
Nidia membisikkan kata-kata itu di samping telinga Xena, di saat Xena memutar badan, ia tak menemukan siapa-siapa di sana. Kehadiran Nidia mendadak menghilang bersama desiran angin yang baru saja bertiup kencang. Xena dilanda kebingungan seusai mencerna kalimat perkataan Nidia sembari netranya mencari-cari keberadaan Nidia kala itu. Namun, Xena tidak mendapati Nidia di mana pun, sekujur tubuh Xena pun langsung merinding.
“Apa maksudnya berkata demikian padaku? Wanita suram itu selalu memancarkan energi aneh dari tubuhnya. Dia sungguh manusia, ‘kan? Ataukah dia sudah berubah menjadi hantu?”
Tebakan demi tebakan menghujani kepala Xena, lama kelamaan dia merasa bahwa Nidia bukan seperti wanita normal pada umumnya. Selir yang selalu menghilang layaknya hantu itu sedikit membuat Xena penasaran, sehingga Xena membelokkan langkah kakinya ke arah lain yaitu istana kediaman Nidia yang berada di bagian barat istana utama.
“Suram sekali, persis penghuninya yang juga suram.”
Axela bergumam ketika menyusuri lorong istana kediaman Nidia, kondisi istananya nyaris sama seperti istananya yang telah hancur. Hanya saja di tempat ini aura suramnya lebih terasa, tak lupa pula aura magis yang sekilas melintas di firasat Xena.
“Aku sangat tidak menyukai tempat ini.”
Xena terus berjalan hingga ia sampai di depan pintu kamar di mana Nidia berada. Sejujurnya dia bingung, di istana yang ukurannya besar tersebut tidak terdapat satu pun pelayan atau ksatria yang berlalu lalang. Benar-benar seperti istana tertinggal yang tak berpenghuni, di sana hanya ada Nidia seorang yang menetap.
Tok tok tok
“Nidia, ini aku Alina, bolehkah aku masuk ke kamarmu? Ada sesuatu yang ingin aku bicarakan denganmu,” ujar Xena seraya mengetuk pintu.
Xena mengetuk berulang kali daun pintu masuk kamar Nidia, selama beberapa saat menunggu, tiba-tiba saja pintunya terbuka pelan. Xena mengucap permisi dan langsung masuk menginjakkan kakinya di dalam kamar.
“Kenapa kamarnya gelap sekali? Apa tidak ada lampu di sini?”
Nuansa kamar Nidia terasa lebih horor, tak ada pencahayaan, hanya ada kegelapan. Untuk selevel kamar wanita, ini terlalu seram. Xena memberanikan dirinya untuk melangkah lebih jauh lagi sembari memanggil-manggil nama Nidia.
__ADS_1
“Mengapa kau kemari?”
“KYAAAAA!”
Xena sontak terkejut dan refleks memekik tatkala mendapati Nidia berada di belakang punggungnya sambil membawa lilin di tangannya. Xena syok bukan main, jantungnya seakan copot saat itu.
“Ya ampun, aku pikir kau hantu. Kenapa kamarmu gelap begini? Apa tidak ada lampu?” tanya Xena sembari mengatur irama napasnya agar kembali normal.
Kemudian Nidia beranjak melangkah dan menyalakan lampu kamarnya, betapa terkejutnya Xena saat ia menyaksikan dekorasi kamar Nidia. Tirai kamar berwarna hitam, hiasan tengkorak di mana-mana, serta berbagai bunga kembang terserak di atas lantai.
“Nidia, apa kau seorang dukun?” Xena melontarkan pertanyaan tersebut secara spontan. Tetapi, bukan sebuah jawaban yang didapatkan Xena melainkan tatapan melotot dari Nidia.
“Tidak, aku hanya senang meneliti hal mistis,” jawab Nidia.
“Apa maksud dari perkataanmu tadi? Aku adalah tumbal? Bisakah kau jelaskan padaku?” tanya Xena to the point.
Manik sayu Nidia memandang Xena intens, seolah dia sedang mengamati aliran kekuatan dari tubuh Xena. Entah mengapa tingkah Nidia sangat aneh, dia belum pernah menghadapi wanita seperti ini sebelumnya.
“Aku tidak bisa menjelaskannya. Bila kau sudah selesai, bisakah kau keluar dari kamarku sekarang juga?”
Awalnya Xena menolak untuk keluar dari kamar Nidia, tapi Nidia malah menarik paksa tangan Xena dan mendorong tubuhnya agar beranjak pergi. Xena tak bisa berbuat banyak membujuk Nidia, ia pun memutuskan untuk pergi saja dari kamar Nidia. Sementara itu, Nidia masih berdiri di balik pintu seraya memastikan apakah Xena sudah benar-benar pergi dari kamarnya atau belum.
“Xena Alister, wanita yang menjadi tumbal dunia. Telah menjalani kehidupan sebanyak tujuh kali dan ini adalah kehidupannya yang ke delapan. Xander berkorban begitu banyak demi cintanya, bahkan di kehidupan pertama yang tidak diingat oleh Xander maupun Xena. Kisah cinta yang selalu berakhir tragis di antara keduanya. Sebenarnya jenis ujian apa yang Anda berikan kepada mereka berdua, wahai dewi cinta?”
__ADS_1
Xena kembali ke kamarnya tanpa membawa info apapun dari Nidia, sesungguhnya dia sangat terganggu oleh perkataan Nidia.
“Nona, ada surat untuk Anda.” Gia menyerahkan sepucuk surat kepada Xena. Dari amplop surat tersebut, terdapat cap kediaman Duke Alister.
“Jadi, rumornya telah sampai ke telinga mereka. Mari kita lihat apa yang mereka tulis.”
Di dalam selembar kertas putih, tertoreh berbagai kata manis yang tertuju kepada Xena. Mereka meminta maaf kemudian menyuruh Xena untuk mengunjungi kediaman Duke Alistes di esok hari. Xena membaca surat tersebut seraya menahan tawa, mereka benar-benar serakah dan ingin menguasai segala yang merupakan milik Xena.
“Akhirnya tiba juga hari di mana kalian akan berhenti bernapas di bumi ini,” gumam Xena menyeringai seram.
Pada keesokan harinya, Xena bersiap-siap segera berangkat menuju kediaman keluarganya. Hari ini suasana hatinya tampak sangat bagus, Gia pun sempat terheran-heran melihat Xena yang senangnya melebihi hari biasa. Kedatangan Xena di kediaman Duke Alister disambut baik, tapi dipenuhi oleh kepura-puraan, tak ada yang tulus menyambut Xena dan Gia datang. Para pelayan pun bergegas memandu Xena menuju ruang tamu keluarga. Di sana ia ditunggu oleh Adolph, Merry, Yulianda, dan Chayton. Kondisi Adolph dan Merry masih belum membaik sepenuhnya, sedangkan Yuliana serta Chayton menampakkan raut penuh dendam.
‘Aku yakin, wanita ini yang membuatku impoten. Seusai dia meremas punyaku, masalah ini berdatangan menyerangku,’ gerutu Chayton dalam hati.
“Alina, anakku, kemarilah. Mari kita berbicara, bukankah sudah lama sejak terakhir kali kita berbincang bersama?” sambut Adolph disertai senyum palsu.
“Astaga, tumben sekali kalian memperlakukanku dengan baik. Ada apa kalian memanggilku kemari?” tanya Xena sembari mendudukkan diri di sofa.
Adolph saling memberi kode pada yang lain, meski mereka enggan untuk berpura-pura baik kepada Xena, tapi tetap harus mereka lakukan demi merebut semua aset yang baru saja dibeli oleh Xena.
“Alina, kami tahu perbuatan kami selama ini kurang baik padamu. Tetapi, bagaimana pun juga kita adalah keluarga, jadi kami di sini ingin meminta maaf dan menyesal telah memperlakukanmu dengan buruk. Maukah kau memaafkan kami? Setelah ini kami janji akan memperlakukanmu sebaik mungkin,” tutur Merry dengan sangat manis.
“Baiklah, aku memaafkan kalian. Lagipula aku sudah melupakan semua perlakuan kalian padaku,” balas Xena memaksa diri untuk tersenyum.
__ADS_1