Pernikahan Dengan Guruku

Pernikahan Dengan Guruku
Episode 63 - Kantor Kak Farrel


__ADS_3

Kak Farrel tadi menurunkan ku di supermarket dengan kantornya. Lebih tepat nya seberang kantornya. Dia bilang aku hanya perlu menyeberang dan nanti naik lift hingga lantai 6, di pojok lorong ada pintu, masuk saja, itu adalah ruangan kak Farrel.


Oh ya, dia bilang agar aku tidak sedih lagi, aku boleh jajan apa pun yang aku mau, dia sudah memberikan ku kartu debit nya. Katanya aku bebas beli apa aja, berapa pun, yang penting aku senang.


Kakak terbaik yang aku miliki adalah dia.


Aku membeli Chiki, roti, es krim, dan yoghurt. Aku membawa semuanya ke kasir.


"Totalnya jadi 300," Ucap nya. Aku memberikan kartu debit kak Farrel.


"Terima kasih." Ucap nya sambil memberikan makanan ku, dan juga kartu debit kak Farrel kembali. Aku memasukkan semuanya ke dalam tas. Aku sengaja membawa tas karena aku sudah berencana beli banyak camilan.


Sekarang waktunya aku menemui kak Farrel lagi. Aku menyeberang dan masuk ke perusahaan kak Farrel. Ini adalah pertama kali nya. Kalau perusahaan papa aku sudah sering, kalau perusahaan kak Farrel, ini adalah pertama kali nya. Sebelumnya dia bekerja di luar negeri, tapi sekarang dia memindahkan nya ke sini. Katanya sih biar ga usah bolak balik lagi. Dia udah bosan di sana, mau di sini aja biar bareng-bareng sama kita semua.


Jadi dia membangun perusahaan nya di sini juga. Sudah 2 bulan sejak gedung ini benar-benar beroperasi.


"Hei, bocah,"


Aku menengok ke arah suara itu. Dia bicara dengan siapa? Aku rasa dia berbicara dengan ku.


"Siapa kamu? Kenapa kamu bisa masuk ke sini?" Tanyanya.


"Aku adik nya kak Farrel, kenapa?" tanya ku.


"Cih, pura-pura jadi adiknya kak Farrel, dia itu bos besar di sini, ga mungkin punya adik kayak kamu gitu, bajunya aja kayak gitu." Ucap nya.


"Kalau ga tau apa-apa diem aja," Ucap ku. Aku berjalan melewatinya.


"Aww.." Aku meringis ketika dia menarik rambut ku.


"Ih, apa-apaan sih, aku mau ke ruang kak Farrel, lepas."


Aku mencakar tangannya, tapi dia tidak mau melepaskan rambut ku juga. "Aku akan telepon kak Farrel kalau kamu ga mau lepas." Ancam ku.


"Coba aja, mana mungkin Bos mau ladenin anak kecil kayak kamu." Ucap nya dengan sombong. Aku mengambil ponsel ku dan menelepon kak Farrel.


"Kak, aku tidak bisa masuk, ada seorang perempuan yang sedang menjambak ku."


'Tunggu di sana, kakak sudah jalan turun.' Ucap nya.


"Oke kak." Jawab ku. Dia mematikan sambungan teleponnya.


"JESSICA!!! LEPASKAN DIA!!." Suara tegas kak Farrel terdengar ke seluruh tempat ini.


"B-Bos, kenapa bos ada di sini?" Tanyanya.


"Lepaskan adik saya," Ucap kak Farrel.

__ADS_1


Dia segera melepaskan ku. Aku berlari ke dekat kak Farrel.


"Apa sakit?" tanyanya.


Aku mengangguk. Tentu saja itu sakit. Memang nya di jambak ga sakit apa.


"Cepat sana, sekali lagi kamu menyentuh adik saya, saya akan memecat kamu." Ancam kak Farrel. Dia terlihat ketakutan.


"Ayo ke atas," Ajak kak Farrel dengan lembut kepada ku. Aku mengangguk. Dia menggandeng ku ke ruang kerjanya. Aku pikir itu akan seperti ruangan papa. Ternyata ini lebih bagus. Ada jendela yang bisa memperlihatkan pemandangan seluruh kota dari sini. Aku juga bisa melihat gedung kantor papa. Ini sangat keren.


"Jadi, kamu beli apa aja?" tanya kak Farrel.


"Eh iya, ini, aku beliin es Krim juga buat kakak, hari ini panas, makan es krim enak kali kak." Ucap ku. Aku memberikan dia es krim yang aku beli tadi.


"Makasih Yer." Ucap nya. Dia mengambil satu es krim nya dan langsung memakannya. Ini adalah es krim yang dulu selalu dia belikan untuk ku saat pulang sekolah dulu, sebelum dia pergi kuliah ke luar negeri.


"Es krim favorit kita dulu." Ucapnya. Aku tersenyum. "Tentu saja" balasku.


"Apa kepala mu masih sakit? Nanti kakak akan beri dia pelajaran karena mengganggu kamu," Ucap kak Farrel sambil mengelus kepala ku yang tadi di jambak.


"Tidak perlu kak, aku rasa dia sudah mendapatkannya tadi." Balasku.


"Baiklah, tapi apa kamu tidak keberatan kalau kakak kerja sebentar? Kerjaan kakak lagi numpuk, kamu tiduran aja dulu di kamar kalau ngantuk, terus ada TV, kamu bisa nonton aja di sana." Ucap kak Farrel sambil menunjuk ke sebuah kamar yang ada di sebelah ruang kerjanya.


Aku berjalan ke sana, ada sebuah ruangan lain dengan kasur, TV dan sebuah sofa panjang.


"Dari mana kamu tau kalau kakak ga pulang?" Tanya nya.


Aku terkekeh. "Heheh, dari papa, papa sering bilang. 'Tuh kakak kesayangan kamu pindah kantor jadi jarang pulang, kalau tau gitu mah papa ga buatin kantor baru buat dia di sini.'" Ucap ku menirukan suara papa.


"Kalau udah kemalaman kakak tidur di sana, kalau masih sempat pulang ya, kakak pulang." balasnya.


Aku berjalan ke arah sofa di ruangan kak Farrel. "Aku di sini dulu aja," Ucap ku.


"Terserah kamu saja, tapi jangan ganggu kakak sebentar ya," Ucap nya.


Aku mengangguk. Walaupun dia tidak melihatnya. Aku membuka satu per satu chiki yang aku beli tadi. Dan karena aku sebenarnya cukup bosan, jadi aku memilih untuk membuang waktu ku dengan menonton drama saja. Dia sedang bekerja, aku tidak mau mengganggu nya dengan meminta hal yang tidak penting.


Tapi tanpa sengaja aku melihat ke arah jam, ini sudah jam 1, apa kak Farrel tidak lapar?


"Kakak tidak lapar?" Tanya ku. Dia melihat ke arah jam.


"Ayo kita pesan makan dulu," Jawabnya.


Sesibuk apa pun dia, pasti kak Farrel tidak akan melewatkan jam makan nya. Alasan pertama, karena dia dan aku sama-sama memiliki riwayat maag, yang kedua, aku dan dia sama-sama suka makan. Jadi tidak mungkin kita akan melewatkan waktu makan.


Aku rasa dia sedang mencari sesuatu untuk di makan, jadi aku menghampirinya. "Kak, ayo pesan sushi," Ajak ku.

__ADS_1


"Sushi? Kamu lagi mau sushi?" Tanyanya. Aku mengangguk.


"Oke kita pesan sushi," ucap nya.


Jari-jari kak Farrel menyentuh layar dan terus mencari menu Sushi untuk di pesan. Setelah menemukannya, dia menekan tombol pesan.


"Tunggu 10 menit, restorannya tidak jauh dari sini kok," Ucap nya sambil menaruh kembali ponselnya di atas meja.


Tokkk.. Tokkk... Tokkk....


"Masuk." Ucap kakk Farrel dengan tegas.


Cklekkk....


"Bos, sudah waktunya makan siang." Ucap perempuan tadi.


"Baik, terima kasih, saya akan makan dengan adik saya." Ucap kak Farrel. Dia menatap ku.


"Saya permisi bos." Ucap nya.


Kak Farrel bangun dari meja nya. "Kamu mau minum ga? Ada jus, ada soda, ada susu, ada sirup," Ucap nya sambil membuka kulkas kecil di ruangannya. Aku menghampirinya.


"Aku mau soda kak," Jawabku. Dia memberiku jus."


"Soda ga bagus buat kamu, ini aja." Ucap nya.


"Tadi nawarin, pas di jawab ga di kasih, mau nya apa sih." Gumam ku.


Tokkk... Tokkk.. Tokkk...


"Bos, makanannya." Teriak seseorang dari luar pintu. Kak Farrel membuka pintu itu dan mengambil makanannya.


"Ayo kita makan," Ajaknya. Dia membuka makanan itu di atas meja depan Sofa. Aku duduk di sebelah kak Farrel. Dia mencampur semua nya menjadi 1 tempat.


"Makan 1 bareng-bareng lebih enak dari pada makan sendiri-sendiri kan." Ucap nya.


Aku mengangguk. "Aku juga ga tau kenapa rasanya lebih enak makan 1 berdua daripada makan masing-masing, padalah rasanya sama aja," Ucap ku.


"Mungkin karena kita makannya perebutan jadi berasa kurang, makanya makanannya jadi berasa enak." Ucap nya.


"Mungkin. Sudahlah, ayo makan." Ucap ku.


"Eits.. Tunggu, jangan nyolong start donk, kakak mau buang dulu sampah nya."


Baru saja aku mau mengambil satu, kak Farrel sudah menahannya lebih dulu. Ini lebih seperti kebiasaan untuk ku, dari dulu kita selalu makan dengan cara seperti ini. Satu berdua, rebutan makanan, bukan karena ga ada uang buat beli lagi, tapi karena memang enak makan satu berdua.


Aku hanya bisa melakukan ini dengan Kak Farrel, tidak dengan Baekhyun. Aku selalu ingin makan terpisah dari dia. Di kepala ku, dia masih mantannya TaeYeon, aku yakin mereka pernah berciuman, jadi kalau aku makan satu piring dengan dia, sejujurnya aku masih merasa jijik. Walaupun kita sudah menikah setengah tahun. Tapi sampai detik ini, aku tidak pernah menyesali nya. Malah aku senang karena aku tidak melakukan hal-hal seperti itu dengan BaekHyun.

__ADS_1


__ADS_2