Permaisuri Beracun

Permaisuri Beracun
Kediaman Duke Alister


__ADS_3

Laiv menggelengkan kepalanya, “Tidak, ada mantra pemusnah di tubuh mereka, sama seperti pembunuh Nona Alina. Saya berpikir bahwa orang yang membunuh Nona Alina dan orang yang melakukan penyerangan itu adalah orang yang sama,” ujar Laiv.


Xena menganggukkan kepalanya, dia juga berpikir hal yang sama, sampai sekarang dia masih belum menemukan titik terang tentang pembunuh itu. Berapa kali pun ia memikirkan atau memantau orang-orang di istana, tidak ada di antara mereka yang menunjukkan gelagat mencurigakan. Bahkan itu Ibu Suri sekali pun, dia juga tidak menunjukkan gerak-gerik yang aneh atau mengarah pada pembunuhan.


“Pertama-tama, kita harus memperketat penjagaan di sekitar markas, jangan sampai kita terkecoh dan memberi mereka kesempatan untuk mengacau di markas. Aku akan tetap di sini lalu kalian berlima kembalilah bersama Laiv ke markas, untuk sementara waktu kita pantau dulu situasi sekitar. Tolong buka mata kalian lebar-lebar, kita tidak


boleh lengah sedikit pun,” perintah Xena.


“Baik, Nona!”


Setelah itu, mereka semua melakukan apa yang diperintahkan oleh Xena, meskipun mereka merasa sedikit sedih sebab baru sebentar menikmati waktu bersama Xena, tapi mereka harus menjalankan titah dari Xena. Seketika suasana kamar Xena kembali hening, tidak ada suara-suara keributan yang terdengar, rasanya sayang sekali harus menyuruh mereka kembali ke markas untuk berjaga-jaga.


“Astaga, apakah kehidupan istana memang membosankan seperti ini?” Xena merebahkan kepalanya ke atas meja, dia pun bingung harus melakukan apa sekarang karena tidak ada hal menarik yang dia rasa perlu untuk dilakukan.


“Nona, apa Anda mau minum cokelat panas? Lalu tadi sepertinya Duke Geraldo meninggalkan satu kotak cake cokelat di sini.” Gia menunjukkan kotak cake cokelat yang dibawa oleh Xander khusus untuk Xena. Setiap Xander berkunjung melihat Xena, dia tidak pernah lupa untuk membawakan Xena satu kotak cake cokelat kesukaan Xena.


Kepala Xena spontan tegak mendengar Gia membawakan cake cokelat, memang satu-satunya hal yang membuat mood Xena membaik hanyalah cokelat. Dulu selama di markas, Laiv selalu memerintahkan para pelayan untuk stok cokelat yang banyak karena Xena si penggila cokelat kerap kali mengamuk dan hanya cokelat yang mampu meluluhkan kemarahannya.


“Bawa kemari cakenya,” pinta Xena, Gia pun bergegas memberikan cake tersebut kepada Xena, setidaknya hal inilah yang bisa menghibur Xena untuk saat ini.

__ADS_1


Tiba-tiba saja Xena terdiam dan menghentikan suapan cakenya, ada sesuatu yang terpikirkan olehnya kala itu.


“Aku sudah lama tidak pergi ke kediaman Alister, haruskah aku pergi ke sana sekarang juga?”


Gia terkejut, senyuman Xena terlihat tidak biasa, sepertinya ada hal lain yang mau dilakukan oleh Xena di kediaman Duke Alister. Akhirnya, mereka memutuskan untuk pergi bersama ke kediaman lama tempat dulu Xena pernah tumbuh. Entah rencana macam apa yang akan dilakukan oleh Xena serta kekacauan yang bagaimana yang akan dia ciptakan nanti.


Sepanjang perjalanan menuju kediaman Duke Alister, mereka mendengar ada nama Gylda di mana-mana. Kala itu kekaisaran sangat dihebohkan oleh berita pembunuhan yang dilakukan oleh Gylda, tidak ada yang pernah membayangkan bahwa Gylda akan melakukan hal sekejam itu. Xena hanya tersenyum begitu mendengar orang-orang bergosip ria sembari melontarkan kata-kata hinaan yang tertuju kepada Ibu Suri.


Mereka sampai di kediaman Duke Alister selepas menunggangi kereta kuda selama lima belas menit. Xena berkacak pinggang di depan gerbang seraya mengamati gedung mansion yang megah dan tidak pernah berubah sejak dulunya. Xena jadi teringat akan kenangan buruk yang dia jalani selama bertahan hidup di mansion tersebut. Xena juga mengingat bahwa di dalam mansion terdapat banyak barang peninggalan mendiang Ibunya. Xena kembali demi melihat langsung barang-barang peninggalan itu dan membawa beberapa yang dianggap penting.


“Kejutan jenis apa yang ada di dalam? Ayo, Gia, kita masuk sekarang.”


“Dasar kalian para budak rendahan! Cepat kerjakan semua ini sampai bersih!”


“Hidup kalian itu lebih rendah harganya dibanding kami, jadi jangan melawan lagi.”


Tendangan, pukulan, serta cacian didapatkan oleh para budak itu, mereka diperlakukan lebih rendah dibanding seekor binatang. Kehidupan mereka tidak lebih berarti dari seekor kucing jalanan, bahkan orang lain saja tidak sudi bila harus berjalan berdampingan dengn seorang budak. Level budak adalah yang paling rendah, status itu sangat keji dan mendatangkan trauma seumur hidup mereka.


“Apa yang sedang kalian lakukan di sini? Kenapa tidak kalian kerjakan bagian kalian?” tegur Xena ke para pelayan wanita itu.

__ADS_1


“Astaga, lihat siapa yang datang, kami benar-benar tidak menyadari kedatangan Anda, Permaisuri. Lalu Anda sekarang berlagak peduli kepada budak-budak ini, kan memang sudah tugas mereka melakukan pekerjaan budak,” jawab salah seorang pelayan bermuka sinis.


“Kalau begitu, apa artinya kalian menjadi pelayan kalau tanggung jawab kalian malah dilakukan oleh seorang budak? Berarti harga kalian lebih rendah dari seorang budak,” sarkas Xena.


Pelayan yang berjumlah lima orang itu merasa tertohok oleh perkataan Xena, mereka tidak menujukkan rasa hormat kepada Xena dan sekarang mereka juga ada niat untuk melawan Xena.


“Sepertinya Anda semakin sombong dengan status Permaisuri itu, apa Anda lupa siapa Anda sebelum menjadi Permaisuri? Anda dulu seorang Nona yang lemah dan penakut, semua orang juga tahu itu. Jadi, jangan som—”


Bugh!


Xena tidak ingin mendengar lebih jauh lagi perkataan pelayan itu, dia menedang perutnya sampai membuat si pelayan terbang beberapa meter ke belakang.


“Aku bukan orang yang pemaaf dan membiarkan orang lain hidup tenang setelah menghinaku.”


Pelayan yang ditendang oleh Xena barusan, memperlihatkan reaksi aneh, sekujur badannya mendadak meleleh dan langsung mati di tempat. Racun Xena lah yang membuat pelayan itu menjadi seperti sekarang. Empat pelayan yang tersisa merasakan ketakutan luar biasa selepas menyaksikan rekan mereka mati setelah mendapat tendangan dari Xena.


“Ampuni kami, Yang Mulia. Kami akui kalau kami melakukan kesalahan besar kepada Anda, tapi tolong jangan bunuh kami dan berikan kami kesempatan untuk menebusnya.” Serentak mereka bersujud memohon kemurahan hati Xena untuk mengampuni kesalahan mereka. Akan tetapi, Xena tidak mempedulikan permohonan mereka, yang ada di pikiran Xena hanyalah bayangan bagaimana tersiksanya Alina dulu bertahan hidup di mansion ini tanpa perlindungan.


“Ampun? Lebih baik kalian simpan kata-kata itu untuk bertemu raja neraka nanti!”

__ADS_1


__ADS_2