
“Jadi, dia telah membayar pelayan di mansionmu untuk mencampurkan obat terlarang ke dalam teh yang biasa kau minum sebelum tidur. Baiklah, aku ada rencana, cepat ikuti aku.”
Xena menggenggam tangan Xander dan menariknya masuk ke mansion, tidak lupa mereka berdua mengamati pergerakan pelayan yang telah dibayar oleh Luisa tadi. Keduanya membuntuti pelayan itu yang menuju kamar Xander. Menjelang masuk, dia menengok ke segala arah demi memastikan tak ada orang yang melihat aksinya.
“Sepertinya tidak ada orang yang melihatku.”
Pelayan itu membuka pintu kamar dengan sangat hati-hati, langkahnya pelan namun pasti. Di atas meja kamar Xander, terhidang secangkir teh lalu pelayan itu mendekati tehnya dan meneteskan obat terlarang ke dalamnya. Seusai menyelesaikan tugasnya, ia berencana meninggalkan kamar Xander, namun Xena menghalangi langkah pelayan itu di depan pintu.
“Mau pergi ke mana kau?” Xena menyunggingkan senyum khasnya, dari belakang punggung Xena muncullah Xander. Pelayan tersebut terkesiap bukan main, ia tak menyadari sedari tadi pergerakannya telah diawasi oleh Xena dan Xander.
“Apa yang baru saja kau masukkan ke dalam tehku, sialan?!” murka Xander.
Xena merentangkan tangan kanannya untuk mencegah Xander hendak bergerak menghabisi nyawa pelayan itu.
“Kendalikan dirimu, aku punya sesuatu yang spesial untuk pelayan ini dan aku yakin dia juga pasti menyukainya,” ujar Xena.
Xena melangkah maju mendekati pelayan pria yang kini beringsut mundur akibat tekanan takut dari kemunculan Xena dan Xander. Pelayan itu khawatir nyawanya akan melayang di tangan Xander, dia hanya berpikir bagaimana caranya untuk kabur dari kepungan sepasang kekasih itu.
“Hei, kau berpikir untuk kabur? Aku takkan membiarkanmu kabur setelah menaruh obat terlarang ke dalam teh milik Xander. Oleh karena itu, aku berencana memberimu pelajaran berharga supaya kau ataupun Luisa sadar terhadap perbuatan buruk yang kalian lakukan. Sejak awal kau tahu, ‘kan? Seorang pelayan tidak diperbolehkan berkhianat, tapi kau malah melanggar aturan dasar itu.”
Jemari Xena menggapai teh yang telah tercampur obat terlarang, kemudian ia menarik pergelangan tangan pelayan itu dan mencekokkan tehnya ke mulut si pelayan sampai habis. Tak butuh waktu lama sampai akhirnya pelayan itu jatuh pingsan.
__ADS_1
“Apa yang kau rencanakan sebenarnya? Apa mungkin kau ingin—”
“Ya, aku ingin menjebak Luisa. Malam ini biarkan wanita itu tidur dengan pelayan yang telah dia bayar untuk menjebakmu. Aku tidak mau membunuhnya karena kupikir Luisa lebih pantas menerima rasa malu hingga kalimat penghinaan dari masyarakat Charise. Terlebih lagi Ayahnya, aku tidak paham mengapa dia begitu terobsesi menyuruh putrinya menjadi istrimu, jadi aku harap malam ini adalah malam terakhir bagi wanita itu menikmati pikiran kotornya.”
Xena jauh menakutkan dibanding Xander yang langsung menghunuskan pedangnya ke tubuh Luisa. Rencana Xena ini justru membunuh Luisa secara perlahan, dia dipastikan mendapat pukulan batin hingga pukulan fisik sampai mati. Selepas itu, Xander mengganti pakaian pelayan itu dengan pakaian miliknya, mereka membuat seolah pelayan itu benar-benar terlihat seperti Xander. Obat terlarang akan bekerja tengah malam, jadi mereka menyelesaikan jebakan lebih cepat agar Luisa dapat terperangkap secara sempurna.
Beberapa menit sebelum menuju tengah malam, daratan diguyur hujan lebat disertai gemuruh dan kilatan petir yang menggelegar di angkasa. Xena masih bersama Xander mengamati Luisa yang mulai berjalan melewati lorong mansion hingga tiba di kamar Xander. Untungnya, Xander memadamkan listrik mansion sehingga Luisa takkan sadar bahwa yang berada di atas ranjang itu bukanlah Xander.
“Xander, malam ini kau akan jadi milikku.”
Luisa membuka pakaiannya sampai tersisa lingerie seksi berwarna hitam, perlahan ia mendekati ranjang Xander dan menindih tubuh pelayan yang masih belum sadarkan diri. Jari Luisa bergerak membuka satu persatu kancing baju, ekspresinya dipenuhi oleh nafs* yang meluap-luap. Kala ia hendak membuka celana, pelayan itu terbangun dalam keadaan tubuh nan panas hingga hasrat yang membakar tubuh. Hal tersebut pertanda bahwa obat terlarangnya telah bekerja dengan sangat sempurna.
Luisa tidak sadar sama sekali bahwa pria yang ia tindih waktu itu bukanlah Xander, sebab suasana kamar yang gelap gulita membuat Luisa tak dapat melihat dengan jelas rupa pria yang sedang ia coba goda. Pelayan itu mulai tidak bisa mengendalikan diri, lekas saja ia menerkam tubuh Luisa secara kasar. Luisa tampak kesenangan di saat kulit mereka saling bersentuhan apalagi sebuah ciuman yang dimainkan di bibirnya membuat Luisa ikut bergairah.
Mereka saling bermain panas malam itu, perangkap Xena sukses besar dan dia hanya menunggu hasil terbaiknya di keesokan pagi.
“Sepertinya aku akan mendapatkan tontonan bagus besok pagi,” ucap Xena sambil tertawa kejam dan berbaring di atas tempat tidur.
“Rencanamu sungguh jahat sekali, tapi aku menyukainya,” sahut Xander yang berbaring di samping Xena.
Xena menyerngitkan kening sambil memandang Xander, pria itu tadi menyelonong masuk ke dalam kamar lalu sekarang seenaknya tidur di sisinya.
__ADS_1
“Mengapa kau tidur di ranjangku? Pergilah tidur di kamar lain!” usir Xena mengerucutkan bibirnya.
“Tidak.” Xander membawa tubuh Xena ke pelukannya, “Aku ingin tidur denganmu,” kukuh Xander.
Xena hanya menghembuskan napas panjang, dia tak keberatan sama sekali bila harus tidur dengan Xander. Tetapi, ada hal yang mengganggu perasaannya sejak ia bertemu dengan Xavier, perasaan itu terus menerus mengusik ketenangan batinnya.
“Xander, tadi aku sempat berbicara dengan Xavier. Perasaanku aneh semenjak pertama kali melihatnya, bahkan tatapannya pun juga aneh. Dari manik violet itu tersisip kerinduan besar, namun seakan kerinduan itu tertuju padaku. Aku tidak tahu mengapa, tapi hatiku hangat saat memandangnya seakan perasaanku dipenuhi oleh perasaan seorang Ibu terhadap anaknya,” ungkap Xena.
Xander mengeratkan pelukannya, seusai Xena mengatakan perasaannya itu, dia terlelap tanpa mendengar respon dari Xander.
‘Tentu saja kau merasa demikian, bagaimana pun kau adalah seorang Ibu. Meskipun Xavier datang dari masa di mana kita telah menikah, tapi itu tidak menutup kenyataanbahwa anak itu merupakan anak kandungmu. Xavier adalah anak kita berdua, dia telah menderita berjalan sendirian di atas bebatuan kerikil tajam selepas kita pergi meninggalkannya. Andaikan waktu itu aku berhasil menyelamatkanmu, maka aku yakin Xavier takkan merasakan penderitaan itu.’
Xander tertidur dalam keadaan mendekap hangat tubuh Xena, rasa cinta yang besar terpancar indah dari bagaimana cara Xander memeluk Xena. Pelukan itu bertahan sampai langit gelap beralih pagi, para pelayan bermaksud untuk membangunkan Xena, tapi mereka mendapati pemandangan langka tentang Xander dan Xena.
“Duke tidur memeluk seorang wanita, ini merupakan hal yang sangat membahagiakan. Mereka berdua serasi sekali, kita mesti membeberkannya ke seluruh penjuru Charise,” ujar seorang pelayan diangguki oleh rekannya yang lain.
“KYAAAAA!”
Bahana teriakan seorang perempuan bergema dari kamar Xander, teriakan tersebut berasal dari Luisa langsung. Para pelayan bergegas menuju kamar Xander untuk memeriksa siapa yang berteriak di kamar Xander.
“Bagaimana? Bagaimana bisa pelayan rendahan ini berada di ranjang yang sama denganku? Mungkinkah semalam dia yang tidur denganku?”
__ADS_1