
Xander menarik pedangnya lalu menodongkan pedang tersebut ke leher Marquess Andros.
Tepat saat itu Garvin datang kemudian menahan Xander untuk tidak bertindak
gegabah.
“Hentikan, Yang Mulia! Anda tidak boleh membunuhnya, nanti bisa-bisa Anda terkena masalah besar akibat membunuh bangsawan berpengaruh,” cegat Garvin mencoba menurunkan pedang Xander, tapi kekuatan Xander ternyata berada jauh di atasnya.
“Minggir, Garvin! Baj*ngan ini beraninya menyebut istriku wanita rendahan, aku akan membuatmu mati dalam kesengsaraan.”
Garvin tercengung saat Xander berkata tentang istri, mimik wajah Garvin tidak bisa digambarkan, alangkah terkejutnya ia waktu itu. Menurutnya, Xander hanya sedang bermimpi saat ini, dia tidak percaya Xander akan mempunyai seorang istri. Jangankan istri, membayangkan Xander menyukai wanita saja sudah horor baginya.
“Istri? Apa Anda bermimpi, Yang Mulia? Mustahil bagi pria dingin dan tidak romantis seperti Anda memp—”
“Kau bilang apa?” Xander melayangkan sorot mata menusuk pada Garvin, sehingga membuat Garvin terpaksa merapatkan mulut dan tidak melanjutkan kalimatnya.
“Tidak jadi, Yang Mulia, Anda teruskan saja aksi Anda,” ujar Garvin tidak lagi menahan tangan Xander yang ingin menebas Marquess Andros.
Xander pun bersiap untuk mengayunkan pedangnya, Marquess Andros ingin kabur tapi kakinya tidak bisa digerakkan, napasnya juga tercekat hingga rasanya dia benar-benar akan menemui ajalnya saat itu juga. Kemudian Luisa spontan mendorong sang Ayah untuk menjauh, tubuh Luisa merosot ke lantai lalu bersujud di bawah kaki Xander.
“Saya mohon, Yang Mulia, tolong jangan bunuh Ayah saya. Tolong ampuni nyawa Ayah saya, saya memohon sangat kepada Anda,” mohon Luisa dalam-dalam. Padahal kala itu sekujur badannya gemetar takut, namun demi Ayahnya dia rela melawan ketakutan itu.
Xander akhirnya menurunkan pedangnya, dia memutuskan mereka untuk dilepaskan sementara waktu.
“Seret mereka berdua ke luar, jangan biarkan mereka masuk lagi kemari,” titah Xander kepada dua orang ksatria yang berdiri di ambang pintu.
Marquess Andros dan Luisa diseret paksa keluar dari mansion, mereka diusir secara tidak hormat. Xander langsung mengumumkan kepada semua orang untuk tidak membiarkan mereka masuk ke mansion lagi. Apa pun alasannya nanti, Xander tidak lagi mau berurusan dengan orang yang berani menghina Xena.
__ADS_1
“Beraninya pria angkuh itu mengusirku, gagal sudah rencanaku untuk menguasai harta Duke Geraldo. Aku harus mencari tahu tentang wanita yang dimaksud istri olehnya, aku akan membunuh wanita itu lalu menunjukkan nanti mayatnya ke pria itu,” gumam Marquess Andros menggerutu kesal bercampur marah.
Lalu Xander yang masih berada di ruang kerjanya langsung menghempas-hempaskan segala barang yang terpajang di atas mejanya. Garvin terdiam di pojok ruang sambil mengamati apa hal yang akan dilakukan Xander berikutnya. Xander membuang napas kasar, ia menoleh ke arah jendela dan melihat cuaca siang yang sangat terik.
“Garvin, aku akan pergi ke luar sebentar mencari angin segar, kau jangan ke mana-mana dan jika ada yang ingin menemuiku, bilang saja aku sibuk,” ucap Xander seraya membuka lebar jendelanya dan melompat keluar dari jendela.
Garvin tak bisa melarang Xander, atasannya itu memang sedikit sensitif dan temperamental. Sama seperti Xena, tapi tempramennya tidak separah Xena yang setiap detik selalu marah tak menentu. Tujuan Xander keluar yaitu untuk melihat Xena, dia berencana memberikan cake cokelat untuk Xena. Tidak lupa ia mampir ke toko kue yang paling terkenal di Charise, kemarin ia sudah memesan lebih dulu cake cokelat spesial untuk Xena.
Di sisi lain pada waktu yang bersamaan, Xena tengah duduk di tepi jendela sambil menikmati angin sepoi-sepoi yang berembus masuk menyejukkan badan. Entah apa yang sedang dipikirkannya, tapi yang jelas saat ini Xena hanya ingin santai.
“Xander Geraldo. Rasanya wajah pria itu familiar, apa aku pernah bertemu dengannya dulu? Tapi, di mana? Apa saat aku pergi berkelana ke kekaisaran lain?” gumam Xena sembari menopang tangan di dagu.
Di sela kebingungan yang melanda, seseorang datang mengetuk pintu kamar Xena, segera Gia membantu membukakan pintu. Ternyata Xander sudah tiba, dia membawa kotak berwarna merah muda yang berisi cake cokelat.
“Mana Xena?” tanya Xander kepada Gia.
“Xena? Tidak ada yang namanya Xena, Yang Mulia, apa maksud Anda Permaisuri?” elak Gia.
Selepas itu, Xena memutar kepala untuk melihat siapa gerangan yang datang.
“Siapa yang datang, Gia?” tanya Xena berjalan menghampiri Gia. Ekspresi muka Xena berubah masam begitu menemukan Xander di depan pintunya, “Kenapa kau kemari? Ada urusan apa? Kalau tidak ada urusan penting, sebaiknya kau pergi saja,” usir Xena hendak menutup pintu, tapi Xander menahannya.
“Aku membawa cake cokelat,” ujar Xander memamerkan kotak cake kepada Xena.
Tangan Xena dengan cepat merebut sekotak cake itu dari tangan Xander, lalu ia tutup pintunya ketika cakenya berhasil dia ambil dari Xander. Akan tetapi, Xander tidak menyerah begitu saja, tiba-tiba dia berada di jendela kamar yang terbuka.
“Xena, aku belum sempat mengobrol denganmu,” tutur Xander.
__ADS_1
Xena segera menaruh cakenya di atas meja, Xander sangat menjengkelkan bagi Xena yang tak kenal menyerah mendekati Xena. Gia hanya menonton mereka berdua dan berpikir mereka berdua terlihat sangat cocok dilihat dari segi mana pun.
“Apa yang kau lakukan di sini? Keluarlah dari sini.” Xena mendorong tubuh Xander ke belakang supaya Xander pergi dan tidak mengganggunya lagi.
“Aku ingin bertemu denganmu, apakah salah kalau aku bertemu calon istriku di masa depan?” rayu Xander sembari tersenyum menggoda.
“Siapa yang mau jadi istrimu? Aku tidak akan menikan deng… KYAAAA!!”
Xander sengaja menjatuhkan diri ke belakang, ia menarik kedua tangan Xena untuk jatuh bersamanya. Untung saja mereka berdua mendarat dengan aman di atas rerumputan, lebih beruntungnya lagi jarak antara tepi jendela ke bawah itu tidak terlalu jauh.
“Astaga, dasar pria gila! Apa kau mengajakku mati bersamamu?” omel Xena, tanpa sadar dia menindih tubuh Xander, “Kenapa kau bisa berada di bawahku? Pantas saja tubuhku tidak sakit.”
“Kau sangat cantik,” puji Xander tiba-tiba menciumi ujung rambut Xena, ia tampak menikmati wajah Xena dari bawah.
“Omong kosong apa yang kau katakan? Sudahlah aku pergi dulu, jangan temui aku lagi. Kau sangat menjengkelkan, tidak baik hatiku terus menerus bertemu denganmu,” ketus Xena, ia berniat beranjak pergi dari Xander, tapi Xander buru-buru menarik tangan Xena untuk masuk ke pelukannya.
“Apa yang kau lakukan? Dasar mes*m! Lepaskan aku,” ronta Xena, namun ia tak berdaya sama sekali melawan kekuatan Xander.
“Jangan mati lagi, Xena. Aku mohon bergantunglah padaku mulai sekarang, aku hancur saat kehilanganmu di pangkuanku. Tidak peduli seberapa sulit untuk mendapatkan hatimu, tapi yang pasti aku berjanji akan menjagamu. Jadi, aku mohon jangan tinggalkan aku lagi, istriku.”
...Xena Alister...
...Xander Geraldo...
__ADS_1