
Setelah berjam-jam berbelanja, akhirnya kita semua selesai dan memutuskan untuk pulang. Mama dan papa pak Baekhyun pulang dengan satu mobil, mama dan papa juga pulang dengan satu mobil, sedangkan diri ku sendiri?
Aku terjebak dengan pak BaekHyun. Mereka menyuruhku pulang satu mobil dengan pak BaekHyun. Karena semuanya meminta begitu dengan sangat terpaksa aku pulang dengan pak BaekHyun.
Drtttt... Drttt...
Aku melihat ponselku. Kenapa Sowon meneleponku?
"Siapa?" tanya pak BaekHyun.
"Sowon," Jawabku. Aku berpikir sebentar. Apa aku harus menjawabnya? Tapi jika aku tidak menjawabnya Sowon akan bertanya banyak hal. Aku mengangkatnya tapi aku mematikan kameraku.
"YERIN! KEMANA SAJA KAMU SEHARIAN? AKU MENCARIMU KE RUMAHMU DAN KE APARTEMENMU, SEMUA NYA KOSONG. AKU PIKIR KAMU HILANG DI TELAN BUMI." Teriak Sowon. Aku terdiam mendengarnya. Jika saja Sowon tahu dirinya sedang bersama dengan pak BaekHyun, aku yakin Sowon tidak akan melakukan ini semua.
"Sowon, aku sedang pergi bersama keluargaku, memang nya kenapa kamu mencariku? Ya aku tahu aku ini pemes kan." Jawabku berusaha mengubah suasananya. Tapi aku rasa ini tidak berhasil.
"Dasar kepedean, ini, aku mendapatkan bocoran soal ujian yang kamu minta, aku sudah selipkan ke apartemenmu ya,"
Apa!
Aku segera membisukan ponselku. Pak Baekhyun menatapku dengan tatapan tajam.
"Sowon! Apa maksudmu? Bocoran soal apa?" Tanya Pak BaekHyun.
Mati lah aku.
__ADS_1
"Eh?! Pak BaekHyun? Yerin? Kamu di mana sih? Coba nyalain kameranya." Ucap Sowon. Aku menyalakan kameranya dan mengarahkannya ke arah pak BaekHyun. Sowon menutup mulutnya.
"Maaf Yer, Aku tunggu penjelasanmu nanti, dah. Semoga selamat." Sowon langsung mematikan sambungan video call-nya.
Sowon. Astaga. Aku harus bilang apa nanti.
Aku memasukkan ponselku ke dalam tasku. Aku menutup mataku. Matilah aku. Kenapa Sowon aku mengatakan itu dengan sangat keras. Aku membenturkan kepalaku ke sandaran kursi.
"Bodoh. Bodoh kamu Sowon!" gumamku frustasi, aku menjambak rambutku sendiri.
"Pelajaran apa saja?" Tanya pak BaekHyun dengan nada marah.
"Saya tidak tahu, bahkan saya belum melihat nya." Jawabku. Pak BaekHyun langsung memutar balik mobilnya.
"Pak? Kenapa kita putar balik?" Tanyaku. Aku sudah takut dia benar-benar akan membawaku ke apartemenku karena bocoran soal itu. Pak BaekHyun tidak menjawab pertanyaanku. Dia hanya mengendara terus ke arah apartemenku. Tamat sudah riwayat hidupmu Yerin.
Pak BaekHyun langsung menarikku masuk ke dalam lift dan membawaku ke lantai 5. Tangan nya terus menggenggam tanganku dengan erat. Berkali-kali aku meringis kesakitan tapi dia tidak melepaskan tanganku. Dia menarikku lagi setelah pintu lift terbuka.
"Buka sekarang." Dia berhenti dan melepaskan tanganku ketika kita sudah sampai di depan pintu apartemenku. Aku membukanya, pak BaekHyun langsung masuk dan menemukan sebuah amplop coklat di lantai persis di depan pintu.
Aku menggigit bibir ku sendiri dan bersandar pada pintu. Pak BaekHyun membukanya dan melihatnya. Dia menatapku. "Dari mana kalian mendapatkan ini?" Tanya pak BaekHyun. Dia menutup pintu apartemenku agar tidak ada yang bisa mendengarnya lagi.
Aku tidak pernah melihat nya semarah ini. Dia memang sering marah, tapi tidak semenakutkan ini. "Jawab Jung Yerin. Kamu tidak ingin semua guru tahu tentang ini kan?" Tanyanya.
"I-Itu,"
__ADS_1
"Apa jangan-jangan soal seperti ini memang selalu tersebar di setiap ujian?" Tanya pak BaekHyun. Aku kembali diam setelah dia memotong perkataanku.
"Coba kita lihat apa saja yang kalian dapatkan, Soal Ujian Akhir Semester Bahasa Inggris, Soal Ujian Akhir Semester Biologi, Soal Ujian Akhir Semester Fisika, Soal Ujian Akhir Semester Kimia, Soal Ujian Akhir Semester Matematika?" Pak BaekHyun membuka soal matematika itu. Dia terkekeh. "Bahkan ini adalah soal yang belum selesai saya buat, tapi sudah berhasil bocor." Ucapnya sambil tertawa remeh.
"Jadi ini? Ini cara kalian mendapatkan nilai bagus? Dengan cara mencari soal-soal ujian sebelum ujian dimulai? Mencari jawabannya sehingga nilai 100 saja sudah pasti ada di tangan kalian." Ucap pak BaekHyun. Dia berjalan ke arah ruang tamu dan membanting semua kertas itu ke meja. Aku yakin dia pasti sangat marah dan kecewa.
"Duduk di Sofa, saya ingin bicara dengan kamu dan Sowon, panggil dia ke sini." Ucap Pak BaekHyun. Aku tidak tahu, apa aku harus memanggil Sowon ke sini. Aku tidak enak jika menyeretnya ke masalah ini. Aku yang meminta bocoran kenapa Sowon yang harus menanggungnya juga.
Aku berjalan ke arah Sofa dan duduk agak jauh dari pak BaekHyun. Da menatapku. "Saya kira kamu hanya menyontek, ternyata kamu juga pencuri." Ucapnya. Entah kenapa kalimatnya sangat menusukku. Aku menundukkan kepalaku.
"Kenapa kamu ga telepon Sowon? Suruh dia ke sini, saya ingin bicara juga dengan dia." Suruh pak BaekHyun. Aku menggelengkan kepala.
"Itu ide saya pak, Sowon hanya mencarikannya," Jawabku pelan.
"Jadi benar, hanya kamu yang mendapatkan ini? Bagaimana dengan murid lain? Dan Sowon, apa menurutmu dia tidak menyalin soal ini lebih dulu? Kamu tidak pernah penasaran dari mana dia mendapat nilai bagus itu? Jika dia bisa mendapatkan ini, kemungkinan dia mendapatkan semua soal ulangan harian itu sangat mudah, Saya yakin kamu saja tidak tahu ini di simpan di mana." Ucap Pak BaekHyun. Aku menggeleng.
"Soal ini ada di ruang kepala Sekolah, di kunci dengan akun guru masing-masing di komputer kepala Sekolah, disimpan secara Offline, jadi untuk mendapatkannya, kamu harus mengambil nya secara manual ke sana, dan saya salut kalian bisa melakukan ini tanpa ketahuan guru mana pun." Pak BaekHyun membolak-balik kertas-kertas itu. Dia memijit pelipisnya sendiri. Pak BaekHyun melempar soal-soal itu ke atas meja lagi.
"Saya tidak habis pikir dengan kelakuan kalian." Gumam pak BaekHyun. Dia bersandar ke sofa. Aku masih tidak bergeming sama sekali. Aku tahu ini salah, tapi ini adalah satu-satunya cara aku bisa mendapat nilai bagus di ujian semester. Ujianku tidak pernah bagus, sekeras apa pun aku belajar. nilai dan peringkatku akan tetap sama buruknya.
Pak BaekHyun memasukkan semua kertas itu ke dalam map coklat itu lagi. "Saya sudah tidak tahu harus bagaimana lagi dengan murid seperti kamu Yerin, saya sudah sangat bersabar mengajar kamu dari kelas 10, saya kira kamu memang memiliki niat untuk belajar, ternyata, Yang benar saja."
"Bapak akan memberitahu semua guru tentang ini?" Tanyaku pelan.
"Menurutmu? Semuanya harus tahu tentang ini, kebobolan soal ujian bukan hal yang sepele, bagaimana dengan ujian nasional? Apa kalian juga akan melakukan ini?" Tanya pak BaekHyun. Aku menggeleng pelan. Aku benar-benar sudah tidak berani menatapnya. Mendengar suaranya saja aku sudah takut.
__ADS_1
Pak BaekHyun tiba-tiba bangun dari sofa. "Saya akan bicara dengan orang tua kamu, bukan sebagai calon suami kamu, tapi sebagai guru kamu." Ucap Pak BaekHyun sebelum dia keluar dari apartemenku. Aku tidak bisa mencegahnya. Tubuhku sangat kaku hingga tidak bisa membalas ucapan pak BaekHyun sama sekali.
Aku akan mati sebentar lagi. Orang tuaku pasti akan sangat marah dan kecewa. Belum lagi semua guru akan mengetahuinya dan aku akan di cap sebagai murid yang buruk di sekolah. Teman-temanku akan memusuhiku karena aku bersikap seperti ini. Air mataku turun membasahi pipiku. Aku tidak bisa menahannya lagi. Aku benar-benar takut.