Permaisuri Beracun

Permaisuri Beracun
Permaisuri Menghilang


__ADS_3

“HAHAHA.” Suara tawa dari bayangan itu menggelegar, tekanan dari kekuatannya semakin mencekik Xena, “Langkahi dulu mayatmu? Kau jangan membuatku tertawa, Xander! Apa kau yakin ingin melawanku dengan tubuh yang penuh dengan racun kutukan itu? Sepertinya kau lupa siapa aku.”


“TUTUP MULUTMU DAN LENYAPLAH DARI SINI!” Xander berteriak, ayunan pedang melesat tajam ke tubuh bayangan itu hingga membuat bayangan tersebut menghilang secara sempurna.


“Ingatlah bahwa Xena tetap aku jadikan sebagai wadah Ratu Setan, dia milikku dan aku tidak akan kalah darimu.”


Itulah hal terakhir yang dikatakan oleh bayangan itu, Xander segera menyarungkan kembali pedangnya dan bersegera mendekati Xena.


“Xena, sadarlah! Tidak ada yang perlu kau takuti lagi, aku sudah melenyapkan bayangan itu,” ujar Xander menggucang-guncang tubuh Xena.


Pekikan Xena tak terdengar lagi, beberapa detik Xena terdiam lalu ia menatap lekat Xander yang berjongkok di depannya. Kedua tangan Xena yang gemetar perlahan menyentuh pipi Xander, manik peraknya memandang sendu ke arah Xander.


“Xan… der….”


Xena hanya menyebut nama Xander, selepas itu ia pun tak sadarkan diri, seketika rasa panik menghantui Xander. Di tengah rasa sakit yang menikam jantung, Xander mengangkat tubuh Xena untuk ia bawa ke kediamannya.


“Aku tidak boleh meninggalkan Xena di istana, tidak tahu kapan pria itu akan muncul lagi. Lebih baik aku bawa Xena ke mansionku sampai dia sadarkan diri.”


Setibanya di mansion, Garvin terkejut melihat Xander yang pulang membawa Xena di gendongannya. Sedari tadi Garvin khawatir tentang Xander yang mendadak menghilang di kamarnya, lalu kala ini ia malah kembali bersama Xena.


“Yang Mulia, mengapa Anda membawa Permaisuri kemari? Ehh apakah dia bukan Permaisuri? Tapi wajahnya agak mirip.” Garvin menyadari perbedaan dari wajah Xena, sebab selama menyamar menjadi Alina, Xena menggunakan sihir sehingga tak ada orang yang menyadari bahwa ia adalah Xena. Akan tetapi, akibat serangan dari bayangan tadi, sihir penyamaran tak berfungsi sama sekali sehingga rupa asli Xena bisa dilihat oleh Garvin.


Xander segera menaruh Xena ke atas tempat tidur, ia mengabaikan sejenak kebingungan Garvin.

__ADS_1


“Tolong ambilkan permata penenang di laciku,” perintah Xander.


Tanpa menunggu lama, Garvin bergegas untuk mengambilkan sebuah permata berwarna putih. Permata tersebut bernama permata penenang yang dibeli oleh Xander di pelelangan dengan harga yang sangat mahal. Permata penenang berfungsi untuk menenangkan kejiwaan seseorang apabila orang itu histeris atau frustasi karena suatu masalah. Belum banyak orang yang tahu kegunaan pasti permata itu, tapi karena Xander mengulang waktu, maka dia tahu pasti kegunaan permatanya.


Xander duduk di tepi ranjang, mata Xander tampak sendu melihat Xena yang berkeringat dingin dan gelisah di bawah ketidaksadarannya. Perlahan Xander mengusapkan permata itu ke kening dan tangan Xena, kegelisahan di diri Xena sesaat menghilang. Seusai itu, Xander menyelimuti setengah badan Xena kemudian tidak lupa ia mendaratkan kecupan singkat di kening Xena.


“Maaf, istriku.”


Mata Garvin terbelalak kaget menyaksikan Xander yang mengecup kening Xena, ditambah ia mendengar kata-kata istri terlontar dari mulut Xander. Garvin mulai berspekulasi mengenai hal yang terjadi beberapa waktu lalu, tentang Xander yang marah kepada Marquess Andros yang telah menghina istrinya.


“Yang Mulia, apa dia istri Anda?” tanya Garvin, dia lekas membekap mulut karena kelepasan bertanya di saat suasana hati Xander sedang terluka.


“Benar, dia Xena – istriku,” jawab Xander seraya tersenyum tipis dan mengelus kepala Xena yang tertidur.


“Xena? Kenapa wajahnya mirip dengan Permaisuri? Apa jangan-jangan dia saudaranya Permaisuri?” tebak Garvin asal-asalan.


“Anda bercanda ya, Yang Mulia? Mana mungkin Permaisuri meninggal,” bantah Garvin menolak untuk percaya.


Xander menghela napas panjang, ia bangkit dari tempat duduknya, “Ayo ke ruang kerjaku biar aku jelaskan padamu semuanya.”


Xander bersama Garvin pergi ke ruang kerja Xander, Garvin menutup rapat-rapat pintu masuk supaya tidak ada orang lain yang menguping pembicaraan mereka. Mimik wajah Xander tampak serius, Garvin menelan liur kala itu akibat tegang oleh keseriusan Xander.


“Aku tidak berbohong padamu, Alina memang sudah mati terbunuh.”

__ADS_1


Kemudian Xander menceritakan secara rinci permasalahannya kepada Garvin, ia mempercayai Garvin karena sejak dulu Garvin merupakan bawahan yang paling setia kepadanya meski sering menjadi target amukan atau kemarahan Xander. Ketika Xander bercerita, Garvin selalu menampakkan ekspresi terkejut, dia terdiam sepanjang Xander bercerita. Garvin tidak menyangka akan mendengar masalah Xander yang rela bolak balik ke masa lalu demi menyelamatkan Xena.


“Yang Mulia, bagaimana Anda bisa menanggung masalah itu sendirian? Tidakkan kejam bila Anda tidak menceritakannya kepada saya? Apa saya terlihat tidak dapat dipercaya di mata Anda? Saya janji… saya janji akan membantu Anda dan menyatukan Anda kembali dengan Nona Xena, saya janji itu….”


Garvin tanpa sadar menitikkan air mata, Xander pun mengelus-elus punggung Garvin untuk menenangkannya.


“Maafkan aku memberatkanmu, kau tidak perlu terlalu masuk ke dalam masalah in—”


“Tidak!” tegas Garvin, “Saya tidak merasa diberatkan, sejujurnya saya lebih senang ketika Anda melibatkan saya. Bagaimana pun dulu Anda pernah menyelamatkan saya dari perbudakan, saya tidak akan pernah melupakan hal itu sampai saya mati. Maka dari itu, tolong jangan merasa tidak enak hati kepada saya, Yang Mulia.” Garvin mengusap air matanya dan mengatakan hal itu secara lantang kepada Xander.


“Baiklah, tapi jangan terlalu paksakan dirimu, sebab musuh kita bukanlah seorang manusia. Mengerti itu?”


Garvin mengangguk-angguk, “Yang Mulia, apakah di enam kehidupan itu saya memiliki seorang istri?” tanya Garvin tiba-tiba.


“Kau punya istri, sebentar lagi kau akan bertemu dengan dia,” tutur Xander, Garvin tampak bersemangat dan melompat-lompat girang.


Xander ikut senang melihat Garvin gembira, ia pun mengalihkan pandangannya ke arah jendela.


‘Garvin akan bertemu dengan istrinya sebentar lagi, tapi aku tidak memberitahunya kalau dia mati saat melindungi istrinya. Selama enam kehidupan, Garvin tidak pernah memperoleh kebahagiaan, pada kehidupan pertama istrinya meninggal, kehidupan kedua juga sama, kehidupan ketiga mereka sama-sama meninggal, kehidupan keempat Garvin meninggal, dan kehidupan keenam Garvin meninggal demi melindungi istrinya yang tengah hamil, dan pada akhirnya istrinya juga ikut menyusul akibat depresi yang dia derita. Kehidupan kali ini, aku pastikan untuk menyelamatkannya, pasti itu.’


...***...


“Nona menghilang?”

__ADS_1


Di saat pagi datang, Gia hendak membangunkan Xena, namun dia tidak menemukan Xena di dalam kamar. Gia cemas bukan main, biasanya Xena akan meminta izin kalau keluar istana, tapi berbeda dengan sekarang. Perasaan Gia berkecamuk, dia berlari keluar kamar untuk memberitahu Derryl segera.


“YANG MULIA! YANG MULIA! PERMAISURI MENGHILANG!”


__ADS_2