Pernikahan Dengan Guruku

Pernikahan Dengan Guruku
Episode 6 - Acara Makan Siang


__ADS_3

Hari ini adalah hari Sabtu. Sejak kemarin malam aku sudah kembali ke rumah orang tuaku sesuai dengan perjanjian kami. Biasanya di hari Sabtu dan Minggu, aku akan bangun siang, lalu menonton drakor di kamar dengan camilan yang dibuat oleh mama. Tapi hari ini cukup berbeda aku rasa. Sejak pagi, mama sudah menyiapkanku baju yang akan di pakai untuk makan siang dengan teman nya nanti.


Aku tidak tahu kenapa aku juga harus berpakaian dengan sangat feminin seperti itu.


"Ma, sebenarnya kita mau ngapain sih?" tanyaku.


"Acara makan-makannya di percepat, kata teman mama, jadi kita harus bersiap-siap." Jawab mama.


Mama dari tadi sudah mondar-mandir di kamar ku dan terus menghalangi ku yang sedang menonton drakor kesukaanku.


"Yerin, kamu lebih suka yang putih atau yang pink?" tanya mama sambil memperlihatkan aku dua gaun yang berbeda warna.


"Putih, putih saja, tolong sedikit minggir ma, aku sedang nonton." Aku berusaha melihat dramaku tapi mama terus saja menghalangi pandanganku.


"Kalau sepatu? Kamu mau yang flat shoes atau yang heels?" Tanya mama.


Aku menghembuskan nafas ku dengan kasar. Untung saja dia itu mamaku, orang yang melahirkan aku dengan susah payah, membesarkan aku dengan kasih sayang. Jika tidak pasti sudah aku tendang keluar dari kamarku.


"Ma, kenapa aku harus ikut, Yer lagi cape." Ucapku.


"Kamu harus ikut, teman mama ingin menemuimu juga, anak nya juga akan ikut nanti, kalian bisa berkenalan juga di sana." Ucap mama. Mama sepertinya sangat senang, tapi tidak denganku.


"Yerin, cepat sana mandi," mama menarik kakiku hingga ke pinggir ranjang.


"Aduh ma, sebentar lagi. Itutuh. Tuh nanggung ma.."


Mama terus saja menarik kakiku hingga aku mau bangun dan mandi.


"Ih kamu tuh, jorok banget sih. Udah jam 9 masih belum mau mandi, kasihan nanti calon suami kamu kebauan." Ucap mama.


"Iya. Iya ma," Dengan berat hati aku mematikan tv dan berjalan ke arah kamar mandi. Ternyata di dalam kamar mandi mama sudah menyiapkan semuanya.


Aku segera mandi, dan keramas karena rambutku sangat lepek. Selesai mandi, aku menggosok gigiku dulu baru berpakaian. Seperti nya Jose baru membuat Dress ini untukku, aku baru melihat nya.


"Ma, apa ini Dress buatan Jose?" tanyaku.


"Tentu saja, kamu sangat cantik Yerin, ayo sini mama bantu keringkan rambut kamu dan make up tipis."


Mama mengambil hair dryer dan mengeringkan rambutku. Lalu mama mencatok rambutku agar lebih bagus.


"Di mana make up mu?" Tanya mama.


"Ada di dalam tas ma." Jawab ku. Mama mengambil tas ku dan mulai memakaikan make up itu di wajahku. Masalah makeup, mama paling jago menurutku. Aku belajar make up dari mama saat masih SMP.


"Coba buka matamu, bagaimana?" Tanya mama. Aku melihat ke cermin.


"Bagus ma." Pujiku. Memang sangat bagus menurutku.


"Urusan bibir itu selera kamu aja sayang." Ucap mama. Aku mengangguk dan memilih warna yang cocok dengan bajuku.


"Ma, kalau boleh tahu, siapa teman mama ini?" Tanyaku. Mama sedang di belakang ku membereskan ranjangku. Aku melihat mama dari cermin.


"Kamu panggil saja tante Byun dan om Byun, kecuali jika dia meminta mu memanggil dengan sebutan lain." Ucap mama.


Aku mengerutkan dahiku.


"Maksud mama?" Tanya ku.


"Maksud mama, siapa tahu dia ingin di panggil cece." Jawab mama sambil tertawa. Aku ikut tertawa, aku tidak tahu, aku selalu tertawa jika mama tertawa, entah itu lucu atau tidak, tapi aku senang mendengar tawa mama.


"Ma, warna ini cocok kan?" Tanyaku.

__ADS_1


Mama berjalan mendekatiku. "Cocok sayang, kamu cantik." Ucap mama. Aku memakainya.


"Sempurna. Ayo kita pergi, mereka pasti sudah menunggu kita." ucap mama. Aku mengangguk.


"Kamu tidak bawa ponsel?" Tanya mama.


"Ponselku sedang di sita oleh wali kelasku," Jawabku. Mama menatapku.


"Ini pegang ponsel cadangan, jangan sampai kamu tidak memegang ponsel Yerin, ponsel itu penting." Ucap mama. Aku menerima nya dan mengangguk.


Mama menggandengku hingga ke dalam mobil.


"Selamat siang anak papa yang cantik." sapa papa. Aku tersenyum malu.


"Selamat siang papa." Aku mengecup pipi nya. Dia sedang duduk di kursi pengemudi, mama duduk di sebelah papa. Seperti biasa aku duduk di belakang sendirian. Harus sabar Yerin.


Papa mulai jalan dan aku hanya duduk di belakang sambil melihat ke luar mobil. Aku terus melamun di jalanan hingga aku tidak sadar kalau kita sudah sampai di depan restoran nya.


"Yerin, ayo turun." Ajak mama.


Aku segera turun dan menyusul mama.


"Halo jeng.."


"Halo juga, akhirnya kita ketemu lagi." Ucap mama


"Halo tante. om," sapa ku.


"Halo Yerin, kamu sangat cantik, lebih cantik dari pada difotonya, mari, silahkan duduk." Ucap tante Byun.


Kami semua duduk di tempat yang sudah disediakan.


"Jeng, mana ini anaknya, saya ingin cepet ketemu." ucap mama.


"Maaf telah membuat kalian semua menunggu lama,"


Suara itu lagi.


Aku menengok ke arah nya. Dia duduk di hadapanku.


"Pak BaekHyun?" Aku menatapnya dengan tatapan kaget bingung dan campur aduk.


"Halo Yerin," Sapa pak BaekHyun.


"Yerin, kamu kenal dengan dia?" Tanya mama.


"Ma, dia wali kelas ku, Ada apa ini sebenarnya?" Tanyaku. Aku menatap ke semuanya.


"Gini, kamu tenang dulu ya sayang. Jangan emosi dulu. Dengarkan dulu, mama ingin dan tante Byun ingin menjodohkan kalian berdua, awalnya kami pikir ingin membuat kalian berkenalan dulu, tapi ternyata kalian sudah dekat ya." Ucap mama.


Aku diam. Menatap pak BaekHyun dengan tajam.


"Permisi tante, om, ma, pa, boleh saya bicara dengan Pak BaekHyun sebentar?" Tanya ku.


"Tentu saja boleh Yerin, silahkan." Ucap tante Byun. Aku tersenyum dengan terpaksa.


"Pak, kita bicara sebentar." Bisikku. Pak BaekHyun bangun dari tempat nya dan ikut denganku. Aku rasa aku bisa benar-benar gila sekarang. Mama ingin menjodohkan aku dengan guruku sendiri? Orang yang berbeda 7 tahun dariku.


"Pak, bapak sudah tahu tentang ini?" Tanyaku.


"Ya," Jawab nya santai.

__ADS_1


"Kenapa? Bapakkan punya pacar sendiri? Kenapa bapak tidak menolak nya dari awal?" Tanyaku kesal.


"Orang tua saya sangat ingin menjodohkan saya dengan kamu, saya sudah menolaknya ratusan kali tapi mereka tetap saja kekeh untuk melakukan ini semua." Jawab Pak BaekHyun.


"Bapak tinggal bilang kalau bapak punya pacar sendiri. Apa susahnya?" Tanyaku lagi. Pak BaekHyun terlihat cukup pusing sekarang.


"Saya cuma mau orang tua saya senang, itu doank alasan saya menerima perjodohan ini." Ucap pak BaekHyun.


"Kalau bapak tidak menolak, saya yang menolak saya, saya tidak akan mau menikah dengan bapak, lagi pula saya masih SMA." Ucap ku.


"Coba saja, saya akan sangat berterima kasih kepada kamu jika kamu berhasil membatalkan perjodohan ini." Ucap Pak BaekHyun.


"Tapi tolong tolak ini dengan halus, jangan sakiti perasaan mama kita," Lanjut pak BaekHyun lagi sebelum aku berjalan kembali.


Aku berjalan lebih dulu diikuti dengan pak BaekHyun di belakang.


"Akhirnya kalian kembali, jadi karena kalian sudah saling kenal, bagaimana? Apa kalian sudah membuat keputusan?" Tanya Tante Byun.


Aku tersenyum. "Maaf tante, maaf ma, Saya ga bisa terima perjodohan ini, Saya masih mau belajar, lanjut kuliah, Saya masih punya cita-cita yang ingin saya raih," Ucap ku.


"Tapi kamu tetap bisa melakukan itu semua, pernikahan ini tidak akan menghalangi kamu melakukan itu semua Yerin." Ucap tante Byun.


"Itu kalau saya tidak hamil tante." Aku langsung memotong nya. Pak BaekHyun menatap ku ketika aku mengatakannya.


"Maaf tante, tapi di dalam sebuah pernikahan, pasti akan ada yang menginginkan keturunan, saya tidak bisa melakukan itu, baik sengaja maupun tidak, saya serius ingin mengejar cita-cita saja dulu," Ucapku lagi.


"Bagaimana jika kita membuat kontrak, BaekHyun tidak boleh menyentuhmu hingga kamu lulus kuliah?" Tanya tante Byun. Aku menatap nya tidak percaya.


"Kontrak seperti itu di dalam sebuah pernikahan tante?" Tanyaku sekali lagi.


"Yerin sudah cukup, jangan buat mama malu Yerin." Bisik mama. Baiklah aku akan diam.


"Ya, tentu saja, untuk menghindari apa yang kamu takutkan itu, tante sudah sangat yakin kamu akan sangat cocok dengan BaekHyun. Apa lagi kalian guru dan murid, BaekHyun mungkin bisa lebih membantu sekolahmu juga." Ucap tante Byun.


Aku diam.


"Yerin, lihat mama, mama mohon kamu terima perjodohan ini ya, BaekHyun bukan orang yang jahat kok, apa lagi dia sudah mengenal mu," Ucap Mama.


Jika sudah seperti ini aku sangat sulit untuk menolaknya. Aku melihat ke arah papa. Papa tidak membuka suaranya, aku juga melihat ke arah papa BaekHyun, Om Byun. Dia juga seperti papa, hanya diam. Aku menatap Pak BaekHyun. Aku berharap dia mau membuka suaranya. Sayang nya itu tidak terjadi.


"Baik ma, aku akan terima perjodohan ini." putusku. Jika ini tidak berjalan baik, aku pasti akan sangat menyesali keputusanku saat ini. Aku kembali menatap pak BaekHyun, ekspresi nya masih sama.


"BaekHyun, kamu juga menerima perjodohan ini kan?" Tanya mama.


"Ya saya menerimanya." Jawab Pak BaekHyun dengan senyuman palsu itu.


"Kalau begitu sudah di putuskan, kalian akan segera menikah secara tertutup," Ucap tante Byun dengan sangat senang.


"Yerin." Panggil tante Byun.


"Ya tante?" Balasku.


"Eitsss.. Jangan panggil tante lagi, panggil mama, cantik." Ucapnya.


"Ya ma?" Lidahku sangat tidak terbiasa.


"Apa benar ponsel mu ada sama BaekHyun?" Tanya mama BaekHyun. Aku mengangguk.


"Ini mama kembalikan," Dia memberikan ponsel ku kembali.


"Makasih, ma." Ucapku. Rasanya masih sangat canggung.

__ADS_1


"Kalau begitu, karena kalian sudah setuju, kalian bisa pergi ke suatu tempat bersama, mengakrabkan diri, tidak perlu terlalu formal satu sama lain, kalian akan segera menikah." Ucap mama BaekHyun.


Aku mengangguk saja dengan senyuman tipis di wajahku.


__ADS_2