Permaisuri Beracun

Permaisuri Beracun
Amukan Xena


__ADS_3

Xena yang terbakar api emosi, melempar seluruh dokumen itu ke muka Adolph, rasanya dia ingin menghabisi Adolph saat itu juga.


“KAU JUAL KE MANA SELURUH ASET DAN HARTA KELUARGA DUKE ALISTER?!” teriak Xena seraya mencengkram kerah baju Adolph.


“Apa hakmu mempertanyakan seluruh aset dan harta itu? Semenjak kau menjadi Permaisuri, itu semua telah menjadi milikku! Mau aku jual atau tidak, itu urusanku dan bukan urusanmu!” jawab Adolph.


Xena tidak mau menahan diri lagi, dia memukul Adolph habis-habisan, amarah yang bergejolak di dadanya kini ia lampiaskan seluruhnya kepada Adolph. Segala bentuk derita, air mata, dan kesedihan Alina, dia utarakan lewat pukulan kuat itu. Adolph dibuat tidak bisa berkata-kata, untuk melarikan diri saja tidak dibiarkan oleh Xena. Pergerakan Adolph dikunci, tubuhnya mati rasa beberapa detik setelah pukulan Xena melayang. Pada akhirnya dia tidak kuat menahan pukulan itu, dia jatuh pingsan akibat sakit luar biasa yang didera.


“Gia, buka jendelanya,” perintah Xena.


Gia langsung bergegas membuka jendela yang berada di ruang kerja Adolph, ruangan itu terletak cukup jauh dari permukaan tanah. Xena disertai pikiran gilanya melempar tubuh Adolph ke luar, mungkin saat ini Adolph menderita patah tulang gara-gara Xena.


“Lebih baik dia mati saja, aku tidak butuh orang-orang sialan seperti mereka di hidupku.”


Mimik wajah Xena berubah dingin, pandangan mata sayu nan tajam sungguh terlihat mengerikan. Bahkan Gia tidak bisa mendekat ke arah Xena, dia takut menyaksikan kemarahan luar biasa Xena kepada Adolph dan Merry. Mengingat masa lalu tentang bagaimana perlakuan Adolph dan Merry kepada Xena serta Alina, mengurangi sedikit ketakutan Gia. Terlebih lagi sesudah Xena dijual sebagai budak, beban penderitaan Alina bertambah besar. Sebelumnya ada Xena yang selalu melindungi Xena, tapi dengan tidak adanya Xena membuat Alina harus berusaha dua kali lipat untuk melindungi dirinya.


Tanpa tersadar air mata Gia jatuh berderai, dia teringat oleh Alina yang selalu memperlakukannya dengan sangat baik. Di sisi lain, Gia merasa bersalah karena tidak bisa melindungi Alina semasa hidupnya dari serangan orang-orang jahat.


“Ada apa, Gia? Kenapa kau menangis?” tanya Xena.


Gia segera menyeka air matanya. “Saya hanya teringat dengan penderitaan Permaisuri sebelum beliau tinggal di istana. Tidak terhitung seberapa sering beliau menahan lapar dan haus karena jarang diberi makan yang layak oleh Duchess. Para pelayan memperlakukan beliau dengan tidak hormat, bahkan dulu beliau tidur di dalam gudang karena kamarnya direbut oleh Nona Yuliana. Seringkali beliau mengeluh dingin setiap malam sebab beliau tidak diberi selimut untuk tidur. Terkadang ketika beliau demam, Duchess masih memaksanya untuk bekerja, keberadaan beliau lebih rendah dibanding pelayan.”

__ADS_1


Darah Xena kembali mendidih mendengar pengakuan dari Gia tentang penderitaan Alina selama ini. Entah bagaimana lagi caranya dia mengekspresikan amarah yang menggelora itu, seketika hatinya terasa sangat panas. Dia memiliki rencana lain untuk melampiaskan kemarahannya kepada penghuni mansion yang kurang ajar.


“Akan aku hancurkan semuanya.”


Xena menghentakkan kakinya keluar dari ruang kerja, tak sengaja juga dia mendengar suara ksatria yang heboh menemukan Adolph yang terluka parah akibat ulah Xena. Kaki Xena melangkah ke arah dapur, di persimpangan dapur pun dia juga mendengar tentang para koki yang menjelek-jelekkan Alina.


“Wanita bodoh itu tidakkah kalian ingat dulunya? Dia dihukum oleh Duchess dan dikurung di kamar mandi selama satu malam karena tidak sengaja memecahkan piring.”


“Lalu yang paling lucu saat dia membuat pakaian Nona Yuliana rusak, karena hal itu dia dipukul menggunakan papan kayu oleh Duchess.”


“Tapi ada untungnya dia di sini, walau sebenarnya dia juga seorang Nona, namun menyuruhnya bekerja sungguh membuat pekerjaan kita terasa ringan. Semenjak dia masuk ke istana, pekerjaan kita terasa menyusahkan. Seharusnya dia menjadi pelayan saja dibanding Permaisuri, itu tidak cocok sekali dengan otaknya yang bodoh.”


“Enak sekali kalian berbicara saat bekerja, terlebih lagi kalian membicarakan majikan kalian sendiri,” ucap Xena kepada tiga orang koki dapur itu.


“Ohh Anda di sini rupanya, apakah Anda datang untuk membantu kami di dapur?”


Mereka kembali tertawa kencang, Xena perlahan melangkah masuk lebih dalam lagi agar jarak mereka lebih dekat.


“Ya, aku datang membantu kalian. Apakah kalian sudah mendengar tentang Duke dan Duchess yang terluka parah?” Xena memamerkan senyum tipis nan menyimpan kesadisan.


“Terluka? Apa itu benar? Memang tadi pelayan berlarian ke lantai bawah, tapi kami tid—”

__ADS_1


“Apa kalian tahu siapa yang membuat mereka seperti itu?” Xena berjalan ke arah kompor, di atasnya ada satu panci penuh sup yang mendidih. Xena pun mengangkat panci sup itu, kemudian menyiramkan sup panasnya ke kepala koki itu.


“AARRRGGHHHH!” Mereka memekik kesakitan.


“Tentu saja aku yang membuat mereka seperti itu, beraninya kalian merendahkanku dan menghinaku terus-terusan. Anggap saja ini pembalasan karena sudah menyiksaku selama ini,” ujar Xena.


Kulit ketiga koki wanita itu melepuh akibat sup panas yang dituangkan ke tubuh mereka, Xena bukan manusia yang pengampun, justru dia sangat pendendam terhadap orang yang berani menyentilnya. Selepas itu, Xena meninggalkan mereka di ambang kematian, dia tidak peduli dengan seberapa rasa sakit yang diderita oleh orang-orang itu.


“Semua orang yang menyakiti Alina harus mati!”


Xena beralih pergi dari dapur, kini dia menuju ke kamar Yuliana yaitu kamar yang dulunya ditempati oleh Alina. Kamar tersebut telah jauh berbeda daripada yang dulu ia lihat, seluruh barang-barang mewah terpampang di kamar itu.


“Seisi kamar ini milikku dan Alina, aku akan menghancurkan semuanya.”


Xena melempar-lempar seluruh barang di kamar Yuliana, Gia memutuskan untuk tidak mengganggu Xena yang melampiaskan kekesalannya kepada seluruh penghuni mansion. Seusai Xena berhasil menghancurkan isi kamar Yuliana, sekarang mereka berdua menuju ke kamar Merry. Xena kembali melakukan aksi yang sama, barang-barang Merry jauh lebih mewah lagi, mereka menghambur-hamburkan uang keluarganya untuk membeli barang yang tidak berguna.


“Perhiasan ini milik Ibuku, aku akan mengambilnya kembali.” Xena mengambil satu kotak perhiasan dari dalam laci lalu menyerahkannya kepada Gia untuk dipegangi.


Xena mengamuk sepuasnya di rumah itu, dia menghancurkan barang-barang yang dibeli oleh Adolph dan Merry.


“Ini semua milikku! Mansion ini milikku! Aku tidak akan membiarkan mereka bersikap semena-mena di tempat ini. Aku datang untuk merebut semua hakku, aku datang untuk mengembalikan keadilan terhadap kematian Ibuku. Siapa pun orang yang menyakiti Ibu dan Alina, aku pastikan mereka mati di dalam kehancuran.”

__ADS_1


__ADS_2