADS_1


“Sssstt diam saja, aku hanya ingin menikmati masa tenang seperti ini denganmu sebelum badai datang menghadang.” Xander melayangkan senyum manisnya, jantung Xena seketika berdegup kencang, beberapa waktu belakangan ini dia merasa aneh dengan dirinya sendiri.


“Dasar bodoh!” lirih Xena menenggelamkan wajah meronanya di pelukan Xander.


__ADS_2