
Hari ini Xena bersama Xander dan Xavier berangkat mengunjungi Kakek Xena, mereka pergi menaiki kereta kuda. Letak daerah tempat Kakek Xena diasingkan tidak jauh dari ibu kota sehingga mereka tidak perlu berlama-lama di jalan. Sepanjang perjalanan mereka benar-benar menikmatinya, saling tertawa dan menceritakan hal-hal lucu, Xena sungguh ingin masa seperti ini bisa bertahan lama.
Sesampainya di lokasi tujuan, Xena masih harus berjalan mencari kediaman tempat Kakek dan Pamannya berada. Daerah di sana sangat tenang dan jauh dari keributan, semua orang hidup di dalam kedamaian. Berbeda dengan ibu kota, di tempat tersebut justru penghuninya hidup saling membantu. Seketika Xena takjub menyaksikannya, kedamaian inilah yang dia inginkan selama ini. dia ingin menciptakan negeri di mana manusia bisa hidup dengan tenteram tanpa memikirkan status tertinggi atau terendah.
“Di sini sangat tenang, tapi kenapa rata-rata yang tinggal di sini terlihat tua?” tanya Xena.
“Para bangsawan yang ingin hidup tenang di penghujung usia mereka pasti pindah ke tempat ini dan meninggalkan kehidupan mereka di ibu kota dan memilih untuk hidup di sini hingga akhir hayat,” jelas Xander.
Xena mengangguk paham, di masa-masa tua memang lebih nikmat menghabiskan waktu dengan damai seperti saat ini. Kemudian pada saat bersamaan, Liam tiba-tiba saja muncul di hadapan mereka dengan senyum merekah. Rambutnya yang berwarna biru lembut itu sangatlah mencolok, Xena pun mudah mengenalinya di antara kerumunan orang.
“Xander, Xena, kebetulan sekali kita bertemu di sini,” ujar Liam sumringah.
Xena ingat bahwa terakhir kali mereka bertemu ialah pada saat pembasmian makhluk sihir di ibu kota. Liam masih sama seperti biasa, dia suka sekali tebar-tebar pesona ke sana kemari demi menarik perhatian wanita. Tetapi, karena di sini tidak ada wanita muda, jadi dia bersikap biasa saja dan berusaha tidak terlihat mencolok.
“Liam, kenapa kau ada di tempat ini?” tanya Xander dingin.
“Kau masih saja dingin padaku, aku kemari untuk menemui klienku. Kalau kalian sendiri kenapa bisa ada di tempat ini?” tanya Liam balik.
“Aku ingin mengunjungi Kakek dan Pamanku, itulah mengapa aku berkunjung ke tempat ini,” jawab Xena,
Lalu Liam mengamati lekat-lekat Xena, Xander, dan Xavier, ia merasa aneh dengan wajah Xavier yang terkesan mirip dengan Xander dan Xena. Berapa kali pun dia melihatnya, Xavier sungguh perpaduan antara mereka berdua.
“Siapa anak ini? Apakah anak kalian? Dia sangat mirip dengan kalian berdua,” terka Liam.
“Minggirlah! Kau menghalangi jalanku. Kami harus segera pergi mengunjungi Kakek dan Pamannya Xena.”
__ADS_1
Xander mendorong Liam agar menyingkir dari jalannya, Xander menolak untuk merespon pertanyaan Liam. Menurutnya, Liam tidak perlu tahu identitas Xavier sebenarnya, itu hanya akan semakin merepotkan keadaan.
“Kau belum menjawab pertanyaanku.” Liam menyelaraskan langkahnya dengan Xander, dia tidak akan menyerah sampai Xander menjawab pertanyaannya. Liam adalah tipe pria yang gigih, jika dia tidak mendapat jawaban dari pertanyaannya, maka dia akan terus mengusut sampai tuntas jawaban dari pertanyaan tersebut.
Xander berpikir bahwa Liam merupakan orang yang paling menyusahkan dalam hidupnya, tapi karena Xander masih menganggap Liam sebagai teman, jadi dia membiarkan pria itu terus mengekorinya. Liam sejak dulu tidak pernah menyerah untuk mengajaknya berbicara, meski sering diabaikan, Liam pasti akan datang lagi mengunjungi sekaligus mengajak Xander berbicara. Sangat menjengkelkan, namun Liam adalah salah satu orang yang berjasa di hidup Xander selama enam kehidupan sebelumnya.
Liam membantu Xander mati-matian menyelamatkan Xena, tampaknya pada kehidupan kali ini pun Liam tetap bersikap sama. Jadi, Xander tidak punya daya mengusir pria itu supaya menjauh darinya dan dari Xena.
“Dia adalah saudara jauhku, lagi pula mana mungkin aku dan Xena punya anak yang sebesar ini. Selisih umur Xena dan Xavier hanya tiga tahun, seharusnya kau bisa berpikir tentang itu,” papar Xander.
“Saudara jauh? Namanya Xavier? Itu sangat cocok dengan kalian berdua. Xander, Xena, serta Xavier, kalian merupakan keluarga berhuruf X. Tetapi, entah mengapa aku masih tidak percaya kalau Xavier bukan anak kalian,” kukuh Liam kian curiga.
“Astaga, kenapa kau tidak percaya? Xander mengatakan kebenarannya, mustahil aku punya anak sebesar ini,” ucap Xena.
Liam mengabaikan perkataan Xander, dia terus mengekori Xander hingga tiba di kediaman tempat Kakek dan Paman Xena tinggal. Xena tidak mengabari mereka tentang kedatangan mereka sebab Xena ingin memberi kejutan kepada dua orang itu. Setibanya mereka di halaman depan, Xena tertegun sesaat melihat dua orang pria yang tidak asing tengah duduk bersantai di teras rumah.
“Kakek! Paman!” panggil Xena.
Suara Xena mengagetkan mereka berdua, mereka meninggalkan sejenak waktu santainya lalu bangkit menyambut kedatangan Xena.
“Xena … apakah kau benar-benar Xena cucuku?” Eddie – Kakek Xena berlinang air mata saat melihat sosok cucu yang dikabarkan meninggal. Namun, secara mengejutkan Xena datang menghampirinya.
Eddie memeluk Xena, dia sangat merindukan cucunya itu, meski dulu Xena sering membuat masalah tapi Eddie selalu membelanya. Thomas – Paman Xena juga merasa terharu dengan kemunculan Xena di depan mata mereka.
“Kakek, Paman, aku merindukan kalian.”
__ADS_1
Di saat seperti ini Xena lebih terlihat seperti seorang anak kecil, tergambar jelas betapa dimanjakan Xena oleh Kakek dan Pamannya dahulu.
PRANGG!
Seorang pria yang seumuran dengan Eddie membeku menyaksikan kehadiran Xena, dia tanpa sengaja menjatuhkan cangkir teh yang rencananya ingin dia suguhkan kepada Eddie dan Thomas. Sontak Xena menoleh ke arah suara pecahan cangkir tersebut, alangkah terkejutnya Xena mendapati adanya Bernie yaitu kepala pelayan yang selalu setia kepada Eddie sedari dulu.
“Nona Xena … benarkah Anda Nona Xena?” tanya Bernie.
“Kepala pelayan! Lama tidak berjumpa,” tutur Xena sembari merekahkan senyum.
“Astaga, saya pikir Anda benar-benar sudah meninggal. Ini sebuah keajaiban besar … sungguh keajaiban besar,” kata Bernie dengan mata berkaca-kaca.
Bernie termasuk orang yang memperlakukan Xena dan Alina dengan baik, karena Eddie dan Thomas diasingkan ke tempat ini, dia pun mengikuti Eddie lalu menjadi pelayan di kediaman ini.
“Nanti saja dijelaskan di dalam, ayo kita masuk dulu,” ujar Thomas mengajak Xena beserta Xander, Xavier, dan juga Liam untuk masuk.
Mereka duduk di ruang tamu bersama-sama, suasana rumah mendadak hangat karena kedatangan Xena. Apalagi Eddie tampak sangat bahagia, siapa sangka cucunya yang dikira telah meninggal kini duduk di depannya.
“Bukankah kau dikabarkan meninggal? Bagaimana ceritanya kau bisa selamat?” tanya Thomas.
“Sebenarnya kebakaran di Colombain itu adalah ulahku, aku memalsukan kematianku selama bertahun-tahun. Itulah mengapa aku masih bisa hidup karena aku sudah kabur lebih dulu sebelum kebakarannya kian membesar,” jelas Xena.
“Ahh, ternyata seperti itu, lalu Alina tahu kau masih hidup? Kenapa kau tidak mengajak Alina kemari bersamamu?” Eddie melontarkan pertanyaan yang sulit untuk dijawab oleh Xena.
“Sebenarnya, Alina sudah meninggal.”
__ADS_1