Pernikahan Dengan Guruku

Pernikahan Dengan Guruku
Episode 91 - BaekHyun Sakit


__ADS_3

Sudah sebulan sejak aku bekerja sebagai dokter di sana. Cukup banyak juga pasien dari luar perusahaan yang berobat ke klinik ku di sini. Kebanyakan dari mereka biasa menelepon dulu ke resepsionis dan membuat janji baru mereka datang ke sini. Tetapi ada juga beberapa yang keadaannya cukup darurat dan langsung membawanya ke sini. Aku sebenarnya tidak tahu kenapa mereka membawanya ke sini, bukan ke rumah sakit. Kebanyakan alasannya karena mencari dokter terdekat.


Itu alasan yang masuk akal. Karena di sekitar sini memang tidak ada klinik. Milik ku satu-satunya. Ada sih rumah sakit, tapi lebih jauh dari tempat ku.


Karena semakin hari klinik ku semakin berkembang, aku juga memperkerjakan beberapa perawat dan dokter lain untuk membantu ku karena ada beberapa pasien yang ingin di rawat inap. Beberapa ruangan di lantai 3 juga sudah aku ubah menjadi 10 ruang rawat inap. Penghasilan ku di sini juga banyak bertambah sejak aku mengubah lantai 3 jadi ruang rawat inap. Malah sekarang penghasilan ku hampir menyusul penghasilan BaekHyun.


Tapi karena lantai 3 adalah tempat rawat inap, aku sudah memblokir lift ke lantai 3, jadi tidak semua orang bisa naik ke sana. Itu untuk mengurangi risiko penyakit yang menular. Jadi kalau mau naik ke lantai 3 ada lift khusus ke sana. Bukan lift yang sama seperit yang di gunakan karyawan BaekHyun.


Penghasilan ku memang sekarang naik setiap harinya, tapi emosi ku juga ikut naik beberapa hari ini.


Kenapa?


Seperti ini contohnya.


Tokkk.... Tokkk.. Tokkk...


"Masuk." Ucap ku.


"Yer..." Lagi-lagi BaekHyun datang ke ruangan ku. Hanya kepalanya saja yang nongol dari balik pintu.


"Kenapa lagi Baek?" Tanya ku dengan sangat lelah. Dalam sehari, BaekHyun bisa 6-10 kali berkunjung ke ruangan ku. Entah hanya untuk mengatakan 'I Love You Yerin', atau bertanya apa aku sibuk, biasa aku akan selalu menjawab, ya aku sibuk. Atau kadang dia sendiri yang berpura-pura sakit agar bisa berlama-lama di ruangan ku.


Yang aku heran padalah kita serumah, kenapa dia tidak bisa membiarkan aku kerja dengan tenang di sini.


"Yer, Aku sayang kamu." Ucap nya. Lalu dia keluar dari ruangan ku.


Kan. Baru saja aku bilang. Apa dia tidak lelah melakukan semua ini? Kenapa dia naik turun dari ruangannya di lantai 7 turun ke lantai 2 hanya untuk mengatakan itu. Aku juga tahu dia menyayangi ku. Kalau tidak, tidak mungkin dia masih mau bersama ku hingga detik ini. Tapi dia tidak perlu mengatakannya setiap 1-2 jam sekali.


******


Setelah beberapa jam kemudian...


Tokkk... Tokkk... Tokkk...


"Masuk.." Suruhku.


"Yer, aku ingin memberitahu sesuatu." Ucap nya.


"Apa?" Tanya ku.


"Kamu cantik hari ini." Ucap nya lalu keluar dari ruangan ku.


*****


Tokkk... Tokkk... Tokkk...


"Masuk.." Suruhku.

__ADS_1


"Yer, aku tahu kita baru makan, apa kamu ingin sesuatu? Aku ingin memesan makan lagi." Ucap nya.


Aku tidak bisa membedakan antara dia sedang mencari perhatian ku atau dia benar-benar tidak waras? Ini baru 15 menit setelah aku makan siang.


"Tidak usah, aku benar-benar kenyang." Jawab ku. Dia mengangguk dan keluar dari ruangan ku lagi.


*****


Tokkk... Tokkk... Tokkk...


"Masuk.." Ucap ku dengan suara lelah.


Cklekk..


BaekHyun masuk dan duduk di depan ku. "Yer, aku sakit perut." Ucap nya dengan suara lemas. Aku kali ini tidak tahu apa dia berpura-pura atau tidak. Ini sudah yang ke 4 kali dia datang ke ruangan ku.


"Sakit perut? Di bagian?" Tanya ku. Dia meremas bagian kanan bawah. Hah. Ini yang aku takutkan.


"BaekHyun, kamu beneran sakit di sana?" Tanya ku. Dia mengangguk pelan.


"Itu usus buntu, aku ga bisa obatin, ayo kita ke rumah sakit." Ucap ku. Aku bangun dan mengambil tas ku. Dia menahan tangan ku.


"Kenapa? kamu kan dokter, aku ga mau ke rumah sakit." Ucap nya.


"Usus buntu harus di operasi Baek, aku ga bisa operasi kamu di sini, mending kita ke rumah sakit," Ucap ku lagi. Dia menggeleng.


"Harus Baek, jangan sampai keburu parah, usus buntu bisa menyebabkan kematian kalau di biarin, ayo bangun, kita ke rumah sakit." Ajak ku.


Dia menggeleng dan menahan tangan ku.


"Udah ga gitu sakit, ga usah, aku balik ke atas aja." Ucap nya.


Aku menahannya. "Udah berapa lama?" Tanya ku.


"Baru saja ilang." Jawabnya.


"Maksudnya sakit nya dari kapan?" Tanya ku.


"Ga, udah ilang Yer, aku naik dulu ya, bentar lagi ada rapat." Ucap nya.


Aku tidak tahu apa dia berpura-pura sakit atau gimana. Tangan ku mengambil ponsel ku dan menelepon Ray.


"Halo Ray, bisa tolong ke ruangan saya sebentar."


"Baik Miss." Jawabnya.


Aku hanya takut kalau BaekHyun benar-benar usus buntu bukan pura-pura. Kalau benar, mungkin saja itu alasannya selama beberapa hari ini dia menjadi aneh dan terus bolak balik ke ruangan ku. Mungkin dia ingin bertanya masalah sakit perutnya.

__ADS_1


Cklekkk...


"Ada apa miss.." Tanyanya.


"Um, Ray, apa kamu tahu BaekHyun kenapa?" Tanya ku.


"Dia bilang dia sakit perut sudah 3 hari, tapi semakin hari semakin sakit, apa dia tidak berkonsultasi kepada anda miss? Saya sudah menyuruhnya ke sini setiap jam." Ucap nya.


3 hari?


Kenapa dia tidak apa pun kepada ku?


"Ray, tolong siapkan mobil, saya akan membawa BaekHyun." Ucap ku. Dia mengangguk dan keluar dari ruangan ku.


Dugaan ku benar. Ada alasan BaekHyun ke sini terus. "Lyn, aku akan kerumah sakit sebentar, tolong gantikan aku," Ucap ku pada Kellyn, sahabat ku di kampus dulu. Ya aku menyuruhnya pindah ke sini karena dia tidak mendapatkan pekerjaan di sana.


"Baiklah," Jawabnya. Aku segera masuk ke lift menyusul BaekHyun. Manusia itu benar-benar. selalu menganggap semuanya baik-baik saja, padalah kenyataannya tidak begitu. Aku terus menekan tombol lift agar pintu nya cepat tertutup. Kenapa benda ini sangat lambat.


Akhirnya aku sampai di lantai 7, tempat ruangan BaekHyun. Aku langsung menerobos masuk ke ruangan nya. "BaekHyun, ikut aku sebentar." Suruh ku.


"Ada apa?" Tanyanya.


"Ikut saja, Ada hal penting yang harus kamu lihat." Ucap ku.


Dia bangun. "Bawa jaket mu juga, kita harus keluar." Suruh ku.


Dia menatap ku curiga. "Kita tidak ke rumah sakit kan?" Tanyanya.


"Cepatlah." Suruh ku lagi. Dia mengambil nya tanpa ragu kali ini. Aku menarik nya keluar dari sana. Wajah nya terlihat cukup pucat. Aku tahu dia kesakitan, tapi sebenarnya dia tidak perlu menahannya seperti itu karena aku akan tetap membawanya ke rumah sakit. Hanya saja dia tidak mengetahui hal itu.


Aku membawanya ke basement. Ray sudah menunggu di dalam mobil.


"Kita mau kemana sih?" Tanya nya.


"Ke suatu tempat di bumi ini" Ucap ku. Dia menatap ku dan menahan untuk tidak masuk ke dalam mobil.


"Katakan lokasi spesifik nya." Suruhnya.


"Rumah sakit, Papa kamu di sana Baek," Ucap ku.


"Papa? Papa kenapa?" Tanya nya panik.


"Ya makanya, cepet kita harus ke sana." Ucap ku. Dia akhirnya masuk ke dalam. Aku dan dia duduk di tengah.


"Ray, jalan." Suruh ku.


"Baik Miss." Jawabnya. Dia langsung jalan keluar basement.

__ADS_1


__ADS_2