
Aku terbangun di tengah malam karena tiba-tiba perutku terasa sangat sakit. Rasanya ini lebih sakit dari tadi. Aku melihat kearah ranjang sebelah. Pak BaekHyun sudah terlelap dengan sangat nyenyak. Aku tidak mau membangunkannya. Jadi aku berusaha menekan bel itu sendiri.
Kenapa ini sangat jauh?
"AKHHHH!!!." Aku meringis.
Rasanya benar-benar sakit. Aku melihat infusanku sudah habis. Pasti obat pereda nyeri nya sudah habis. Aku meremas perutku sendiri untuk menyalurkan rasa sakitnya.
"Yerin?"
Pak BaekHyun menatapku. Dia langsung membantuku memencet bel nya. "Perut mu sakit lagi?" Tanyanya. Aku mengangguk. Dia melihat infusan.
"Seharusnya jangan sampai habis begini," Pak BaekHyun melihat selang infusanku. Ada sedikit darahku yang tersedot naik ke sana karena cairan infusanku sudah habis. Pak BaekHyun melepas tanganku yang meremas perutku sendiri. Aku sedikit memberontak karena rasanya sakit.
Tokkk... Tokkk... Tokkk....
Ada seorang suster yang masuk ke ruanganku membawa infusan baru. "Maaf sedikit terlambat, tadi dokternya memberikan tambahan obat di dalam infusan ini, obat itu untuk mengatasi alerginya," Ucap Suster itu sambil mengganti infusku. Aku masih meringis kesakitan. Rasanya benar-benar tidak enak seperti ini.
Infusku yang baru sudah terpasang. Perlahan rasa sakitnya mulai mereda. Pak Baekhyun masih berada di sebelahku. Aku tidak sadar kalau dari tadi dia masih menggenggam tanganku. Aku melepaskannya ketika aku sadar kalau tanganku masih di sana.
"Bapak tidur saja lagi, maaf mengganggu tidur bapak." Ucapku. Aku kembali menarik selimutku dan menutup mataku.
"Yerin, kamu pikir saya bisa tahan dengan melihat kamu meringis kesakitan terus seperti tadi? Jika ada apa-apa bangunkan saya, jangan seperti itu, memang saya di sini untuk menjaga kamu, bukan untuk tidur doank, kalau tidur saya bakal tidur di rumah lebih nyaman dari pada di sini." Ucapnya. Aku kembali membuka mataku.
"Sudah saya bilang ke papa seharusnya saya sendiri saja di sini." Ucapku pelan. Aku kembali menutup mataku.
"Yer, tolong jangan mempersulit saya, saya sudah mengabaikan TaeYeon malam ini untuk kamu."
Aku tidak tahu kenapa, aku sangat tidak suka dengan nama itu. "Bapak bisa pergi jika ingin menemuinya, saya tidak memaksa bapak ada disini," Ucapku.
"Yer, saya tidak akan kemana-mana malam ini, tugas saya adalah menjaga kamu malam ini." Ucapnya dengan tegas.
"Dan saya boleh minta tolong ke bapak?" Tanyaku.
"Apa?" Tanyanya.
__ADS_1
"Saya tidak suka mendengar nama itu, tolong jangan disebutkan ketika di luar sekolah, jika di sekolah saya tidak masalah, apa lagi jika bapak membawa-bawanya kedalam urusan ini, bukannya saya cemburu atau apa bapak lebih memilih dia nanti, saya hanya tidak suka dengan dia, bapak tahu sendiri kan." Ucapku.
Dia menghembuskan nafasnya dengan kasar. "Oke, baik, Tidak ada nama itu lagi di depanmu." Ucap pak BaekHyun. Aku menangguk. "Tapi bangunkan saya jika kamu merasa ada yang sakit, tolong kerja samanya, apa kamu senang gitu lihat saya dihajar papa saja mulu."
"Hitung-hitung balas dendam saya ke bapak. kan saya ga boleh mukul bapak, tapi kan papa bapak dipihak saya, jadi ya ga apa-apa lah sesekali pak." Ucapku.
"Ish, dasar murid kurang ajar, bikin emosi guru aja kerjaannya." Gumam pak BaekHyun. Aku tertawa karena berhasil membuat dia kesal lagi.
"Pak, ini udah jam 5 pagi, bapak ga mau siap-siap?" Tanya ku.
"Mau siap-siap gimana? Baju saya di rumah semua, masa saya ke sekolah baru kemarin sama hari ini sama sih, malah belum mandi lagi." Ucap pak BaekHyun.
"Bapak tahu ga sih, bapak tuh kelihatan beda banget di sekolah sama di luar, di sekolah tuh bapak kayak berwibawa gitu, pas di luar, kayak apa ya, kayak bocah ketahuan maling sendal bapaknya terus ke tangkap basah gitu pak." Ucapku sambil tertawa-tawa. Pak BaekHyun menggelengkan kepalanya.
"Ngeledek terus, lanjutin terus Yer, biar nilai kamu saya potong sampai habis, minus kalau bisa,"
Aku diam. Walaupun masih berusaha menahan senyumku. "Ih bapak jahat banget sih, sayakan lagi sakit, saya tuh berusaha mengalihkan pikiran saya biar ga ke perut terus, kalau ga berasa sakit pak." Ucapku.
"Bapak mandi saja dulu, entar bapak pulang dulu ganti baju baru pergi ke sekolah." Ucapku.
"Saya bukan anak kecil bapak BaekHyun, wali kelasku tersayang, saya bakal pastiin infusan saya ga habis total, kalau sudah tinggal dikit saya panggil suster." Ucapku. "Sebentar, memang bapak bawa baju kemarin? Bapak belum pulang ke rumah? Saya kita bapak udah pulang ganti baju gitu?" tanyaku
Pak BaekHyun menggeleng. "Belum, saya cuma lepas kemeja sama ganti celana pendek doank, Mama kamu bawain handuk, sampo sama sabun mandi ga?" tanya pak BaekHyun. Aku mengunjuk ke arah tas yang cukup besar di depanku.
"Harus nya sih ada, bapak coba cari aja." Dia mengambil tasku dan membukanya.
"Yer, kamu cariin." Dia memberikan tas itu kepadaku. Wajahnya jadi tegang, memangnya ada apaan di tas itu.
"Ih bapak kenapa sih, manja banget dah, orang tinggal cari aja," Ucapku kesal. Baru juga pegang Hp. Ga bisa gitu lihat orang senang bentar.
Aku membukanya. Astaga. Mama. Aku buru-buru menutup tasku dan memeluknya.
"Kenapa bapak ga bilang?" Ucapku malu. Wajahku pasti memerah. Astaga, kenapa mama menaruh pakaian dalamku di paling atas.
"Hadap belakang," Suruhku dengan tegas. Pak BaekHyun berbalik.
__ADS_1
"Kayaknya ada yang ga bener di sini, kenapa saya kayak ngerasa kamu lagi balas dendam ke saya," Ucapnya.
"Ya memang, jangan bergerak di sana," Ucapku lagi. Aku tersenyum. Sebenarnya dia pernah memberiku hukuman berdiri di belakang kelas saat aku masih kelas 10 dulu, seperti itu nadanya, jadi mungkin dia masih mengingatnya.
Aku membuka tasku dan memindahkan pakaian dalamku ke bagian dalam tas, aku mengeluarkan handuk berwarna biru, sampo dan sabun. "Sudah pak, ini." Aku memberikannya.
"Sabun mandi kita sama ternyata, baguslah jadi saya ga di curigain." Ucapnya. Dia membawa semuanya ke kamar mandi di ruangan inapku. Aku kembali memainkan ponselku. Kasihan ponselku menjadi pengangguran beberapa hari ini.
Aku kembali membuka Instagramku. Masih sama tidak ada yang menarik.
Cklekkk....
"Yer, apa kamu punya sikat gigi baru?" tanya pak BaekHyun, Aku tidak melihat orangnya, hanya suaranya dan pintu kamar mandi yang sedikit terbuka.
"Ga ada pak, adanya bekas saya." Jawabku.
"Kalau gitu tidak usah." Balasnya.
Dia kembali menutup pintu kamar mandinya. Aku tidak bisa membayangkan kalau dia, wali kelasku sendiri, menjadi suamiku nanti. Pak BaekHyun keluar dari kamar mandi dengan pakaian yang sama, hanya saja mungkin sudah lebih wangi.
"Makasih," Ucapnya. Aku mengangguk dan memasukkan semuanya kembali ke dalam tas, kecuali handuknya.
"Bapak nanti kalau pulang, bisa berangkat bareng Sowon aja ga ke sini, tapi sebelum itu, bapak bisa tolongin saya ga? Bapak ke apartemen saya sama Sowon, bawain buku pelajaran saya hari ini dan besok, sekalian alat tulis dan laptop saya pak," Ucapku.
"Ribet banget sih kamu, saya pulang mau sama bu TaeYeon nanti, bukan sama Sowon." Ucapnya.
TaeYeon lagi.
"Ya sudah, tidak usah pak, biar Sowon sendiri saja, bapak pergi saja, udah hampir jam 6," Ucapku dengan ekspresi datar.
"Kamu marah?" Tanyanya.
"Ya, sekarang bapak keluar saja." Ucapku. Dia membereskan laptop dan barang-barangnya. "Jangan marah, saya minta maaf," Ucapnya sebelum keluar.
"Bapak ga tahu kan salahnya di mana, sekarang bapak pergi saja, saya sedang tidak ingin melihat bapak." Ucapku. Dia tidak banyak melawanku. Itu bagus, Setidaknya aku tidak perlu membuang tenagaku berdebat dengan pak BaekHyun.
__ADS_1
Aku mengirim pesan pada Sowon untuk mengambil barang-barangku di apartemenku. Sowon sudah biasa ke sana, dia tahu kode apartemenku, tapi dia tidak pernah masuk begitu saja walaupun biasnya dia tahu aku ada di dalam, Sowon biasanya memencet bel dan menunggu aku membukakan pintu untuknya. Tidak seperti pak BaekHyun yang nyelonong masuk aja. Ga ada adat memang tuh guru.