
Elinor dan Giselle langsung membekap mulut Gylda, mereka memberinya bius agar tidak sadarkan diri sebab mereka berdua terganggu oleh suara berisik dari Gylda. Mereka pun segera menyeret Gylda menuju istana utama kekaisaran, di sini telah ramai oleh yang menunggu. Segera saja mereka melempar Gylda ke dekat Derryl dan Brisia.
“Kerja bagus semuanya, mereka sudah berkumpul di satu tempat. Sekarang lekas siram mereka biar cepat sadar,” titah Xena.
Seorang bawahan Xena membawa satu ember air dingin lalu mengguyur mereka bertiga dengan air tersebut sampai membuat mereka tergagap sadar. Sungguh, ekspresi pertama yang mereka tunjukkan adalah terkejut karena mereka berada di hadapan orang-orang bertekanan kuat. Terlebih lagi Derryl, sebelumnya dia dibekuk oleh Xander dan Xander memberitahunya bahwa gadis yang beberapa waktu bersamanya ini adalah Xena, bukan Alina.
Derryl sempat syok, semua orang di kekaisaran ini tahu bahwa Xena telah lama tewas kemudian hari ini muncul fakta kalau Xena masih hidup sedangkan Alina telah meninggal. Derryl mengajukan protes atas penipuan yang dilakukan, tapi Xander mengancamnya untuk tetap diam. Xander membela Xena mati-matian, dia bahkan tidak membiarkan Derryl berbicara buruk soal Xena sedikit pun.
“Lepaskan aku! Apa yang ingin kalian lakukan sebenarnya?!” teriak Derryl meronta minta dilepaskan.
“Balas dendam.” Xena memandang Derryl dengan tatapan penuh aura kematian. “Kau telah menyakiti saudara kembarku selama dia berada di singgasana Permaisuri. Selama ini Alina berusaha untuk menutupi kelakuan burukmu, tapi aku bisa mengetahuinya segera setelah Alina tidak lagi bernapas. Aku datang kemari menggantikan Alina untuk memberimu pelajaran supaya kematian Alina tidak berakhir sia-sia,” lanjut Xena berucap.
Xena pun duduk di sebuah kursi yang telah disediakan sambil menyilangkan kakinya dan menatap rendah Derryl, Brisia, dan Gylda. Mereka bertiga ketakutan, tidak ada yang menyangka kalau mereka akan mendapatkan masalah seusai perlakuan mereka kepada Alina selama ini. Xena tahu bahwa mereka bertiga tidak lagi punya keberanian untuk berbicara lebih lanjut.
“Lalu juga kepada Ibu Suri yang terhormat, di sini Xander dan aku juga menuntutmu atas apa yang kau lakukan di masa lalu. Kau membunuh Ibu Xander dan membunuh Ibuku secara tidak langsung, jangan pikir kau melupakan segala perbuatanmu di masa lalu. Selagi aku dan Xander masih bernapas, kekhawatiranmu takkan pernah berakhir.”
Gylda tersentak, sekujur tubuhnya kaku seolah sedang diikat oleh rantai yang sangat kuat, bahkan perasaannya pun terasa kacau sesaat dirinya menatap betapa mengerikannya wanita yang berada di hadapannya kini.
“Apa yang kalian katakan? Aku pembunuh? Aku tidak membunuh mereka, kematian mereka adalah kesalahan mereka sendiri. Aku hanya meraih apa yang aku impikan, meski harus mengorbankan mereka. Aku akan tetap melakukannya,” ucap Gylda.
__ADS_1
Tidak ada rasa bersalah atau sekedar rasa simpati dari hati Gylda, obsesinya terhadap kekuasaan memang sangatlah besar. Oleh sebab itu, tidak sedikit dari orang yang berada di sisinya menjadi korban akibat keserakahannya.
“Kalau begitu lebih baik kau mati saja, selesaikan obsesi gilamu di neraka.” Xander diburu emosi dahsyat, dia mengayunkan pedangnya dan membuat kedua tangan Gylda terputus.
“AAARRGHHHH!” Pekikan Gylda bergaung di istana, Deryl syok berat sesaat menyaksikan sang Ibu kesakitan luar biasa, tapi tidak ada yang bisa dia lakukan.
“Bagaimana rasanya? Ini tidak sebanding dengan apa yang kau lakukan padaku selama bertahun-tahun. Aku takkan lupa rupa mayat Ibuku, aku juga takkan lupa segala jenis fitnah demi menjatuhkan citraku. Lalu lihatlah sekarang! Karena anakmu yang menjadi Kaisar, kepemimpinannya buruk sehinggaa banyak rakyat yang sengsara. Jangan pikir aku membiarkanmu lolos dengan mudah!” murka Xander.
Xena hanya menjadi penonton saja, melihat kekasihnya begitu murka itu pertanda bahwa kemarahan yang terpupuk di dalam dada tidak lagi tertahankan. Xavier tercengang, tak menyangka dia akan menyaksikan kembali kemurkaan sang Ayah.
“Aku mohon … tolong ampuni nyawaku, aku akan membayarnya dengan apa pun asal tidak dengan kematian. Aku mohon padamu ….” Gylda memohon di sela ujung ajalnya. Bahkan sampai sekarang dia tidak mengucapkan kata maaf kepada Xander seolah apa yang dilakukannya merupakan sebuah kewajaran.
Derryl syok bukan main sesaat melihat dengan jelas akhir dari hidup Ibunya, dia gemetar ketakutan seakan tak ada lagi bayangan untuknya hidup di esok hari. Seketika Derryl dibayangi oleh dosanya kepada Alina, sampai akhir dia tidak pernah sekali pun memperilakukan Alina dengan baik.
Xena menunjukkan pergerakan, dimulai dari tangannya meraih kepala Brisia yang masih belum sadarkan diri. Xena secara gila menggorok leher Brisia di hadapan Derryl, wanita yang mengganggu Alina berhasil dia habisi dalam sekejap. Derryl beringsut ke belakang, kekuatan Xena bukanlah sesuatu yang bisa dia lawan. Apalagi seluruh bawahannya dibantai habis oleh bawahan Xena dengan brutal.
‘Apa yang harus aku lakukan sekarang? Tidak ada lagi jalan untukku kabur dari sini. Mereka adalah sekelompok orang gila, jadi tidak mungkin bagiku melawan mereka,’ batin Derryl panik.
Xena berdiri di depan Derryl sembari melipat kedua tangan di dada, sebuah senyum licik merekah dari bibir Xena. Sepasang manik peraknya menyorot tajam Derryl, dia telah menunggu hari ini datang. Mengingat penderitaan Alina saja membuat hatinya sesak, kini dia akan memutus salah satu rantai penderitaan Alina.
__ADS_1
“Bagaimana perasaanmu, Kaisar Charise yang terhormat? Apakah kau saat ini sangat takut dengan kami? Ya, tentunya takut karena kau tidak punya harapan menyaksikan hari esok. Aku sakit hati mengetahui perlakuanmu pada saudariku. Ini adalah akhir untukmu, takkan ada lagi kehidupan selanjutnya bagi manusia biad*b layaknya dirimu!”
Xena menaruh tangannya di puncak kepala Derryl, sekelebat cairan hitam beracun membalut tubuh Derryl. Racun dari tubuhnya melenyapkan Derryl, dia mati tanpa meningalkan jasad di dunia, keberadaannya di Charise telah terhapus sepenuhnya.
“Selamat tinggal, Derryl Charise.”
Xena menghembuskan napas lega, dia berhasil menuntaskan pembalasan dendamnya di Kekaisaran Charise.
“Kau benar-benar melakukannya, Xena.”
Xena memutar badannya, dia mendapati Eddie – sang Kakek bersama Thomas – sang Paman tengah menghampirinya. Di belakangnya ada Bernie yaitu kepala pelayan yang senantiasa menemani Kakek dan Pamannya.
“Kakek, Paman!” Xena menghampiri keduanya, tidak disangka kalau mereka berdua datang kemari.
“Apa lagi yang kau lakukan setelah ini? Kau telah membasmi hampir seluruh kekaisaran. Sekarang apa kau akan kembali ke markasmu?” tanya Thomas.
Xena mengangguk pelan. “Masih banyak hal yang perlu aku lakukan, bencana yang sebenarnya baru saja dimulai. Aku tidak bisa berdiam diri lebih lama lagi, aku harus menuntaskan masalah ini demi kedamaian makhluk hidup.”
“Bagus! Lakukanlah dengan baik, kami akan selalu memberi dorongan untukmu.”
__ADS_1